Pendidikan

Abstraksi: Pendidikan berkualitas bagi anak muslim sejak dini adalah kunci keberhasilan pendidikan anak muslim dan jaminan menuju generasi muda bangsa yang berkualitas, agamis, sehat, cerdas dan pekerja keras. Kegagalan dalam pendidikan muslim anak sejak dini adalah musibah bagi anak didik itu sendiri, orang tua, lingkungan, agama dan bangsa.

Kesuksesan orang tua terletak pada kesuksesannya dalam mendidik anak dan mengantarnya menyongsong masa depan yang cerah penuh harapan.

DAFTAR ISI


DAFTAR ISI BUKU PENDIDIKAN ISLAM: CARA MENDIDIK ANAK SHALIH, SMART DAN PEKERJA KERAS

Pendidikan Islam: Cara Mendidik Anak Shalih, Smart dan Pekkerja Keras

Pendidikan Islam: A. Fatih Syuhud


PENGANTAR PENULIS

Bismillah. Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.

Suatu hari, salah seorang alumni Al-Khoirot mengajukan dua pertanyaan cukup penting pada saya: pertama, mengapa umat Islam tertinggal dari umat lain? Dan, kedua, dapatkah umat Islam bangkit kembali menuju masa kejayaannya seperti dulu[1]?

Jawaban dari kedua pertanyaan itu tidaklah mudah. Kemunduran umat Islam yang terjadi sejak abad ke-16 sampai sekarang disebabkan oleh banyak faktor yang saling tumpang tindih.[2] Dan begitu juga penyebab yang menjadi pemicu era keemasan Islam (Islamic Golden Age) dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling kait mengait.[3]

Namun demikian, kemajuan suatu peradaban, baik itu peradaban Islam di masa lalu maupun Barat, Jepang dan China di masa kini, selalu terkait dengan aktivitas pendidikan tingkat tinggi yang dinamis. Suatu kemenangan dan dominasi yang hanya mengandalkan kekuatan fisik persenjataan tidak akan berlangsung lama. Karena, kekuatan militer hanya diperlukan di saat krisis, bukan untuk mengisi masa damai. Invasi militer Jengis Khan yang hebat dan menghancurkan kekhalifahan Islam tidak dapat bertahan lama karena tidak dibarengi dengan program pendidikan yang berkelanjutan.

Faktor utama yang menjadi penyebab berkelanjutannya dominasi Barat saat ini adalah kemajuan mereka di dunia pendidikan yang terus dipupuk, dibina dan diprioritaskan. Begitu juga, ketertinggalan umat Islam selama ini  dikarenakan ketertinggalan dan keterbelakangannya dalam dunia ilmu pengetahuan.

Dalam konteks negara, dunia Islam kebetulan menjadi negara-negara miskin yang amat sulit untuk memberi pendidikan gratis sampai level universitas pada rakyatnya. Lebih buruk lagi, negara-negara Islam yang miskin dikendalikan oleh banyak pemimpin yang korup yang sibuk memperkaya diri. Sedang negara Islam yang relatif kaya minyak umumnya dipimpin oleh monarki (kerajaan) yang diktator, hidup bermewah-mewahan dan hanya peduli pada kelanggengan kekuasaannya.

Dalam level rakyat, kemiskinan mayoritas umat telah menciptakan semacam lingkaran setan (vicious cicle) di mana keterbelakangan ekonomi dan pendidikan menjadi semacam kasta yang akan terus diderita secara turun-temurun.[4] Karena tidak adanya peluang untuk memperbaiki taraf hidup yang umumnya dapat dicapai melalui pendidikan.

Di Indonesia keluarga muslim yang kaya tidaklah banyak apabila dibanding dengan keluarga nonmuslim. Dan di antara yang sedikit itu, tidak banyak dari mereka yang sukses dalam mendidik anak, khususnya kalau dibanding dengan keluarga China.[5]

Kriteria sederhana keluarga muslim yang berhasil adalah apabila (a) sukses mengantar pendidikan anaknya sampai level perguruan tinggi; (b) sukses menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini; dan (c) sukses dalam berkarir. Saya sering terenyuh melihat keluarga muslim hartawan yang anaknya cuma lulusan SLTA atau bahkan SD. Atau ada yang pendidikan sekolahnya sampai tingkat tinggi namun jauh dari kepribadian islam. Sukses dalam berkarir sebagai pengusaha atau manajer tapi kosong mindset  (pola fikir) keagamaannya.

Tidak banyak dari keluarga hartawan muslim yang dapat mengantar putra-putrinya memaksimalkan potens intelektual anaknya. Hal itu dikarenakan, keluarga muslim non-China umumnya tidak atau belum dibekali oleh tradisi kemampuan mendidik anak secara komprehensif sejak dini. Umumnya, orang tua muslim menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah formal. Padahal, semua ahli pendidikan  sepakat bahwa pendidikan utama yang krusial dan menentukan prilaku, kecerdasan dan karakter kepemimpinan anak harus dimulai sejak dini di rumah. Sejak anak baru lahir.  Kekurangan inilah yang ingin dijembatani penulis dengan terbitnya buku ini.

Saya membayangkan, umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia akan menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang layak dan setinggi mungkin buat putra-putrinya. Perlunya keinginan untuk berkompetisi dengan umat dari agama lain untuk membina generasi muda yang jauh lebih baik dari orang tuanya. Serta, perlunya memahami pendidikan dalam keluarga sebagai tulang punggung pendidikan di luar rumah.

Semoga usaha kecil ini mendapat ridha dan inayah Allah dan dapat membantu umat Islam sadar akan potensi dirinya untuk bangkit mengejar ketertinggalannya dari umat lain. Amin.

A. Fatih Syuhud
PP Al-Khoirot Karangsuko, 4 Februari 2011

CATATAN KAKI

[1] Kebangkitan Islam terjadi pada abad ke-12 sampai 16.  Apa yang terjadi saat itu, lihat, “Pendidikan di Era Keemasan Islam.”
[2] Lihat, “Kemunduran Pendidikan Islam”
[3] Lihat,  “Pendidikan di Era Keemasan Islam.”
[4] Lihat, “Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca.”
[5] Lihat, “Belajar Mendidik Anak dari China”

BAB I : Pendidikan Balita


BAB II : Usia SD dan Remaja


BAB III : Kunci Sukses Mendidik Anak


BAB IV : Membangun Kepribadian


BAB V : Pendidikan Islam

PENERBIT: PUSTAKA AL-KHOIROT
WEBSITE: pustaka.alkhoirot.com
Email: alkhoirot@gmail.com
NO. ISBN: 13-978-1469916279

Comments

  • Ingin lebih banyak tahu ttg pesantren al-khoirot.

    Fhirda niengsihApril 11, 2014
  • Sangat menarik minat saya untuk lebih tahu mendalam tentang cara mendidik Anak.
    Dimana bisa saya beli di Kota Padang

    Akhmad FakhraMay 9, 2013
    • Buku edisi pertama sudah habis. Masih dalam proses untuk edisi kedua. Akan ada pemberitahuan di halaman ini apabila sudah dicetak ulang.

      Pustaka Al-KhoirotMay 12, 2013

Leave a Reply