Keteladanan Orang Tua

Keteladanan Orang Tua adalah metode paling efektif dan jitu dalam pendidikan anak. Suri tauladan yang baik dari kedua orang tua adalah fondari dasar kuat yang akan membuat anak mengagumi, menghormati perilaku orang tua dan mendengar serta mentaati apa yang dikehendaki orang tua. Di samping itu, keteladanan lingkungan dan tontonan juga tidak kalah pentingnya.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri Karangsuko Malang

Daftar Isi

  1. Keteladanan Orang Tua
  2. Keteladanan Lingkungan
  3. Keteladanan Tontonan


Keteladanan Orang Tua

Keteladanan berasal dari kata teladan yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna “sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.” Dengan demikian, keteladanan berarti hal yg dapat ditiru atau dicontoh.

Keteladanan adalah cara memimpin yang paling efektif. Metode membimbing yang paling tidak diragukan lagi kekuatannya. Allah meminta umat Islam agar meneladani perilaku Rasulullah (QS Al Ahzab 33:21). Perintah Al Quran ini secara tersirat dapat juga dimaknai bahwa cara memimpin yang baik dan efektif adalah dengan cara memberi keteladanan, bukan hanya perkataan. Di ayat lain Al Quran juga mengingatkan, bahwa pemimpin yang ideal dan sukses selalu berusaha menyelaraskan perkataan dengan perbuatannya (QS As Shaf 61:3).

Kalau keteladanan mutlak diperlukan dalam memimpin dan mendidik orang dewasa, maka ia semakin mutlak diperlukan sebagai metode dalam mendidik dan menuntun anak ke arah kebaikan yang kita inginkan. Karena, anak ibarat kertas putih bersih. Orang-orang dewasa di sekitarnyalah yang akan “melukis” aneka gambar di dalamnya. Terutama, dalam hal ini, adalah orang tua.

Oleh karena itu, saat orang tua melihat anaknya berperilaku dan bersikap tidak sesuai dengan yang diinginkan maka hal pertama yang perlu dipertanyakan adalah sudahkah orang tua memberi keteladanan yang benar pada anaknya? Apabila dirasa tidak ada yang salah dengan keteladanan orang tua maka yang perlu dilihat berikutnya adalah keteladanan lingkungan di sekitarnya. Seperti, keteladanan tetangga, teman-teman sekolah dan tontonan yang dilihat di TV.

Tentu setiap orang tua mengetahui apa saja perilaku baik yang patut diteladankan pada anak dan kebiasaan buruk yang harus dihindari. Namun, apabila masih bingung, berikut hal-hal pokok yang perlu diperhatikan.

Pertama, jujur. Kejujuran adalah fondasi utama agar manusia hidup bermartabat dan dihargai orang lain. Walaupun Anda mungkin bukan orang yang selalu jujur selama ini, tapi berusahalah menjadi jujur demi anak Anda. Kejujuran meliputi tidak suka berbohong, tidak suka korupsi dengan dalih apapun dan bangga pada harta yang didapat dengan cara halal walaupun sedikit.

Kedua, kerja keras. Kerja keras adalah kunci penting berikutnya dalam mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Kerja keras berarti tidak malas. Tidak malas untuk belajar, bekerja, dan beribadah.

Ketiga, taat perintah agama. Tunjukkan bahwa orang tua mentaati seluruh perintah agama. Setidaknya, perintah agama yang utama seperti rukun Islam yang lima (salat, puasa, zakat dan haji bila mampu).

Keempat, menjauhi larangan agama. Menjauhi larangan agama sama pentingnya dengan menaati perintahnya. Larangan agama yang utama adalah berzina, mencuri (termasuk korupsi), minum alkohol, membunuh dan pemakaian obat terlarang.

Kelima, jangan bertengkar di depan anak. Pertengkaran suami-istri sebisa mungkin dihindari. Dan kalau pertengkaran tak terhindarkan, jangan pernah melakukannya di depan anak.

Keenam, jangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik suami pada istri, atau ayah/ ibu pada anak. Penggunaan cara kekerasan hanya akan membuat anak berfikir bahwa memukul dan menyiksa orang lain itu bukanlah sesuatu yang buruk. Sebaliknya jadikan sikap tegas tapi penuh kasih sayang sebagai cara mendisiplinkan anak.

Apabila orang tua sanggup melakukan hal-hal tersebut, mereka akan betul-betul menjadi idola dan pahlawan keteladanan bagi buah hatinya.[]


Keteladanan Lingkungan
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri Madrasah Diniyah
PP Al-Khoirot Malang Jatim

Ardi, 2 tahun, adalah warga Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kebiasaan merokoknya sudah dimulai sejak berumur 18 bulan. Tiap harinya dia bisa menghabiskan 40 batang rokok, Orang tuanya harus merogoh kocek Rp 50.000 tiap harinya untuk memenuhi keingianan Ardi.

“Dia benar-benar kecanduan, jika tidak dibolehkan dia ngamuk membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Katanya dia merasa pusing kalu tidak merokok,” kata Ibunya, Diana. (Metro TV, 5 Mei 20`10)

Sandi Adi Susanto tinggal di Jl Nusakambangan 19C, Kota Malang. Sandi sangat senang mengisap rokok. Malahan Sandi juga sering diajak sejumlah pemuda untuk menenggak minuman keras (miras).

Di usianya yang belum genap 4 tahun, Sandi juga lihai mengomongkan hal-hal berbau seks maupun pornografi yang merupakan konsumsi bahan pembicaraan orang dewasa. Sandi juga ‘fasih’ mengucapkan kata-kata kotor. (Surya, 20 Januari 2010)

Kisah Ardi dan Sandi merupakan kisah nyata yang cukup tragis dari dua anak balita akibat dari buruknya lingkungan di sekitar mereka. Tentu, masih banyak kisah serupa lain yang belum sempat diekspos media.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa memiliki orang tua yang pantas diteladani anak adalah suatu berkah yang patut disyukuri. Itu menjadi modal utama seorang anak untuk hidup secara normal dan sehat. Karena, perilaku dan pola pikir (mindset) anak sebagian besar dipengaruhi oleh suasana pendidikan di rumah.

Namun, itu tidak cukup menjadi jaminan untuk membuat anak berperilaku baik. Suasana lingkungan luar rumah yang kondusif juga sangat diperlukan. Lingkungan luar rumah meliputi teman-teman sebaya di sekitar rumah dan teman sebaya di sekolah. Ada juga kasus di mana orang tetangga dewasa memiliki peran penting dalam memengaruhi baik buruknya perilaku anak. Kisah Ardi dan Sandi adalah salah satu contoh buruk dari pengaruh lingkungan.

Rasulullah dalam sebuah hadits mengingatkan kita akan pentingnya memilih lingkungan dan teman yang baik. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap.” (Hadits Shahih, riwayat Bukhari [no. 5534], dan Muslim [no. 2638]).

Jadi, memilih lingkungan dan teman yang baik sama pentingnya dengan memiliki orang tua teladan. Karena, lingkungan dan orang tua adalah dua faktor yang sangat besar pengaruhnya pada cara berfikir dan berperilaku anak ke depan.

Oleh karena itu, tugas orang tua di sini tidak hanya bagaimana menjadi orang tua yang ideal bagi anaknya, tapi juga bagaimana dapat mengontrol dengan siapa anak berteman dan di lingkungan apa anak sebaiknya berada. Peran orang tua dalam memilihkan teman dan lingkungan yang baik dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

Pertama, awasi dengan siapa anak boleh berteman. Hal ini perlu terutama apabila tetangga di sekitar kita bermacam-macam perilakunya. Pastikan anak tidak bergaul dengan kalangan orang dewasa apalagi yang memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, dsb. Idealnya, orang tua memilih tempat tinggal yang baik, sehat dan memiliki lingkungan yang relatif agamis.

Kedua, apabila anak sudah memasuki usia sekolah maka pilih sekolah yang kondusif. Orang tua hendaknya dapat memilih sekolah yang tidak hanya bagus kualitasnya, tapi juga baik rekam jejak murid-muridnya. Lebih bagus lagi kalau sekolah memiliki kurikulum keislaman tambahan, apalagi berada dalam lingkungan pesantren. Sering orang tua lupa kala memilih sekolah untuk anaknya dasar utamanya adalah citra dari sekolah tersebut. Padahal citra sekolah berkualitas belum tentu berarti berkualitas dari sisi perilaku murid-muridnya. Label sekolah berkualitas sering dikarenakan lengkapnya infrastruktur. Dan itu tidak menjamin menciptakan anak yang pintar sekaligus salih.[]


Keteladanan Tontonan
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTs dan MA
Ponpes Al-Khoirot Karangsuko Malang

Pada tahun 2006, ada sebuah acara di Lativi (sekarang TVONE) bernama Smackdown yang sangat kontroversial. Disebut kontroversial karena banyak yang menganggap tayangan penuh kekerasan ini telah mengakibatkan banyak anak-anak jatuh korban dan bahkan meninggal dunia karena ingin meniru adegan berkelahi ala smackdown tersebut. Ikuti kisah berikut yang dikutip dari harian Pikiran Rakyat Bandung edisi 26 November 2006:

Restu, Iyo, dan Ii, warga Kompleks Banda Asri, Desa Banda Asri, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung ingin meniru dan mempraktikkan adegan-adegan dalam SmackDown itu.

Sebagai lawan, ketiga siswa SMP ini memilih Reza Ikhsan Fadillah (9 tahun), tetangga mereka. Tubuh kecil siswa kelas III SD Cincin I itu mereka banting. Kepalanya dihujamkan ke atas lantai. Tangannya ditekuk, meski Reza mengaduh kesakitan.

”Karena menirukan adegan SmackDown, anak saya meninggal,” kata Herman Suratman (53).

Reza lalu dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sebelum dipindahkan ke ruang ICU RSHS.

Pada Kamis (16/11), kondisi Reza bertambah parah. ”Reza meninggal dalam pangkuan saya,” ujar pria ini dengan berlinang air mata.

Mengapa anak begitu mudah meniru suatu adegan yang ditonton di TV? Dan apa yang memotivasi mereka melakukan hal tersebut?

Menurut Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, seorang pemerhati anak, anak-anak itu peniru yang terbaik, termasuk dari yang ada di televisi.”

Seorang anak, tambah dia, jika merasa diakui akan apa yang dilakukannya, maka anak tersebut akan melakukannya lagi dan bahkan lebih. “Ada mekanisme punish and reward (sanksi dan penghargaan), biar kelihatan semakin gagah dan hebat,” kata Kak Seto.

Dari ilustrasi dan opini di atas, dapat disimpulkan bahwa televisi sebagai teknologi informasi yang paling banyak diminati ini ibarat pisau bermata dua. Ia dapat bermanfaat atau justru sangat berbahaya bagi pendidikan anak.

Menghapus televisi dari rumah bagi kebanyakan orang hampir tidak mungkin. Namun, membiarkan anak menghabiskan sebagian besar waktunya di depan TV juga kurang ideal. Oleh karena itu, orang tua hendaknya membudayakan pada anak supaya menonton program televisi yang sehat dengan jam nonton yang dibatasi.

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan supaya anak di bawah usia 2 tahun tidak menonton TV sama sekali dan bahwa anak usia di atas 2 tahun boleh menonton acara TV yang mendidik tapi tidak lebih dari 1 sampai 2 jam perhari.

Karena, 2 tahun pertama kehidupan anak dianggap waktu yang sangat kritis bagi perkembangan otak. TV dan media elektronik lainnya dapat menghalangi anak dalam mengeksplorasi, bermain dan berinteraksi dengan orang tua dan yang lain, yang dapat mendorong pembelajaran dan perkembangan kesehatan fisik dan sosial.

Menonton acara TV yang baik tentu ada juga manfaatnya. Misalnya, anak prasekolah dapat terbantu belajar huruf, anak SD SMP SMA dapat belajar kehidupan hewan dan alam, orang tua dapat menonton berita, dsb. TV dapat menjadi penghibur dan pendidik.

Namun, terlalu banyak menonton TV, apalagi kalau tidak selektif, dapat berakibat buruk seperti (a) anak yang menonton aksi kekerasan akan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih agresif dan pada saat yang sama merasa kuatir bahwa dunia ini menakutkan dan bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka; dan (b) para pemain drama di TV sering menampakan perilaku dan kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol yang akan mudah ditiru anak.

TV dan teknologi terkait seperti video, CD dan DVD adalah teknologi informasi audio visual yang pada dasarnya bersifat netral. Yang membuat ia baik atau buruk adalah acara dalam TV tersebut. Dan di sinilah fungsi orang tua diperlukan sebagai pengontrol, pembimbing dan pengawas anak kala mereka menonton TV. Kemampuan orang tua untuk membatasi masa nonton dan program yang boleh ditonton anak akan cukup mempengaruhi perkembangan perilaku dan mindset anak ke depan.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.