Kapan Anak Boleh Punya Sepeda Motor?

Kapan Anak Boleh Punya Sepeda Motor?
Oleh A. Fatih Syuhud

Saat ini banyak orang tua yang dengan alasan “sayang anak” dengan ringan membolehkan anaknya mengendarai motor sendiri. Tak peduli anak tersayang masih di bangku SD atau baru masuk SMP. Mereka secara hukum masih belum diperbolehkan menyetir motor, karena masih dalam kategori di bawah umur.

Padahal sepeda motor atau motor dikenal sangat berbahaya, siapapun yang mengendarainya. Di Jakarta, misalnya, Polda Metro Jaya mencatat kecelakaan sepeda motor pada tahun 2005 mencapai 3.499 kasus. Tahun 2006 meningkat menjadi 3.814 kasus, tahun 2007 mencapai 4.933 kasus, tahun 2008 meningkat lagi menjadi 5.898 kasus, dan tahun 2009 mencapai 6.608 kasus. Peningkatan signifikan kecelakaan sepeda motor pertahunnya juga terjadi di wilayah lain. Bayangkan, apabila salah satu dari korban kecelakaan itu adalah anak kita.

Jadi, membelikan sepeda motor untuk anak kita yang masih remaja, apalagi di bawah umur, bukanlah hal yang baik. Apalagi mengijinkan menyetir mobil. Oleh karena itu, orang tua harus memberi pemahaman sejak dini tentang perlunya anak berperilaku disiplin, taat hukum dan memiliki skala prioritas berdasarkan pada hal-hal yang lebih substantif perlu dilakukan. Bukan hanya berdasarkan pada apa yang lagi tren.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua apabila anak kita bersikeras untuk dibelikan sepeda motor? Haruskah kita abaikan permintaan mereka atau haruskah kita turuti? Orang tua yang bijak tentu lebih tahu yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Yang harus jadi pertimbangan adalah pikirkan kebaikan anak dalam jangka panjang. Namun, kalau Anda memutuskan untuk mengikuti permintaan anak, pastikan anak dibekali tips aman naik sepeda motor seperti berikut:

Pertama, jangan ngebut. Dalam cuaca panas, bisa saja keadaan emosi ikutan panas. Hindari konflik di jalan karena akan mengacaukan pikiran dan mengurangi konsentrasi. Tetap tenang dan fokus pada tujuan. Jangan mudah terpancing juga pada pengendara lain yang menantang untuk kebut-kebutan. Jika keadaan sangat emosional, lebih baik berhenti sebentar. Minum air jika memungkinkan dan lanjutkan perjalanan jika sudah tenang.

Kedua, gunakan perlengkapan bermotor seperti helm full face, jaket dan sarung tangan demi keselamatan berkendara.

Ketiga, jangan mengendarai motor di saat dalam kondisi sakit, atau mengantuk karena membuat tidak fokus dalam perjalanan.

Keempat, sisakan jarak aman. Walau kendaraan padat dan macet, pastikan motor tak terlalu dekat dengan kendaraan lainnya.

Kelima, hati-hati berkendara di terik matahari. Terik matahari sering membuat orang silau. Beberapa helm dilengkapi dengan kaca film untuk mengurangi teriknya sinar matahari atau gunakan kacamata hitam yang sebisa mungkin tak menghalangi pandangan mata.

Keenam, menjaga jarak kendaraan dengan kendaraan di depan agar tidak terjadi tabrakan.

Ketujuh, selalu bawa surat-surat kendaraan (SIM, STNK) untuk memudahkan jika terjadi masalah di tengah jalan.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.