Cara Mencegah Perilaku Feodal sejak dini

Cara Mencegah Perilaku Feodal sejak dini

Cara Mencegah Perilaku Feodal sejak dini agar anak tumbuh sebagai anak yang tidak diktator dan egois. Terutama bagi anak pejabat, anak kyai / ulama, anak orang kaya dan anak habaib.
Oleh A. Fatih Syuhud

Memiliki anak yang rajin belajar, pekerja keras, santun, religius, hormat pada yang tua dan sayang pada yang lebih muda tanpa memandang latarbelakang sosial—disebut juga dengan perilaku egaliter—merupakan impian dan harapan setiap orang tua pada buah hatinya. Kebalikan dari sikap egaliter adalah perilaku feodal.

Empat golongan sosial elite keluarga Indonesia

Setidaknya ada empat golongan sosial keluarga di Indonesia yang apabila tidak berhati-hati dalam mendidik anak, maka sang anak akan terperangkap dalam perilaku feodal yang identik dengan sikap egois, keras kepala, arogan, memandang rendah orang lain, memandang diri sendiri dan keluarga lebih tinggi dan mulya hanya berdasar faktor harta, jabatan atau keturunan.

Keluarga Pejabat Tinggi

Satu, keluarga pejabat tinggi, terutama militer dan kepolisian. Pejabat selalu dihormati dan dipatuhi oleh bawahannya. Apalagi kalau pejabat dari kalangan militer. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak bawahan yang menghormati dan mematuhinya secara membuta.

Di Indonesia, penghormatan membuta itu juga menetes pada istri dan anak-anak pejabat terkait. Penghormatan semacam ini tidak mendidik mental anak. Adalah tugas orang tua untuk membuat langkah-langkah preventif agar anaknya tumbuh dengan sehat dan berperilaku normal secara sosial.

Antara lain dengan memberi arahan pada anak-buahnya untuk memberlakukan anak-anaknya secara wajar dan menanamkan disiplin yang baik bagi anak dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Keluarga Kaya

Dua, keluarga kaya raya. Keluarga kaya baik karena keturunan atau kaya baru akan disegani dan dihormati setidaknya oleh orang yang bekerja dan menggantungkan hidup padanya. Menghormati dan menyanjung anak boss tentu menjadi hal yang tak terelakkan.

Dan ini kurang positif pada kepribadian anak. Di samping itu, anak yang hidup dalam lingkungan yang serba ada dan berkecukupan akan berpotensi kurang memiliki semangat berjuang (fighting spirit). Dan cenderung akan lemah dalam menghadapi tantangan yang sulit.

Keluarga Kiai / Kyai, Ulama, Ustadz, Tuan Guru

Tiga, keluarga kyai. Kyai pengasuh pesantren di Jawa itu ibarat raja kecil. Mereka adalah guru ilmu agama dan pembimbing spiritual para santri yang sangat menghormati dan mentaati sang guru.

Anak kyai—sering disebut gus, bindereh, ning, atau lora– ibarat pangeran kecil. Yang dihormati dan dipuji apapun yang dilakukan. Tidak ada kritik. Kalau berbuat salah tidak ada hukuman sosial.

Gus atau lora selalu benar. Kalau salah dianggap jadzab atau “sedang nglakoni.” Sungguh suatu perlakuan yang sangat meracuni mental anak.

Orang tua harus sigap mengantisipasi hal ini. Tugas seorang kyai yang pertama dan utama adalah mendidik anaknya sendiri. Bukan santri. Kesuksesan seorang kyai adalah saat ia berhasil mendidik anaknya, bukan mendidik santrinya.

Keluarga Habaib

Empat, keluarga habaib. Habaib atau habib adalah sekelompok warga Indonesia keturunan Arab yang nenek moyangnya berasal dari Hadhramaut, Yaman.

Mereka mengklaim dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad. Mereka merasa berbeda dengan warga keturunan Arab yang non-habaib. Di Jawa dan Betawi para habaib sangat dihormati. Selain karena klaim keturunan Nabi, juga kerena adanya fakta sejarah bahwa mereka berjasa besar dalam penyebaran Islam di Indonesia.

Mayoritas Wali Songo berasal dari kalangan habaib. Karena jasa-jasa pendahulu mereka, sampai saat ini kalangan habaib masih dihormati.

Dan penghormatan karena jasa orang lain (orang tua atau nenek moyang), bukan jasa diri sendiri, selalu berakibat kurang baik bagi mental, pola pikir dan perilaku para habaib muda. Ini semestinya menjadi refleksi dan koreksi untuk perbaikan kalangan ini ke depan.

Tindakan ekstra orang tua kelompok elite

Intinya, orang tua yang termasuk di antara empat kelompok elite sosial di atas hendaknya melakukan tindakan ekstra dalam mendidik anak. Ini karena anak-anak mereka hidup dalam lingkungan yang kurang wajar. Dalam artian, mereka menikmati keistimewaan perlakuan dari lingkungan sekitar berkat orang tua mereka; bukan karena jasa atau kualitas kepribadian mereka sendiri.

Beri anak pemahaman bahwa menurut Islam, manusia akan dihormati karena perbuatan baik, dan akan mendapat sangsi karena perbuatan buruk yang dilakukan (QS An Najm 53:39-40). Tentu, pemahaman ini harus dibarengi dengan langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari.[]

Dapatkan buku: Pendidikan Islam: Cara mendidik anak saleh, pintar dan pekerja keras

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.