Pendidikan Anak Kyai (1): Santri Jangan Memanjakan Mereka

Pendidikan anak kyai 1

Pendidikan Islam bagi Anak Kyai. Putra kyai, ustadz, tuan guru, ulama, pemuka agama baik pemilik / pengasuh pesantren atau tidak adalah bagian dari kelompok elite umat Islam Indonesia. Mereka harus dididik dengan benar baik karakter, pendidikan formal maupun keilmuan non-formalnya agar bisa menjadi tauladan dan pemimpin yang berpengaruh bagi masyarakat muslim yang lain.
Oleh A. Fatih Syuhud

Pendidikan Anak Kyai (1)

Di lingkungan pesantren dan masyarakat pedesaan, kyai merupakan figur yang sangat dihormati tidak saja oleh para santri yang mondok di pesantrennya, tapi juga oleh masyarakat sekitar yang menjadikannya sebagai figur tempat berkeluh-kesah, tempat berkonsultasi tidak saja masalah spiritual tapi juga sosial. Apabila sang kyai kebetulan juga kaya, maka ia juga menjadi tempat masyarakat untuk berkonsultasi finansial. Alhasil, keluarga kyai menjadi kelompok elit khususnya di masyarakat Jawa. Di kota atau di kawasan luar Jawa kyai, ustadz, tuan guru, buya dan sebutan lain untuk tokoh agama, juga menjadi figur yang dihormati walaupun dengan level di bawah kyai Jawa.

Penghormatan masyarakat pada kyai juga menular pada penghormatan mereka pada keluarga kyai. Anak dan istri kyai umumnya mendapat penghormatan yang hampir sepadan dengan ayah mereka.

Putra kyai di Jawa biasanya mendapat panggilan kehormatan tertentu di kalangan santri dan masyarakat. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, misalnya, mereka biasa dipanggil dengan sebutan gus, lora, bindereh, neng dan kang sejak mereka baru lahir. Sedang putri kyai umumnya mendapat panggilan kehormatan ning di depan namanya.

Cara santri bersalaman dengan kyai biasanya dilakukan dengan mencium tangan kyai. Begitu juga saat santri berjabat tangan dengan putra kyai. Walaupun sang putra kyai masih kecil.

Kalau kyai di Jawa ibarat raja maka putra kyai adalah pangerannya. Dan karena itu, mereka tidak saja dihormati tapi juga diidolakan dan dimanja minmal oleh para santri. Putra kyai ibarat pangeran yang tak pernah salah. Pada waktu yang sama, sang kyai terkadang terlalu sibuk dengan aktifitas kepesantrenan dan pengajian sehingga lupa memberi pendidikan ekstra pada keluarganya (putra, putri dan istri). Dari latar belakang seperti itu tidak mengagetkan apabila tidak sedikit dari putra kyai yang dapat dikatakan gagal dari segi pendidikannya. Baik pendidikan formal, wawasan spiritual atau kepribadian. Hal itu terjadi karena putra kyai hidup dalam kondisi psikologis yang kurang sehat.

Beberapa efek mindset salah yang dapat ditimbulkan dari situasi tersebut adalah pemikiran (a) bahwa dalam hidup ini ada kasta (perbedaan derajat manusia berdasar pada keturunan) dan dirinya berada dalam kasta yang tinggi; (b) bahwa untuk sukses itu tidak harus berdasarkan kerja keras. Dua mindset (pola pikir) yang salah ini dapat membuat anak menjadi pemalas, sombong, egois dan feodalistik. Yakni, merasa mulia, suka merendahkan orang dan tidak mau menerima nasihat dan kritik dari siapapun. Sifat-sifat ini adalah kunci menuju kegagalan hidup.

Ada dua macam solusi untuk mengatasi hal ini yakni internal yaitu lingkungan rumah dan eksternal atau lingkungan luar rumah yakni mereka yang memperlakukan putra kyai secara berlebihan. Kyai sebagai figur panutan dapat dengan mudah memerintahkan para santri dan masyarakat agar memperlakukan anak-anaknya dengan wajar dan normal seperti tidak mencium tangan saat bersalaman, dikritik apabila salah dan jangan memberi hadiah apapun (uang atau benda lain) atau memberi pujian dalam bentuk apapun kecuali karena prestasi yang nyata. Tak kalah penting adalah memberi apresiasi pada santri yang bersikap kritis pada putra kyai.

Secara internal, kyai harus menyadari bahwa pendidikan anak (dan istri) harus lebih diprioritaskan dibanding pendidikan pada santri dan masyarakat (QS At Tahrim 66:6). Di samping itu, orang tua hendaknya mengikuti metode mendidik anak seperti umumnya mendidik anak lain yang intinya adalah reward and punishment (penghargaan dan pendisiplinan) dengan beberapa tambahan pemahaman yang perlu diulang-ulang sebagai berikut:

Pertama, bahwa anak kyai tidak berbeda dengan anak lain di mana kesuksesan dalam hidup ini sangat tergantung pada kerja keras (Al Jumah 62:10), tingginya level pendidikan (Al Mujadalah 58:11), luasnya wawasan keagamaan (At Taubah 9:122) dan keluhuran akhlak (QS Al Qalam 68:4). Tidak sedikit contoh nyata di mana seorang kyai terkenal ternyata anaknya hidup terhina dan menjadi sampah masyarakat.

Kedua, bahwa kemuliaan dunia dan akhirat itu tidak berdasarkan pada keturunan, tapi murni pada hasil usaha masing-masing individu(QS An Najm 53:39).

Ketiga, bahwa anak kyai adalah calon pemimpin. Karena itu, ia harus belajar lebih rajin dan bekerja lebih keras dibanding yang dipimpin.[]

Artikel Terkait:

One thought on “Pendidikan Anak Kyai (1): Santri Jangan Memanjakan Mereka”

  1. Subhanallah, artikel yang sangat brilliant Mas Fatih.
    Memang paradigma di pesantren kebanyakan seperti yang diutarakan di atas. Ada ungkapan, ”kita bukan melihat anaknya, tapi lihat siapa di atasnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.