Pendidikan Anak Kyai (1)

Pendidikan Islam bagi Anak Kyai. Putra kyai, ustadz, tuan guru, ulama, pemuka agama baik pemilik / pengasuh pesantren atau tidak adalah bagian dari kelompok elite umat Islam Indonesia. Mereka harus dididik dengan benar baik karakter, pendidikan formal maupun keilmuan non-formalnya agar bisa menjadi tauladan dan pemimpin yang berpengaruh bagi masyarakat muslim yang lain.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot

Daftar Isi

  1. Pendidikan Anak Kyai (1)
  2. Pendidikan Anak Kyai (2)
  3. Pendidikan Anak Kyai (3)


Pendidikan Anak Kyai (1)

Di lingkungan pesantren dan masyarakat pedesaan, kyai merupakan figur yang sangat dihormati tidak saja oleh para santri yang mondok di pesantrennya, tapi juga oleh masyarakat sekitar yang menjadikannya sebagai figur tempat berkeluh-kesah, tempat berkonsultasi tidak saja masalah spiritual tapi juga sosial. Apabila sang kyai kebetulan juga kaya, maka ia juga menjadi tempat masyarakat untuk berkonsultasi finansial. Alhasil, keluarga kyai menjadi kelompok elit khususnya di masyarakat Jawa. Di kota atau di kawasan luar Jawa kyai, ustadz, tuan guru, buya dan sebutan lain untuk tokoh agama, juga menjadi figur yang dihormati walaupun dengan level di bawah kyai Jawa.

Penghormatan masyarakat pada kyai juga menular pada penghormatan mereka pada keluarga kyai. Anak dan istri kyai umumnya mendapat penghormatan yang hampir sepadan dengan ayah mereka.

Putra kyai di Jawa biasanya mendapat panggilan kehormatan tertentu di kalangan santri dan masyarakat. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, misalnya, mereka biasa dipanggil dengan sebutan gus, lora, bindereh, neng dan kang sejak mereka baru lahir. Sedang putri kyai umumnya mendapat panggilan kehormatan ning di depan namanya.

Cara santri bersalaman dengan kyai biasanya dilakukan dengan mencium tangan kyai. Begitu juga saat santri berjabat tangan dengan putra kyai. Walaupun sang putra kyai masih kecil.

Kalau kyai di Jawa ibarat raja maka putra kyai adalah pangerannya. Dan karena itu, mereka tidak saja dihormati tapi juga diidolakan dan dimanja minmal oleh para santri. Putra kyai ibarat pangeran yang tak pernah salah. Pada waktu yang sama, sang kyai terkadang terlalu sibuk dengan aktifitas kepesantrenan dan pengajian sehingga lupa memberi pendidikan ekstra pada keluarganya (putra, putri dan istri). Dari latar belakang seperti itu tidak mengagetkan apabila tidak sedikit dari putra kyai yang dapat dikatakan gagal dari segi pendidikannya. Baik pendidikan formal, wawasan spiritual atau kepribadian. Hal itu terjadi karena putra kyai hidup dalam kondisi psikologis yang kurang sehat.

Beberapa efek mindset salah yang dapat ditimbulkan dari situasi tersebut adalah pemikiran (a) bahwa dalam hidup ini ada kasta (perbedaan derajat manusia berdasar pada keturunan) dan dirinya berada dalam kasta yang tinggi; (b) bahwa untuk sukses itu tidak harus berdasarkan kerja keras. Dua mindset (pola pikir) yang salah ini dapat membuat anak menjadi pemalas, sombong, egois dan feodalistik. Yakni, merasa mulia, suka merendahkan orang dan tidak mau menerima nasihat dan kritik dari siapapun. Sifat-sifat ini adalah kunci menuju kegagalan hidup.

Ada dua macam solusi untuk mengatasi hal ini yakni internal yaitu lingkungan rumah dan eksternal atau lingkungan luar rumah yakni mereka yang memperlakukan putra kyai secara berlebihan. Kyai sebagai figur panutan dapat dengan mudah memerintahkan para santri dan masyarakat agar memperlakukan anak-anaknya dengan wajar dan normal seperti tidak mencium tangan saat bersalaman, dikritik apabila salah dan jangan memberi hadiah apapun (uang atau benda lain) atau memberi pujian dalam bentuk apapun kecuali karena prestasi yang nyata. Tak kalah penting adalah memberi apresiasi pada santri yang bersikap kritis pada putra kyai.

Secara internal, kyai harus menyadari bahwa pendidikan anak (dan istri) harus lebih diprioritaskan dibanding pendidikan pada santri dan masyarakat (QS At Tahrim 66:6). Di samping itu, orang tua hendaknya mengikuti metode mendidik anak seperti umumnya mendidik anak lain yang intinya adalah reward and punishment (penghargaan dan pendisiplinan) dengan beberapa tambahan pemahaman yang perlu diulang-ulang sebagai berikut:

Pertama, bahwa anak kyai tidak berbeda dengan anak lain di mana kesuksesan dalam hidup ini sangat tergantung pada kerja keras (Al Jumah 62:10), tingginya level pendidikan (Al Mujadalah 58:11), luasnya wawasan keagamaan (At Taubah 9:122) dan keluhuran akhlak (QS Al Qalam 68:4). Tidak sedikit contoh nyata di mana seorang kyai terkenal ternyata anaknya hidup terhina dan menjadi sampah masyarakat.

Kedua, bahwa kemuliaan dunia dan akhirat itu tidak berdasarkan pada keturunan, tapi murni pada hasil usaha masing-masing individu(QS An Najm 53:39).

Ketiga, bahwa anak kyai adalah calon pemimpin. Karena itu, ia harus belajar lebih rajin dan bekerja lebih keras dibanding yang dipimpin.[]


Pendidikan Anak Kyai (2)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Al-Khoirot Malang

Menjadi anak seorang kyai, khususnya kyai pesantren, itu tidak enak. Semakin besar pesantren seorang kyai, semakin besar ketidaknyamanan itu bagi anaknya. Ketidakenakan itu tentu saja bukan dilihat dari yang tampak di luar. Secara dzahir, menjadi anak kyai tentu saja sangat menguntungkan. Bayangkan, sejak kecil ia terbiasa dengan berbagai pemanjaan, penghormatan, dan pujian dari santri-santri ayahnya. Tiada kritik atau perlawanan apapun dari para santri saat anak kyai yang masih usia TK, SD atau SMP berperilaku bandel.

Padahal hidup yang normal bagi seorang anak adalah apabila dia mendapat perlakuan reward and punishment (penghargaan dan sanksi) dari lingkungannya. Mendapat reward saat dia berperilaku baik dan punishment saat berperilaku buruk. Dari cara ini, seorang anak belajar mengenal akhlak, nilai, norma dan etika baik dan buruk. Baik akhlak islami, nilai universal dan etika sosial setempat.

Dengan terbiasanya anak kyai menerima reward saja tanpa adanya punishment, maka tanpa disadari mental dan mindset-nya tidak tumbuh dengan sehat. Dampak negatif dari pemanjaan ini antara lain (a) anak tidak mandiri, (b) tidak mau menerima kritik, (c) tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan, (c) pemalas, tidak mau bekerja keras; (d) suka merendahkan orang lain, (e) tidak memiliki sensitivitas dan kapasitas kepemimpinan.

Gus Jadzab dan Lora Helap

Salah satu contoh nyata dari akibat pemanjaan santri pada anak kyainya yang terbukti merusak adalah adanya julukan jadzab atau helap pada gus (anak kyai Jawa) atau lora (anak kyai Madura) yang berperilaku menyimpang. Padahal jadzab adalah istilah yang dipakai aliran sufisme yang diperuntukkan bagi para murid tarikat yang sedang menjalani ritual pendekatan diri pada Allah menurut cara-cara sufi. Mungkin karena adanya kesamaan antara anak kyai bandel dan murid tarikat dalam segi sama-sama “aneh” atau karena santri percaya bahwa kebandelan anak kyai adalah dalam rangka proses “nglakoni”, maka anak kyai yang bandel disebut dengan istilah tersebut.

Terlepas dari itu semua, faktanya adalah bahwa julukan jadzab atau helap ini semakin menghancurkan kepribadian anak kyai yang kenakalannya sedang tidak terkontrol itu. Tidak sedikit dari anak kyai yang tidak hanya melanggar nilai etika sosial, tapi juga syariah dan akhirnya menjadi sampah masyarakat.

Lalu, apa langkah yang mesti diambil oleh orang tua dan para santri agar para putra-putri kyai dapat memaksimalkan potensinya dan dapat menjadi penerus pesantren yang egaliter, rendah hati, memiliki karakter kepemimpinan dan secara intelektual mumpuni?

Pertama, sejak kecil anak kyai harus dididik menghormati yang lebih tua. Baik itu santri, tetangga maupun tamu pesantren. Salah satu indikasi penghormatan adalah dengan mencium tangan saat bersalaman, mengucapkan salam atau sekedar tersenyum saat berjumpa. Mencium tangan yang lebih tua boleh diakhiri saat putra kyai sudah dewasa dan mulai mengajar. Dalam Islam, penghormatan berdasarkan ilmu lebih didahulukan daripada umur sebagaimana imam salat yang lebih mendahulukan ahli ilmu daripada yang tua.

Kedua, kyai harus menginstruksikan santrinya agar mengingatkan gus atau lora-nya kalau berperilaku kurang baik. Baik itu dalam bentuk malas belajar, kurang sopan, melanggar syariah atau melanggar disiplin pesantren. Santri jangan sampai membiarkan anak kyai bebas berbuat semaunya tanpa kritik karena ini akan sangat membahayakan kesehatan mentalnya. Begitu juga santri hendaknya memberikan apresiasi (reward) atas perilaku baik anak kyai. Tentu saja reward and punishment harus juga diberlakukan di rumah; dalam lingkungan keluarga.

Ketiga, hilangkan mental feodalisme sejak dini. Ajarkan kerendahhatian, keseteraan antar-manusia, dan bahwa penghargaan Allah dan manusia akan didapat dengan keilmuan yang tinggi dan kesalihan perilaku (QS Al Mujadalah 58: 11); bukan karena faktor keturunan.[]


Pendidikan Anak Kyai (3)
Oleh A. Fatih Syuhud
Pondok Pesantren Al-Khoirot

Kyai Dimyati adalah pengasuh sebuah pesantren di Kampung Cidahu Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Banten. Beliau dikenal sebagai ulama yang komplit: tinggi ilmunya, luas wawasannya, kharismatik kepribadiannya dan yang tak kalah penting, disiplin dalam mendidik putranya.

Setiap pagi Abuya Dimyati, begitu beliau biasa disapa para santrinya, mengajar kitab kuning pada para santri yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air. Program pengajian kitab ini dianggap sangat penting bagi beliau. Terbukti, tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu acara tersebut. Para tamu pejabat tinggi yang sering datang untuk silaturrahmi harus menunggu dengan sabar sampai beliau selesai mengajar. Apalagi tamu-tamu yang lain. Ini fenomena langka. Umumnya, tidak sedikit para kyai yang meliburkan program pengajian kitabnya apabila ada pejabat penting yang datang bertamu. Beliau dikenal dengan prinsip yang dikatakannya dalam bahasa Sunda: “Thariqah aing mah ngaji!” (Tarekat saya adalah ngaji). Ini mirip dengan kata-kata kyai Syuhud Zayyadi saat ditanya kenapa beliau sangat menyukai sholawat. “Tang tarikat jiyah sholawat” (tarikat saya adalah baca sholawat), jawab beliau dalam sebuah kesempatan.

Tetapi kelebihan Abuya bukan itu saja. Ada satu hal lagi yang patut diteladani oleh para kyai lain. Yaitu, beliau tidak akan memulai mengajar kitab sampai semua putra-putrinya hadir. Mendidik para santri merupakan hal penting. Tetapi bagi Abuya Dimyati, mendidik keluarga (istri dan anak) sendiri jauh lebih penting karena itu perintah pertama yang secara eksplisit disebut dalam Al Quran agar pendidikan dimulai dari diri sendiri dan keluarga (QS At Tahrim 66 :6).

Seperti pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya, kesuksesan seorang kyai bukan pada seberapa banyak santri yang nyantri di pesantrennya. Sukses tidaknya seorang kyai dalam hemat saya terletak pada seberapa besar dia berhasil mendidik keluarganya yakni anak dan istrinya. Dalam konteks ini, Abuya Dimyati merupakan sosok ulama yang sangat sukses.

Kesuksesan Abuya bukan hanya dalam memberikan wawasan keilmuan pada anak sehingga putra-putrinya mewarisi kealiman ayahnya. Tetapi juga dalam mendidik kepribadian mereka.

Di Banten beliau adalah seorang ulama yang masyhur. Masyarakat Banten menyebutnya sebagai “pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia.” Karena selain kyai yang berilmu tinggi, beliau juga seorang mursyid tarikat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Tidak heran, dengan kemasyhuran itu, banyak para pejabat tinggi negara yudikatif dan legislatif yang bertamu ke rumahnya. Biasanya, tamu pejabat tinggi tidak datang dengan tangan hampa. Tidak sedikit dari mereka yang datang dengan berbagai limpahan hadiah namun semua itu ditolaknya. Ketika beliau diberi sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut. Salah satu contoh, ketika beliau diberi sumbangan oleh Mbak Tutut (anak mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.

Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja dan sederhana. Kesederhanaan adalah perilaku ideal seorang kyai. Dan perilaku keseharian adalah teladan terbaik orang tua dalam memberi pendidikan kepribadian pada anak-anaknya (QS Al Ahzab 33:21).

Tentu, hidup sederhana tidak harus bermakna miskin. Justru, hidup sederhana yang ideal adalah yang dilakukan orang kaya. Karena itu menjadi bukti, bahwa kekayaan bukanlah tujuan, tapi hanya sebagai akibat dari hasil kerja keras yang notabene merupakan salah satu perintah Allah (QS Al Jumah 62:9-10).[]

Comments

  • Subhanallah, artikel yang sangat brilliant Mas Fatih.
    Memang paradigma di pesantren kebanyakan seperti yang diutarakan di atas. Ada ungkapan, ”kita bukan melihat anaknya, tapi lihat siapa di atasnya.”

    @Roni_YusronAugust 29, 2012

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.