Pendidikan Anak Pejabat

Bagaimana sistem Pendidikan Anak Pejabat agar mereka menjadi pribadi yang berpotensi sebagai pemimpin masa depan yang salih, jujur dan pekerja keras.
Pendidikan Anak Pejabat
Oleh A. Fatih Syuhud

Anak pejabat adalah salah satu kelompok muda elite negeri ini yang berpotensi besar menjadi salah satu pionir atau pemimpin kemajuan Islam Indonesia ke depan di samping anak kyai, anak orang kaya dan anak habaib. Hal itu disebabkan karena mereka sudah menikmati beberapa keunggulan yang diperlukan untuk menjadi calon pempimpin. Seperti, ekonomi yang relatif mapan, figur kepemimpinan pada ayah atau ibu mereka yang menjadi pejabat.

Ekonomi mapan menjadi salah satu syarat penting bagi seorang anak di Indonesia untuk dapat menikmati pendidikan setinggi mungkin. Sedang status orang tua yang menempati jabatan tertentu dalam pemerintahan akan menjadikan gaya kepemimpinannya tertular secara natural pada anak.

Secara empirik, kalangan anak pejabat ini memiliki peran yang tidak kecil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Soekarno, presiden pertama dan salah satu founding fathers negeri ini, adalah seorang anak wedono (camat masa Belanda). Anak pejabat cenderung memiliki keberanian yang lebih dibanding anak yang lain. Terutama dalam mendorong terjadinya suatu perubahan dari status quo. Karena, mereka sudah terbiasa dengan kelompok yang menentang perubahan itu, yakni para penguasa yang nota bene merupakan bagian dari lingkungan kesehariannya.

Namun demikian, tidak semua anak pejabat dapat memanfaatkan berbagai privelese yang ada untuk tujuan yang lebih positif bagi dirinya, bangsa dan agamanya. Tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Bahkan, kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang berlatarbelakang anak pejabat semakin memperumit masalah karena aparat penegak hukum setengah hati untuk membasmi kejahatan yang mereka lakukan. Keluarga broken home (keluarga tidak harmonis) dan tidak ada atau kurangnya kepedulian orang tua serta buruknya lingkungan pergaulan disinyalir menjadi faktor-faktor yang menyebabkan anak pejabat menjadi penyakit masyarakat.

Lalu, apa yang harus dilakukan seorang pejabat dalam mendidik anak-anaknya agar tidak saja sukses dalam pendidikan formal, tapi juga berhasil memiliki nilai-nilai kepemimpinan dan religiusitas?

Pertama, ciptakan lingkungan dalam rumah yang baik dan ideal. Itu berarti, kehidupan orang tua yang harmonis, religius dan sederhana. Pelajaran budi luhur yang ideal hendaknya dari suri tauladan orang tua.

Kedua, buatlah citra sebagai sosok pejabat yang jujur dan berdedikasi. Pejabat yang jujur dan tidak korup selalu tercermin dari gaya hidup yang sederhana dan emoh kemewahan. Sementara dedikasi yang tinggi terhadap jabatan yang disandang akan membuatnya betul-betul bekerja keras dan optimal dalam melaksanakan amanah yang disandangnya.

Ketiga, penanaman disiplin pada anak yang konsisten dan berkelanjutan. Sistem reward and punishment (penghargaan dan sanksi) terhadap anak hendaknya menjadi metode yang terus-menerus diberlakukan sejak dini dalam proses memperkenalkan nilai-nilai baik dan buruk.

Keempat, penanaman mindset (pola pikir) kesetaraan sosial. Bahwa penghormatan dan penghargaan yang tulus dari sesama umat manusia bukan disebabkan oleh faktor jabatan, keturunan atau kekayaan kita. Tapi, dari seberapa kita menghargai dan menghormati sesama tanpa memandang latar belakang status sosial.

Kelima, penanaman mindset kepemimpinan (leadership). Bahwa anak pejabat terlahir sebagai insan yang lebih beruntung secara materi dibanding mereka yang terlahir dari keluarga miskin. Adalah tugas dia untuk peduli memikirkan nasib kelompok dhuafa. Berusaha membantu mereka dengan fikiran, tenaga dan harta.

Keenam, tanamkan nilai-nilai keagamaan (Islam) sejak dini. Hanya nilai-nilai agama yang dapat menjadi benteng terakhir saat nilai-nilai lain tidak mampu membendung arus degradasi moral.

Pendidikan non-formal yang baik di dalam rumah, linkungan kondusif di luar rumah, dan pendidikan formal yang sesuai dengan keinginan anak serta dasar pengetahuan agama yang cukup akan membuat seorang anak pejabat menjadi anak muda yang berpotensi menjadi calon pemimpin yang ideal kelak.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.