Pendidikan Anak Pejabat

Bagaimana sistem Pendidikan Anak Pejabat agar mereka menjadi pribadi yang berpotensi sebagai pemimpin masa depan yang salih, jujur dan pekerja keras. Salah satu alternatifnya adalah dengan menyekolahkan mereka ke pesantren karena di pondok tersedia sistem pendidikan yang lengkap baik formal maupun pendidikan agama.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-UKhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri

Daftar Isi

  1. Pendidikan Anak Pejabat
  2. Pendidikan Santri


Pendidikan Anak Pejabat

Anak pejabat adalah salah satu kelompok muda elite negeri ini yang berpotensi besar menjadi salah satu pionir atau pemimpin kemajuan Islam Indonesia ke depan di samping anak kyai, anak orang kaya dan anak habaib. Hal itu disebabkan karena mereka sudah menikmati beberapa keunggulan yang diperlukan untuk menjadi calon pempimpin. Seperti, ekonomi yang relatif mapan, figur kepemimpinan pada ayah atau ibu mereka yang menjadi pejabat.

Ekonomi mapan menjadi salah satu syarat penting bagi seorang anak di Indonesia untuk dapat menikmati pendidikan setinggi mungkin. Sedang status orang tua yang menempati jabatan tertentu dalam pemerintahan akan menjadikan gaya kepemimpinannya tertular secara natural pada anak.

Secara empirik, kalangan anak pejabat ini memiliki peran yang tidak kecil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Soekarno, presiden pertama dan salah satu founding fathers negeri ini, adalah seorang anak wedono (camat masa Belanda). Anak pejabat cenderung memiliki keberanian yang lebih dibanding anak yang lain. Terutama dalam mendorong terjadinya suatu perubahan dari status quo. Karena, mereka sudah terbiasa dengan kelompok yang menentang perubahan itu, yakni para penguasa yang nota bene merupakan bagian dari lingkungan kesehariannya.

Namun demikian, tidak semua anak pejabat dapat memanfaatkan berbagai privelese yang ada untuk tujuan yang lebih positif bagi dirinya, bangsa dan agamanya. Tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Bahkan, kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang berlatarbelakang anak pejabat semakin memperumit masalah karena aparat penegak hukum setengah hati untuk membasmi kejahatan yang mereka lakukan. Keluarga broken home (keluarga tidak harmonis) dan tidak ada atau kurangnya kepedulian orang tua serta buruknya lingkungan pergaulan disinyalir menjadi faktor-faktor yang menyebabkan anak pejabat menjadi penyakit masyarakat.

Lalu, apa yang harus dilakukan seorang pejabat dalam mendidik anak-anaknya agar tidak saja sukses dalam pendidikan formal, tapi juga berhasil memiliki nilai-nilai kepemimpinan dan religiusitas?

Pertama, ciptakan lingkungan dalam rumah yang baik dan ideal. Itu berarti, kehidupan orang tua yang harmonis, religius dan sederhana. Pelajaran budi luhur yang ideal hendaknya dari suri tauladan orang tua.

Kedua, buatlah citra sebagai sosok pejabat yang jujur dan berdedikasi. Pejabat yang jujur dan tidak korup selalu tercermin dari gaya hidup yang sederhana dan emoh kemewahan. Sementara dedikasi yang tinggi terhadap jabatan yang disandang akan membuatnya betul-betul bekerja keras dan optimal dalam melaksanakan amanah yang disandangnya.

Ketiga, penanaman disiplin pada anak yang konsisten dan berkelanjutan. Sistem reward and punishment (penghargaan dan sanksi) terhadap anak hendaknya menjadi metode yang terus-menerus diberlakukan sejak dini dalam proses memperkenalkan nilai-nilai baik dan buruk.

Keempat, penanaman mindset (pola pikir) kesetaraan sosial. Bahwa penghormatan dan penghargaan yang tulus dari sesama umat manusia bukan disebabkan oleh faktor jabatan, keturunan atau kekayaan kita. Tapi, dari seberapa kita menghargai dan menghormati sesama tanpa memandang latar belakang status sosial.

Kelima, penanaman mindset kepemimpinan (leadership). Bahwa anak pejabat terlahir sebagai insan yang lebih beruntung secara materi dibanding mereka yang terlahir dari keluarga miskin. Adalah tugas dia untuk peduli memikirkan nasib kelompok dhuafa. Berusaha membantu mereka dengan fikiran, tenaga dan harta.

Keenam, tanamkan nilai-nilai keagamaan (Islam) sejak dini. Hanya nilai-nilai agama yang dapat menjadi benteng terakhir saat nilai-nilai lain tidak mampu membendung arus degradasi moral.

Pendidikan non-formal yang baik di dalam rumah, linkungan kondusif di luar rumah, dan pendidikan formal yang sesuai dengan keinginan anak serta dasar pengetahuan agama yang cukup akan membuat seorang anak pejabat menjadi anak muda yang berpotensi menjadi calon pemimpin yang ideal kelak.[]


Pendidikan Santri
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Alkhoirot Malang

Pesantren merupakan tempat pendidikan yang paling ideal bagi anak dan remaja. Karena, di pesantren anak tidak hanya belajar ilmu agama dan umum, tapi juga belajar etika dan akhlakul karimah serta keterampilan. Semuanya dalam satu paket. Dan yang tak kalah pentingnya adalah sistem pendidikan di pesantren dilakukan selama 24 jam setiap harinya.

Di tengah murahnya teknologi informasi seperti hanphone (hp) yang menjangkau kalangan pedesaan dengan dampak negatifnya pada pergaulan bebas yang meluas di kalangan remaja, maka pesantren menjadi harapan satu-satunya para orang tua yang menginginkan anaknya dapat melanjutkan pendidikan dengan tenang tanpa terpolusi oleh lingkungan yang kurang kondusif. Karena, apapun keinginan dan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya akan sulit tercapai apabila ada faktor x yang menginterupsi kelancaran usaha yang ditempuh.

Dalam konteks kehidupan remaja, faktor pengganggu ini dapat dikategorikan dalam dua tipe. Yaitu, pergaulan yang tidak kondusif dan pengaruh negatif teknologi seperti handpone dan game. Dua macam penyakit proses kegiatan belajar mengajar ini menjadi salah satu perhatian pokok di pesantren. Di pesantren, umumnya teknologi yang tidak memiliki manfaat sama sekali, seperti game, total dilarang.

Lingkungan pergaulan yang kondusif untuk fokusnya konsentrasi anak juga diberlakukan di pesantren, khususnya Al-Khoirot. Seperti segregasi atau pemisahan putra-putri dalam seluruh aktivitas belajarnya. Mulai dari madrasah diniyah, sekolah formal dan pengajian kitab. Hal ini dilakukan selain sebagai anjuran syariah juga sebagai pelatihan untuk mentradisikan kebiasaan positif. Karena pada umumnya, manusia memiliki kakakter yang berimbang antara kecenderungan berbuat baik dan keinginan berbuat buruk. Oleh karena itu, lingkungan yang baik mutlak diperlukan untuk terciptanya anak yang baik. Dan pesantren umumnya adalah tempat yang memang dibangun untuk menciptakan suasana yang mendukung pendidikan di segala bidang. Baik itu pendidikan keilmuan maupun pendidikan akhlak.

Namun demikian, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi orang tua santri agar pendidikan anaknya selama mondok di pesantren berhasil. Pertama, pendidikan harus dimulai dari rumah. Jauh sebelum anak belajar di pesantren. Yakni, sejak anak baru lahir, orang tua harus memberikan suasana dan lingkungan yang baik bagi anaknya. Pendidikan di rumah yang utama ada dua yaitu (a) contoh yang baik (uswah hasanah) dari orang tua dan lingkungan terdekat; dan (b) sanksi dan penghargaan. Hargai kebaikan anak dengan hadiah yang mendidik, seperti pujian, dan hukum kenakalan anak dengan sanksi yang juga mendidik (bukan dengan kekerasan). Poin (b) ini sangat penting. Konsistensi atau tidaknya dalam memberlakukan poin (b) akan berpengaruh besar pada perilaku anak ke depan.

Kedua, setelah anak mulai belajar di pesantren orang tua hendaknya membantu program pesantren dengan (a) tetap intensif mendidik dan mengawasi anak saat anak berada di rumah; (b) tidak meminta anak pulang untuk keperluan yang tidak penting; (c) tidak menengok anak saat mereka sedang dalam aktivitas belajar; (d) selalu mengingatkan anak agar taat pada peraturan pesantren baik saat berada di pondok maupun ketika di rumah.

Ketiga, melatih anak untuk hidup sederhana. Hidup sederhana adalah hidup yang tidak konsumtif yaitu tidak membeli sesuatu atau mengeluarkan uang kecuali karena memang dianggap sangat perlu dan ada manfaatnya. Hidup sederhana adalah salah satu kunci kebaikan perilaku. Karena hidup sederhana erat kaitannya dengan kontrol diri (self-control). Saat kita mampu mengontrol diri untuk tidak membeli apa yang diinginkan, kecuali yang bermanfaat, maka kita akan mampu mengontrol diri untuk selalu melakukan yang terbaik dan menjauhi perilaku tidak terpuji. Allah berfirman, bahwa kerusakan dimulai dari orang kaya yang hidup boros dan bermewah-mewahan (QS Al Isra’ 17:16 ). Karena itu memang pangkal dari berbagai macam kejahatan termasuk kesenjangan sosial yang akan berujung pada kejahatan yang lain.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.