Pendidikan Anak Orang Kaya

Pendidikan Anak Orang Kaya. Biasakan anak hidup sederhana sejak dini. Pembiasaan ini tentu harus dimulai dari suri tauladan kedua orang tua. Juga, bekali anak dengan ilmu sehingga harta yang dimiliki tidak habis bahkan berkembang
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Alkhoirot Malang

Daftar Isi

  1. Pendidikan Anak Orang Kaya
  2. Bekali Anak dengan Ilmu


Pendidikan Anak Orang Kaya

Secara ekonomi, manusia terbagi menjadi 3 kelompok. Kaya, miskin, dan miskin sekali atau di bawah garis kemiskinan (under poverty line). Menurut PBB, orang yang berpenghasilan kurang dari Rp 16.000 (2 dolar Amerika) perhari disebut dengan miskin sekali. Sedang yang berpenghasilan di atas Rp 16.000 perhari tapi belum dapat memenuhi kebutuhan hidup layak disebut miskin saja. Lalu, siapa yang disebut orang kaya?

Menurut The American Heritage Dictionary of the English Language, definisi orang kaya (wealthy) adalah “an individual… that possesses an abundance of such possessions or resources.” Seseorang yang memiliki banyak harta atau sumber daya. Definisi ini tampaknya mengacu pada orang yang kaya sekali. Sedang orang kaya biasa di Barat biasa disebut dengan middle class (kelas menengah). Yaitu, orang yang berpenghasilan sedang dan terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti rumah, pendidikan anak, pakaian dan mobil (walaupun bekas). Di Indonesia kelas menengah ini adalah mereka yang berpenghasilan sekitar Rp 10 juta lebih perbulan yang umumnya disebut orang kaya walaupun bukan kaya sekali.

Tidak sedikit dari orang kaya di Indonesia dulunya berasal dari keluarga miskin. Berkat determinasi untuk merubah nasib akhirnya mereka dapat hidup layak. Baik sebagai pengusaha, pejabat atau pegawai perusahaan dengan gaji besar.

Latar belakang masa kecil yang miskin terkadang membuat orang tua memiliki pola pikir yang salah dalam membesarkan anak. Yaitu, orang tua tidak ingin penderitaan masa kecilnya terulang pada anaknya. Dan dengan itu, mereka memanjakan anaknya dengan berbagai macam cara. Mulai dari menuruti segala permintaan anak. Membiarkan apapun yang dilakukan anak. Dan bahkan yang paling ekstrim, membela perilaku salah yang dilakukan anak.

Spoiled Child Syndrome

Bruce J. McIntosh, dalam bukunya The ABCs of Parenting: a Guide to Help Parents and Caretakers Handle Childrearing Problems, menyebut memanjakan anak seperti itu akan menjadikan anak terjangkit perilaku spoiled child syndrome (sindrom anak manja) yang dapat ditandai dengan perilaku anti-sosial seperti tindakan berlebihan, kekanak-kanakan, mudah marah, kurang tepo seliro (tenggang rasa) pada orang lain, sulit mengontrol diri, keras kepala, obstruktif dan manipulatif. Buruknya lagi, sindrom ini akan terbawa sampai ia dewasa sehingga akan sangat menyulitkan anak saat ia berinteraksi dengan yang lain baik itu teman sebaya maupun yang lebih tua.

Oleh karena itu, orang tua yang hartawan harus melakukan langkah-langkah preventif agar anaknya terhindari dari terjangkit perilaku spoiled child syndrome dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

Pertama, merubah mindset (pola pikir) dalam memaknai kata “sayang anak.” Sayang anak hendaknya diartikan sebagai perlakuan mendidik yang akan membuat anak senang dalam jangka panjang. Bukan menyenangkan anak dalam jangka pendek. Contoh, apabila anak yang baru sekolah SD atau SMP meminta dibelikan Blackberry (BB) atau HP maka orang tua mempunyai dua pilihan. Apabila sayang jangka pendek, permintaan akan dituruti. Naumn, apabila sayang anak dengan pemikiran jangka panjang, permintaan itu tidak akan dikabulkan karena kepemilikan HP berefek kurang baik bagi anak di bawah umur.

Kedua, biasakan anak hidup sederhana sejak dini. Pembiasaan ini tentu harus dimulai dari suri tauladan kedua orang tua.

Ketiga, apabila kurang memahami ilmu parenting, konsultasi pada ahlinya sejak anak baru lahir tentang bagaimana mendidik dan membesarkan anak supaya jadi anak salih, hidup normal, sehat, cerdas dan mandiri.

Keempat, jangan lupa selalu berdoa untuk anak setiap habis salat. Termasuk setelah salat tahajjud kalau memungkinkan.[]


Bekali Anak dengan Ilmu
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SANTRI
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Apapun harapan kita terhadap anak saat dia dewasa, satu hal yang harus dilakukan adalah membekalinya dengan ilmu. Ilmu menjadi kunci pintu masuk pertama menuju gerbang kesuksesan. Seseorang butuh ilmu untuk kesuksesan akhirat (QS At Taubah :122). Dan butuh ilmu untuk keberhasilan duniawi (QS Ali Imran 3:190). Bukan bekal harta, karena harta akan habis apabila berada di tangan orang yang tidak berilmu. Allah juga menjamin bahwa orang berilmu akan dinaikkan statusnya pada beberapa level melebihi status orang yang tidak berilmu (QS Al Mujadalah 58:11).

Oleh karena itu, apa yang harus menjadi prioritas orang tua terhadap anaknya ada tiga yaitu (a) pendidikan; (b) pendidikan; dan (c) pendidikan. Hal-hal lain yang di luar pendidikan akan berjalan dengan sendirinya apabila anak berhasil mencapai level pendidikan tertentu yang diinginkan dengan lancar. Baik pendidikan formal dan noformal.

Bekal ilmu saat usia prasekolah berarti pendidikan di rumah. Dan menurut para ahli, pendidikan prasekolah di rumah menjadi barometer akan sukses tidaknya pendidikan anak pada tahap-tahap selanjutnya. Di sini peran kedua orang tua sangat penting. Dan lebih penting lagi adalah peran ibu. Dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas, bahwa peran ibu akan sangat menentukan berhasil tidaknya pendidikan anak ke depan.

Saat memasuki usia sekolah, kontribusi orang tua tetap penting. Tapi, lingkungan juga mulai memainkan peranannya. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, teman-temannya di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA memiliki pengaruh lebih besar. Banyak kasus di mana anak yang memiliki lingkungan yang baik di rumah, tapi mengalami kegagalan dalam hidup karena terlalu kuatnya pengaruh teman. Di sini, orang tua harus betul-betul waspada dengan lingkungan luar anaknya baik teman sekolah maupun teman tetangga dekat. Saat ini, pengawasan dengan siapa anak bergaul harus dimulai bahkan sejak sangat dini. Sejak SD dan bahkan sejak prasekolah. Masih segar dalam ingatan kita kasus yang terjadi di Malang dan Palembang di mana seorang anak usia 2 tahun yang sudah kecanduan merokok dan suka berkata kotor akibat lingkungan sekitar rumah yang buruk. Orang tua juga harus cepat mengambil tindakan apabila lingkungan sekolah dan lingkungan rumah sudah tidak memungkinkan bagi anak untuk mendapatkan pendidikan karakter yang baik. Walaupun “tampaknya” si anak tidak terpengaruh dengan lingkungan buruk tersebut.

Caranya, pindahkan ke sekolah yang memiliki lingkungan kondusif kalau masalahnya terletak pada buruknya lingkungan sekolah. Dan pindahkan ke pesantren apabila yang menjadi masalah tidak hanya lingkungan sekolah, tapi juga lingkungan rumah. Tentang pesantren mana yang akan dipilih, pertimbangannya tentu harus berdasarkan pada tujuan awal dan ekspektasi orang tua serta minat anak itu sendiri. Contohnya, apabila orang tua menginginkan anaknya jadi dokter atau insinyur dan anaknya berbakat di bidang ilmu pasti (sains), maka hendaknya anak dimasukkan ke pesantren yang memang sekolah formalnya (SLTA) memiliki jurusan tersebut. Begitu juga, apabila anak berminat di bidang sosial, maka orang tua dapat mengirimkan anak ke pesantren yang memiliki pendidikan SLTA jurusan sosial. Nilai plus (strong point) dari menyekolahkan anak di lingkungan pesantren adalah anak akan mendapat banyak tambahan keilmuan dan kecakapan (life skills). Seperti ilmu agama, akhlak dan etika, serta kecakapan ekstra kurikuler yang biasa dipelajari di SMK.

Tentu mengirim anak ke pesantren ada nilai minusnya: yaitu terpisahnya anak secara fisik dari orang tua. Tetapi, di sisi lain akan hal ini justru membuat anak menjadi lebih cepat mandiri dan lebih stabil secara mental.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.