Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun

Pendidikan Islam bagi Anak Usia 4 tahun, 5 tahun dan 6 tahun harus dilakukan semakin intensif karena pada usia ini anak mulai masuk sekolah TK (Taman Kanak-kanak), RA (Raudhatul Atfal), SD (Sekolah Dasar), MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang berarti anak sudah mulai mengenal lingkungan luar yakni teman-teman sekolah. Sudah mulai ada pengaruh luar yang mungkin positif tapi juga bisa negatif. Penanaman disiplin melalui reward and punishment penting dilakukan secara konstan dan terus menerus.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesantren Alkhoirot Putri, Malang

Daftar Isi

  1. Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 5 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 6 Tahun


Pendidikan Anak Usia 4 Tahun

Umumnya, pada usia 4 tahun ini si kecil baru mulai masuk TK (Taman Kanak-kanak). Baik TK yang biasa atau TK Al Quran yang dikenal dengan TKA (Taman Kanak-kanak Al Quran) atau TPQ (Taman Pendidikan Al Quran). Itu artinya, sebagian tanggung jawab pendidikan anak terlimpahkan pada para guru TK tersebut.

Namun demikian, adalah salah besar apabila orang tua menyerahkan pendidikan anak 100% pada lembaga pendidikan. Kegagalan pendidikan kepribadian anak kebanyakan karena kegagalan pendidikan dalam rumah; yakni pendidikan orang tua.

Dalam konteks pendidikan orang tua, ibulah yang paling memegang peranan penting. Oleh karena itu, sukses tidaknya masa depan anak dan baik buruknya kepribadiannya, akan sangat tergantung seberapa peran ibu dalam proses pendidikannya. Terutama dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni usia 0 – 6 tahun dan 6 – 16 (usia SD SMP). Tentu saja peran ayah tak kalah pentingnya, terutama dalam proses pembangunan kepribadian (character building).

Berikut beberapa tips untuk menstimulasi kemampuan intelektual dan sosial anak usia 4 tahun.

Pertama, bacakan buku, khususnya buku Islam untuk anak-anak, setiap hari dan dorong mereka untuk melihat bukunya sendiri. Beri bahan bacaan alternatif dari iklan koran, kotak susu, dan lain-lain. Dorong mereka bercerita pada yang lebih muda.

Kedua, ajarkan akhlak atau etika bersosial yang baik menurut Islam. Saat dia merebut mainan temannya, ingatkan untuk meminjam secara baik-baik. Saat temannya berbagi mainan, ajarkan untuk berterima kasih. Saat dia melakukan kesalahan, ajarkan untuk meminta maaf. Ketiga konsep ini tidak saja harus diajarkan, tapi juga mesti dicontohkan oleh kedua orang tua. Bagaimanapun, keteladanan orang tua adalah guru terbaik bagi si kecil. Al Quran berulang kali menekankan betapa pentingnya keteladanan dalam menuju suksesnya pendidikan akhlak (QS 33:21; Al Mumtahanah 60:4, 6). Apa yang ingin dilakukan oleh anak, hendaknya dilakukan juga oleh orang tua. Apa yang tidak ingin dilakukan anak, hendaknya orang tua tidak melakukannya juga.

Sebagai contoh, apabila sang ayah ingin anaknya tidak merokok, maka ia hendaknya juga tidak merokok; berhenti merokok apabila asalnya seorang perokok; atau setidak-tidaknya tidak merokok di depan anak-anaknya.

Ketiga, ajarkan kesadaran multikultural dan toleransi terhadap keragaman dan perbedaan. Baik keragaman adanya berbagai golongan dalam Islam maupun di luar Islam. Hal ini dapat dilakukan melalui representasi boneka, gambar dan buku. Seperti boneka orang-orang dari berbagai suku, bangsa dan agama. Gambar masjid, gereja, pagoda, dan buku-buku tentang perayaan masing-masing. Bagi seoang muslim, agama terbaik adalah Islam (QS Ali Imron 3:19). Pada waktu yang sama seorang muslim dituntut untuk mengakui dan mengapresiasi perbedaan pilihan (QS Al Hujurat 49:13). Toleransi dan menghormati perbedaan, dengan demikian, menjadi salah satu nilai pokok (core value) Islam.

Keempat, anak usia 4 tahun memiliki kebutuhan kuat untuk dianggap penting dan berharga. Pujilah pencapaian yang diraihnya, dan berikan hadiah berupa kesempatan untuk merasakan kebebasan dan kemandirian.

Yang tak kalah pentingnya, orang tua, terutama ibu, harus rajin mengasah kemampuan. Dengan cara banyak membaca bacaan seputar pendidikan anak dan berkonsultasi dengan ahlinya.[]


Pendidikan Anak Usia 5 Tahun
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Pondok Pesantren Alkhoirot Malang

Jadi, anak kita sudah masuk kelas nol besar di TK. Sedikitnya, 25 persen waktunya berada di luar rumah bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Dan berada di bawah pengawasan guru-gurunya. Namun sebagian besar atau sekitar 75 persen waktu anak masih bersama orang tuanya. Oleh karena itu anak tetap berada di bawah tanggung jawab penuh orang tua. Peran orang tua, terutama ibu, tetap sangat penting dalam usia ini.

Membangun Karakter

Ciri khas dari anak usia lima tahun adalah bahwa dia berfikir pendek dan spontan. Dia tidak paham konsekuensi jangka panjang atas apa yang dilakukan. Dia juga sulit menyikapi pandangan yang berbeda sehingga hal ini akan terkesan sedikit keras kepala.

Di sisi lain seperti dikatakan Lesia Oesterreich, seorang spesialis anak dari Universitas Iowa Amerika, anak usia lima tahun memiliki karakter yang lebih sensitif pada kebutuhan dan perasaan orang lain di sekitarnya. Mereka tidak merasa sulit untuk antri dan berbagi mainan dengan teman-temannya.

Membaca

Membaca buku juga bisa dimulai dari usia ini. Walaupun tahap kemampuan anak untuk membaca tidak sama; namun pelajaran membaca sudah bisa dicoba dimulai dengan cara yang santai, kreatif dan tidak menekan anak.

Jangan lupa pakailah buku anak-anak Islami. Terutama kisah para Nabi dan tokoh-tokoh Islam lain di masa lalu dan sekarang. Buku anak-anak lain yang mendidik tentu tidak apa-apa jadi bahan bacaan, asal tidak melebihi porsi buku-buku Islami. Pentingnya membaca mendapat penekanan khusus dalam Al Quran sebagai kunci menuju keilmuan (QS Al Alaq 96:1-5).

Menanamkan Disiplin

Disiplin harus dimulai dari usia ini. Menanamkan disiplin artinya memberi hukuman atas kesalahan yang dilakukan anak. Disiplin bertujuan agar supaya anak tahu bahawa apa yang dilakukan itu tidak baik.

Seperti disinggung di muka, anak usia 5 tahun berfikir pendek. Oleh karena itu, orang tua harus menyadari bahwa satu kali penanaman disiplin untuk suatu kesalahan tidaklah cukup. Anak mungkin akan mengulangi kesalahan yang sama beberapa kali setelah itu. Orang tua tidak perlu terkejut atau putus asa. Yang terpenting adalah bahwa anak sudah mengambil pelajaran setiap kali menerima hukuman atas kesalahanannya. Pastikan orang tua tetap konsisten memberi sangsi disiplin setiap kali anak melakukan kesalahan. Baik kesalahan yang sama maupun kesalahan baru. Dan yang tak kalah penting, pastikan anak menerima pujian atau penghargaan setiap kali melakukan suatu hal yang baik. Apresiasi atau pujian pada anak usia ini antara lain berupa ucapan terima kasih sambil menyebutkan perbuatan baik apa yang telah dilakukan si anak. Misalnya, “Kamu telah merapikan mainanmu. Terima kasih.”.

Jangan lupa, hukuman pada anak jangan sampai yang bersifat fisikal, seperti memukul, menampar, mencubit, dsb. Hukuman fisik seperti itu akan sangat berbahaya bagi mental dan perilaku anak di kemudian hari. Hukuman disiplin hendaknya yang bersifat non-fisikal, seperti dikurung dalam kamar selama 5 menit, dsb.

Kasih Sayang

Menanamkan disiplin sejak dini yang tegas pada anak harus juga dibarengi dengan ekspresi kasih sayang yang juga jelas. Baik dalam bentuk ekspresi perilaku maupun kata-kata. Sehingga tidak menimbulkan kesan pada anak bahwa orang tua benci padanya.

Singkatnya, orang tua harus bisa berperan dan tahu kapan waktunya untuk memerankan diri sebagai sahabat, guru, pembimbing, dan sebagai orang tua bagi si anak.[]


Pendidikan Islam Anak Usia 6 Tahun
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
Pondok Pesantren Putri Alkhoirot, Malang

Secara sosial dan emosional anak usia 6 tahun memiliki sejumlah karakteristik yang khas yang berbeda dibanding saat usia 5 tahun. Misalnya, adanya kesadaran akan fakta bahwa orang lain mungkin berbeda pandangan dengannya. Namun pada saat yang sama ia dapat juga bersikap kaku, banyak menuntut dan tidak mampu beradaptasi. Dengan sikap ini, maka suatu kritik atau hukuman dapat melukai hatinya. Independensi juga semakin kuat, walaupun masih tetap merasa kuatir.

Usia 6 tahun juga ditandai dengan selesainya jenjang pendidikani TK (Taman Kanan-kanan) dan mulainya babak baru memasuki bangku Sekolah Dasar (SD). Suasana kelas, teman, guru dan aktifitas pun berbeda dibanding sebelumnya. Oleh karena itu, orang tua pun harus beradaptasi dengan perubahan ini dalam mendidik anak saat di rumah. Mengingat putra Anda saat ini memiliki rasa kengintahuan yang besar, aktif, dan sedang menyerap pertemanan dan suasana baru di sekolah.

Berikut beberapa langkah minimal yang perlu dilakukan orang tua.

Berikan sistem pananaman disiplin yang konsisten di rumah untuk membantu putra Anda beradaptasi dengan disiplin di sekolah.

Berikan ruang gerak yang luas untuk aktifitas fisik guna membantunya mengembangkan kemampuan.

Jangan pelit dengan pujian.

Bersabarlah dengan perilaku egoisnya; itu akan berlalu seiring waktu. Jangan lupa untuk selalu mengingatkan dia akan buruknya sikap itu.

Datanglah pada acara-acara di sekolahnya. Termasuk kompetisi olahraga yang dia ikuti.

Membangun Karakter Spiritual
Seperti ditulis dalam artikel sebelumnya, karakter religi atau pendidikan keislaman harus mulai ditanamkan sejak dalam kandungan, beberapa saat setelah lahir, dan tahun-tahun berikutnya.

Pada saat balita, penekanan pendidikan keagamaan hendaknya diprioritaskan pada keharusan menyembah Allah dan tanda-tanda adanya Allah. Keesaan dan kekuasaan-Nya. Referensi buku, cd, dvd Islami untuk anak-anak dapat dibuat rujukan untuk membantu orang tua menanamkan pola pikir (mindset) religius anak sejak dini.

Jika kebiasaan salat lima waktu yang pada saat balita dilakukan tidak secara konsisten dan cuma satu atau dua waktu saja, maka pada usia ini orang tua hendaknya memberi pemahaman bahwa si anak harus mulai belajar untuk melakukan shalat lima waktu dalam sehari. Dan wajibnya melakukan salat tersebut. Hal ini agar anak siap secara mental saat dia diwajibkan melakukan salat lima waktu pada saat usianya mencapai 7 tahun. Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat saat usia mereka tujuh tahun dan pukullah mereka ketika sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka tempat tidurnya” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Tentu saja, pola pikir dan pola sikap religius itu bukan hanya salat. Perlunya taat pada orang tua hendaknya juga menjadi etika prioritas yang selalu dicamkan ke hati anak dan didengung-dengungkan di telinga anak dalam berbagai kesempatan sebagai salah satu bagian penting dari perilaku religius.

Allah berfirman: “Dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS Al Isra’ 17:23).[]

Comments

  • Thanks guys, I just about lost it lokiong for this.

    KubatNovember 10, 2015
  • Assalamualaikum…. Terima kasih pa… Tulisan bapak tentg pendidikan anak sangat menginspirasi saya, sebagai ibuuda yg masih kurang pengalaman dalam pendidikan anaksemoga bapak sehat bapak sehingga dapat menginspirasi melalui tulisan dan lainnya. Amien

    pipiyJune 8, 2015
  • September 2, 2012

    […] Rudi Triatmono Personal BlogsPenulis TamuDajjal dalam hadisSELAMAT HARI WANITA SEDUNIA 2012Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun […]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.