Pendidikan Anak Usia 5 Tahun

Pendidikan Anak Usia 5 Tahun
Oleh A. Fatih Syuhud

Jadi, anak kita sudah masuk kelas nol besar di TK. Sedikitnya, 25 persen waktunya berada di luar rumah bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Dan berada di bawah pengawasan guru-gurunya. Namun sebagian besar atau sekitar 75 persen waktu anak masih bersama orang tuanya. Oleh karena itu anak tetap berada di bawah tanggung jawab penuh orang tua. Peran orang tua, terutama ibu, tetap sangat penting dalam usia ini.

Membangun Karakter

Ciri khas dari anak usia lima tahun adalah bahwa dia berfikir pendek dan spontan. Dia tidak paham konsekuensi jangka panjang atas apa yang dilakukan. Dia juga sulit menyikapi pandangan yang berbeda sehingga hal ini akan terkesan sedikit keras kepala.

Di sisi lain seperti dikatakan Lesia Oesterreich, seorang spesialis anak dari Universitas Iowa Amerika, anak usia lima tahun memiliki karakter yang lebih sensitif pada kebutuhan dan perasaan orang lain di sekitarnya. Mereka tidak merasa sulit untuk antri dan berbagi mainan dengan teman-temannya.

Membaca

Membaca buku juga bisa dimulai dari usia ini. Walaupun tahap kemampuan anak untuk membaca tidak sama; namun pelajaran membaca sudah bisa dicoba dimulai dengan cara yang santai, kreatif dan tidak menekan anak.

Jangan lupa pakailah buku anak-anak Islami. Terutama kisah para Nabi dan tokoh-tokoh Islam lain di masa lalu dan sekarang. Buku anak-anak lain yang mendidik tentu tidak apa-apa jadi bahan bacaan, asal tidak melebihi porsi buku-buku Islami. Pentingnya membaca mendapat penekanan khusus dalam Al Quran sebagai kunci menuju keilmuan (QS Al Alaq 96:1-5).

Menanamkan Disiplin

Disiplin harus dimulai dari usia ini. Menanamkan disiplin artinya memberi hukuman atas kesalahan yang dilakukan anak. Disiplin bertujuan agar supaya anak tahu bahawa apa yang dilakukan itu tidak baik.

Seperti disinggung di muka, anak usia 5 tahun berfikir pendek. Oleh karena itu, orang tua harus menyadari bahwa satu kali penanaman disiplin untuk suatu kesalahan tidaklah cukup. Anak mungkin akan mengulangi kesalahan yang sama beberapa kali setelah itu. Orang tua tidak perlu terkejut atau putus asa. Yang terpenting adalah bahwa anak sudah mengambil pelajaran setiap kali menerima hukuman atas kesalahanannya. Pastikan orang tua tetap konsisten memberi sangsi disiplin setiap kali anak melakukan kesalahan. Baik kesalahan yang sama maupun kesalahan baru. Dan yang tak kalah penting, pastikan anak menerima pujian atau penghargaan setiap kali melakukan suatu hal yang baik. Apresiasi atau pujian pada anak usia ini antara lain berupa ucapan terima kasih sambil menyebutkan perbuatan baik apa yang telah dilakukan si anak. Misalnya, “Kamu telah merapikan mainanmu. Terima kasih.”.

Jangan lupa, hukuman pada anak jangan sampai yang bersifat fisikal, seperti memukul, menampar, mencubit, dsb. Hukuman fisik seperti itu akan sangat berbahaya bagi mental dan perilaku anak di kemudian hari. Hukuman disiplin hendaknya yang bersifat non-fisikal, seperti dikurung dalam kamar selama 5 menit, dsb.

Kasih Sayang

Menanamkan disiplin sejak dini yang tegas pada anak harus juga dibarengi dengan ekspresi kasih sayang yang juga jelas. Baik dalam bentuk ekspresi perilaku maupun kata-kata. Sehingga tidak menimbulkan kesan pada anak bahwa orang tua benci padanya.

Singkatnya, orang tua harus bisa berperan dan tahu kapan waktunya untuk memerankan diri sebagai sahabat, guru, pembimbing, dan sebagai orang tua bagi si anak.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.