Solusi Konflik (5): Hindari Bertengkar Di Depan Anak

Solusi Konflik (5): Hindari Bertengkar Di Depan Anak
Oleh A. Fatih Syuhud

Orang tua adalah idola pertama anak. Dua sosok figur yang akan menjadi suri tauladan dan percontohan tingkah laku anak sekarang dan di masa depan. Oleh karena itu, kalau ingin melihat anak memiliki perilaku dan karakter yang baik, maka usahakan untuk menunjukkan perilaku terbaik setidaknya di hadapan anak. Salah satunya adalah dengan tidak bertengkar. Dan kalau pertengkaran itu harus terjadi, maka hindari melakukannya di depan mereka.

Akibat bagi perkembangan mental dan kepribadian anak sudah jelas sangat merugikan. Sebuah studi yang diadakan oleh Auburn University, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa konflik rumah tangga antara suami-istri menjadi sumber penting penyebab stress bagi anak, dan menyaksikan konflik tersebut akan dapat merusak sistem respon anak terhadap tekanan yang pada gilirannya akan berdampak pada melemahnya perkembangan mental dan kecerdasan mereka. Hasil studi yang diterbitkan oleh jurnal Child Development edisi Maret 2013 ini juga menyimpulan bahwa anak-anak yang sering menyaksikan konflik orang tua akan berdampak pada kemampuan kognitifnya.

C. Buehler dalam buku Hostile lnterparental Conflict and Youth Maladjustment menjelaskan bahwa pertengkaran orang tua di depan anak juga akan mempengaruhi kejiwaan anak. Anak akan mudah depresi, kasar dan keras kepala. Sifat-sifat yang tanpa disadari terserap dari perilaku yang mereka lihat dari orang tua mereka.

Terlepas dari dampak langsung yang membahayakan pada anak seperti disinggung di atas, keributan suami-istri di depan anak-anak mereka juga akan merugikan pasangan rumah tangga itu sendiri dalam hal persepsi anak terhadap orang tua. Seperti anak menjadi kurang respek pada orang tuanya dan kalau itu terjadi, maka membangun pendidikan karakter anak berada dalam resiko kegagalan. Untuk itu, suami-istri harus berkomitmen untuk tidak menunjukkan konflik antar-mereka di depan anak antara lain dengan cara berikut:

Pertama, buat perjanjian sejak awal agar setiap konflik dan perselisihan tidak dilakukan di depan anak-anak.

Kedua, apabila pasangan Anda sedang marah dan mulai menyalahkan Anda, maka jangan dilayani. Tinggalkan dia atau ingatkan dia dengan isyarat agar tidak bicara dulu saat anak-anak berada di sekitar mereka.

Ketiga, kalau pasangan Anda tidak mau berhenti setelah diingatkan, maka ajak dia ke tempat lain yang jauh dari anak-anak. Atau, perintahkan anak-anak untuk pergi ke tempat lain agar tidak melihat pertengkaran yang sedang terjadi.

Keempat, kalau salah satu atau kedua suami-istri memiliki sifat temperamental dan sulit menahan emosi, maka buat perjanjian bersama untuk melakukan perdebatan di dalam kamar tertutup agar tidak didengar anak.

Keempat, tuntaskan masalah. Mendiamkan masalah yang terjadi mungkin akan membantu untuk sementara. Akan tetapi itu bukan jalan terbaik. Idealnya, Anda dan pasangan harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan yang terjadi.

Menghindari konflik di depan anak itu sangat penting untuk menjamin stabilitas mental anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan emosional dan intelektual yang normal dan stabil. Sebagaimana pentingnya menjaga nutrisi dan kesehatan fisik mereka dengan memberikan asupan makanan yang sesuai dengan standar kesehatan.

Di sisi lain, menyembunyikan konflik dari anak akan membuat orang tua tetap dapat menjaga wibawa dan rasa hormat dari anak. Mendapat respek anak sangatlah penting agar apapun yang ingin kita tanamkan pada anak diitaati oleh mereka dengan penuh kerelaan. Dan kerelaan anak untuk taat adalah separuh dari keberhasilan orang tua dalam mendidik anak.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.