Rumah Tangga Miskin (3): Mengelola Konflik

Rumah Tangga Miskin (3): Mengelola Konflik adalah hal pertama yang harus dilakukan pada keluarga miskin karena konflik sangat rentan terjadi di saat berbagai kebutuhan pokok dan mendesak tidak bisa atau sulit terpenuhi. Apabila tidak, maka berbagai konflik akan memuncak menjadi pertengkaran besar dan perceraian.
Oleh A. Fatih Syuhud

Yang dimaksud miskin umumnya ada dua tipe (a)  suami/istri punya pekerjaan tetap tapi gaji rendah dan (b) suami/istri tidak punya pekerjaan tetap dan kalau pun dapat kerja gajinya tidak seberapa dalam arti tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar.

Kehidupan keluarga yang berada dalam garis kemiskinan itu rawan konflik karena kemiskinan identik dengan ketidaknyamanan dan penderitaan. Saat orang menderita, mental cenderung tidak stabil, selalu ingin marah, mudah terpancing emosi, dan gampang kehilangan rasa cinta dan sayang serta ketenangan hati yang notabene menjadi tujuan dari sebuah rumah tangga itu sendiri (QS Ar-Rum 30:21) .

Oleh karena itu, hal pertama yang harus menjadi perhatian pasangan suami istri miskin adalah bagaimana cara mengelola konflik.  Artinya, mereka harus memiliki komitmen untuk saling sabar, tawakal atau neriman atas apa yang ada, tidak saling menyalahkan namun tetap saling mengingatkan. Pada saat yang sama terus berupaya mencari jalan kelapangan rezeki yang halal.

Sabar

Sabar adalah menahan diri dari melakukan atau mengucapkan sesuatu yang tidak pantas. Baik tidak pantas menurut agama, secara adat ataupun etika universal. Ada tiga keadaan di mana seseorang dituntut sabar salah satunya adalah sabar saat terkena musibah, termasuk musibah kemiskinan (QS Al-Baqarah 2:155).  Islam mengakui bahwa sabar dari ujian—termasuk ujian kemiskinan– itu berat. Tetapi justru karena berat itulah maka orang yang lulus akan naik kualitas pribadinya di dunia sehingga dia akan masuk surga tanpa hisab kelak di akhirat (QS Az-Zumar 39:10). Sabar bukan berarti apatis yang neriman tanpa usaha. Sabar adalah sikap mental yang stabil dan selalu optimis walaupun ditempa berbagai macam kegagalan.

Tawakal

Tawakal juga mutlak perlu dimiliki siapapun terutama oleh pasangan suami istri miskin dan Islam menganjurkan itu (QS An-Nisa’ 4:81; Al-Maidah 5:23; At-Thalaq 65:3).  Tawakal, menurut Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, berasal dari salah satu asma Allah Al-Wakil (Maha Bergantung). Sedangkan orang yang tawakal (mutawakkil alaih) adalah orang yang merasa tenang, percaya dan nyaman untuk menggantungkan, menyerahkan dan mempercayakan urusan dirinya pada Allah (مهما اطمأنت إليه نفسه، ووثق به، ولم يتهمه فيه بتقصير، ولم يعتقد فيه عجزاً وقصوراً).

Dengan pengertian ini, maka orang yang tawakal selalu merasa nyaman hati, perasaan dan tindak-tanduknya dalam kondisi apapun dia berada. Baik saat miskin atau ketika kaya. Namun Yusuf Qardhawi mengingatkan bahwa tawakal dalam pengertian awam adalah “manusia harus melakukan berbagai upaya dan menyerahkan hasilnya pada Allah.” (إن معنى التوكل أن يرتب الإنسان المقدمات. ويدع النتائج لله). Jadi, tawakal tidak mengakibatkan orang menjadi fatalis (menyerah pada nasib) dan apatis (tidak peduli karena putus asa). Sebaliknya, tawakal yang benar membuat orang semakin optimis dalam berusaha dan merasa nyaman dalam derita.

Terus berusaha

Terus berusaha.Bekerja keras adalah bagian dari tawakal. Ada pepatah Arab menyatakan bahwa langit tidak mengirim hujan emas dan perak (إن السماء لا تمطر ذهباً ولا فضة) . Langit hanya mengirim hujan air yang dengan air itu manusia bisa hidup, bercocok tanam, mengairi sawah dan ladang serta mendapat rezeki. Dengan berpegang teguh  pada pola pikir (mindset)  Islam di atas yaitu sabarr dan tawakal maka sebuah rumah tangga miskin akan memiliki tiga kebahagiaan sekligus yaitu, pertama, bahagia karena sabar dengan kemiskinan yang ada.

Kedua,  hidup nyaman bersama pasangannya karena memiliki pola pikir yang sama.  Rumah tangga yang tidak harmonis umumnya disebabkan karena ketidaksamaan visi dan pandangan terhadap pola hidup. Seandinya itu terjadi, maka salah satu pasangan hendaknya saling mengingatkan.

Ketiga, terus berusaha dengan giat mencari berbagai jalan untuk memperbaiki keadaan agar dapat keluar dari ujian kemiskinan tersebut.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.