Suami Istri Jadi TKI

Rumah Tangga Miskin : Suami Istri Jadi TKI TKW. Kondisi keluarga yang miskin ditambah minimnya skill (kemampuan) individu sementara tuntutan hidup yang mendesak memaksa seseorang untuk bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Istri sebagai tenaga kerja wanita (TKW) sedang suami menjadi tenaga kerja indonesia (TKI) atau domestic helper (DH) di Arab Saudi, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Jepang, Korea, Uni Emerat Arab, Qatar, dan negara Timur Tengah lain. Banyak dampak psikologis dan sosial pada diri mereka sendiri atau pada anak-anak yang dinggalkan. Bagaimana nasib pendidikan anka-anak mereka?
Oleh A. Fatih Syuhud

Kemiskinan memaksa orang pergi jauh: bekerja di luar negeri menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Yang berangkat biasanya salah satu suami atau istri. Tapi tidak sedikit yang berangkat bersama.

Dalam segi kehidupan suami-istri, bekerja bersama-sama di luar negeri itu jauh lebih baik daripada salah satunya. Setidaknya mereka tetap dapat berkumpul bersama dan menjalin kehidupan yang normal sambil mencari rejeki di negeri orang. Suami istri yang menjadi TKI dan tinggal bersama dalam satu rumah di luar negeri relatif aman dari problema rumah tangga karena memang tujuan utama dari sebuah perkawinan adalah untuk berkumpul bersama untuk, antara lain, memenuhi hasrat batin dan mencapai ketenangan hati dan mendapatkan kasih sayang (QS Ar Rum 30:21).

Karena suami istri sama-sama bekerja di luar negeri, tentu memiliki penghasilan yang cukup besar untuk ditabung agar dapat membuka usaha saat waktunya tiba. Seperti yang dilakukan Trisno Yuwono, seorang TKI Arab Saudi asal Blitar yang setelah meniliki tabungan yang dirasa cukup ia memutuskan pulang dan membuka toko sembako dengan modal awal Rp 20 juta. Kini Trisno Yuwono berhasil memiliki swalayan tidak hanya di Blitar tapi juga sejumlah cabang di tempat lain dengan total aset Rp 35 miliar per tahun.

Awalnya, toko sembakonya hanya dikelola seorang diri oleh Trisno, kemudian terus bertambah hingga sekarang yang telah memiliki 7 supermarket yang tersebar di wilayah Blitar dan Tulung Agung. Tenaga kerja yang dipekerjakan pun meningkat. Saat ini sudah mencapai 50 orang dengan upah yang diberikan sesuai UMR yang ada di daerahnya. Untuk tenaga kerja yang sudah lama bekerja dan telah menjadi orang kepercayaanya, Trisno memberi upah antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.

Dari kisah TKI Trisno Wiyono dan para TKI lain yang berhasil menjadi pengusaha, maka pelajaran yang perlu diambil adalah (a) kerja jadi TKI hendaknya menjadi batu loncatan untuk mengumpulkan modal usaha; (b) harus ada rencana yang jelas berapa modal yang diperlukan dan usaha apa yang akan dilakukan kelak; (c) banyak belajar dari kalangan yang memiliki pengalaman di bidang yang direncanakan.

Di sisi lain, ada masalah baru bagi rumah tangga TKI yang sudah memiliki anak.

Umumnya pengawasan dan pemeliharaan anak diserahkan pada kakek. Repotnya, kakek atau nenek umumnya kurang mampu mendidik cucu dengan baik. Rasa sayang yang berlebihan kepada cucunya membuat mbah cenderung memanjakan cucunya dan tidak tega untuk tidak memenuhi segala permintaan anak. Hasilnya bisa ditebak: seorang anak yang manja, bandel, tidak mandiri dan pemalas yang lebih suka jadi pengangguran, kebut-kebutan sepeda motor dan menghabiskan uang kiriman dari orang tuanya.

Ini fenomena umum yang harus diwaspadai. Orang tua hendaknya tidak melupakan tujuan utama dari rumah tangga yang salah satunya adalah pendidikan anak. Menitipkan anak pada kakek atau paman tidak masalah asal yang mendapat amanah tahu bagaimana cara mendidik yang baik dan benar. Kalau pihak yang dititipi dianggap tidak mampu dalam mendidik, maka mengirimkan anak ke pesantren adalah jalan terbaik.

Karena orang tua tidak bisa mengawasi perkembangan anak setiap hari, maka hal terpenting yang perlu diingat adalah jangan memanjakan anak dengan memenuhi segala permintaannya atau memberikan fasilitas yang tidak mendidik seperti membelikan sepeda motor, ponsel, video game dan sejenisnya. Dan hal ini harus juga dikomunikasikan pada siapa saja yang menjaga anak terssebut di rumah. Anak harus dibiasakan hidup dalam lingkungan  dan suasana yang sehat dan menjauhi pergaulan yang buruk. Salah satu kriteria hidup sehat bagi anak adalah mengikuti pendidikan formal dan nonformal secara berkelanjutan dari TK sampai universitas. Artinya, jangan membiarkan anak menganggur tidak sekolah. Karena pengangguran adalah salah satu akar dari kemiskinan dan kejahatan.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.