Suami Istri Jadi TKI

Rumah Tangga Miskin : Suami Istri Jadi TKI TKW. Kondisi keluarga yang miskin ditambah minimnya skill (kemampuan) individu sementara tuntutan hidup yang mendesak memaksa seseorang untuk bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Istri sebagai tenaga kerja wanita (TKW) sedang suami menjadi tenaga kerja indonesia (TKI) atau domestic helper (DH) di Arab Saudi, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Jepang, Korea, Uni Emerat Arab, Qatar, dan negara Timur Tengah lain. Banyak dampak psikologis dan sosial pada diri mereka sendiri atau pada anak-anak yang dinggalkan. Bagaimana nasib pendidikan anka-anak mereka?
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Rumah Tangga Miskin (5): Istri Jadi TKW
  2. Rumah Tangga Miskin (6): Suami jadi TKI
  3. Rumah Tangga Miskin (7): Suami Istri Jadi TKI


Rumah Tangga Miskin (7): Suami Istri Jadi TKI

Kemiskinan memaksa orang pergi jauh: bekerja di luar negeri menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Yang berangkat biasanya salah satu suami atau istri. Tapi tidak sedikit yang berangkat bersama.

Dalam segi kehidupan suami-istri, bekerja bersama-sama di luar negeri itu jauh lebih baik daripada salah satunya. Setidaknya mereka tetap dapat berkumpul bersama dan menjalin kehidupan yang normal sambil mencari rejeki di negeri orang. Suami istri yang menjadi TKI dan tinggal bersama dalam satu rumah di luar negeri relatif aman dari problema rumah tangga karena memang tujuan utama dari sebuah perkawinan adalah untuk berkumpul bersama untuk, antara lain, memenuhi hasrat batin dan mencapai ketenangan hati dan mendapatkan kasih sayang (QS Ar Rum 30:21).

Karena suami istri sama-sama bekerja di luar negeri, tentu memiliki penghasilan yang cukup besar untuk ditabung agar dapat membuka usaha saat waktunya tiba. Seperti yang dilakukan Trisno Yuwono, seorang TKI Arab Saudi asal Blitar yang setelah meniliki tabungan yang dirasa cukup ia memutuskan pulang dan membuka toko sembako dengan modal awal Rp 20 juta. Kini Trisno Yuwono berhasil memiliki swalayan tidak hanya di Blitar tapi juga sejumlah cabang di tempat lain dengan total aset Rp 35 miliar per tahun.

Awalnya, toko sembakonya hanya dikelola seorang diri oleh Trisno, kemudian terus bertambah hingga sekarang yang telah memiliki 7 supermarket yang tersebar di wilayah Blitar dan Tulung Agung. Tenaga kerja yang dipekerjakan pun meningkat. Saat ini sudah mencapai 50 orang dengan upah yang diberikan sesuai UMR yang ada di daerahnya. Untuk tenaga kerja yang sudah lama bekerja dan telah menjadi orang kepercayaanya, Trisno memberi upah antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.

Dari kisah TKI Trisno Wiyono dan para TKI lain yang berhasil menjadi pengusaha, maka pelajaran yang perlu diambil adalah (a) kerja jadi TKI hendaknya menjadi batu loncatan untuk mengumpulkan modal usaha; (b) harus ada rencana yang jelas berapa modal yang diperlukan dan usaha apa yang akan dilakukan kelak; (c) banyak belajar dari kalangan yang memiliki pengalaman di bidang yang direncanakan.

Di sisi lain, ada masalah baru bagi rumah tangga TKI yang sudah memiliki anak.

Umumnya pengawasan dan pemeliharaan anak diserahkan pada kakek. Repotnya, kakek atau nenek umumnya kurang mampu mendidik cucu dengan baik. Rasa sayang yang berlebihan kepada cucunya membuat mbah cenderung memanjakan cucunya dan tidak tega untuk tidak memenuhi segala permintaan anak. Hasilnya bisa ditebak: seorang anak yang manja, bandel, tidak mandiri dan pemalas yang lebih suka jadi pengangguran, kebut-kebutan sepeda motor dan menghabiskan uang kiriman dari orang tuanya.

Ini fenomena umum yang harus diwaspadai. Orang tua hendaknya tidak melupakan tujuan utama dari rumah tangga yang salah satunya adalah pendidikan anak. Menitipkan anak pada kakek atau paman tidak masalah asal yang mendapat amanah tahu bagaimana cara mendidik yang baik dan benar. Kalau pihak yang dititipi dianggap tidak mampu dalam mendidik, maka mengirimkan anak ke pesantren adalah jalan terbaik.

Karena orang tua tidak bisa mengawasi perkembangan anak setiap hari, maka hal terpenting yang perlu diingat adalah jangan memanjakan anak dengan memenuhi segala permintaannya atau memberikan fasilitas yang tidak mendidik seperti membelikan sepeda motor, ponsel, video game dan sejenisnya. Dan hal ini harus juga dikomunikasikan pada siapa saja yang menjaga anak terssebut di rumah. Anak harus dibiasakan hidup dalam lingkungan  dan suasana yang sehat dan menjauhi pergaulan yang buruk. Salah satu kriteria hidup sehat bagi anak adalah mengikuti pendidikan formal dan nonformal secara berkelanjutan dari TK sampai universitas. Artinya, jangan membiarkan anak menganggur tidak sekolah. Karena pengangguran adalah salah satu akar dari kemiskinan dan kejahatan.[]


Rumah Tangga Miskin (5): Istri jadi TKW
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa
MTS MA Al-Khoirot Malang

Salah satu problema yang diakibatkan oleh kemiskinan adalah terpisahnya istri dari suami dan anak karena harus menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri seperti Malaysia, Arab Saudi, Singapura, Hongkong, Korea, Jepang, dan lain-lain. Ada berbagai macam sebab mengapa seorang istri memilih menjadi TKW yang intinya karena kebutuhan ekonomi. Namun, kalau ini yang menjadi penyebabnya mengapa bukan suaminya saja yang berangkat ke luar negeri?

Kecuali dalam keadaan yang sangat darurat, seorang suami hendaknya tidak mengijinkan istrinya menjadi TKW sendirian tanpa disertai oleh suami, karena dari perspektif hukum fiqih sendiri, kepergian seorang istri tanpa suaminya ke tempat yang jauh apalagi ke luar negeri menjadi persoalan tersendiri. Jumhur (mayoritas) ulama fiqih melarang seorang istri melakukan perjalanan jauh yang lebih dari tiga hari tanpa mahram termasuk untuk ibadah haji atau umrah. Namun sebagian ulama membolehkan kepergian istri untuk perjalanan yang bukan maksiat tanpa mahram asal ada teman sesama wanita yang dapat dipercaya (tsiqah). Ibnu Abdil Barr dalam kitab At-Tamhid menyatakan bahwa walaupun ulama berbeda pendapat terhadap berapa jarak perjalanan bagi wanita yang diharuskan bersama mahramnya, namun pada intinya adalah perempuan dilarang melakukan perjalanan ke luar rumah baik jarak dekat atau jauh apabila dikuatirkan akan menimbulkan fitnah. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Hattab Ar-Raini dalam Mawahib Al-Jalil.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwa Nomor 7/MUNAS VI/MUI/2000 tentang Pengiriman TKW ke Luar Negeri menyatakan bahwa pertama, perempuan yang meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar kota atau luar negeri, pada prinsipnya boleh sepanjang disertai mahram (keluarga) atau kelompok perempuan terpercaya (niswah tsigah). Kedua, jika tidak disertai mahram atau niswah tsiqah hukumnya haram kecuali, dalam keadaan darurat yang bisa dipertanggungjawabkan secara syar’ i, serta dapat menjamin keamanan dan kehormatan TKW tersebut. Ketiga, hukum haram berlaku pula pada pihak-pihak, lembaga atau perorangan, yang mengirimkan atau terlibat dengan pengiriman TKW.

Kesimpulannya adalah hukum wanita yang bekerja di luar negeri adalah haram walaupun atas ijin suami dan tidak dalam keadaan darurat. Contoh darurat seperti suami tidak mampu bekerja dan tidak ada lagi pekerjaan di dalam negeri yang mencukupi kebutuhan.

Terlepas dari larangan syariah tersebut, dampak sosial dari adanya istri yang bekerja di luar tidaklah sedikit. Baik kepada suami, anak dan istri itu sendiri. Ibu adalah madrasah utama dan pertama bagi anak. Dan istri adalah tempat berbagi dalam banyak hal bagi suami. Maka sungguh aneh, apabila tujuan dan esensi rumah tangga itu menjadi sirna dikalahkan oleh hal lain.

Berdasarkan uraian di atas, bagi para istri yang belum menjadi TKW, maka hendaklah profesi TKW dijadikan sebagai pilihan terakhir yang sangat darurat. Tugas mencari nafkah adalah tugas suami. Menerima rezeki yang didapat dengan syukur adalah ciri istri shalihah. Pendidikan anak dan melayani suami adalah prestasi terbesar seorang istri dan istri dapat berbangga dengan itu. Karena figur yang berprestasi biasanya ada peran besar dari sang ibu. Begitu juga sebaliknya, individu yang gagal karena kurang atau ada kesalahan sang ibu dalam memberi pendidikan yang benar.

Apabila rezeki yang didapat suami dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar, maka mencari pekerjaan sampingan di sekitar rumah atau bekerja di dalam rumah adalah alternatif terbaik kalau memungkinkan.[]


Rumah Tangga Miskin (6): Suami jadi TKI
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot

Pada dasarnya semua orang enggan meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke tanah seberang untuk bekerja. Apalagi ke luar negeri. Manusia cenderung merasa nyaman dengan status quo atau keadaan yang ada. Dalam tradisi Jawa ada pepatah mangan ora mangan sing penting kumpul. Arti konklusinya, berkumpul bersama keluarga itu lebih baik walaupun keadaan ekonomi pas-pasan daripada berpisah dengan anak istri dan jauh dari kampung halaman.

Akan tetapi hidup tidak selalu ideal seperti yang diharapkan. Ada kalanya seorang suami tidak memiliki pilihan selain pergi ke luar negeri mencari rezeki yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga karena sulitnya pekerjaan di Tanah Air atau kecilnya penghasilan yang ditawarkan. Dalam keadaan darurat seperti ini, maka menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di luar negeri adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dan sudah sepantasnya dilakukan oleh suami dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab menanggung nafkah anak dan istri. Tentu, dengan perasaan sedih karena konsekuensinya tidak dapat memberi nafkah batin pada istri dan tidak bisa memberi perhatian khusus pada perkembangan dan pendidikan anak-anak yang notabene menjadi salah satu tujuan pokok hidup berumahtangga.

Dengan pemikiran seperti di atas, maka bekerja di luar negeri hendaknya tidak dijadikan sebagai profesi abadi. Suami harus memiliki target waktu yang jelas berapa lama bekerja, dan visi yang pasti apa tujuan jangka panjang dan kapan harus pulang kembali berkumpul dengan keluarga. Karena tidak sedikit orang yang pergi bekerja di luar negeri tanpa tujuan dan visi yang jelas akhirnya menjadi sapi perah pihak yang ada di rumah baik itu anak istri atau keluarga dekat lain. Apa yang dimaksud dengan visi, target waktu dan target hasil yang jelas adalah sebagai berikut:

Pertama, harus dicamkan dalam hati bahwa bekerja di luar negeri adalah karena darurat demi tujuan yang lebih besar yaitu menafkahi kebutuhan anak dan istri yang tidak dapat dilakukannya di Tanah Air. Dan akan segera kembali saat tujuan itu tercapai. Keberadaan suami yang terlalu lama di luar negeri akan berdampak kurang baik pada keharmonisan rumah tangga. Tidak sedikit kasus perselingkuhan yang terjadi yang dilakukan oleh salah satu atau kedua belah pihak disebabkan oleh ketidakbersamaan fisik yang terlalu lama yang kemudian berakhir dengan perceraian atau tetap berkumpul tapi dengan perasaan dan suasana yang jauh dari keluarga sakinah. Dalam situasi seperti ini yang menjadi korban utama adalah anak-anak. Dan ketika itu terjadi, tujuan utama dari kepergian ke luar negeri menjadi tidak tercapai.

Kedua, selain untuk memenuhi kebutuhan mendesak keluarga di Tanah Air, suami yang pergi ke luar negeri hendaknya juga berusaha menabung sebagai modal usaha kelak saat di Tanah Air. Langkah dan niat ini akan membuat kehidupan di negara lain menjadi lebih terkontrol dan uang yang didapat tidak dihambur-hamburkan. Ada sebagian TKI yang hidup sukses membuka usaha dengan modal hasil kerjanya di luar negeri. Tapi banyak juga yang pulang tidak membawa apa-apa kecuali sedikit uang untuk memperbaiki rumah. Dan setelah uang habis kembali berangkat menjadi TKI lagi.

Padahal membuka usaha tidaklah sulit yang penting ada modal dan kemauan. Yang dimaksud usaha tidak harus berupa dagang. Wiraswasta dapat berupa usaha pertanian yang beresiki kecil seperti menyewa lahan pertanian untuk menanam tebu dan tanaman lain yang relatif tahan hama. Atau bagi yang memiliki lokasi di kota atau dekat sekolah dapat membuat tempat rumah kontrakan dan usaha-usaha lain yang sekiranya dapat diharapkan keuntungannya dalam jangka pendek.

Intinya, suami bekerja dan berusaha untuk menafkahi anak dan istri adalah wajib hukumnya (QS Al Baqarah 2:233) sebagai bagian dari tanggung jawab pemimpin rumah tangga. Namun bekerja di luar negeri hendaknya menjadi pilihan terakhir karena itu berpotensi dapat merusak tujuan utama rumah tangga itu sendiri yaitu sakinah, mawaddah wa rahmah (QS Ar Rum 30:21).[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.