Rumah Tangga Kaya

Rumah Tangga Kaya
Oleh A. Fatih Syuhud

Pasangan suami-istri yang kaya adalah pasangan yang beruntung dalam satu segi. Karena dengan harta yang dimiliki ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya menyangkut tempat tinggal dan isinya, kendaraan, dan segala keperluan sehari-hari untuk berdua dan anak-anak. Itu artinya sebagian dari masalah rumah tangga sudah teratasi.

Namun demikian, keluarga kaya perlu waspada dengan harta yang dimiliki. Apabila tidak dapat mengontrolnya, maka berbagai permasalahan non-materi akan segera muncul dan pada saatnya nanti akan meledak tidak terkontrol.

Salah satu persoalan adalah terkait pola hidup (life style) pasangan suami istri. Manusia pada dasarnya suka pamer dan menyukai sesuatu yang baru dan eksklusif yang tidak dimiliki oleh orang lain minimal tetangga sebelah. Dengan tersedianya uang untuk membeli apa yang diinginkan dan begitu gencarnya iklan barang-barang mewah di televisi, internet, dan media cetak, maka nafsu berbelanja itu semakin tak tertahankan dan mencapai klimaksnya. Dari sinilah gaya hidup konsumtif bermula. Tanpa terasa berbagai barang yang menarik dan mahal terus dibeli tanpa memandang penting atau tidaknya.

Budaya konsumerisme atau gila belanja ini secara otomatis akan menular pada anak-anak. Mereka juga ingin membeli apapun yang mereka lihat dan dimiliki oleh temannya dan biasanya semua keinginan akan dikabulkan orang tuanya.

Apa akibat negatif dari semua ini? Banyak. Baik kepada pasangan suami istri maupun kepada anak. Beberapa dampak buruknya antara lain (a) menuhankan materi: orang dinilai baik buruknya berdasarkan pada seberapa banyak harta yang dimiliki, rumah yang ditempati, mobil yang dikendarai, bukan pada karakternya. Tidak penting bagaimana cara harta itu didapat apakah dengan cara halal atau haram; (b) pelit dan kurang peduli kepada sesama; (c) pemalas: karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, maka mereka merasa tidak perlu untuk bekerja keras. Maka, jadilah istri dan anak yang manja dan susah diatur; (d) tidak tahan banting: orang yang mendapatkan sesuatu bukan dari kerja keras akan lemah daya juangnya. Masih beruntung kalau kekayaan itu terus bertahan, masalah akan menjadi semakin rumit ketika terjadi musibah dan jatuh bangkrut.

Untuk itu, rumah tangga yang berkecukupan harus sama hati-hatinya dengan keluarga miskin karena semua itu adalah ujian dari Allah (QS Al-Anbiya’ 21:35) . Baik miskin maupun kaya akan sama-sama memiliki dampak positif bagi yang dapat mengelolanya dan akan berdampak negatif bagi tidak dapat mengontrol kenyataan itu.

Poin terpenting dalam tulisan ini adalah keluarga yang kaya hendaknya berusaha menahan diri untuk tidak terjerumus kedalam budaya konsumtif dan berfoya-foya (QS Al-A’raf 7:31). Pola hidup sederhana hendaknya menjadi prinsip yang dipegang teguh di tengah harta yang berlebih karena dengan itu mereka dapat membelanjakan harta yang ada untuk sebesar-besarnya manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Hanya dengan pola hidup sederhana kesehatan jiwa dan perilaku rumah tangga akan terwujud. Impian kehidupan sakinah, mawaddah wa rahmah akan tercapai. Dan masyarakat sekitar akan mendapatkan tetesan rahmat dari harta yang dimiliki. Sehingga, suasana tenteram dan kasih sayang itu tidak hanya terasa di dalam rumah tangga tapi juga mengalir ke masyarakat sekitar pada anak-anak miskin cerdas yang dapat berpendidikan tinggi karena bantuannya; pada kalangan dhuafa yang dibantunya.

InsyaAllah keluarga kaya yang bergaya hidup sederhana dan peduli sesama adalah rumah tangga yang akan selalu sukses dan bahagia lahir dan batin. Di dunia dan akhirat.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.