Pengorbanan dalam Islam

pengorbanan dalam islam

Pengorbanan dalam Islam
Oleh A Fatih Syuhud

Saat Hari Raya Idul Adha tiba, ada satu hal yang memaksa kita untuk merenung: pengorbanan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail, salah satu putranya. Allah menganggap pengorbanan Nabi Ibrahim itu sangat penting sehingga Allah mengabadikan kisah itu dalam Al Qur’an Surah As Shaffat (37) ayat 100 sampai 113.[1]

Pentingnya kisah pengorbanan Nabi Ibrahim and Nabi Ismail ini karena di dalamnya terkandung pelajaran yang tinggi akan nilai-nilai kebajikan universal yang berlaku sepanjang masa.

Pertama, kepercayaan mutlak (absolut) pada Allah, dan sebagai konsekuensinya rela melakukan apa saja yang diperintahkan olehNya, termasuk apabila perintah itu terkesan tidak menyenangkan (QS As Shaffat 37: 102-103).[2]

Kedua, bahwa setiap pengorbanan yang benar tidak akan pernah sia-sia. Akan selalu ada balasan setimpal atas jerih payah kita (QS As Shaffat 37:105 dan 107).[3] Baik balasan untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain; baik kita harapkan atau tidak.

Ketiga, pengorbanan itu identik dengan ujian (QS As Shaffat 37:106).[4] Dan dalam proses menuju pendewasaan sikap sebagai persiapan menjadi seorang pemimpin yang matang, adanya ujian itu menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Besar kecilnya ujian dan pengorbanan akan menentukan besar kecilnya perubahan perilaku kepemimpinan dan kearifan kita (QS As Shaffat 37:110).[5]

Keempat, bahwa untuk menuju ke level yang lebih tinggi dalam kualitas keimanan dan kepribadian, diperlukan suatu proses yang harus dilalui. Sebagai contoh, untuk mencapai kelas enam SD, seorang siswa harus melalui proses melewati lima jenjang kelas di bawahnya. Selain itu, seorang siswa harus melewati beberapa ujian untuk menuju satu level keilmuan di atasnya. Proses-proses menuju naik kelas bagi siswa SD itu memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga dan kesabaran dalam menghadapi ketidakenakan dan mungkin kejenuhan.

Seberapa besar pengorbanan yang diperlukan akan sangat ditentukan dari seberapa besar “kenaikanpangkat” yang diinginkan. Semakin tinggi tujuan yang kita capai, maka akan semakin besar pengorbanan yang diperlukan. Siswa yang sekedar ingin naik kelas tentu lebih kecil pengorbanannya dibanding siswa yang bertujuan tidak hanya naik kelas tapi juga ingin menjadi juara kelas atau bintang pelajar.

Hal yang sama juga berlaku dalam proses meningkatkan kualitas iman kepada Allah dan perilaku (akhlakul karimah) kepada sesama umat manusia. Ujian, pengorbanan, kesabaran dan keberanian dalam menghadapinya merupakan empat poin penting yang harus dilalui dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menuju kualitas keimanan dan kepribadian yang par excellence (QS Al Qalam 68:4),[6] suatu kepribadian yang akan memberi cahaya berkah tidak hanya pada sesama muslim, tapi juga bagi seluruh alam (QS Al Anbiya’ 21:107).[7] Dan apabila itu terjadi, sudah wajar kalau orang tersebut mendapat predikat sebagai individu terbaik yang berhak untuk menjadi pemimpin ideal yang menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) (QS Ali Imron 3:110).[8]

CATATAN AKHIR

[1] Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman. Dan kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

[2] Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
103. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

[3] Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

[4] Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

[5] Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

[6] Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

[7] Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

[8] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.