Pendidikan Islam Anak Cacat (1)

Pendidikan Islam untuk Anak Cacat atau berkebutuhan khusus  lain adalah anak difabel. Anak cacat terbagi dua cacat fisik dan cacat mental. Yang paling berat adalah mendidik anak yang cacat mental seperti autis, dll. Cacat fisik seperti buta, tuli, gagu (tuna wicara), pincang, dan kekurangan fisik lain. Bagaimana memperlakukan anak yang berkebutuhan khusus tersebut secara wajar dan istimewa sekaligus bukanlah hal yang mudah. Orang tua harus mengerahkan tenaga dan pemikiran ekstra agar supaya anak kesayangan mereka dapat berkembang dan tumbuh maksimal sesuai potensinya.

Pendidikan Islam Anak Cacat (1)
Oleh A. Fatih Syuhud

Saat menjelang kelahiran seorang anak, harapan utama dari calon ayah dan ibu terhadap anak adalah: semoga si buah hati dapat lahir dengan selamat dan tidak cacat. Anak yang menderita cacat fisik atau non-fisik sejak bayi, bagi orang tua, adalah sebuah mimpi buruk. Namun, saat musibah itu datang, orang tua tentunya harus tetap menyambut kedatangannya dengan kedua tangan terbuka. Yang terpenting adalah bagaimana memperlakukan anak yang berkebutuhan khusus tersebut secara wajar dan istimewa sekaligus.

Wajar dalam artian, ia harus diperlakukan layaknya anak yang normal. Hal ini bertujuan agar anak cacat memiliki kepercayaan diri sama dengan mereka yang tumbuh normal. Pada saat yang sama, mereka juga harus diperlakukan secara istimewa. Karena, kekurangan fisik yang mereka derita memang menuntut orang tua untuk memberi perhatian lebih khusus dibanding anak yang lain. Namun demikian, perhatian yang terlalu berlebihan juga akan berakibat kurang sehat bagi independensi anak dan juga potensi kecemburuan saudara-saudaranya. Dalam konteks ini sangat diperlukan kebijaksanaan lebih dari orang tua untuk menjaga keseimbangan perlakuan. Hal-hal berikut dapat dijadikan pertimbangan dalam bersikap sebagai orang tua selama mengarungi kehidupan bersama anak yang berkebutuhan khusus.

Pertama, setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk mencapai kemandirian. Orang tua harus membantu anak yang cacat atau berkebutuhan khusus untuk mendapat kesempatan dalam hidupnya sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya. Setiap anak yang lahir dengan kekurangnormalan fisik akan selalu memiliki ketergantungan pada oranglain selama hidupnya. Namun, dalam era sekarang kita dapat membantu anak-anak ini mendapatkan tempat dalam hidup dan memberi mereka peluang seperti yang kita miliki. Kita tidak berhak untuk menahan mereka mencapai tujuan atau menjadi produktif dalam bidang tertentu hanya karena mereka berbeda cara berjalan, cara berbicara atau cara berperilaku.

Kedua, saat ini banyak fasilitas yang tersedia untuk melatih, mengajar dan mencoba membantu anak-anak ini mengatasi kehidupan mereka. Akan tetapi pada saat yang sama masih banyak orang, anak-anak atau orang dewasa, yang memperlakukan anak cacat seakan-akan mereka penyakit menular.

Orang tua tentu tidak dapat mengontrol perlakuan orang lain pada anaknya. Tapi, setidaknya ia dapat mengontrol perilakunya sendiri agar bersikap wajar dan selalu siap membantu. Dan yang tak kalah penting selalu memberi dukungan dan dorongan pada mereka agar memiliki self-esteem (percaya diri), rasa memiliki dan perasaan penting dan dihargai.

Ketiga, persiapkan mental anak menghadapi berbagai kemungkinan. Persiapkan mental anak agar memiliki cara berfikir positif dalam menghadapi berbagai situasi negatif yang ada di hadapannya. Baik terkait dengan perilaku lingkungan atau berhubungan dengan kekurangan fisiknya. Yakinkan pada anak bahwa semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan bahwa kekurangan yang ada hendaknya menjadi pemicu semangat untuk terus maju mencapai apapun yang dicita-citakan. Bukan malah menjadi penghalang dari cita-cita itu. Intinya, orang tua dari anak yang cacat harus betul-betul menjadi orang tua yang bijaksana dan selalu menjadi motivator bagi anaknya.

Keempat, tanamkan keimanan. Sebagai seorang muslim, cara terbaik untuk membuat anak berkebutuhan khusus memiliki semangat yang tinggi adalah dengan memperkenalkan konsep keimanan sejak dini agar anak tak mudah terjerumus ke dalam jurang keputusasaan.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.