Pendidikan Anak Orang Miskin (1)

Kemiskinan hendaknya tidak menjadi penghalang bagi seoang pemuda untuk sukses dalam pendidikan formal, pencapaian materi dan kesalihan perilaku. Apalagi sekarang mudah mendapat beasiswa. Yang diperlukan orang tua miskin adalah pendidikan karakter sejak dini sehingga anak miskin menjadi pribadi yang tangguh dan tidak terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yaitu sifat malas dan apatis pada nasib buruk.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa
Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Khoirot

Daftar Isi

  1. Pendidikan Anak Orang Miskin (1)
  2. Pendidikan Anak Orang Miskin (2)


Pendidikan Anak Orang Miskin (1)

Kemiskinan adalah pilihan yang sangat tidak menyenangkan. Tidak ada satupun orang yang rela untuk hidup miskin. Semua ingin hidup kaya agar dapat terpenuhi segala kebutuhan hidupnya secara layak terutama kebutuhan dasar. Akan tetapi tidak semua realitas sesuai dengan harapan. Kenyataannya, menurut survei yang diadakan BPS (Biro Pusat Statistik) pada Maret 2009, jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 32,53 juta jiwa atau 14,15 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Salah satu masalah mendasar bagi anak yang berasal dari keluarga miskin adalah akses pendidikan. Seperti diketahui, saat ini hampir tidak ada pendidikan yang gratis. Program pemerintah wajib belajar 9 tahun dan adanya BOS (Bantuan Operasional Sekolah) masih belum mampu membuat sekolah gratis total bagi anak didik. Seandainya pun gratis total, memiliki ijazah SMP atau MTs masih jauh dari cukup untuk dijadikan bekal merubah nasib. Padahal, pendidikan sekolah formal merupakan jalan utama menuju perbaikan.

Di tengah suasana yang serba kekurangan dalam segi materi, orang tua hendaknya tetap menjaga sikap optimisme dan menanamkan sikap itu pada anak sejak dini. Optimis dan berani untuk bermimpi besar bahwa kemiskinan, keterbelakangan pendidikan orang tua dan ketidakenakan hidup dapat dirubah apabila terus berusaha. Intinya, walaupun miskin harta tapi tetap harus kaya hati. Yang tak kalah penting adalah meyakinkan anak bahwa perubahan nasib itu harus dimulai dari pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal. Sebagaimana pentingnya pendidikan agama untuk merubah perilaku.

Kegagalan banyak keluarga miskin dalam mendidik anak umumnya disebabkan oleh sikap pesimis orang tua dalam menghadapi hidup. Banyak orang tua miskin menganggap bahwa anak orang miskin akan tetap miskin. Dan bahwa anak yang berasal dari keluarga petani atau buruh akan tetap jadi petani atau buruh, tidak akan jadi pejabat atau ulama, walaupun sudah sekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Tentu saja pemikiran semacam ini salah besar. Dan buruknya lagi, pola pikir fatalistik ini umumnya akan menular pada anak atau setidaknya akan mengurangi semangat anak untuk menjadi lebih baik dari orang tuanya dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, orang tua miskin yang menginginkan anaknya sukses dan bisa lebih baik dari dirinya setidaknya melakukan hal-hal berikut:

Pertama, usahakan menyekolahkan anak setinggi mungkin. Minimal sampai tingkat sarjana S1. Setidaknya, itulah cita-cita orang tua sejak anak baru lahir. Apabila tidak mampu membiayai, carilah lembaga atau yayasan pendidikan yang bersedia memberikan beasiswa bagi anak tidak mampu. Kalau usaha itu gagal, minimal anak itu tahu apa keinginan orang tuanya dan berusaha memenuhinya dengan segala cara.

Kedua, saat menempuh SLTP SLTA idealnya anak ditempatkan di pesantren. Hal ini untuk sejumlah tujuan positif termasuk penanaman perilaku religius, penguasaan ilmu agama dan lingkungan pergaulan yang sehat. Pilih pesantren yang biayanya murah.

Ketiga, konsultasi secara gratis pada orang yang dianggap pintar tentang cara mendidik anak yang baik sejak dini, yakni sejak baru lahir, supaya patuh pada keinginan orang tua. Karena, terlambat atau salah dalam mendidik anak sejak dini dapat menjadi penyebab ketidakpatuhan anak pada cita-cita luhur orang tua.

Keempat, yakinkan dan ulangi berkali-kali setiap ada kesempatan bahwa anak harus menjadi orang yang hebat, yang jauh lebih baik dari orang tua di segala bidang termasuk dalam keilmuan agama, pendidikan formal dan kepemilikan materi. Bahwa anak dapat menjadi seperti siapa saja yang dia inginkan, termasuk jadi presiden, pejabat, guru, dokter, kyai, asal dia betul-betul berusaha untuk mencapainya (QS Ar Ra’d 13: 11)

Kelima, berdoalah khusus untuk anak di setiap selesai salat fardhu. Dan kalau mungkin, setelah salat tahajud. Usaha dan doa yang maksimal adalah dua hal yang tak terpisahkan bagi seorang muslim dalam berupaya menempuh suatu cita-cita luhur.[]


Pendidikan Anak Orang Miskin (2)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri

Munawir adalah seorang anak yang berasal dari keluarga sangat miskin yang tinggal di desa Karanganom, Klaten, Jawa Tengah. Masa sekolah di madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA) dilalui dengan penuh keprihatinan. Ia tidak pernah mendapat uang saku. Tidak hanya itu, ia selalu berangkat sekolah di pagi hari dengan perut kosong karena tak pernah sarapan pagi dan tidak memakai sepatu.

Kelaparan dan kekurangan secara materi tidak membuat semangat belajarnya turun. Kemiskinan justru membuatnya semakin terpacu untuk belajar lebih rajin agar kehidupannya kelak dapat lebih baik. Di sekolahnya ia dikenal sebagai anak yang rajin dan berprestasi. Ia juga dikenal sebagai anak yang tidak cepat puas. Tidak hanya ilmu sekolah formal MTs dan MA yang dia pelajari. Ia juga mengikuti berbagai pelajaran agama di pesantren yang berdekatan dengan sekolah tersebut. Tidak heran kalau akhirnya ia tidak hanya menguasai ilmu umum tapi juga ilmu-ilmu agama seperti nahwu sharaf, fiqh, tafsir, yang cuma dapat dipahami oleh para santri di pesantren.

Semangat Munawir kecil terus bergelora. Ia bercita-cita ingin melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar Mesir selepas lulus dari madrasah aliyah. Kendati ia sadar bahwa mimpi itu seperti mustahil jadi kenyataan. Bagaimana mungkin ia melanjutkan kuliah ke luar negeri, sedang kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan yang parah. Ia ingat suatu peristiwa memilukan yang tak terlupakan seumur hidupnya.

Waktu itu ia berhasil menamatkan sekolah MA-nya dengan baik tanpa masalah. Yang menjadi masalah adalah saat hendak mengambil ijazah. Orang tuanya tidak punya uang untuk menebusnya. Karena ketiadaan uang, ibunya menjanjikan akan menjual gelugu (batang pohon kelapa) di depan rumahnya. Lalu setelah ia menebus ijazah, tiba di rumah ia kaget, karena gelugu masih tetap tegak berdiri. Sang Ibu ternyata menjual salah satu dari dua kain yang dimiliki sang ibu. “Lalu bagaimana kalau Ibu mau ganti kain?” Ibunya tenang menjawab, “Kan bisa memakai sarung punya Ayah.” Munawir kecil yang sudah menginjak remaja ini pun tidak kuat membendung air matanya. Ia tersedu, bersimpuh di pangkuan ibunya.

Kegagalannya melanjutkan studi ke Mesir tidak menyiutkan semangatnya untuk belajar. Dan dengan berbagai macam upaya yang gigih ia berhasil meneruskan studi ke University of Exeter Inggris dengan beasiswa dari Departemen Luar Negeri (Deplu). Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya sejak tahun 1983, namanya dikenal secara nasional sebagai Munawir Sadzali sang Menteri Agama Republik Indonesia sampai 1993.

Peran Orang Tua

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah sukses Munawir Sadzali dari anak orang miskin yang tidak pernah sarapan saat sekolah sampai berhasil menjadi menteri.

Pertama, pendidikan dalam keluarga. Kondisi ekonomi boleh miskin, tapi pendidikan anak dalam rumah tetap dilakukan secara intensif. Ayah Munawir, Mughofir dan ibunya Tas’iyah selalu berusaha memberikan pendidikan terbaik dalam rumah. Baik pendidikan agama maupun pendidikan etika sosial umum. Dan pendidikan anak paling efektif tentu saja melalui keteladan kedua orang tua.

Kedua, optimisme. Selalu optimis dan tidak putus asa (QS Yusuf 12:87). Tidak mudah menjaga sikap optimisme saat kita dalam kesulitan. Terutama kesulitan ekonomi. Akan tetapi, sikap optimisme orang tua harus tetap dijaga dan dipelihara untuk mendorong dan mengajari sikap yang sama pada anak. Orang tua tidak dapat mendorong anaknya bersikap optimis, sementara mereka sendiri menampakkan sikap sebaliknya.

Dengan sikap optimisme, orang tua dapat memotivasi anak untuk memiliki cita-cita tinggi. Berani bermimpi untuk sebuah kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka. Baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Singkatnya, optimisme dan keberanian bermimpi menjadi kunci sukses kehidupan seseorang di masa depan. Bukan kaya atau miskinnya.

Ketiga, sabar (QS Al Ahqaf 46:35). Dari ibu Munawir yaitu Ny. Tas’iyah, kita belajar betapa pentingnya bersifat sabar dan tegar dalam menghadapi kepahitan hidup. Ibu Tas’iyah tidak mengeluh ketika harus menjual satu dari dua kain yang dimilikinya untuk menebus ijazah anaknya. Kesabaran seperti ini sangat mahal harganya dan akan menjadi teladan tak ternilai bagi anaknya dalam mengarungi tantangan kehidupan kelak di kemudian hari. Baik tantangan dalam kepahitan hidup maupun cobaan dalam kesenangan (QS Al Anbiya 21:35).[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.