Pendidikan Anak Bajingan

Yang dimaksud bajingan adalah orang tua muslim yang Islamnya hanya sebatas KTP. Ia bisa saja seorang koruptor, penjudi, pezina, perampok atau siapapun yang banyak melakukan dosa dan tidak taat pada ajaran agama Islam. Dapatkah mereka mempunyai anak yang soleh dan salehah? Tentu bisa dengan sejumlah syarat.

Pendidikan Anak Bajingan
Oleh A. Fatih Syuhud

Bajingan adalah sebuah istilah populer di sebagian kalangan orang Madura. Istilah ini merujuk pada orang yang berperilaku tidak salih alias menyimpang dari nilai-nilai agama dan tradisi. Dengan kata lain, mereka adalah pelaku salah satu dari lima dosa besar yang dalam bahasa Jawa umum disingkat dengan molimo atau 5M yang merupakan singkatan dari main (judi), madon (berzina), madat (narkoba), minum (minuman keras), dan maling (korupsi, merampok, dll). Dalam kultur Jawa, kalangan ini kerap disebut dengan wong nakal atau wong blater.

Namun, se-bajingan bagaimanapun seseorang, dia tetap memiliki hati nurani. Terbersit dalam hatinya untuk menjadi seorang muslim yang baik walaupun terkadang sulit melepaskan kebiaasaan buruk. Senang hatinya melihat orang yang baik. Dalam masyarakat Madura, kalangan bajingan ini bahkan sangat hormat pada kyai.

Bajingan juga manusia yang memiliki mimpi dan idealisme walau sering kalah dengan kenyataan. Seorang bajingan juga menginginkan memiliki keturunan yang salih dan salihah. Tidak seperti dirinya. Masalahnya, dapatkah hal itu terjadi? Apakah watak dan perilaku wong nakal-nya tidak menular pada sang anak?

Menurut sebuah Hadits, semua anak terlahir dalam keadaan suci ( كل مولود يولد علي الفطرة). Itu artinya, tidak ada unsur “penularan” perilaku berdasarkan genetika seperti menularnya penyakit HIV/AIDS dari seorang ibu pada anak yang dikandungnya. Yang ada adalah penularan keteladanan dan itu terjadi setelah anak dilahirkan.

Artinya, anak seorang bajingan bisa saja menjadi anak yang salih apabila setelah si anak lahir sang bapak menyatakan “pensiun” dari segala perilaku tercela. Sebaliknya, anak yang terlahir dari keluarga santri yang salih bisa menjadi bajingan apabila ternyata bapak yang santri berubah menjadi bajingan saat anak lahir dan tumbuh dewasa.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk berputus asa bagi seorang bapak yang dulunya perampok, pemabuk, koruptor ataupun pezina. Asalkan mereka mau bertobat dan memberi keteladanan yang baik pada putra-putrinya, insyaallah akan memiliki putra-putri salih dan salihah. Tentu saja, walaupun keteladanan orang tua adalah kunci utama keberhasilan mendidik anak, namun hal-hal mendasar dalam parenting (mengasuh anak) berikut harus juga diperhatikan:
Pertama, disiplin. Anak harus dididik dengan disiplin yang konsisten. Ada aturan yang berupa perintah dan larangan; baik aturan agama maupun etika sosial. Ada sanksi bagi setiap pelanggaran. Ada apresiasi untuk pencapaian prestasi, sekecil apapun prestasi itu. Inilah standar dasar penanaman nilai-nilai.

Kedua, keteladanan lingkungan. Tidak sedikit anak kyai atau anak orang baik-baik yang menjadi nakal karena pengaruh buruk lingkungan di sekitarnya, salah satu bukti bahwa buruknya lingkungan akan berakibat fatal pada perkembangan perilaku anak. Oleh karena itu, menjauhkan anak dari lingkungan yang buruk merupakan suatu keharusan.

Salah satu cara untuk menjauhkan anak dari lingkungan yang buruk adalah dengan memberinya kegiatan ekstra yang bersifat life-skill (kemampuan keterampilan). Seperti les mengaji, les bahasa asing, les matematika, les menjahit, les komputer, dan lain-lain yang sekiranya sesuai dengan minat dan bakat anak. Adanya kesibukan tambahan akan memberi kemampuan lebih pada anak yang pada gilirannya akan membekalinya dengan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh rekan sebanyanya. Pada saat yang sama, adanya kesibukan tambahan akan membuat anak terbiasa dengan hidup yang enerjik dan dinamis. Bukan hidup yang bermalas-malasan.
Jadi, semua anak dengan latarbelakang orang tua apapun memiliki peluang yang sama untuk menjadi anak yang baik dan sukses asal orang tua yang bersangkutan memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan cita-cita tersebut yakni dengan memulai dari keteladanan diri dan konsistensi dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.