Obyektifitas Orientalisme

Obyektifitas Orientalisme tw arnold

Obyektifitas Orientalisme : Studi Kasus Thomas W. Arnold

Oleh: A. Fatih Syuhud

Pondok Pesantren Al-Khoirot

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Orientalisme merupakan suatu kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat yang menitikberatkan pada ambisi geografis pada dunia Timur dan secara tradisional mereka menyibukkan diri dengan mempelajari hal-hal yang berbau dunia ketimuran. Latar belakang pengkajian orientalisme sangatlah kompleks. Secara umum, motif-motif yang ada di belakang orientalisme antara lain: motif keagamaan, keilmuan, persoalan ekonomi dan politik.

Secara historis, paradigma orientalis terhadap Islam ada yang bersifat subyektif dan obyektif yang bisa ditengarai dari era aktivitas penelitian mereka. Para orientalis periode awal dalam mengkaji Islam memiliki tujuan untuk mendegradasi Islam dari dalam. Eksistensi orientalisme bukan hanya wacana akademis tetapi memiliki motif politis, ekonomi dan keagamaan. Secara politis, kajian orientalis tentang dunia Timur untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa dalam rangka menguasai dunia Islam. Namun seiring berlalunya waktu, mulai muncul adanya kesadaran dalam mengkaji Islam secara obyektif di kalangan para orientalis.[1]

Yang terakhir, yang menjadi kajian tulisan ini, adalah Thomas Arnold (1864-1930 M) dari Inggris dengan karyanya yang berjudul Preaching of Islam yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk Turki, Urdu, Arab dan Bahasa Indonesia.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa definisi orientalisme dan obyektifitas?
  2. Siapa saja orientalis yang dianggap obyektif?
  3. Apa saja obyektifitas Thomas W. Arnold?

 

  1. Tujuan

Berikut adalah tujuan dari makalah ini:

  1. Mengetahui dan memahami definisi orientalisme dan obyektifitas.
  2. Mengetahui dan memahami secara ringkas kalangan orientalis yang obyektif
  3. Mengetahui dan memahami obyektifitas Thomas W. Arnold.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi
  2. Orientalisme

Secara etimologis, istilah “Orient” berasal dari kata Latin oriens yang berarti “timur” (literal. “terbit”). Penggunaan kata “terbit” untuk merujuk ke timur (tempat matahari terbit). Istilah yang berlawanan adalah  ” Occident” (Barat) berasal dari kata Latin occidens, yang berarti barat (literal: terbenam). Istilah ini berarti barat (tempat matahari terbenam) tetapi tidak digunakan lagi dalam bahasa Inggris, dan digantikan dengan “Western world”.[2] Orientalis dan Orientalisme dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran.

Orientalisme berasal dari kata Inggris orient yang bermakna “the countries in the east and southeast of Asia” (negara-negara di timur, khususunya Asia tenggara).[3] Dalam bahasa Inggris British, istilah Oriental kadang masih digunakan untuk menyebut orang-orang dari Asia Timur dan Tenggara (seperti yang berasal dari Cina, Jepang, Korea, Indonesia, Malaysia, Filipina, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, Mongolia dan Laos).[4] Sementara, dalam bahasa Inggris Amerika, istilah Oriental mungkin terdengar kuno atau bahkan dianggap merendahkan oleh beberapa orang, terutama bila digunakan sebagai kata benda.[5] John Kuo Wei Tchen, direktur Asian/Pacific/American Studies Program and Institute di Universitas New York, mengatakan kritik dasar istilah tersebut dimulai di AS selama pergeseran budaya pada 1970-an. Dia mengatakan: “Dengan gerakan anti-perang Amerika Serikat di tahun 60-an dan awal 70-an, banyak orang Amerika-Asia mengidentifikasi istilah ‘Oriental’ dengan proses Barat yang rasialisasi orang Asia sebagai lawan selamanya ‘lainnya'”, dengan membuat perbedaan antara asal-usul leluhur “Barat” dan “Timur”.

Istilah Orientalisme yang mengarah ke kajian Barat atas Islam menjadi lebih populer setelah Edward W. Said menulis buku berjudul Orientalisme 1978.[6]

Kalau kita flashback sedikit, orientalisme yang umum digunakan sekarang dengan merujuk pada kalangan ilmuwan Barat yang mengkaji Islam asalnya bernama oriental studies. Oriental studies adalah istilah yang pertama digunakan oleh kalangan ilmuwan Barat. Oriental studies atau kajian ketimuran adalah bidang akademis yang mengkaji masyarakat Timur Dekat dan Timur Jauh dan budaya, bahasa, masyarakat, sejarah dan arkeologi; dalam beberapa tahun terakhir subjek sering berubah menjadi istilah yang lebih baru dari studi Timur Tengah dan studi Asia. Kajian Oriental Tradisional di Eropa dewasa ini pada umumnya terfokus pada disiplin studi Islam, sedangkan kajian China, khususnya China tradisional, sering disebut Sinologi. Kajian Asia Timur secara umum, khususnya di Amerika Serikat, sering disebut kajian Asia Timur.[7]

Studi ilmuwan Eropa di wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai “Timur” terutama berasal dari agama, yang tetap menjadi motivasi penting sampai saat ini. Hal ini sebagian disebabkan oleh bagaimana agama-agama Ibrahim di Eropa (Kristen, Yudaisme dan Islam) berasal dari Timur Tengah, serta kebangkitan Islam pada abad ke-7, dan akibatnya ada banyak minat pada asal usul agama-agama ini, dan budaya barat pada umumnya. Para peneliti Islam mendefinisikan orientalisme dengan penelitian atau kajian akademi yang dilakukan non muslim dari non Arab baik dari negara timur (asia) ataupun barat terhadap Islam.[8]

Pembahasan tentang asal mula Orientalisme, sebenarnya masih diperselisihkan oleh para peneliti sejarah Orientalisme. Dan tidak diketahui secara pasti siapa orang Eropa pertama yang mempelajari tentang ketimuran dan juga tidak ada yang mencatat kapan terjadinya. Mayoritas berpendapat, menurut Dr. Hasan Abdur Rauf bahwa Orientalisme dimulai dari Andalusia (Spanyol) di abad ke-7 H, ketika tekanan Kristen Spanyol kepada masyarakat Islam di sana memuncak. Raja Alfonso penguasa Kristen di propinsi Castilla (baca: Castiya) saat itu, memanggil Michael Scott untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam dan peradabannya. Kemudian Scott mengumpulkan sekelompok pendeta dari berbagai gereja dekat kota Toledo untuk membantu tugas-tugasnya. Pendapat lain mengatakan, Orientalisme dimulai ketika beberapa pendeta dari Barat datang ke Andalusia (Spanyol) saat kerajaan Islam itu berada dipuncak kejayaanya. Kemudian mereka mempelajari berbagai ilmu Islam di sana. Menterjemahkan Al Qur‟an dan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka, tidak ketinggalan mereka juga berguru kepada para ulama-ulama Islam yang ada di Andalusia waktu itu dari berbagai disiplin ilmu. Khususnya ilmu Filsafat, kedokteran dan Matematika. Dua pendapat di atas sepertinya tidak banyak berbeda dan kita sepertinya tidak perlu terlalu jauh untuk mempermasalahkannya.

  1. Obyektifitas

Obyektif menurut KBBI adalah mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Sedangkan makna obyektif dari bahasa Inggris yakni objective kurang lebih sama yaitu:

based on facts rather than feelings or opinions We need someone outside the company to give us an objective analysis. : not influenced by feelings Scientists must be objective. It’s hard to be objective [=fair, unbiased] about my own family. (berdasarkan pada fakta bukan perasaan atau opini. Contoh, kita butuh seseorang di luar perusahaan untuk memberikan analisa obyektif. : tidak dipengaruhi oleh perasaan. Saintis harus obyektif. Sulit bersikap obyektif artinya fair dan tidak bias tentang keluargaku sendiri.)[9]

Dengan demikian, orientalis yang obyektif adalah mereka yang dalam mengkaji Islam adalah para orientalis yang dalam kajiannya bersikap fair dan tidak bias. Berpatokan secara konsisten pada kaidah ilmiah, tidak dipengaruhi oleh agenda tertentu. Baik agenda sponsor yang membayarnya atau agenda pribadinya.

  1. Kalangan Orientalis Obyektif

Walaupun tidak sedikit kelompok orientalis yang dianggap bias dan terkesan memojokkan Islam, namun banyak juga yang fair dan obyektif. Kalangan ilmuwan Barat yang tergolong orientalis obyektif antara lain:

Pertama, Hadrian Roland (W. 1718 M), seorang guru besar bidang bahasa-bahasa Timur pada Universitas Utrecht, Belanda. Roland pernah menulis buku yang berjudul Muhammadanism yang terdiri dua jilid dengan menggunakan bahasa Latin (1705 M). Anehnya beberapa gereja di Eropa menganggap buku tersebut sebagai buku terlarang.

Kedua, Antoine Isaac Silvestre de Sacy (1758-1838 M), seorang bangsawan Prancis yang mendalami bidang sastra dan linguistic sebelum menjadi orientalis. Sacy berusaha menghindari terlibat langsung dalam kajian keilmuan dan sangat berjasa menjadikan Paris sebagai pusat kajian Islam. diantara ulama yang pernah berhubungan dengan Sacy adalah Syekh Rifa’ah Thanthawi.[10] Ketiga, Johann Jakob Reiske (1716-1774 M), ia seorang orientalis Jerman pertama yang patut diingat. Reiske sangat berjasa besar dalam mengembangkan Arabic Studies di Jerman.[11]

Keempat, Gustave Le Bon (1841- 1931 M), adalah orientalis dan filosof materialis, di mana ia tidak pernah percaya kepada agama. Pada umumnya kajian dan buku-bukunya menyoroti peradaban Islam. Kajian semacam ini yang menimbulkan orang-orang Barat tidak memperdulikan dan tidak menghargainya. Buku pertamanya berjudul La Civilization des Arabes, dirilis pada tahun 1884. Dalam buku ini, Le Bon sangat memuji orang-orang Arab atas kontribusi mereka terhadap peradaban, tetapi mengkritik Islamisme sebagai agen stagnasi. Dia juga menggambarkan budaya Arab lebih unggul daripada budaya Turki. yang memerintah mereka, dan terjemahan dari karya ini menjadi inspirasi bagi nasionalis Arab periode awal.[12]

Kelima, Sigrid Hunke (1913-1999 M) orientalis asal Jerman dengan karyanya yang dinilai sebagai obyektif karena menampilkan pengaruh peradaban Arab terhadap Barat. Salah satu karyanya yang termasyhur “Allahs Sonne über dem Abendland” (1960; “Allah’s sun over the Occident” – Matahari Allah atas dunia Barat) dia menegaskan bahwa “the influence exerted by the Arabs on the West was the first step in freeing Europe from Christianity – pengaruh yang diberikan oleh orang-orang Arab atas dunia Barat adalah langkah pertama dalam membebaskan Eropa dari agama Kristen.”[13] Selain itu, ada juga beberapa nama seperti Jack Burke, Anne Marie Schimmel, Thomas Garlyle, Renier Ginaut, Dr. Granier dan Goethe, dimana semuanya ini dikategorikan sebagai orientalis moderat.[14]

  1. Obyektifitas Thomas W. Arnold
  2. Biografi Thomas W. Arnold

Thomas Walker Arnold lahir di Devonport, Plymouth pada 19 April 1864, dan menempuh pendidikan di City of London School. Sejak tahun 1888 ia bekerja sebagai guru di Muhammadan Anglo-Oriental College, Aligarh, India. Pada tahun 1892 ia menikah dengan Celia Mary Hickson, keponakan dari Theodore Beck. Pada tahun 1898, ia menerima jabatan sebagai Profesor Filsafat di Government College, Lahore dan kemudian menjadi Dekan Fakultas Oriental di Universitas Punjab. Dari tahun 1904 hingga 1909 ia menjadi staf Kantor India sebagai Asisten Pustakawan. Pada tahun 1909 ia diangkat sebagai Penasihat Pendidikan untuk siswa India di Inggris. Dari tahun 1917 hingga 1920 ia bertindak sebagai Penasihat Sekretaris Negara untuk India. Dia adalah Profesor Studi Arab dan Islam di School of Oriental Studies, University of London, dari tahun 1921 hingga 1930.

Arnold diangkat sebagai Companion of the Order of the Indian Empire pada tahun 1912, dan pada tahun 1921 dianugerahi sebagai seorang knight (ksatria) dan berhak menyandang gelar Sir di depan namanya. Dia meninggal pada 9 Juni 1930.[15]

Arnold adalah teman Sir Syed Ahmed Khan, pendiri Aligarh Muslim University dan pembaharu Islam asal India, yang mempengaruhi dia untuk menulis buku terkenal The Preaching of Islam. Ia juga berteman dengan Shibli Nomani, dengan siapa dia mengajar di Aligarh. Dia mengajar Syed Sulaiman Nadvi dan penyair-filsuf Muhammad Iqbal. Dia adalah editor bahasa Inggris pertama untuk edisi pertama The Encyclopaedia of Islam.[16]

Thomas W. Arnold merupakan golongan orientalis yang “fair” dalam memandang Islam. Di dalam buku The Preaching of Islam, ia banyak menyampaikan pembelaan-pembelaan terhadap Islam dari serangan atau prejudice orientalis yang lain. Terutama terkait penyebab pesatnya penyebaran Islam yang oleh banyak orientalis dianggap dilakukan dengan peperangan dan persekusi.

Karya tulisnya secara lengkap adalah sebagai berikut:

  1. The preaching of Islam: a history of the propagation of the Muslim faith. Westminster: A. Constable and co. 1896. Retrieved 29 May 2011.
  2. (terjemah dan editor) The little flowers of Saint Francis by Francis of Assisi. London: J.M. Dent, 1898.
  3. The Court Painters of the Grand Moghuls. Oxford: Oxford University Press, 1921.
  4. The Caliphate. Oxford: Clarendon Press, 1924. Diterbitkan ulang dengan tambahan bab oleh Sylvia G. Haim: Routledge and Kegan Paul, London 1965.
  5. Painting in Islam, A Study of the Place of Pictorial Art in Muslim Culture. Oxford: Clarendon Press, 1928. Reprint ed. 1965.
  6. Bihzad and his Paintings in the Zafar-namah London: B. Quaritch, 1930.
  7. (bersama Alfred Guillaume) The Legacy of Islam. Oxford: Oxford University Press, 1931.
  8. The Old and New Testaments in Muslim Religious Art. London: Pub. for the British Academy by H. Milford, Oxford University Press. Schweich Lectures for 1928.

The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith

Obyektifitas Thomas W. Arnold bisa dilihat dari karya pertamanya The Preaching of Islam.[17] Buku ini merupakan salah satu buku populer karya Thomas W Arnold yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk k dalam bahasa Indonesia. Buku yang aslinya ditulis pertama kali pada tahun 1896 di Aligarh, India, ini, telah diterjemahkan oleh Drs. H. A. Nawawi Rambe dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1979 melalui proyek “penerangan bimbingan dan da’wah/khutbah agama Islam pusat tahun 1985/1986”. Sehingga buku ini tidak diperjualbelikan secara bebas di toko buku manapun.[18]

The Preaching of Islam dibagi menjadi 13 bab. Pembahasan bab pertama dimulai dari definisi agama dakwah dan penjelasan tentang Islam. Penjelasan singkat bagaimana Rasulullah SAW berdakwah, kemudian sampai beliau mendirikan negara Madinah. Kemudian mulai dari bab 3 sampai bab 13, Arnold menjelaskan tentang sejarah dakwah Islam di Asia Barat, Afrika, Spanyol, Turki, Asia Tengah, Persia, Mongol, India, Cina, dan Indonesia. Dalam buku ini, Thomas W. Arnold memisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan politik.

Poin yang menonjol yang menjadi salah satu kontribusi T.W. Arnold dalam buku ini adalah bahwa ia menekankan dalam hampir seluruh isi buku ini bahwa penyebaran Islam murni terjadi karena dakwah. Bukan dengan pedang. Tesis ini merupakan kebalikan dari umumnya orientalis yang membahas hal yang sama tentang Islam, khususnya tentang cara mendapatkan pemeluk baru yang menurut mereka dilakukan dengan penaklukan.

Bahwa sejak awalnya, Islam merupakan agama dakwah, baik dalam teori maupun praktik. Penyebaran Islam dalam sejarahnya adalah hasil dari usaha keras dan diam-diam dari para pendakwah.

Moreover it is not in the cruelties of the persecutor or the fury of the fanatic that we should look for the evidences of the missionary spirit of Islam, any more than in the exploits of that mythical personage, the Muslim warrior with sword in one hand and Qur’an in the other but in the quiet, unobtrusive labours of the preacher and the trader who have carried their faith into every quarter of the globe. Such peaceful methods of preaching and persuasion were not adopted, as some would have us believe, only when political circumstances made force and violence impossible or impolitic, but were most strictly enjoined in numerous passages of the Qur’an.[19]

Arnold menjelaskan pernyataannya di atas dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an semisal, QS An-Nahl 16: 126, As-Syuro 42: 13 – 14, Ali Imran 3: 19, Ali Imran 3: 103 – 104, Al-Haj 22: 67 – 68, At-Taubah 9: 6, dan At-Taubah 9: 11.[20]

Menurut Arnold, tidak mungkin penyebaran Islam dilakukan dengan cara paksaan atau persekusi. Karena Islam sebagai negara saja dikenal sebagai sistem yang toleran pada semua rakyatnya baik rakyat muslim maupun non-muslim:

In view of the toleration thus extended to their Christian subjects in the early period of the Muslim rule, the common hypothesis of the sword as the factor of conversion seems hardly satisfactory, and we are compelled to seek for other motives than that of persecution.

(Toleransi Islam itu berlaku juga untuk rakyat Nasrani pada periode awal pemerintahan Islam, hipotesa umum bahwa pedang sebagai faktor konversi tidak memuaskan, dan kita terpaksa mencari motif lain selain (anggapan) karena persekusi.)[21]

Thomas W. Arnold memberikan fakta di Abyssinia (sekarang Ethiopia), bahwa satu di antara faktor suksesnya dakwah Islam di negeri ini agaknya adalah ketinggian moral umat Islam diabandingkan dengan ummat Kristen. Ruppell mengatakan bahwa dia seringkali menyaksikan selama perjalanannya di Abyssinia bahwa apabila suatu jabatan akan diisi oleh calon dengan syarat kejujuran dan kesungguhan, maka biasanya pilihan selalu jatuh di tangan orang-orang Islam.[22]

Dibandingkan dengan orang-orang Kristen, katanya, orang-orang Islam lebih aktif dan bersemangat. Setiap orang Islam pasti mengajari anak-anaknya membaca dan menulis. Sedangkan orang-orang Kristen hanya mendidik anak-anaknya apabila dimasuksudkan bakal jadi pendeta.[23]

Keunggulan moral inilah yang mendorong perkembangan agama Islam di sana sepanjang abad ke-18 dan 19, saat pada yang sama terjadi kemerosotan dan sikap apatis dari kalangan ulama Kristen. Di samping adanya pertentangan antara pemimpin mereka yang semakin memberi jalan bagi perluasan dakwah Islam itu sendiri.

Tentang Nabi Muhammad yang di Barat diasumsikan sebagai sosok pemimpin yang “kejam”, ia membantah hal itu.  Arnold mencontohkan kisah Nabi Muhammad SAW tidak membalas dendam kepada orang-orang yang memperlakukan Beliau dan umatnya dengan perlakuan tidak baik sewaktu Beliau memasuki Makkah dan disebut sebagai Fathu Makkah. Sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah sosok yang bengis. Nabi hanyalah seorang juru dakwah.[24]

Hal yang sama dilakukan oleh penguasa Islam setelah era Khulafaur Rasyidin. Misalnya, setelah pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih dan pembebasan Palestina oleh Shalahuddin al-Ayyubi, di belahan bumi lain tepatnya di Andalus (Spanyol), orang-orang Islam di sana dibantai habis-habisan oleh orang Kristen dan dipaksa untuk masuk Kristen. Jika tidak mau, dia akan disiksa oleh tentara suci Kristen, sampai-sampai saat Al-Qonuni mau membebaskan mereka, harus dilakukan di malam hari. Karena mata para tawanan bertahun-tahun dalam kegelapan dan tidak melihat sinyar matahari, maka dikhawatirkan kebutaan atasnya. Akan tetapi, dengan keluhuran sikap umat Islam pada saat itu, tentara Muhammad Al-Fatih dan tentaranya Sulaiman al-Qonuny tidak membalas dendam kepada apa yang sudah dilakukan oleh mereka (Kristen) kepada saudara-saudara Muslim. Pada saat itu sangat bisa umat Islam menggenosida. Tapi tidak dilakukan oleh umat Islam itu sendiri.Di sisi yang lain, ada rasa syukur umat Kristen atau penduduk asli atas pembebasan-pembebasan yang dilakukan oleh ummat Islam. Karena mereka merindukan keadaan yang kondusif dan penuh toleransi, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa “kami lebih suka dipimpin oleh orang-orang Islam dari pada oleh orang yang seagama dengan kami”.[25]

Salah satu sebab sikap obyektif dan simpatik Arnold pada Islam, selain itikad baik tentunya, juga tidak lepas dari kedekatan hubungannya dengan beberapa tokoh Islam India seperti Sir Syed Ahmad Khan, pendiri Aligarh Muslim University; Shibli Nomani cendekiawan muslim India pendiri Osmania University Hydrabad dan Nadwatul Ulama Lucknow (pesantren modern), dan Sayid Sulaiman Nadwi juga pendiri Nadwatul Ulama Lucknow dan Jamia Millia Islamia, yang kemudian hijrah ke Pakistan pada 1950-an sebagai penasihat dewan konstitusi Pakistan.[26]

 

BAB III

PENUTUP

Dari uraian ini dapat disimpulkan beberapa hal berikut:

  • Terlepas dari anggapan bahwa kajian orientalisme, khususnya yang terkait dengan Islam, mengandung bias dan tidak obyektif karena ada faktor politis kolonialisme dan misionarisme, namun tidak sedikit dari para orientalist ini yang patut mendapat respek karena sikap mereka yang konsisten pada jalur ilmiah dan fokus pada kajian yang dilakukan. Kalaupun ada kritik pada Islam, maka kritik itu timbul dari sikap ilmiah, bukan dari kebencian atau titipan sponsor.
  • Salah satu dari orientalis yang fair dan obyektif dalam menilai Islam adalah Thomas Walter Arnold.
  • Apapun itu, ilmuwan muslim dapat mengambil manfaat dari hasil kajian mereka. Baik yang obyektif maupun yang bias.

ENDNOTE

[1] Nawawi, “Paradigma Orientalis terhadap Islam: antara Subyektif dan Obyektif”, Istidlal: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Volume 4, Nomor 1, April 2020

[2] The Cambridge English Dictionary

[3] The Cambridge English Dictionary

[4] Christopher Hill, “What’s the Matter with Saying ‘The Orient’?”, Japan Society. Diakses dari japansociety.org pada 3 Januari 2022.

[5] “Definition of ORIENTAL”. Merriam Webster Dictionary, www.merriam-webster.com. Diakses pada 3 Januari 2022.

[6] Edward W. Said, Orientalism, Vintage Books, New York, 1979.

[7] Clarke, J.J. (1997). Oriental enlightenment the encounter between Asian and Western thought. Routledge. hal. 8

[8] Evgeny Steiner, “East, West and Orientalism: The Place of Oriental Studies in the Globalizing World”, Orientalism / Occidentalism: The Languages of Cultures vs. the Languages of Description. – Moscow: Inst. of Cultural Research, 2012

[9] Merriam-Webster Dictionary.

[10] Samuel Noah Kramer (1971). The Sumerians: Their History, Culture, and Character. University of Chicago Press. hal. 12.

[11] Hugh Chisholm, ed. (1911). “Reiske, Johann Jacob”. Encyclopædia Britannica. 23 (11th ed.). Cambridge University Press. p. 57–58.

[12] Sylvia Kedourie (1962). Arab Nationalism: An Anthology. Cambridge University Press. hal. 182

[13] Dr. Amani Kamal Saleh, “Sigrid Hunkes contribution to the reception of the Arab cultural heritage in German-speaking countries” German Oriental Studies and Interculturalism, hal. 231.

[14] Ibid.

[15] B.W. Robinson, ” Thomas Walker Arnold – Encyclopaedia Iranica”. iranicaonline.org.

[16] B.W. Robinson, ” Thomas Walker Arnold – Encyclopaedia Iranica”.

[17] T.W. Arnold MA. C.I.F, The Preaching Of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, Second Edition, London Constable & Company Ltd. 1913.

[18] Muhammad T Hassan, “Thomas W. Arnold: Orientalis yang Adil Ketika Menilai Islam”, Republika, edisi 14/07/2021.

[19] T.W. Arnold, The Preaching Of Islam, hal. 5.

[20] T.W. Arnold, The Preaching Of Islam, hal. 3.

[21] T.W. Arnold, The Preaching Of Islam, hal. 69.

[22] T.W. Arnold, hal. 114.

[23] T.W. Arnold, The Preaching Of Islam,  hal. 106.

[24] T.W. Arnold, The Preaching Of Islam, hal. 4

[25] Ibid. hal. 63.

[26] “Profile and books by Sulaiman Nadvi” on openlibrary.org Open Library (California State Library). Diakses pada 5 Januari 2022.

KAJIAN PUSTAKA

Christopher Hill, “What’s the Matter with Saying ‘The Orient’?”, Japan Society. Diakses dari japansociety.org pada 3 Januari 2022.

Clarke, J.J. (1997). Oriental enlightenment the encounter between Asian and Western thought. Routledge.

Dr. Amani Kamal Saleh, “Sigrid Hunkes contribution to the reception of the Arab cultural heritage in German-speaking countries” German Oriental Studies and Interculturalism, hal. 231

Evgeny Steiner, “East, West and Orientalism: The Place of Oriental Studies in the Globalizing World”, Orientalism / Occidentalism: The Languages of Cultures vs. the Languages of Description. – Moscow: Inst. of Cultural Research, 2012

Hugh Chisholm, ed. (1911). “Reiske, Johann Jacob”. Encyclopædia Britannica. 23 (11th ed.). Cambridge University Press.

Merriam Webster Dictionary

Nawawi, “Paradigma Orientalis terhadap Islam: antara Subyektif dan Obyektif”, Istidlal: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Volume 4, Nomor 1, April 2020

Samuel Noah Kramer (1971). The Sumerians: Their History, Culture, and Character. University of Chicago Press.

Sylvia Kedourie (1962). Arab Nationalism: An Anthology. Cambridge University Press.

The Cambridge English Dictionary

Thomas W. Arnold, The preaching of Islam: a history of the propagation of the Muslim faith. Westminster: A. Constable and co. 1896

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.