Menentukan Calon Pasangan

Menentukan Calon Pasangan hidup hendaknya tidak asal memilih hanya karena faktor tampilan fisik. Apabila ini yang dilakukan, maka potensi konflik akan sangat tinggi. Harus dibuat lebih dulu kriteria calon istri dan calon mertua. Istri yang taat dan berkepribadian baik, begitu juga calon mertua. Karena mertua adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan rumah tangga. Mertua yang cerewet akan punya pengaruh pada kehidupan suami istri.
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Menentukan Calon Pasangan
  2. Kriteria Calon Istri
  3. Kriteria Calon Mertua


Menentukan Calon Pasangan

Salah satu proses natural kesinambungan eksistensi umat manusia adalah adanya keinginan untuk menikah. Bagi laki-laki, keinginan itu timbul dari beberapa faktor, seperti timbulnya syahwat (sexual drive) , keinginan untuk berbagi hidup bersama pasangan (suami/istri), keinginan untuk memiliki keturunan dan untuk mengikuti sunnah Rasul. Jadi, jelas, dorongan syahwat hanyalah salah satu motivasi bagi seseorag untuk sebuah pernikahan yang ideal. Oleh karena itu, seorang laki-laki yang menikah hanya karena faktor dorongan syahwat semata, maka perkawinannya tidak akan lama. Atau, setidaknya akan sulit merasakan kedamaian dalam mengarungi dinamika rumah tangganya yang biasa disebut dengan rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah.

Oleh karena tujuan suatu pernikahan bukan hanya untuk melampiaskan syahwat, maka Rasulullah memerintahkan agar seorang pria lebih memprioritaskan calon pasangan yang salihah. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Muslim, Nabi menegaskan bahwa seorang perempuan yang salihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.[1] Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyatakan bahwa dalam menentukan pilihan calon istri, seorang laki-laki hendaknya memilih seorang wanita yang agamis. Bukan karena harta, kecantikan fisik atau darah keturunan.[2]

Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (Ensiklopedi Fiqih) dikatakan bahwa wanita salihah adalah “wanita yang membuat suami senang saat melihatnya, taat pada suami, tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai suami, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.”[3]

Hadits-hadits dan ucapan ulama di atas walaupun konteksnya adalah petunjuk bagaimana sebaiknya seorang lelaki dalam memilih calon istri, namun tentu saja berlaku juga untuk seorang wanita dalam memutuskan apakah ia akan menerima lamaran seorang pria.  Karena, wanita juga mempunyai hak untuk menerima atau menolak pinangan seseorang, maka keputusan apapun yang akan diambil hendaknya berdasarkan petunjuk agama. Yakni, dengan menjadikan kesalihan pria sebagai prioritas utama.

Secara insting awal, seorang pria akan lebih memilih wanita yang cantik fisiknya, dari keluarga hartawan dan keturunan bangsawan sebagai calon pasangan hdiup. Begitu juga, seorang wanita akan lebih cenderung memilih pria yang tampan tampilan fisiknya, dan kaya raya serta keturunan bangsawan. Kalau tidak bisa semuanya, wanita akan cenderung memilih seorang pria yang kaya atau tampilan fisik yang meyakinkan.

Pola pikir seperti itu pada level tertentu adalah wajar dan manusiawi. Akan tetapi, dengan bantuan ilmu, akal budi dan lingkungan yang baik manusia diberi kemampuan untuk meningkatkan daya fikirnya  untuk melihat jauh ke depan.  Dengan kemampuan ini, maka kita akan melihat dengan jelas dan terang benderang bahwa seseorang dengan kecantikan atau ketampanan akhlak adalah jauh lebih penting dan paling cocok sebagai calon pasangan seumur hidup kita dibanding calon pasangan yang hanya memiliki ketampanan dan kecantikan lahiriah.

Bagi yang belum mampu melihat kebenaran anjuran Nabi di atas, cukuplah dengan mengikuti anjuran beliau dengan keikhlasan, ketaatan dan keyakinan. Karena sabda Nabi adalah kebenaran. Kalau akal kita tidak dapat menembus logika kebenaran itu sekarang, pasti kita akan dapat memahaminya nanti saat kita melihat dan mengalaminya sendiri.[]

[1] الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة
[2] تُنْكحُ الْمَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لمالها ولِحَسَبها ولِجَمَالها وَلدينها: فَاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ تَربَتْ يَدَاكَ
[3] أفضل النساء المرأة الصالحة التي تسره إذا نظر إليها، وتطيعه إذا أمرها، ولا تخالفه في نفسها ومالها بما يكره، وتفعل ما أمرها الله به، وتجتنب ما نهى الله عنه


Kriteria Calon Istri
Oleh A. Fatih Syuhud

Secara faktual seorang pria yang sedang memilih calon istri dambaan umumnya dipengaruhi dua pertimbangan. Yaitu, pertimbangan pribadi dan pertimbangan calon anak. Umpamanya, yang ingin mempunyai anak tampan dan cantik, cenderung memilih istri yang memiliki tampilan fisik sempurna. Yang ingin mempunyai anak cerdas akan mencari istri yang ber-IQ tinggi. Yang ingin memiliki anak salih akan mencari istri yang salihah, dan seterusnya. Tentu saja kalau memungkinkan ingin memilih semuanya. Tetapi manusia mempunyai sejumlah keterbatasan dan karena itu harus melakukan kompromi dalam melakukan pilihan.

Memilih calon istri berdasarkan calon anak yang diinginkan memang bukan prioritas utama bagi kebanyakan pria. Namun, hal itu perlu menjadi pertimbangan yang tidak kalah pentingny karena kesalahan memilih calon istri akan berakibat fatal pada calon anak kita. Misalnya, istri yang ber-IQ rendah dapat menular pada anak. Memiliki anak yang bodoh tentunya bukan harapan kita, bukan?

Menurut pakar biologi genetika karakter genetika berikut akan menular pada anak. Pertama, karakter fisik yang dimiliki anak merupakan turunan dari orang tua. Termasuk tinggi badan, jenis rambut (kriting atau lurus) bahkan tahi lalat.

Kedua, masalah medis dan kesehatan. Tidak semua masalah medis menurun ke anak, tetapi kebanyakan dapat menurun. Seperti penyakit jantung, astma, alergi, dan lain-lain. Kendatipun begitu, sistem kekebalan tubuh, faktor lingkungan, pola makan, kecelakaan dan faktor eksternal lain juga memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan seseorang.

Ketiga, problema genetika seperti sickle cell anemia, muscular dystrophy dan cystic fibrosis dapat menurun pada anak. Namun demikian, suatu penyakit genetika dapat menurun pada anak apabila kedua orang tua mengidap problema genetika tersebut.

Keempat, kecerdasan. Walaupun para ahli sepakat bahwa kecerdasan tidak hanya dipengaruhi oleh keturunan, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia yang berasal dari satu keluarga cenderung memiliki nilai kecerdasan yang tidak berbeda jauh antara satu dengan yang lain. Itu artinya, bahwa pada level tertentu, kecerdasan adalah bawaan lahir. Selebihnya tinggi rendah kecerdasan banyak juga dipengaruhi oleh nutrisi dan lingkungan. Seperti kebiasaan membaca dapat meningkatkan kecerdasan.

Selain keempat faktor turunan di atas yang merupakan bawaan lahir seorang anak, faktor kelima yang juga tak kalah pentingnya dalam memengaruhi masa depan anak adalah lingkungan dalam rumah. Di sinilah pentingnya mengapa seorang pria muslim harus mencari istri yang salihah yaitu seorang wanita yang memiliki ketaatan inheren terhadap Islam dan memiliki wawasan yang cukup dalam hal parenting (pengasuhan anak) .

Oleh karena itu, Nabi Muhammad menganjurkan agar seorang muslim hendaknya mencari istri yang agamis agar ia beruntung. Beruntung bukan hanya dalam arti akan terjadi keharmonisan hubungan suami-istri, tapi juga beruntung karena istri religius akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk dapat berkembang dengan sehat, salih, cerdas dan tumbuh sesuai potensi maksimal dirinya.

Tentu saja, hidup ini bersifat resiprokal. Take and give. Menerima dan memberi. Jangan mengharap istri salihah, cerdas dan sehat, kalau diri sendiri tidak memiliki kriteria tersebut. Memulai dari diri sendiri adalah langkah yang tepat, baru kemudian mengharapkan orang lain, yakni calon istri kita, memiliki kualitas yang sama.[]


Kriteria Calon Mertua
Oleh A. Fatih Syuhud

Seorang pria muslim yang baik tidak hanya mempertimbangkan kriteria calon istri ideal dalam sosok kepribadian calon istri itu sendiri. tapi juga melihatnya dalam diri calon mertua. Begitu juga seorang perempuan muslim ketika hendak mengambil keputusan menerima atau menolak pinangan seorang pria sebaiknya tidak hanya kualitas pria itu saja yang jadi pertimbangan, tapi juga sosok orang tua calon pasangan. Jadi, calon pasangan dan calon mertua hendaknya menjadi satu paket dalam penilaian. Hal ini harus dilakukan karena beberapa faktor.

Pertama, dalam sistem rumah tangga di Indonesia umumnya pasangan pengantin tinggal bersama salah satu orang tua mempelai. Tidak langsung pisah dalam rumah tersendiri. Bahkan terkadang kumpul dengan mertua ini terjadi selamanya sampai mertua meninggal Tanpa adanya kecocokan yang tulus antara menantu dan mertua, keadaan ini tentu akan menyebabkan konflik-konflik kecil yang akan berakumulasi menjadi konflik besar di kemudian hari. Ketika konflik antara mantu dan mertua terjadi, biasanya sedikit banyak akan berpengaruh pada keharmonisan hubungan suami-istri.

Kedua, mertua adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu. Dalam Islam, mertua disamakan statusnya dengan kerabat terdekat seperti orang tua dan saudara kandung dalam arti sama-sama berstatus mahram muabbad atau orang yang tidak boleh dinikahi selamanya, boleh bersalaman tanpa membatalkan wudhu, boleh bepergian berdua, dan kebolehan yang berlaku antara orang tua dan anak. Seorang muslim tentunya harus selektif betul dalam memilih calon “kerabat baru”-nya.

Ketiga, pada kasus tertentu di mana orang tua kandung meninggal dunia, maka mertua dapat menjadi figur pengganti orang tua tidak hanya dalam segi ekonomi—kalau menantunya miskin—tapi juga secara emosional sebagai tempat curhat dan berkonsultasi.

Keempat, kepribadian calon pasangan sebagian besar berasal dari dua hal (a) bersifat genetis artinya turunan dari orangtuanya. Dan (b) dari pendidikan dalam rumah. Calon mertua itu ibarat cover (kulit muka) sebuah buku. Kalau ada ibarat “Lihatlah buku dari kulitnya” maka pantaslah dikatakan “Lihatlah kepribadian calon pasangan dari orang tuanya.” Kalau ternyata ada ketidaksesuain antara karakter calon pasangan dan orang tuanya, maka perlu diinvestigasi lebih lanjut adakah ketidaksamaan itu asli atau dibuat-buat.

Kelima, hubungan pernikahan bukan hanya hubungan antara suami dan istri. Lebih dari itu dalam kitab At-Tafakkuk al-Usra dikatakan bahwa hubungan suami istri itu termasuk di dalamnya hubungan di antara dua keluarga dari kedua mempelai. Karena itu, hubungan yang harmonis antara kedua keluarga mutlak diperlukan. Dan untuk mencapai itu diperlukan kecocokan di antara dua keluarga terkait.

Oleh karena itu, memilih mertua yang berkualitas tak kalah pentingnya dengan memilih calon pasangan yang berkualitas. Bagi seorang muslim, istilah berkualitas tentunya berbeda dengan nonmuslim. Dalam sebuah hadits, Nabi mewanti-wanti kita agar tidak memilih wanita khadra’ ad-adiman. Saat ditanya siapa wanita itu, Nabi menjawab: “Wanita cantik yang hidup di lingkungan yang buruk” Lingkungan buruk, seperti disingung di muka, adalah kedua orang tuanya.

Ini bukan berarti Islam itu ajaran yang anti kecantikan, anti ketampanan, anti status sosial tinggi, anti jabatan terhormat. Namun, Islam ingin menekankan bahwa keislaman dan kepribadian yang luhur hendaknya menjadi prioritas dasar pertama mengalahkan yang lain dalam menilai calon pasangan dan calong mertua. Karena dari kedua nilai luhur inilah pasangan suami-istri akan dapat mengarungi rumah tangga yang dibangun dengan fondasi yang kuat dan tidak mudah goyah. Dari situ diharapkan terbangunnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.[]
web hosting reviews

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.