Istri Sang Kyai

Istri Sang Kyai. Istri kyai, dai, ulama, ustadz, tuan guru, biasanya wanita berpendidikan. Mereka juga biasanya bekerja di rumah membuat usaha sendiri, berwiraswasta. Umumnya kyai memilih istri berdasarkan pada faktor agama, nasab dan pendidikan dan yang terakhir baru tampilan fisik yang menarik. Namun, saat ini tidak sedikit para ustadz selebritis yang sering tampil ceramah di TV yang memilih istri dari kalangan artis. Ini tren yang kurang baik bagi kelompok yang diharapkan lebih mengedepankan akhlak dan nilai-nilai esoteris yang substantif daripada yang bersifat materi.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Al-Khoirot Putri Edisi November 2013

Daftar Isi

  1. Istri Sang Kyai
  2. Istri Bekerja di Rumah
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Istri Sang Kyai

Kyai adalah sebutan untuk figur ulama yang dikenal tinggi keilmuannya di bidang agama.  Dalam kesehariannya ia biasanya dikenal sebagai pengasuh pesantren, penceramah, atau tokoh agama. Kyai disebut juga dengan panggilan ustadz, buya, tuan guru atau syeikh terutama di daerah luar Jawa. Istri kyai di Jawa biasa disebut dengan Nyai atau Bu Nyai.

Sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama dan komitmen mengamalkan syariah Islam, maka kiai menjadi figur panutan dan tempat bertanya kalangan awam. Istri kyai pun ketularan berkah mendapatkan perlakuan yang sama dari masyarakat. Padahal, istri seorang kyai belum tentu seahli suaminya dalam ilmu agama dan belum tentu sekomitmen suaminya dalam mengamalkan syariah Islam.

Memang umumnya istri seorang kyai berperilaku tidak jauh dari suaminya yakni menjadi figur teladan dan tempat mengadu wanita muslimah. Namun, tidak sedikit juga istri kyai yang kurang layak menjadi panutan karena perilaku kesehariannya yang kurang sesuai dengan standar syariah dan etika sosial masyrakat. Dalam hal ini, maka menjadi kewajiban suaminya untuk tidak lupa mendidik istrinya terlebih dahulu  karena pendidikan keluarga harus menjadi prioritas utama sebelum mendidik masyarakat (QS At Tahrim 66:6 ).

Sebagai pemimpin yang menjadi panutan, maka seorang kyai dalam mendidik istrinya hendaknya tidak hanya berpatokan pada ajaran syariah minimal yakni terkait halal dan haram saja, tapi juga harus mengacu pada standar moral ideal yang lebih tinggi baik dari sudut pandang agama, etika sosial yang berlaku di masyarakat, maupun tata nilai ideal universal (universal values). Beberapa ciri khas perilaku dan kepribadian yang harus dimiliki figur yang menjadi panutan antara lain:

Pertama, sederhana. Istri kyai, seperti juga suaminya, harus komitmen pada gaya hidup yang sederhana walaupun mungkin dia seorang yang kaya raya yang mampu membeli apapun di dunia. Kesederhanaan meliputi pakaian yang dikenakan, perhiasan yang dipakai, mobil yang dikendarai, rumah yang dihuni, dan prioritas berbelanja. Budaya konsumtif dan mewah adalah gaya hidup yang buruk tidak hanya menurut Islam tapi juga menurut etika universal. Adalah sangat tidak pantas apabila seorang kyai dan istrinya menganut gaya hidup mewah sementara menasihati masyarakat awam untuk hidup sederhana, qanaah dan tawakal. Hidup mewah dilarang dalam Islam (QS Saba 34:34 ) dan  harus dijauhi karena ia akan menjadi biang keladi dari banyak penyakit hati dan perilaku seperti keras kepala, tamak, pelit (QS An Nisa 4:37), dan tak peduli sesama. Seorang yang sederhana tidak hanya tampak dari tampilan luar, tapi juga dari gaya bertutur.

Kedua, pintar. Pintar tidak harus identik dengan level pendidikan formal yang ditempuh. Tapi dari seberapa banyak ia membaca bacaan yang bermanfaat. Presiden Abdurrahman Wahid dan Buya Hamka adalah dua dari sekian banyak orang yang sangat pintar yang diakui kualitas ilmunya secara internasional walaupun mereka tidak memiliki ijazah formal tingkat sarjana. Artinya, kyai harus terus mendidik istrinya untuk rajin membaca dan mengurangi nonton sinetron agar wawasannya luas. Sebab, wawasan yang luas akan berpengaruh pada kepribadian dan gaya hidup dan cara berbicara. Istri kyai yang tidak pintar akan cenderung feodal, sombong dan tak acuh layaknya istri seorang raja jaman dahulu. Dan wanita yang sombong tak layak menjadi istri kyai panutan masyarakat. Sebaliknya, seorang Bu Nyai justru harus menjadi sosok wanita muslimah yang paling sopan dan tawadhu’ di dunia

Ketiga, ramah dan egaliter. Seorang Bu Nyai harus memiliki watak ramah dan merakyat dan menjauhi perilaku priyayi yang sombong. Sebagai istri pemimpin masyarakat, ia akan dicintai lingkungannya apabila ia memberi cinta yang sama pada mereka dalam tiindakan dan ucapan. Nyai yang sok priyayi dan kolokan hanya akan menjadi bahan cibiran masyarakat dan santrinya dan hal itu dapat mengurangi reputasi suaminya

Tiga poin di atas hendaknya menjadi poin evaluasi bagi kyai terhadap istrinya dan bagi istri kyai itu sendiri.[]


Istri Bekerja di Rumah
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Al-Khoirot Putri Malang

Secara syariah tidak ada kewajiban seorang istri untuk bekerja. Mencari nafkah untuk membiayai kehidupan rumah tangga, anak dan istri adalah tanggung jawab suami. Hal ini jelas tertuang dalam firman Allah QS At-Talaq 65:6 “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik…”

Menafsiri ayat di atas, Tabari dalam tafsir At-Tabari (hlm. 28/145) menyatakan bahwa kalau perempuan yang sedang ditalak raj’i (talak satu atau dua) saja wajib dinafkahi selama masa iddah, apalagi yang resmi masih berstatus istri. Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (hlm. 4/384) juga berpendapat sama. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi nafkah kepada istri dan kerabatnya dan berniat ibadah, maka itu dianggap sedekah.” Hadits ini menurut ulama fiqih berkonotasi pada wajibnya suami menafkahi istri dan anaknya.

Walaupun pembiayaan rumah tangga itu adalah kewajiban suami, namun bukan berarti istri dilarang untuk mencari rezeki guna mendapat tambahan penghasilan. Tidak ada larangan dalam Islam bagi seorang wanita untuk mencari dan mendapat penghasilan sendiri asal dengan cara yang halal, bermartabat dan atas persetujuan suami serta tetap menjaga syariah Islam khususnya dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Istri yang bekerja dan memiliki penghasilan dalam banyak sisi justru positif asal tidak melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu rumah tangga dalam arti ia menjadi pemimpin di rumah dan bertanggung jawab dalam urusan detail pendidikan anak.

Idealnya, kegiatan usaha yang dilakukan seorang istri untuk menambah penghasilan adalah yang bersifat produksi rumahan (homegrown business). Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari konfeksi, kue, jajanan, dan lain-lain sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Kelebihan dari bekerja di rumah seperti ini banyak sekali positifnya antara lain:

Pertama, kegiatan usaha tidak mengganggu tugas utama seorang ibu. Seperti disinggung di muka, tugas istri adalah sebagai ibu dan pembimbing bagi anak. Dan tidak sedikit hal itu menjadi terabaikan karena kesibukan ibu di luar rumah yang akhirnya menciptakan anak-anak yang broken home yaitu anak-anak nakal yang disebabkan karena kurangnya kasih sayang dari ayah dan ibu yang sibuk di luar.

Kedua, sesuai syariah Islam. Bekerja di rumah dapat menghindari seorang perempuan untuk bercampur baur (ikhtilath) dengan kolega kerja laki-laki di kantor atau di tempat kerja manapun. Dan dengan demikian menghindari terjadinya potensi perselingkuhan yang tidak jarang berujung pada perceraian atau minimal ketidakharmonisan rumah tangga.

Ketiga, memiliki kesibukan positif akan dapat membuat seseorang berfikir positif tentang dirinya dan orang lain. Kurangnya aktifitas akan cenderung membuat pola pikir kurang dinamis dan tidak cerdas.

Tentu saja selain dari ketiga hal di atas banyak hal-hal positif lain yang ditimbulkan dari istri yang bekerja, baik di rumah atau di luar, antara lain mandiri finansial sehingga dapat membantu suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Satu hal yang harus diingat bahwa walaupun mandiri secara finansial, seorang istri hendaknya tetap ingat akan posisinya sebagai istri dan tetap meletakkan suami sebagai kepala rumah tangga (QS An-Nisa’ 4:34).[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.