Agar disayang dan ditaati Anak

Agar disayang dan disegani Anak. Pendidikan orang tua, suami – istri, terhadap anak akan berhasil apabila anak menaruh rasa segan, respek pada orang tua. Salah satu caranya adalah tidak bertengkar di depan anak, sediakan qulaity time berkumpul bersama dan reward and punishment (penghargaan dan sanksi)
Oleh: A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Agar disayang dan disegani Anak
  2. Solusi Konflik (5): Tidak Bertengkar Di Depan Anak
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Agar disayang dan disegani Anak

Orang tua mana yang tidak ingin disegani dan sekaligus disayang anak? Disayang belum tentu disegani. Begitu juga, disegani belum tentu disayang. Padahal keduanya diperlukan untuk menciptakan keseimbangan dalam hubungan komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Orang tua perlu disegani anak agar semua perintahnya ditaati. Namun ketaatan itu hendaknya bukan karena timbul dari rasa takut, karena ketaatan seperti ini akan menimbulkan ketaatan yang semu dan tidak murni. Anak akan taat orang tua hanya di depan orang tua saja.

Rasa sayang anak sangat penting karena banyak faktor antara lain (a) agar ketaatan anak menjadi murni dan ketaatannya ikhlas timbul dari lubuk hati; (b) agar terjalin komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua terutama saat anak memasuki masa-masa remaja di mana anak akan mengalami masa-masa krisis dan labil secara emosional. Anak yang takut pada orang tua tidak akan mengeluhkan permasalahannya pada orang tuanya. Ia akan mencari teman yang ia percaya untuk mengadukan perasaan galaunya. Padahal teman yang dipercaya anak itu belum tentu baik. Dan inilah hal yang sangat berbahaya yang dapat menjerumuskan anak ke dalam suatu pergaulan yang salah.

Sepintas, menimbulkan rasa sayang anak pada orang tua itu seakan mudah. Asal dipenuhi segala permintaan anak, pasti anak akan sayang pada orang tua. Anggapan itu tidak benar. Anak yang dipenuhi semua atau sebagian besar permintaannya justru akan manja. Artinya, alih-alih akan disayang anak, yang ada justru sebaliknya: anak akan semakin tidak hormat pada orang tua dan menjadi sulit dikontrol. Orang tua dianggap hanya sebagai mesin ATM-nya saja. Bukan sebuah figur yang memiliki makna tersendiri di hati anak. Bukan sosok yang dikagumi dan menjadi panutan anak.

Jadi, bagaimana agar supaya orang tua ditaati dan  tetap disayang anak?  Setiap orang memiliki cara yang unik untuk mencapai hal itu. Namun, langkah yang umum adalah sebagai berikut:

Pertama, beri contoh yang baik. Ini hal pertama agar anak menaruh rasa hormat dan respek pada orang tua. Lakukan apa yang dikatakan. Jangan melarang anak merokok, misalnya, apabila orang tua merokok.

Kedua, luangkan waktu khusus setiap hari untuk berkomunikasi dengan anak.  Yang dimaksud waktu khusus adalah saat di mana orang tua dan anak saling menikmati interaksi yang menyenangkan. Hal ini dapat berupa bermain-main, ngobrol, bercanda, tapi bukan nonton TV atau aktivitas lain yang tidak interaktif. Selama masa interaksi ini orang tua hendaknya tidak mengoreksi, mengkritisi, memberi perintah atau bertanya sesuatu. Jadi, berilah perhatian positif pada anak, mengapresiasi, memuji, atau membuat pernyataan yang netral. Aturlah waktu untuk mengkritisi di suasana yang lain. Berhasil atau tidaknya usaha orang tua untuk disayang anak terletak pada poin kedua ini.

Ketiga, bersikap tegas pada waktu yang tepat. Apabila peraturan sudah dibuat, maka anak harus mentaatinya. Dan setiap pelanggaran yang dilakukan anak harus disertai dengan hukuman dan sanksi. Tentu saja sanksi tidak identik dengan pukulan. Bahkan orang tua harus menjauhkan sanksi kekerasan. Sanksi dapat berupa apa saja yang tidak berat tapi cukup memberi pesan kuat pada anak bahwa orang tua serius dalam membuat peraturan. Pemberian sanksi juga menjadi alat komunikasi dari orang tua untuk memberi tahu anak bahwa apa yang dilakukan anak itu salah atau kurang tepat. Sanksi yang umum dilakukan antara lain anak disuruh berdiri di pojok kamar selamar 5 menit atau lebih. Poin ketiga ini apabila dilakukan secara konsisten akan membuat anak segan pada orang tua dan akan berfikir dua kali untuk melakukan pelanggaran lagi.

Keempat, berikan perintah dengan nada yang tegas, tidak dengan nada berteriak atau membentak; apalagi dengan memelas atau memohon. Cara yang terakhir akan memberi kesan seakan anak yang berkuasa. Bukan orang tua.

Kelima, selalu berdoa untuk anak setiap selesai shalat fardhu dan shalat malam karena doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan Allah (QS Ghafir 40:60). Doakan agar anak diberi hati yang mutmainnah (QS Al-Fajr 89:27), hati yang nyaman untuk melakukan kebaikan. Ajak anak untuk melakukan hal yang sama dan bekali mereka minimal ilmu agama dasar. Kedekatan pada Allah adalah cara terbaik untuk membuat hati anak lembut dan mudah diatur.[]


Solusi Konflik (5): Hindari Bertengkar Di Depan Anak
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTS dan MA Al-Khoirot Malang

Orang tua adalah idola pertama anak. Dua sosok figur yang akan menjadi suri tauladan dan percontohan tingkah laku anak sekarang dan di masa depan. Oleh karena itu, kalau ingin melihat anak memiliki perilaku dan karakter yang baik, maka usahakan untuk menunjukkan perilaku terbaik setidaknya di hadapan anak. Salah satunya adalah dengan tidak bertengkar. Dan kalau pertengkaran itu harus terjadi, maka hindari melakukannya di depan mereka.

Akibat bagi perkembangan mental dan kepribadian anak sudah jelas sangat merugikan. Sebuah studi yang diadakan oleh Auburn University, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa konflik rumah tangga antara suami-istri menjadi sumber penting penyebab stress bagi anak, dan menyaksikan konflik tersebut akan dapat merusak sistem respon anak terhadap tekanan yang pada gilirannya akan berdampak pada melemahnya perkembangan mental dan kecerdasan mereka. Hasil studi yang diterbitkan oleh jurnal Child Development edisi Maret 2013 ini juga menyimpulan bahwa anak-anak yang sering menyaksikan konflik orang tua akan berdampak pada kemampuan kognitifnya.

C. Buehler dalam buku Hostile lnterparental Conflict and Youth Maladjustment menjelaskan bahwa pertengkaran orang tua di depan anak juga akan mempengaruhi kejiwaan anak. Anak akan mudah depresi, kasar dan keras kepala. Sifat-sifat yang tanpa disadari terserap dari perilaku yang mereka lihat dari orang tua mereka.

Terlepas dari dampak langsung yang membahayakan pada anak seperti disinggung di atas, keributan suami-istri di depan anak-anak mereka juga akan merugikan pasangan rumah tangga itu sendiri dalam hal persepsi anak terhadap orang tua. Seperti anak menjadi kurang respek pada orang tuanya dan kalau itu terjadi, maka membangun pendidikan karakter anak berada dalam resiko kegagalan. Untuk itu, suami-istri harus berkomitmen untuk tidak menunjukkan konflik antar-mereka di depan anak antara lain dengan cara berikut:

Pertama, buat perjanjian sejak awal agar setiap konflik dan perselisihan tidak dilakukan di depan anak-anak.

Kedua, apabila pasangan Anda sedang marah dan mulai menyalahkan Anda, maka jangan dilayani. Tinggalkan dia atau ingatkan dia dengan isyarat agar tidak bicara dulu saat anak-anak berada di sekitar mereka.

Ketiga, kalau pasangan Anda tidak mau berhenti setelah diingatkan, maka ajak dia ke tempat lain yang jauh dari anak-anak. Atau, perintahkan anak-anak untuk pergi ke tempat lain agar tidak melihat pertengkaran yang sedang terjadi.

Keempat, kalau salah satu atau kedua suami-istri memiliki sifat temperamental dan sulit menahan emosi, maka buat perjanjian bersama untuk melakukan perdebatan di dalam kamar tertutup agar tidak didengar anak.

Keempat, tuntaskan masalah. Mendiamkan masalah yang terjadi mungkin akan membantu untuk sementara. Akan tetapi itu bukan jalan terbaik. Idealnya, Anda dan pasangan harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan yang terjadi.

Menghindari konflik di depan anak itu sangat penting untuk menjamin stabilitas mental anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan emosional dan intelektual yang normal dan stabil. Sebagaimana pentingnya menjaga nutrisi dan kesehatan fisik mereka dengan memberikan asupan makanan yang sesuai dengan standar kesehatan.

Di sisi lain, menyembunyikan konflik dari anak akan membuat orang tua tetap dapat menjaga wibawa dan rasa hormat dari anak. Mendapat respek anak sangatlah penting agar apapun yang ingin kita tanamkan pada anak diitaati oleh mereka dengan penuh kerelaan. Dan kerelaan anak untuk taat adalah separuh dari keberhasilan orang tua dalam mendidik anak.[]

Comments

  • subhanallah, betul banget mas
    nomor 5 biasanya dilupakan

    ali febriyantoOctober 13, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.