Inisiatif

inisiatif

Inisiatif
Oleh: A Fatih Syuhud

Inisiatif berasal dari bahasa Inggris initiative yang memiliki cukup banyak makna antara lain “the power or ability to begin or to follow through energetically without prompting or direction from others; on one’s own” (kekuatan atau kemampuan untuk memulai atau meneruskan suatu perbuatan dengan penuh energi tanpa petunjuk dari yang lain; atau atas kehendak sendiri) .

Lebih jelasnya, seperti dikatakan Victor Hugo, inisiatif adalah melakukan hal yang benar tanpa diberitahu. Menurut Lyman L. Lemnitzer, inisiatif adalah penerjemahan imaginasi menjadi perbuatan (action).

Inisiatif merupakan salah satu karakter yang harus dimiliki seorang (calon) pemimpin. Semakin banyak inisiatif yang dimiliki seseorang, maka akan semakin besar, karismatik dan diakui kadar kepemimpinannya. Tentu, inisiatif bukan satu-satunya karakter kepemimpinan yang harus dimiliki. Namun, ia memiliki peran sangat signifikan dalam menentukan kadar kepemimpinan seseorang. Itulah mengapa, Michael H. Hart, seorang Yahudi Amerika dan pakar astrofisika, pada 1978 menulis buku kontroversial berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History dan menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama dari 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Hal ini antara lain tak lepas dari kenyataan, bahwa Nabi Muhammad adalah sosok pemimpin dunia yang paling banyak memiliki inisiatif solusi baru untuk kemaslahatan dunia dan karena itu memiliki pengaruh besar bukan hanya pada umat Islam tapi pada umat manusia secara keseluruhan (QS Al Anbiya’ 21:107).[1]

Inisiatif itu penting dan mutlak harus dimiliki dalam suatu kepemimpinan karena (a) seorang pemimpin bertugas memperbaiki situasi sosial yang dekaden (rusak); (b) seorang pemimpin tidak hanya mengemban amanah untuk melestarikan hal yang baik (al muhafadhoh alal qadim as sholih) tapi juga mampu mengadopsi hal baru (al akhdzu alal jadid al ashlah) yang lebih relevan dan bermanfaat; (c) seorang pemimpin, pada tahap tertentu, juga dituntut untuk memiliki ide sendiri tanpa tergantung pada pendapat orang lain. Ketiga faktor di atas mustahil dilakukan apabila seorang individu tidak memiliki inisiatif.

Bagaimana inisiatif dapat berkembang dan bagaimana cara mengambil inisiatif?

Pertama, jadilah pelopor (self-starter). Syukuri hal yang sudah berjalan baik, pada waktu yang sama ketahui permasalahan, pikirkan solusinya dan laksanakan segera.

Kedua, lakukan dengan cepat. Jangan menunggu waktu lebih lama. Begitu solusi yang Anda pikir sudah tepat, maka waktu pelaksaan yang perlu dilakukan adalah sekarang.

Ketiga, bayangkan hasil akhir. Kalau Anda merasa berat memikirkan bahwa proses untuk mengimplementasikan inisiatif tersebut begitu berat dan membutuhkan banyak pengorbanan, maka jangan pikirkan proses tersebut. Pikirkan hasil akhir yang menyenangkan apabila inisiatif Anda berjalan lancar.

Pada dasarnya, pemimpin yang berhasil cukup memiliki dua faktor yaitu inisiatif dan keberanian untuk melakukannya. Keberanian tanpa inisiatif hanya akan membuatnya jadi pesuruh; sementara inisiatif tanpa keberanian mengimplemantasikan hanya akan membuat seseorang menjadi pemikir.[]

CATATAN AKHIR

[1] Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.