Visi dalam Islam

visi islam

Visi dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud

Visi (vision) dalam istilah teknis kepemimpinan adalah pandangan tajam ke masa depan yang belum terjadi, yang menciptakan makna dan tujuan yang mendorong seseorang atau organisasi menggapai pencapaian tingkat tinggi.

Visi adalah rencana jangka panjang yang ingin dicapai. Di dalamnya terdapat sejumlah rencana jangka pendek yang dapat terus berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat ini.

Karena visi adalah sebuah rancangan jauh di masa depan, maka diperlukan kemampuan yang baik untuk memprediksi. Kesalahan atau kekurangmampuan melihat ke depan akan mempengaruhi sejumlah rencana dan aksi jangka pendek kita di masa kini.

Sebagai contoh kecil, mengapa Indonesia dan India berbeda pencapaiannya padahal keduanya sama-sama baru merdeka? Mengapa Indonesia berjalan di tempat setelah sekian dekade merdeka, sedang India diprediksi Goldman Sach, sebuah lembaga peneliti Amerika, akan menjadi negara superpower ekonomi bersama dengan China pada tahun 2050? Jawabnya tak lain karena perbedaan visi. Perdana Menteri pertama India, Jawahar Lal Nehru sejak awal menyadari bahwa pada setengah abad ke depan dunia akan didominasi oleh mereka yang menguasai sains dan teknologi. Lalu dibuatlah 15 sekolah tinggi unggulan yang berbasis riset yang dikenal dengan IIT (Indian Institute of Technology) atau Institut Teknologi India. Di samping itu, dibuat juga sebanyak tujuh IIM (Indian Institute of Management). Kedua macam insitut ini didanai secara khusus oleh pemerintah dan diakui berkualitas internasional. Alumni dari kedua institusi ini saat ini tidak hanya berperan besar di India, tapi juga di dunia. Indonesia pada awal kemerdekaan tidak memiliki visi yang jela sehingga perannya di dunia relatif kecil. Pada saat yang sama kita masih bangga dengan mempekerjakan teknisi atau manajer asing.

Pada tataran individu, ada atau tidakadanya visi, benar atau salahnya visi akan menentukan masa depan orang tersebut. Mengapa seorang siswa yang saat di tingkat SD terpandai di kelasnya, tapi tidak memiliki pencapaian yang signifikan saat dewasa? Hal ini sangat terkait dengan visi.

Visi dalam bahasa sederhananya adalah niat jangka panjang atau niat besar. Suatu hal yang mendasari suatu perbuatan. Suatu aksi tidak akan terjadi tanpa adanya niat. Dalam fiqh– berdasarkan sebuah Hadits riwayat Bukhari dikatakan innamal a’malu binniyyat –suatu perbuatan ritual dianggap tidak sah apabila tidak diawali dengan niat.

Visi, niat besar atau rencana jangka panjang kita akan sangat mempengaruhi perbuatan dan rencana jangka pendek. Karena itu mudah dilihat, orang atau organisasi yang mudah puas dengan pencapaian tertentu, dapat dipastikan memiliki visi yang lemah. Keberhasilan-keberhasilan kecil yang dicapai setiap hari, bulan atau tahun memang patut disyukuri, tapi bukan untuk dipuasi.

Memiliki visi yang baik itu sangat penting baik bagi individu apalagi pemimpin. Namun yang tak kalah pentingnya adalah mengimplementasikan visi itu dalam bentuk aksi nyata.

Joel Barker, seorang futurolog kenamaan, dalam bukunya Future Edge (1992) mengatakan: Vision without action…is just a dream. Action Without Vision, just passes the time. But, vision and action…can change the world. (Visi tanpa aksi, hanyalah mimpi. Aksi tanpa visi, hanya membuang waktu. Namun, visi dan aksi dapat merubah dunia).

Bagaimana cara memiliki visi yang baik? Banyak membaca (Al Alaq 96:1-4)[1], terutama buku biografi tokoh (QS Yusuf 12:111)[2] dan sejarah dunia (QS Al A’raf 7:176;[3] An Nur 24:34)[4] serta bergaul dengan kalangan yang tepat.[]

CATATAN AKHIR

[1] Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

[2] Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

[3] Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

[4] Dan Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.