Hidup Bahagia dalam Islam

hidup bahagia dalam Islam

Hidup bahagia di dunia pada dasarnya dapat dicapai dengan cara mensyukuri apapun yang dimiliki baik tampilan fisik, kondisi keluarga, kepemilikan harta. Pada waktu yang sama selalu bekerja keras untuk berusaha mencapai yang terbaik sambil tak lupa untuk tawakal pada saatnya dan bertaubat apabila melakukan dosa.
Hidup Bahagia Dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud

Tidak ada satu tujuan yang paling dicari oleh umat manusia kecuali kebahagian. Semua orang ingin hidup bahagia. Bahkan kalau ditelusuri, hampir setiap perbuatan yang dilakukan seseorang bertujuan langsung atau tidak langsung untuk mencapai kebahagiaan. Baik itu perbuatan baik, seperti menuntut ilmu, maupun perbuatan yang jahat sekalipun seperti mencuri atau mencopet. Tanya pada pencuri, apa alasan dia mencuri, ujung dari jawaban pasti untuk mencari kebahagiaan.

Banyak filosof dan ilmuwan psikologi yang membuat ulasan panjang menawarkan konsep bahagia dan bagaimana mencapai kebahagiaan. Aristotle, misalnya, mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah kehidupan yang tentram dan itu terjadi apabila seseorang dapat mencapai potensi diri secara maksimal.

Dalam Islam, konsep kebahagiaan itu secara garis besar terbagi menjadi dua: bahagia di dunia dan bahagia di akhirat (QS Al Baqarah 2:201).[1]

Bahagia di Dunia adalah Kerja Keras

Berbeda dengan kebahagiaan di akhirat yang digambarkan dalam Al Quran sebagai tempat yang tenang, nyaman dan “penuh fasilitas” serta keabadian (QS Al Baqarah 2:25),[2] bahagia di dunia baru dapat tercapai oleh adanya tiga faktor yang sama sekali berbeda yakni, pertama adalah kerja keras (QS Al Anfal 8:60;[3] Al Jum’ah 62:9-10;[4] Al Ankabut 29:69;[5] Al Balad 90:4-17).[6]

Kedua, rasa syukur atas apapun yang telah dihasilkan dari kerja keras tadi (QS Ibrahim 14:7;[7] An Naml 27:40).[8] Bahwa buah yang dihasilkan itu sedikit atau banyak tidaklah begitu penting.

Ketiga, tawakkal. Saat kerja keras maksimal dengan pengerahan segala daya dan pikiran telah dilakukan, maka langkah akhir adalah berserah diri (tawakkal) pada-Nya (QS Al Maidah 5:23).[9] Langkah ketiga ini perlu dan harus dilakukan terutama di saat kerja keras kita tidak membuahkan hasil yang diinginkan.

Ketiga unsur kunci untuk mencapai kebahagiaan di dunia (fid-duniya hasanah) di atas harus dilakukan secara terus menerus sampai akhir hayat. Kerja keras demi kerja keras selalu diperlukan untuk menciptakan harapan-harapan baru. Karena adanya harapan membuat manusia termotivasi untuk hidup lebih baik (QS Yusuf 12:87).[10] Dan karena vitalitas dan kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh besarnya harapan yang dia ciptakan dari kerja kerasnya.

Bersyukur menjadi unsur kedua yang tak kalah pentingnya. Di samping untuk menikmati “panen” dari hasil kita kerja keras “bercocok-tanam”, ia menjadi saat yang tepat untuk berkontemplasi dan berintrospeksi atas apa yang sudah dilakukan serta untuk membuat rencana apa lagi yang perlu dijalankan untuk menciptakan harapan baru yang lain.

Ada saat di mana hasil kerja keras kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, di sinilah fungsi tawakal sangatlah penting (QS Al Naml 27:79).[11] Ia dapat menjadi rem dari keputusasaan. Tanpa rem ini tidak sedikit orang yang mengakhiri hidupnya hanya karena kekecewaan kecil yang menderanya. Sebaliknya banyak orang dapat bertahan dan bahkan bangkit dari kejatuhan karena adanya rem tawakal dan timbulnya harapan baru lain yang diciptakannya.

Jadi, bahagia di dunia bukanlah hidup dengan bermalas-malasan atau bersenang-senang yang semu. Alih-alih bahagia, hidup seperti ini adalah hidup tanpa harapan dan tujuan yang justru identik dengan derita dan keputusasaan.[]

CATATAN AKHIR

[1] Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.(2:201)

[2] Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya. QS Al Baqarah 2:25

[3] Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).(QS Al Anfal 8:60)

[4] Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Al Jum’ah 62:9-10

[5] Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Al Ankabut 29:69

[6] Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku Telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? Bukankah kami Telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan, Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, Atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. {Al Balad 90:4-17)

[7] Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim 14:7)

[8] Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. An Naml 27:40)

[9] Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” QS Al Maidah 5:23

[10] Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. QS Yusuf 12:87

[11] Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata. (An Naml 27:79)

Artikel Terkait:

One thought on “Hidup Bahagia dalam Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.