Hak dan Kewajiban Istri

Hak dan Kewajiban Istri harus diketahui baik oleh istri dan suami agar supaya kedua belah pihak tahu tugas dan kewajibannya dan berusaha komitmen untuk melaksanakannya. Di sinilah perlunya memiliki istri yang berilmu dan suami yang mengerti.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SANTRI
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Hak dan Kewajiban Istri
  2. Wanita Berilmu


Hak dan Kewajiban Istri

Dalam Islam istri menempati posisi yang mulia. Ia adalah calon ibu. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits sahih bahwa ibu adalah sosok yang tiga kali lebih berhak untuk dihormati oleh anak dibanding ayah.

Istri juga memiliki beberapa hak yang menjadi kewajiban suami. Seperti, istri berhak mendapat maskawin. Dalam QS An-Nisa’ 4:4 Allah berfirman “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” Disyariatkannya mahar salah satunya bertujuan untuk menyenangkan dan memuliakan istri.

Istri juga berhak mendapat nafkah dari suami. Dalam QS Al-Baqarah 2:233 Allah berfirman, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”  Ulama sepakat (ijmak) bahwa ayat ini menjadi dasar atas wajibnya seorang suami memberi nafkah pada istri. Tentunya nafkah yang dipikulkan ke pundak suami berdasarkan pada kemampuan suami seperti yang tersurat dalam QS Ath-Talaq 65:7 di mana Allah berfirman, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya”

Karena mendapat nafkah dari suami adalah hak seorang istri, maka dibolehkan bagi istri untuk mengambil haknya tersebut apabila suami tidak melaksanakan kewajibannya. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari Muslim Rasulullah mengijinkan Hindun—seorang istri yang tidak mendapatkan nafkah dari suaminya yang bernama Abu Sofyan– untuk mengambil harta milik suami tanpa sepengetahuannya dengan catatan, mengambil seperlunya. Dalam bahasa Nabi, “Ambillah secukupnya dari harta suamimu untukmu dan anakmu.” (HR Bukhari no. 5049; Muslim no. 1714).

Istri juga berhak atas tempat tinggal karena itu menjadi kewajiban suami untuk memberikan tempat tinggal sesuai dengan kemampuan ekonominya. Allah berfirman dalam QS At-Talaq 65:6, “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”

Dari tiga privelese (keistimewaan) berupa hak-hak yang dapat dinikmati seorang istri dan menjadi kewajiban seorang suami, maka sungguh akan tidak adil apabila tidak ada timbal balik pihak istri kepada suaminya. Karena, rumah tangga adalah kehidupan mutual. Saling memberi dan saling menerima. Bersamaan dengan hak, tentu ada juga kewajiban istri. Beberapa kewajiban seorang istri antara lain adalah:

Pertama, taat suami.  Karena suami adalah pemimpin rumah tangga, maka wajar kalau ia adalah sosok figur yang memegang kendali. Apapun perintahnya harus diataati selagi tidak bertentangan dengan syariah. Termasuk juga harus menuruti permintaan suami apabila suami meminta berhubungan intim.

Kedua,  tidak keluar rumah tanpa ijin suami. Bahkan seandainya untuk menjenguk orang tua yang sedang sakit. Alasannya, menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali, karena taat pada suami itu wajib maka tidak boleh meninggalkan perkara wajib untuk melakukan hal yang tidak wajib. Suami juga berhak untuk melarang istri untuk tidak menemi orang yang tidak disukainya.

Ketiga, pendisiplinan (ta’dib). Suami berhak untuk mendisiplinkan istri apabila istri tidak menaati perintah suami. Hak ini jelas tercantum dalam QS An-Nisa 4:34, “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.” Dalam ayat ini jelas disebutkan bahwa mendisiplinkan istri hendaknya melalui 3 tahap yaitu nasihat, pisah ranjang dan baru hukuman fisik. Pemukulan hendaknya dilakukan dalam keadaan yang darurat dan tidak masuk level KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).[]


Wanita Berilmu
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesabtreb Putri Al-Khoirot Malang

Aisyah, istri Nabi dan putri dari Sahabat Abu Bakar Sidiq, adalah salah satu sosok ideal seorang perempuan muslimah: optimis, pekerja keras, cerdas, berakhlak dan berilmu tinggi. Beliau tidak hanya menjadi tempat bertanya bagi sesama wanita, tapi juga kalangan Sahabat Nabi yang laki-laki. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah (8/18) meriwayatkan kisah Abi Musa yang bercerita tentang Aisyah bahwa beliau selalu dapat memberi jawaban memuaskan atas setiap persoalan keilmuan yang ditanyakan padanya.

Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar al-A’lam an-Nubala’ (2/179-189) mengutip ucapan Imam Zuhri yang mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh orang alim dan ilmu semua wanita muslimah, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.” Singkatnya, Aisyah adalah salah seorang ulama tersohor pertama Islam.

Keilmuan Aisyah yang mengundang decak kagum kalangan Sahabat ternama bukanlah isapan jempol untuk sekedar menyenangkan seorang istri Nabi. Faktanya, dalam bidang hadits, ribuan hadits memang berasal dari riwayat Aisyah. Bagi kita yang hidup 1375 tahun setelah wafatnya, beliau meninggal dunia pada tahun 58 hijriah, banyak hal yang dapat diambil pelajaran dari keberhasilan Aisyah menjadi seorang ulama wanita.

Pertama, optimisme. Beliau menikah dengan Nabi dalam usia yang masih sangat muda, yakni antara 9 atau 12 tahun. Itu artinya, keilmuan beliau saat itu boleh dikatakan masih nol. Namun, kenyataan itu tidak membuat beliau berkecil hati. Pernikahan bukanlah akhir pencarian ilmu. Bagi Aisyah, pernikahannya justru menjadi awal pembelajaran dalam berbagai bidang, termasuk bidang keilmuan. Kehidupan berumahtangga tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Kesibukan dan dinamika berkeluarga bukan alasan untuk tidak belajar. Seorang yang optimis adalah yang selalu pantang menyerah pada keadaan yang bagaimanapun sulitnya.

Kedua, mencintai ilmu. Seseorang yang mempelajari suatu ilmu akan lebih cepat paham dan mudah mengerti apabila dia menyenangi apa yang dipelajari. Dengan menyenangi, maka dia akan menikmati sehingga dapat melakukannya dengan sepenuh hati. Mencintai ilmu mungkin sulit pada awalnya, tapi saat seorang sudah merasakan indahnya ilmu dan eloknya membagi ilmu yang dimiliki dengan orang lain, maka dia akan kecanduan untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuannya.

Ketiga, rendah hati. Aisyah memiliki dua kelebihan yang patut dibanggakan: pintar dan menjadi istri Nabi. Dua kelebihan yang menempatkannnya dalam posisi yang sangat tinggi dan mulia. Namun, hal itu tidak membuatnya arogan. Beliau tetap menjadi ummul mukminin yang rendah hati. Yang selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapapun yang hendak menimba ilmu padanya.

Keempat, kemauan keras. Banyak wanita yang setelah menikah lupa untuk menambah ilmunya karena lebih memikirkan materi dan fikirannya disibukkan dengan urusan suami dan anak. Padahal, saat ini mencari ilmu bagi wanita jauh lebih mudah dibanding pada era Aisyah dulu. Sekarang, seseorang dapat menambah wawasan keilmuannya melalui berbagai cara. Seperti, membaca buku dan majalah, membacara melalui internet, menonton program pengajian di TV, bersilaturrahmi pada ulama, dan lain-lain. Yang diperlukan adalah kemauan keras untuk belajar.

Kelima, niat yang benar. Mencari ilmu harus diniati untuk ibadah dan perintah Allah (QS Al Mujadalah 58:11 ). Karena kualitas iman, kualitas amal, kualitas dalam mendidik anak dan kualitas dalam berinteraksi dengan suami akan sangat tergantung kepada kualitas keilmuan kita. Baik ilmu umum, dan terutama ilmu agama (QS At Taubah 9:129).[]

Comments

  • Artikel yang menarik..Allah Maha Adil, menciptakan mahluk berpasang-pasangan dengan hak dan kewajibannya masing-masing.

    Mas PiereJanuary 5, 2017

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.