Al-Ikhwan Wahabi Gerakan Radikal Kakak Kandung ISIS

Al-Ikhwan Gerakan Radikal Kakak Kandung ISIS
Oleh: A. Fatih Syuhud

Namanya mirip dengan Ikhwanul Muslimin (IM), sebuah gerakan trans nasional Islam yang didirikan oleh Hasan Al Banna yang cukup populer di Indonesia. Bedanya, IM lahir di Mesir sedangkan Al-Ikhwan adalah gerakan milisi yang berasal dari Arab Saudi.

Tidak banyak yang mengenal gerakan ini kecuali para peminat sejarah Islam abad 20. Saat ini nama tersebut tidak lagi eksis karena sudah berubah bentuk dan menjadi bagian dari pasukan Garda Nasional Arab Saudi.[1]

Nama Al-Ikhwan sebenarnya merupakan kependekan dari Ikhwanu man Tha’a Allah (إخْوَانُ مَنْ طَاعَ الله) atau “saudaranya orang yang taat pada Allah.” Untuk membedakan dengan Ikhwanul Muslimin, sejarawan sering menyebutnya dengan Al-Ikhwan An-Najdiyin atau Al-Ikhwan dari Najad.[2]

Al-Ikhwan pertama kali muncul sekitar tahun 1902, namun bergerak aktif antara tahun 1912 sampai 1930. Gerakan ini dibentuk oleh kalangan ulama Wahabi atas inisiatif dari Abdul Azis ibnu Saud (1875-1953) pendiri Kerajaan Arab Saudi. Tujuan dari dibentuknya gerakan ini  untuk membangun pasukan milisi yang kuat, solid dan setia dalam rangka merebut kembali kekuasaan leluhurnya yang hilang. Terbentuknya Al-Ikhwan berhasil membantu Ibnu Saud menguasai Riyadh pada 1902 dan sejumlah kawasan luas di Najad yang menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Arab Saudi saat ini.[3]

Besarnya ambisi Ibnu Saud untuk menguasai teritorial Arabia yang luas mengharuskannya untuk memiliki pasukan yang sangat kuat dan setia. Dari pemikiran inilah ia kemudian merekrut kalangan Badui Arabia. Untuk sekedar diketahui, Badui Arab adalah kelompok suku Arab pedalaman yang memiliki cara hidup nomaden alias berpindah-pindah tempat di kawasan Jazirah Arab. Badui berasal dari kata Arab badw dan bentuk nisbatnya (singular) adalah badawi (بَدَوِي‎) yang bermakna penduduk gurun.[4] Kalangan Badui ini dulunya terbagi menjadi beberapa kabilah atau klan yang dalam bahasa Arab biasa disebut dengan asyirah (عشيرة). Istilah ini bisa ditemukan dalam Al Quran misalnya QS Asy-Syuara 26:214. Dalam Al-Mukjam Al-Wasith, kata asyirah bermakna “kerabat dan kabilah.”[5]

Pasukan milisi Badui ini kemudian dilatih bukan hanya keterampilan bertempur, tapi juga dididik dengan pendidikan agama Islam menurut ajaran ekstra radikal Muhammad bin Abdul Wahab atau Salafi Wahabi (Sawah).  Dengan indoktrinasi ajaran Wahabi inilah, maka tidak sulit bagi pasukan Al-Ikhwan untuk bertempur dan membunuh saudaranya sesama muslim. Karena, dalam pandangan Wahabi, muslim yang tidak ikut aliran Wahabi adalah muslim yang penuh bid’ah dan pelaku syirik yang otomatis keluar dari Islam.[6] Slogan perang yang dipropagandakan cukup jelas mewakili ajaran Wahabi yaitu “memerangi kaum kafir.”[7]

Dengan semangat “memerangi kaum kafir” inilah maka tidak heran apabila sejarah mencatat banyaknya kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh Al-Ikhwan kepada sesama muslim yang mereka anggap sebagai “kaum kafir” tersebut. Di mana pun terjadi kekejaman Ibnu Saud dan kaum Wahabi dalam proses perebutan kekuasaan kawasan Hijaz dan Najad, maka di situ pula Al-Ikhwan terlibat di dalamnya.

Al-Ikhwan dan ISIS

Kalau generasi milenial Islam saat ini tidak mengenal Al-Ikhwan, maka cukuplah mengenal ISIS untuk memiliki sedikit gambaran tentangnya. Karena ada banyak kemiripan antara keduanya. Salah satu hal yang menonjol adalah baik Al-Ikhwan maupun ISIS sama-sama menganut aliran Salafi Wahabi yang dikenal dengan ideologi radikal takfiri (mengafirkan muslim yang di luar kelompoknya). Fakta bahwa ISIS menganut aliran Wahabi ini diakui oleh salah satu ulama Wahabi bernama Adil Al-Kalbani. Dalam salah satu wawancara dengan TV MBC ia menegaskan “Tidak ada keraguan bahwa ISIS adalah hasil dari ajaran Wahabi Salafi.”[8] Perbedaan Al-Ikhwan dengan ISIS hanyalah bahwa Al-Ikhwan dibentuk secara langsung oleh para ulama Wahabi di bawah patron Ibnu Saud, sedangkan ISIS tidak melibatkan Arab Saudi secara langsung.

Abbas Khadim[9] membeberkan sejumlah  kemiripan kedua gerakan ultra radikal ini dalam beberapa hal berikut:

  1. Kedua kelompok ini sama-sama mengharamkan rokok. Padahal tidak ada satupun ayat Al-Quran dan hadis yang secara eksplisit mengharamkan rokok.
  2. Suka menghancurkan bangunan lama yang berkaitan dengan kuburan ulama dan tempat bersejarah.
  3. Mengabaikan kebersihan. Berambut panjang dan kotor karena jarang mandi sampai berhari-hari dan tanpa ganti baju.
  4. Suka membunuh kalangan muslim yang tidak ikut alirannya (Wahabi Salafi). Perilaku ini dimulai dari kerabat terdekat. Seperti saudara, orang tua, sepupu yang mereka anggap sebagai “musuh Allah”.
  5. Saat mereka menguasai suatu kawasan, kedua kelompok ini sama-sama memberlakukan hukum syariah (versi mereka) secara keras tanpa terkecuali pada siapapun. Ini salah satu alasan mengapa Al-Ikhwan berbalik melawan Ibnu Saud ketika Ibnu Saud mulai memerintah secara pragmatis dan sedikit longgar dengan melarang mereka menyerang kelompok lain yang bukan Wahabi. Faisal Al-Duwaish, salah satu pemimpin Al-Ikhwan, menulis pada Ibnu Saud: “Anda melarang kami menyerang kaum Badui lain dan kami menjadi non-muslim yang memerangi kaum kafir.. Anda telah merampas hak kami di dunia dan akhirat.”
  6. Al-Ikhwan dimanfaatkan oleh Ibnu Saud, pendiri Arab Saudi, untuk mencapai tujuannya yakni menguasai kawasan Hijaz. Begitu juga, ISIS dimanfaatkan rezim Arab Saudi saat ini untuk melemahkan lawan-lawannya yakni mantan Perdana Menteri Irak Nouri Al-Maliki dan presiden Suriah Bashar Al-Assad. Walaupun sebagian rencana ini, yakni menggulingkan presiden Suriah, terbukti gagal.[10]

Konflik dan Rekonsiliasi dengan Ibnu Saud

Walaupun terbentuknya Al-Ikhwan ini di bawah perlindungan dan bantuan Abdul Aziz bin Saud, namun kedua pihak sempat mengalami masa konflik karena adanya ketidaksepakatan dalam sejumlah sikap. Terutama karena Ibnu Saud dianggap telah keluar dari perilaku Salafi Wahabi yang mereka anggap bukan hanya paling Islami, tapi merupakan Islam itu sendiri.

Pada tahun 1926 tokoh pimpinan Al-Ikhwan di Al-Artawiyah mendapatkan fakta bahwa Ibnu Saud melakukan sejumlah kesalahan karena “tidak mengamalkan pemisahan antara iman dan kufur, antara haq dan batil”. Sejumlah kesalahan Ibnu Saud menurut Al-Ikhwan antara lain:

  1. Mengijinkan dua putranya melakukan perjalanan ke “negara musyrik” yakni pangeran Faisal ke Inggris, pangeran Saud ke Mesir.
  2. Mengijinkan kalangan kelompok Badui lain yang musyrik dari Irak dan Transyordania untuk menggembala hewan mereka di “tanah Islam”.
  3. Dianggap terlalu bersikap kompromi pada kaum Syiah yang kufur.
  4. Dianggap salah karena memperkenalkan teknologi modern seperti mobil, telpon dan telegraf yang tidak ada di jaman Nabi.
  5. Dianggap melanggar syariah karena menarik pajak pada suku-suku Badui.[11]

Kritikan ini sebenarnya biasa saja. Namun karena pengeritiknya adalah Al-Ikhwan yang merupakan bagian dari pasukan koalisi dengan segala kekuatan dan kekejamannya, maka akan sangat berbahaya pada kekuasaan Ibnu Saud apabila dibiarkan. Untuk itu, Ibnu Saud berusaha meredamnya dengan cara menyerahkan tuduhan-tudhuan tersebut pada para ulama Wahabi yang dipilih. Hasilnya, para ulama ini mengeluarkan fatwa bahwa rakyat non-sunni (maksudnya, non-Wahabi) harus diberi aturan yang ketat dan bahwa hanya penguasa, yakni Ibnu Saud, yang memiliki hak untuk mendeklarasikan jihad.[12]

          Perseteruan Al-Ikhwan dengan Abdul Aziz bin Saud berlanjut. Pada 1927 kabilah Mutayr dan Ajman tidak setuju pada keputusan ulama di atas dan tidak mengakui otoritas Ibnu Saud. Mereka kemudian melanjutkan melakukan serangan lintas batas menuju bagian Trans-Yordania, Irak dan Kuwait yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris. Akibatnya, Inggris membalas dengan mengebom Najad. Ibnu Saud kemudian memecat Ibnu Humaid Ad-Duwaish dan Ibnu Hislain, pimpinan pemberontak tersebut dan berdamai dengan Inggris.[13] Tahun berikutnya, Januari 1928, Al-Ikhwan kembali melakukan penyerangan lintas batas ke Kuwait.

Melihat pimpinan Al-Ikhwan mulai sulit dikontrol dan sering tidak mentaati aturan, maka Ibnu Saud memimpin sendiri pasukannya dengan dukungan empat pesawat Inggris (dengan pilot Inggris) dan armada kapal berisi 200 kendaraan militer yang melambangkan modernisasi yang ditolak Al-Ikhwan. Setelah menderita kekalahan besar pada Pertempuran Sabilla (30 Maret 1929), Al-Ikhwan menyerah pada pasukan Inggris di perbatasan Saudi-Kuwait pada Januari 1930.[14]

Sikap Ibnu Saud setelah kemenangan atas pemberontak Al-Ikhwan adalah menghabisi tokoh yang bersalah dan rekonsiliasi dengan pihak yang bersedia taat padanya. Dengan ini, maka pimpinan pemberontak Duwaish dan Ibnu Bujad meninggal dalam tahanan di Riyadh sementara kabilah yang menjadi pengikutnya dihukum berupa perampasan sebagian besar unta dan kuda mereka. Sedangkan sisa Al-Ikhwan yang setia menjadi bagian dari pasukan kerajaan. Awalnya disebut Tentara Putih, tapi kemudian diberi nama Garda Nasional.[15]

Pada 20 November 1979, di bawah pemerintahan Raja Khalid, terjadi penyerangan ke dalam Masjidil Haram Makkah. Mereka menyebut dirinya sebagai Al-Ikhwan. Ketuanya yang bernama Juhaiman al-Utaibi adalah seorang khatib dan mantan kopral pasukan Garda Nasional. Dari namanya mudah diidentifikasi dia adalah anak dari Sultan bin Bajad Al-Utaibi, salah satu tokoh Al-Ikhwan yang juga memberontak pada era Ibnu Saud. Peristiwa Kudeta Makkah ini berdampak pada semakin meningkatnya kekuasaan dan pengaruh kalangan ulama Wahabi radikal pada kehidupan sosial, budaya dan politik Arab Saudi.Hal ini disebabkan oleh cara pendekatan Raja Khalid yang berpikir bahwa satu-satunya cara untuk menjaga stabilitas kerajaan adalah dengan memberikan kekuasaan yang lebih luas pada kalangan ulama Wahabi.[16]

Kekejaman dan Radikalisme Al-Ikhwan

Selama tahun 1912-1930 Al-Ikhwan dengan semangat yang tinggi berkoalisi dengan Ibnu Saud menaklukkan kawasan Hijaz dan Najad. Dalam proses ini banyak rakyat sipil dan ulama menjadi korban keberingasan mereka. Di samping menghancurkan berbagai bangunan dan tempat bersejarah. Berikut beberapa kasus yang tercatat dalam sejarah:

  1. Pada akhir Agustus tahun 1924 terjadi genosida atau pembunuhan massal yang dilakukan oleh Al-Ikhwan yang dikenal dengan pembunuhan massal di Taif. Al-Ikhwan di bawah komando Sultan bin Bajad Al-Utaibi dan Khalid bin Luwai mengepung dan menyerang Taif. Kota Taif dapat ditaklukkan. Namun, pasukan Al-Ikhwan tidak hanya berhenti di situ. Mereka kemudian melakukan genosida pada rakyat sipil. Tak kurang dari 300 sampai 400 warga sipil tak bersalah.[17]
  2. Pada Juli 1922, pasukan Al-Ikhwan menyerang dan merampok dua kota dekan Amman, Yordania. Membunuh wanita dan anak-anak.
  3. Pada 4 Oktober 1924, 2000 orang dari Al-Ikhwan memasuki Makkah bersama Pangeran Faisal menghancurkan berbagai benda yang mereka anggap bid’ah dan syirik seperti seni, instrumen musik, pipa air, makam wali, dan menjarah harta benda yang terdapat di istana kerajaan. Pada waktu yang sama Ibnu Saud mengumumkan dibentuknya polisi agama yang disebut mutawwa’.[18]
  4. Sebagaiana disebut di muka, pada 20 November sampai 4 Desember 1979 di era Raja Khalid berkuasa, Juhaiman Al-Utaibi bersama anak buahnya, mengepung dan menduduki Masjidil Haram Makkah. Juhaiman adalah anak dari pimpinan Al-Ikhwan era Ibnu Saud yang bernama Sultan bin Bajad Al-Utaibi. Saat itu, yang menjadi korban dari Al-Ikhwan generasi baru ini adalah 127 tewas dan 451 terluka, 117 pemberontak tewas, 26 jemaah haji meninggal, 110 orang yang terluka mulai dari Indonesia, Afganistan hingga Nigeria.[19]

Kekejaman Al-Ikhwan yang tidak berbeda dengan kekejaman ISIS disebabkan oleh ideologi radikal Salafi Wahabi yang dianut oleh kedua kelompok ini. Sebagaimana disebut di muka, hal ini bahkan diakui oleh sebagian ulama Salafi sendiri seperti Adel Al Kalbani. Pemicu utama dari ideologi Wahabi yang membuat penganutnya menjadi gelap mata adalah anggapan bahwa a) semua umat Islam yang tidak ikut ajaran Wahabi dianggap musyrik dan kafir; b) hukumnya wajib jihad membasmi dan membunuh orang kafir (yakni saudara sesama muslim non-Wahabi). Itulah sebabnya Wahabi disebut sebagai neo-Khawarij oleh ulama sekaliber Ibnu Abidin dan Al-Shawi.[20][]

Catatan Akhir

[1] Pasukan bersenjata Arab Saudi selain tiga sayap militer yang umum (AL, AU, AD) juga terdapat tiga unit pasukan khusus yaitu Garda Kerajaan, Garda Nasional, dan Garda Perbatasan.

[2] Amin Al-Raihani, Tarikh Najd Al-Hadits, hlm. 262.

[3] Hafizh Wahbah, Jazirah Al-Arab fi Al Qarn Al-Isyrin, hlm. 295.

[4] McAuliffe, Jane Dammen. Encyclopaedia of the Qurʾān. Brill.

[5] Mukjam Al-Wasith. Teks: العَشِيرَةُ العَشِيرَةُ عَشِيرَةُ الرَّجُل : بنو أَبيه الأَقربون وقبيلتُه . وفي التنزيل العزيز : الشعراء آية 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) ) . والجمع : عَشائِرُ

[6] A. Fatih Syuhud, “10 Pembatal Keislaman”, fatihsyuhud.net

[7] Abbas Khadim, “This Isn’t Saudi Arabia’s First ISIS Problem”, 7 Agustus 2016, nationalinterest.org

[8] Adel Al Kalbani dalam wawancara dengan stasiun TV MBC, Dubai, 22 Januari 2016. Video: https://youtu.be/GWORE6OBfhc

[9] Dr. Abbas Khadim adalah peneliti pada Foreign Policy Institute, SAIS, Johns Hopkins University.

[10] Abbas Khadim, “This Isn’t Saudi Arabia’s First ISIS Problem”,  7 Agustus 2016, nationalinterest.org

[11] David Commins (2009). The Mission and Saudi Arabia. I.B.Tauris. hlm. 88.

[12] Ibid

[13] Dickson Harold. Kuwait and her Neighbors, “George Allen & Unwin Ltd”, 1956. hlm. 300-302

[14] Second Ikhwan Rebellion 1929-1930| Globe University| Wars of the World. Link: http://www.onwar.com/aced/nation/sat/saudi/fikhwan1929.htm

[15] David Commins (2009). The Mission and Saudi Arabia. I.B.Tauris. hlm. 76

[16] Robert Lacey (2009). Inside the Kingdom : Kings, Clerics, Modernists, Terrorists, and the Struggle for Saudi Arabia. Viking. hlm. 48.

[17] Nadav Safran (1988). Saudi Arabia: The Ceaseless Quest for Security. Cornell University Press. hlm. 47

[18] Robert Lacey, op.cit.

[19] Robin B. Wright,  Sacred Rage: The Wrath of Militant Islam ( Simon & Schuster 1948),  2001, hlm. 148

[20] A. Fatih Syuhud, “Khawarij”, fatihsyuhud.net

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.