Agar Suami Disayang Istri

Agar Suami Disayang Istri
Oleh A. Fatih Syuhud

Banyak yang mengira bahwa rasa sayang istri pada suami itu terkait pada dua hal yaitu pemenuhan nafkah lahir dan nafkah batin. Persepsi ini ada benarnya walaupun pada dasarnya kurang tepat dan cenderung menyederhanakan permasalahan rumah tangga yang cukup kompleks. Karena itu sama saja dengan mengatakan bahwa seseorang bisa bahagia asal kebutuhan dasar berupa sandang pangan papan terpenuhi. Karena tidak sedikit orang yang kebutuhan dasarnya lebih dari cukup tapi tetap saja tidak bahagia dan bahkan ada yang bunuh diri atau mengalami stress dan depresi.

Pada prinsipnya, yang membuat istri sayang pada suaminya adalah apabila ia bahagia dan suami menjadi bagian penting yang membuat hidupnya bahagia. Ada beberapa karakter dan perilaku yang harus dimiliki seorang suami agar ia disayang istrinya.

Pertama, ketaatan pada syariah Islam. Bagi suami muslim, ini kualitas pertama dan mendasar yang harus dimiliki. Dengan ketaatan penuh pada syariah, maka secara otomatis banyak potensi problema rumah tangga akan dapat dihindari seperti perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Suami setia dan tidak ringan tangan adalah dambaan setiap istri.

Kedua, pekerja keras. Seorang suami yang pekerja keras, tidak pemalas plus dilengkapi dengan pendidikan tinggi atau kemampuan (skills) yang memadai untuk mencari rezeki akan mendapat penghargaan yang pantas dari istri. Walaupun mungkin penghasilannya tidak sesuai dengan harapan.

Ketiga, bersyukur. Bahagia itu ada apabila kita mensyukuri apa yang diberikan Allah. Mensyukuri apa yang sudah ada sambil tetap berusaha maksimal meningkatkan pencapaian adalah perilaku ideal seorang suami yang dapat membahagiakan istrinya.

Keempat, mendidik istrinya bersyukur. Seperti disebut dalam sebuah hadits sahih, seorang istri sering merasa sulit untuk bersyukur. Sulit menerima kenyataan saat tetangga memiliki kelebihan materi. Apabila ini dibiarkan maka istri akan sulit menyayangi suaminya karena sampai kapanpun rezeki tidak akan pernah sama. Suami sebagai pemimpin rumah tangga (QS An-Nisa’ 4:34) tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Istri harus diberi pengertian, wawasan, tauladan dan peringatan secara berulang-ulang sehingga sifat, sikap dan pola pikir (mindset) syukur itu menjadi kebiasaan. Apabila perilaku syukur sudah inheren menjadi bawaan istri, maka tidak sulit baginya untuk selalu berterima kasih dan mensyukuri setiap tetesan keringat kerja keras suaminya.

Kelima, sabar dan tegas. Suami harus sabar dalam banyak hal. Bersabar saat menerima musibah, saat istri agak cerewet dalam hal-hal yang tidak penting dan prinsip. Tetapi dalam waktu yang sama, suami juga harus tegas terhadap perilaku istri yang sekiranya dibiarkan justru tidak mendidik dan tidak memperbaiki karakter dan perilakunya. Dalam hal ini diperlukan kearifan dalam memilih momentum saat menyeimbangkan antara kesabaran dan ketegasan.

Sebab, sabar itu tidak selamanya baik. Begitu juga tidak selamanya tegas itu terpuji. Kesabaran yang tidak pandang waktu, situasi dan kondisi akan membuat suami menjadi seperti orang bodoh yang kalah pada istrinya. Sementara ketegasan yang kaku akan terkesan hubungan suami-istri seperti hubungan atasan dengan bawahannya.

Istri bagi suami memiliki peran gabungan antara seorang teman sekaligus kekasih, murid sekaligus guru, bawahan sekaligus atasan.

Suami harus dapat mengukur dengan jeli momen di mana dan kapan dia harus memainkan sikap dan peran yang berbeda dengan istri. Dengan kombinasi yang seimbang dalam memainkan perannya, insyaallah istri akan menyayangi suaminya tanpa membuat suami kehilangan jati diri sebagai kepala rumah tangga.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.