Rumah Tangga Agamis (1): Taat Syariah

Rumah Tangga Agamis (1): Taat Syariah adalah salah satu tanda paling mendasar apakah keluarga itu taat agama apa tidak. Taat syariah artinya melaksanakan kewajiban, melakukan perbuatan halal dan menjauhi larangan yang haram. Berilmu agama menjadi keharusan agar tahu mana yang halal dan haram. Setelah itu, komitmen untuk mengamalkan yang diketahui agar memiliki perilaku atau akhlak yang mulia.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri Madin Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Rumah Tangga Agamis (1): Taat Syariah
  2. Rumah Tangga Agamis (2): Berilmu Agama
  3. Rumah Tangga Agamis (3): Akhlak Mulia


Rumah Tangga Agamis (1): Taat Syariah

Rasulullah bersabda agar seorang pria memilih calon istri yang agamis, “Agar kalian beruntung.” Kalau istri agamis dapat membawa keberuntungan dalam rumah tangga, maka begitu juga dengan suami yang agamis. Secara implisit, hadits ini juga menjamin bahwa “membina rumah tangga agamis merupakan keharusan untuk mencapai kebahagiaan sejati.” Apa yang disebut dengan rumah tangga agamis?

Abdul Adzim Abadi dalam kitab Aunul Ma’bud menafsiri kata pribadi yang agamis (dzatiddin) sebagai orang yang menggunakan agama sebagai standar penilaian dalam segala hal. Bukan berdasarkan pada penilaian duniawi. Membina rumah tangga yang agamis tidak mudah tapi juga dimungkinkan dan harus secara terus menerus diusahakan oleh setiap keluarga. Berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus menerus untuk mencapai tujuan itulah yang dimaksud oleh Nabi pada akhir hadits “taribat yadaaka”. Artinya, membina rumah tangga agamis tidaklah mudah namun harus menjadi tujuan ideal yang harus diusahakan dengan sungguh-sunggu untuk dicapai oleh setiap muslim.

Salah satu langkah awal untuk membina rumah tangga agamis adalah dengan taat pada syariah. Syariah Islam paling mendasar ada dua kategori yaitu perintah dan larangan. Dan perintah syariah terpenting ada dalam rukun Islam sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits Umar bin Khattab yang intinya adalah mentaati lima perintah dasar yang menjadi pilar utama dalam Islam yaitu syahadat, shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadan, dan haji sekali seumur hidup apabila mampu. Sedangkan larangan syariah yang harus dijauhi adalah perbuatan yang termasuk dalam kategori dosa besar. Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair menyatakan ada 70 macam dosa besar yang harus dijauhi oleh setiap muslim yang taat. Dari 70 dosa besar tersebut setidaknya ada enam dosa besar yang paling penting yaitu syirik, membunuh, mencuri, berzina, minum alkohol (minuman keras), dan konsumsi narkoba.

Sebuah keluarga yang taat pada syariah sebagaimana disinggung di muka disebut keluarga yang shaleh.

Kalau Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menyatakan bahwa seseorang akan dapat istiqamah dalam kesalehannya, apabila dia selektif dalam memilih teman, maka begitu juga sebuah keluarga akan dapat konsisten dengan ketaatannya apabila dapat selektif tidak hanya dalam memilih teman tapi juga memilih tetangga yang baik dan benar. Yang dimaksud dengan tetangga dan lingkungan yang baik adalah sebagai berikut:

Pertama,  tetangga yang terdidik. Tetangga terdidik memiliki gaya hidup, perilaku dan wawasan yang baik. Begitu pentingnya hidup di lingkungan orang pintar sampai Imam Ghazali berkata, “Musuh yang pintar lebih baik daripada teman yang bodoh.”

Kedua, tetangga soleh. Jangan bertetangga dengan keluarga yang fasiq yang suka berbuat dosa besar tanpa henti.  Karena berteman dan bertetangga dengan lingkungan seperti itu akan membuat semangat berbuat amal kebaikan menurun dan perlawanan terhadap perilaku maksiat akan mengendur. Dalam QS Al-Kahfi 18:28 Allah berfirman “dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Ketiga, jangan bertetangga dengan keluarga yang materialistik dan konsumtif. Islam menganjurkan untuk bekerja keras dan tidak ada larangan menjadi kaya. Tetapi Islam melarang gaya hidup yang hedonis yaitu hidup yang bermewah-mewahan, boros dan memuja harta benda. Hidup dalam lingkungan seperti ini akan mudah tertular atau minimal tidak akan meningkatkan kesalihan yang dipupuk selama ini.

Dengan niat dan komitmen yang benar didukung oleh lingkungan teman dan tetangga yang baik pula maka insyaallah membina rumah tangga yang sholeh dan taat syariah akan mudah menjadi kenyataan.[]


Rumah Tangga Agamis (2): Berilmu Agama
Oleh: A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTs MA Al-Khoirot Malang

Taat pada syariah dalam arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larang-Nya adalah wajib. Orang yang menjalankannya disebut sebagai orang yang soleh (QS Ali Imron 3:114) yang akan mendapatkan pahala surga kelak di akhirat (QS Al-Baqarah 2:25). Namun kualitas kesalihan seseorang itu dapat berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Salah satu penyebab perbedaan kualitas kesalihan itu adalah tingkat keilmuan. Karena, level keilmuan seseorang dapat memengaruhi kualitas keimanan. Allah berfirman dalam QS Al-Mujadalah 58:11 “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Yang dimaksud dengan ketinggian derajat adalah derajat pahala dan keridhoan Allah di akhirat dan kemuliaan (karomah) di dunia. Orang berilmu memang dipuji oleh Allah sebagaimana dapat dilihat dalam QS Az-Zumar 39:9 dan QS Fathir 35:28. Lalu, ilmu apa yang dimaksud ayat tersebut dapat meningkatan derajat seseorang?

Fakhruddin Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyatakan bahwa yang dimaksud adalah ilmu agama. Karena, (a) ilmu orang alim dapat mendorong ketaatan pada level yang tidak dapat dicapai oleh orang muslim yang awam; (b) ketaatan orang alim menjadi panutan sedang orang muslim biasa tidak; (c) karena dengan kealimannya itu orang alim dapat menjaga diri dari perbuatan haram dan syubhat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh yang lain. Pandangan bahwa ilmu agama dapat mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat disepakati oleh ahli tafsir lain seperti Muhammad bin Ahmad Al-Anshari dalam Tafsir Al-Qurtubi (17/267), Al-Husain bin Mas’ud dalam Tafsir Al-Baghawi (8/11), Muhammad bin Jarir dalam Tafsir At-Tabari (23/11), Ismail bin Umar Al-Qurasyi dalam Tafsir Ibnu Katsir (8/11).

Sebagaimana diketahui bahwa tingkat kemampuan ilmu agama seseorang ada dua macam. Yaitu, ilmu agama dasar yang wajib diketahui oleh semua muslim yang terkait dengan kewajiban keagamaan seperti ilmu tentang najis, cara wudhu, shalat, puasa, zakat, dan haji (bagi yang kaya) dengan penguasaan minimal. Sedang ilmu yang kedua adalah segala macam ilmu agama seperti Al-Quran, hadits, fiqih, dan lain-lain dengan penguasaan yang mendalam. Bagi seorang muslim yang sangat awam dalam ilmu agama karena tidak terdidik agama saat kecil atau mengambil disiplin ilmu umum saat dewasa, maka wajib baginya untuk minimal memahami ilmu agama dasar.

Menurut Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, walaupun kemampuan ilmu agama yang mendalam dapat meninggikan derajat di dunia dan akhirat, namun orang yang berilmu tidak otomatis akan mendapat karomah atau kemuliaan sejati kecuali apabila diawali dengan niat yang benar yaitu untuk mendapatkan hidayah Allah. Apabila demikian, maka malaikat akan membentangkan sayapnya untuk melindungi orang tersebut setiap dia melangkah dan makhluk laut pun akan memohonkan ampun saat dia berlayar.

Imam Ghazali membagi seorang pencari ilmu agama ke dalam tiga kategori, pertama, orang yang mencari ilmu semata-mata untuk bekal akhirat dan tidak ada niat selain itu. Ini kelompok yang beruntung (al faizin).

Kedua, orang yang mencari ilmu untuk tujuan duniawi; untuk dapat memperbaiki taraf hidup ekonomi dan menduduki jabatan yang pantas di pemerintahan (sebagai pegawai negari sipil / PNS) atau di perusahaan swasta. Ini golongan orang yang mengkhawatirkan (al-mukhatirin). Kalau dia mati sebelum bertaubat, dikhawatirkan akan mati su’ul khatimah.

Ketiga, orang yang terperdaya setan yaitu pencari ilmu yang hanya bertujuan untuk menumpuk harta, hidup mewah dan menyombongkan jabatannya. Ini termasuk kelompok yang rusak (al-halikin).

Ketiga poin yang diulas Imam Ghazali di atas mengingatkan kita betapa pentingnya niat yang benar yakni niat yang berorientasi akhirat. Apapun pencapaian keilmuan yang ingin kita raih.[]


Rumah Tangga Agamis (3): Akhlak Mulia
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Al-Khoirot Malang

Syarat ketiga sebuah rumah tangga disebut agamis adalah apabila dalam sebuah keluarga memiliki akhlak mulia (husnul khuluq) atau berbudi pekerti yang luhur. Seorang muslim yang taat syariah dan berilmu agama belum menjamin memiliki akhlak yang baik. Pribadi dengan akhlak yang baik akan sangat terasa di mata manusia yang lain. Karena kepribadian seperti itu akan tampak jelas dan terpancar dalam kehidupan kesehariannya. Ia pribadi dihormati dan disegani; sosok yang dicintai dan dirindukan. Individu yang dibutuhkan dan diidolakan. Orang merasa senang berkumpul dengannya dan merasa senang membantunya atau memercayakan sesuatu amanah padanya.

Kepribadian berakhlak mulia timbul dari dalam jiwa yang terpancar dalam perilaku kesehariannya. Itulah sebabnya ulama menyebutnya sebagai al-akhlak ar-ruhiyah (akhlak jiwa). Husnul khuluq harus menjadi salah satu ciri khas dari sebuah keluarga yang agamis karena ia bagian dari ajaran Islam. Rasulullah bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”[1] (Hadits sahih riwayat Ahmad dan Hakim). Rasulullah pernah ditanya tentang faktor utama yang menyebabkan seseorang masuk surga. Nabi menjawab: “Takwa pada Allah dan husnul khuluq.” (Hadits sahih riwayat Tirmidzi).[2] Rasulullah bahkan menyatakan bahwa akhlak yang baik akan menjadi amal terberat (terbesar) kelak di hari kiamat.[3]

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (3/72) memuat beberapa ciri khas dari karakter orang yang berperilaku husnul khuluq sebagai berikut: Sangat pemalu (untuk melakukan perkara buruk), jarang menyakiti, banyak berbuat kebaikan, jujur ucapannya, sedikit bicara (yang tidak baik), banyak berbuat, tidak berlebihan, selalu bersyukur, pemaaf, dapat membawa diri, menjaga martabat, penolong, tidak suka mencaci, tidak menuduh, tidak mengadu domba, tidak memfitnah, tidak terburu-buru, tidak dengki, cinta karena Allah dan marah karena Allah.

Akhlak mulia pada dasarnya tersimpul dalam lima karakter berkualitas, pertama, hikmah atau bijaksana. Bijaksana atau arif adalah kualitas sikap terpuji yang timbul dari kemampuan belajar dari pengalaman, pengetahuan dan kebenaran dalam menilai sesuatu dan memutuskan dengan tepat.

Kedua, berani. Berani adalah kesiapan mental dalam menghadapi bahaya dan sabar menahan derita serta selalu menunjukkan sikap optimisme dan semangat tinggi dalam segala situasi dan kondisi. Inilah hakikat dari sifat seorang pemberani. Jadi, berani tidak identik dengan berani berkelahi.

Ketiga, adil. Yaitu selalu memakai standar kebenaran dalam menilai, menghukumi atau memutuskan sesuatu. Baik itu kebenaran agama maupun kebenaran etika sosial universal. Termasuk dalam menilai diri sendiri, keluarga, suku maupun orang atau kelompok lain.

Keempat, integritas. Yaitu kualitas perilaku yang memiliki komitmen kuat untuk jujur dan memiliki prinsip moral yang kuat dan berstandar tinggi. Baik standar agama atau etika sosial. Dalam bahasa tasawuf, ia disebut dengan wara’. Menurut Al-Jurjani dalam At-Takrifat wara’ adalah menjauhi perkara syubhat agar tidak jatuh pada perkara haram. Dengan kata lain, sesuatu yang secara fiqih “halal” pun akan dijauhi kalau itu dapat berpotensi melakukan perkara haram, termasuk menjauhi hal yang ditabukan atau pamali dalam etika masyarakat.

Kelima, hidup sederhana. Karena hidup sederhana adalah awal dari kebajikan pada diri sendiri dan sesama. Baik bagi orang kaya atau miskin.

Akhlak mulia yang dimiliki oleh suami sebagai kepala rumah tangga akan menular pada istri dan anak. Keluarga yang berakhlak mulia adalah impian, harapan dan idealisme yang harus menjadi keinginan semua keluarga muslim untuk mencapainya.[]

FOOTNOTE

[1] إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
[2] سئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ فقال: (تقوى الله وحسن الخلق
[3] Berdasar pada hadits hasan sahih riwayat Tirmidzi sebagai berikut: ما من شيء أثقل في ميزان المؤمن من خلق حسن، وإن الله ليبغض الفاحش البذيء

Comments

  • Software Evolution-As Internet connections bcmoee more permanent with broadband access, software will be able to evolve into a more efficient and personalized medium. Currently, most software run from our hard drives and require installations that alter our system configurations, many times slowing down our computers. Because software occupies space and processing power, there is a limited amount of software that can run in our PCs. On the business side, current software systems require many companies to produce a system of distribution (Compac Discs), customer support, and is usually not compatible with all customers, thus limiting its customer base further.A software evolution is ocurring and it is going to benefit both customers and businesses immensly. Software will no longer come as a packet that needs to be installed on a PC, but rather it will be completely Web based. Web based software will bcmoee the default way of reaching customers. Customers will have advantages such as, using unlimited amount of software, using applications regardless of where the person is or which computer he/she is using, software can be personalized and upgraded to meet specific needs to each individual. Businesses will be able to, reduce costs, reach a larger customer pool, taylor its software to diverse markets, repair bugs more rapidly and easily, understand its customer and the way they use their software, etc.An Online Operating System will be the central point of every user in the future. There are online companies who have an inside advantage to this, such as Yahoo!, Google, and AOL, but it can be anyone’s medal, even to a fairly unknown competitor, as was Microsoft when they introduced DOS to the world. In this new concept of Operating System, there can be a larger space of diversity and can be shared by more companies, unlike the current status.

    DenisNovember 10, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.