Pendidikan Humor yang Sehat

Pendidikan Humor yang Sehat. Humor yang baik adalah humor yang membuat orang tersenyum atau tertawa tapi tidak menyakiti siapapun. Humor tumor adalah lelucon yang berisi hinaan pada orang lain biasanya dengan menyebut kekurangan fisik atau gaya tampilannya. Orang tua atau pendidik harus betul-betul memperhatikan hal ini agar supaya anak mengerti dan menghargai orang lain sehingga dapat bersikap empati.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Al-Khoirot Putri Malang

Daftar Isi

  1. Pendidikan Humor yang Sehat
  2. Agar Anak Pintar Bergaul
  3. Pendidikan Menghargai Orang Lain


Pendidikan Humor yang Sehat

Rasulullah menyukai humor. Tentu saja humor yang sehat. Lihat umpamanya kisah Nabi berikut:

Suatu hari Rasulullah bersama Sahabat Ali dan sahabat yang lain sedang makan kurma bersama-sama. Pada saat makan kurma itu biji kurma bekas Ali diletakkan di depan Rasul. Ketika hampir selesai Ali berkata “Ya, Rasulullah kelihatan engkau sangat lapar karena makan kurma begitu banyak, lihat biji kurma itu banyak di depan engkau.”

Kemudian Rasulullah menjawab,”Bukannya engkau yang sangat lapar karena makan kurma bersama biji-bijinya?” “Lihat tidak ada biji kurma di depan mu.”

Dalam kisah di atas, Ali jelas ingin bercanda dengan Nabi saat Ali meletakkan biji kurmanya di depan Nabi dan menyusulnya dengan kata-kata candaan. Rasul tentu saja tahu itu, dan beliau menjawab guyonan Ali dengan humor yang sangat cerdas, baik dan sehat. Di mana letak humornya? (a) Saat Ali mengatakan sesuatu—bahwa Rasul memakan kurma banyak sekali– yang bukan sebenarnya dan semua orang tahu itu untuk bercanda; (b) Nabi memahami betul candaan Ali, dan membalas dengan humor yang serupa.

Seandainya Nabi tidak punya rasa humor yang baik, tentu beliau akan marah atau setidaknya gerah pada perkataan Ali dan akan membalas dengan kata-kata demikian: “Enak saja engkau Ali, itu ‘kan biji kurma kamu. ‘Kok aku yang dituduh makan kurma banyak?”

Apa definisi humor yang sehat? Humor yang sehat adalah lelucon atau canda segar yang membuat orang tertawa atau tersenyum tanpa ada yang tersakiti hatinya. Karena, humor yang sehat tidak menghina atau menertawakan orang lain. Inilah humor manusia yang beradab (civilized), terdidik dan punya empati yang tinggi.

Humor secara garis besar ada dua tipe. Humor yang sehat dan humor yang tidak sehat, disebut juga dengan humor tumor. Humor sehat adalah humor yang membuat kita tersenyum atau tertawa tanpa ada orang lain yang tersakiti seperti humor Nabi di atas. Sementara humor penyakit atau humor tumor adalah humor yang dilakukan dengan cara menyakiti atau menghina kekurangan. Humor yang dilakukan oleh para pelawak di TV kebanyakan masuk dalam kategori humor penyakit. Hati-hati saat menonton humor tumor seperti itu, apalagi saat anda menonton bersama anak.

Seorang yang punya rasa humor (sense of humor) yang baik tidak harus pintar melawak. Akan tetapi dia tahu kapan harus tersenyum dan tertawa pada perkataan atau perilaku yang lucu. Dia juga dapat mengidentifikasi mana humor yang sehat dan yang penyakit. Dia juga dapat menahan diri untuk tidak tertawa pada humor yang mengandung tumor.

Menurut Rowan Atkinson, seorang pakar humor asal Inggris yang juga aktor pemeran film Mr. Bean, humor itu timbul karena tiga hal. Yaitu, by behaving in an unusual way (berperilaku tidak biasa atau aneh), by being in an unusual place (berada di tempat yang tidak umum), dan by being the wrong size (memiliki ukuran fisik yang tidak wajar).

Orang tua dapat mengajarkan perilaku humor yang baik dan etis bagi anak dengan cara menjauhi perilaku sebagai penikmat humor penyakit sebagai berikut:

Pertama, jangan tertawa atau tahan diri untuk tertawa pada humor yang menyakitkan orang lain. Karena tertawa pada penghinaan atau celaan sama dengan menghina itu sendiri.

Kedua, jangan tertawa pada kesalahan perilaku yang dilakukan siapapun walaupun itu tampak lucu dan membuat kita ingin tertawa. Contoh, saat kita melihat ada cabe di gigi teman. Atau ada ingus di hidungnya.

Ketiga, jangan tertawa pada cacat fisik seorang. Berpura-puralah tidak memperhatikan.

Perilaku kita yang benar dalam melihat hal yang tampak lucu, tentu akan dicontoh dengan baik oleh anak kita.[]


Agar Anak Pintar Bergaul
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Al-Khoirot Malang

Social skills atau kemampuan bergaul sangat penting dalam kehidupan anak anda sejak dini. Yakni, sejak masa anak mulai belajar berkomunikasi dengan yang lain baik di playgroups, masuk sekolah sampai bekerja. Kemampuan bergaul membantu yang lain merasa nyaman dengan si anak dan membantunya berteman dengan mudah. Kemampuan dalam membina hubungan pertemanan akan membantu anak untuk mengatasi konflik dengan cara yang sehat. Orang tua dapat membantu anaknya mempelajari kemampuan bergaul yang akan mereka gunakan selama hidupnya.

Kepintaran berkomunikasi juga mutlak diperlukan dimiliki seorang pemimpin. Dan kita semua pada dasarnya adalah seorang pemimpin dan calon pemimpin pada level yang berbeda-beda. Orang tua itu sendiri adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Nabi Muhammad bersabda yang artinya, “Kalian semua adalah penggembala (baca, pemimpin). Dan setiap penggembala bertanggung jawab atas gembalaannya.”

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya membangun social skills.

Yang pertama adalah dengan mulai dari diri sendiri. Pendidikan terbaik dalam mendidik anak adalah perilaku yang diperagakan setiap hari oleh orang tua di depan anak. Orang tua harus melakukan terlebih dahulu perilaku apapun yang ingin dilakukan anak.

Orang tua yang tidak harmonis dan sering bertengkar akan menghambat kemampuan anak dalam membangun social skills-nya. Begitu juga, perilaku kasar orang tua dalam mendidik anak akan berakibat pada miskonsepsi anak dalam mengatasi konflik.

Kedua, ajari etika bergaul yang benar sejak dini yakni sejak usia antara 2 sampai 5 tahun. Kemampuan bergaul anak akan ditentukan pada usia ini. Karena, saat prasekolah ini merupakan masa paling sensitif untuk mempelajari etika berperilaku yang baik. Apabila anak bersikap ramah, baik dan jujur, itu pertanda karakter anak sudah terbangun.

Namun, pendidikan karakter membutuhkan proses bertahap. Jangan membayangkan pendidikan karakter akan berhasil dalam sekejap. Anak dapat mudah lupa, khususnya apabila terlalu banyak aturan yang diajarkan sekaligus. Dan itu akan menimbulkan rasa frustrasi baik pada anak dan orang tua.

Ketiga, penghargaan dan disiplin. Perhatikan dan hargai perilaku baik yang dilakukan anak. Dan ingatkan kesalahan anak dengan kata-kata maupun dengan sanksi. Konsistensi orang tua dalam hal ini mutlak diperlukan.

Keempat, orang tua harus mengetahui nilai-nilai etika bergaul yang diperlukan dan berlaku universal dan ajarkan pada anak secara bertahap. Tak kalah pentinya adalah mengindentifikasi nilai-nilai mana yang perlu diprioritaskan.

Etika sosial yang paling mendasar dan perlu diajarkan dan dibiasakan sejak dini antara lain: taat pada Allah dan Rasul-Nya, taat pada orang tua, menghormati sesama, mudah berkompromi dan beradaptasi, mengatasi konflik tanpa kekerasan, suka menolong, kerja keras, mandiri, tidak manja, mudah minta maaf saat salah, ramah pada siapa saja tanpa memandang tingkatan sosial dan punya tanggung jawab serta amanah.

Dengan sejumlah karakter di atas, insyaallah anak akan menjadi orang yang pintar dalam bergaul dan disukai banyak orang. Baik saat masih kanak-kanak maupun saat dewasa kelak. Sebuah modal besar untuk menjadi seorang pemuda yang sukses dibidang apapun yang dia kehendaki.[]


Pendidikan Menghargai Orang Lain
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Dalam literatur Jawa, ada istilah tepo seliro atau tenggang rasa. Di Barat ada adagium “Do not do unto others what you do not want others do unto you.” Jangan melakukan pada orang lain sesuatu yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu. Makna dari kedua adagium di atas adalah kita harus memberi hormat dan respek pada orang lain agar orang lain hormat dan respek pada kita dengan selalu berusaha menghormati dan menjaga perasaan orang lain tanpa memandang status sosial dan strata ekonomi mereka.

Penghargaan juga perlu diberi penekanan terutama pada mereka yang memiliki status sosial dan ekonomi lebih rendah. Adalah mudah menghormati mereka yang lebih kaya dan lebih tinggi status sosialnya seperti menghormati keluarga kyai, habaib, pejabat, atau orang kaya; akan tetapi tidak mudah untuk memberi penghormatan yang sama pada keluarga fakir, miskin, cacat dan tua.

Sebagaimana umumnya setiap perilaku, sikap “menghormati orang lain” ini juga memerlukan proses pembiasaan sejak kecil. Dalam hal ini, orang tua memainkan peran yang sangat signifikan dalam mengajarkan anak bagaimana membentuk hubungan yang sehat dengan teman-temannya. Kemampuan sosial ini akan memudahkan anak mengutarakan perasaannya, berempati pada yang lain, dan bersikap kooperatif (mudah berkompromi atau ngalah), serta dermawan.

Cara terbaik dalam mengajarkan perilaku ini adalah dengan memberi contoh. Seperti, di depan anak orang tua menggunakan kata “terima kasih”, “maaf”, atau menolong mereka yang memerlukan adalah pada esensinya mengajarkan anak bagaimana orang tua menginginkan anak untuk bersikap.

Kedua, bicarakan kebaikan orang; bukan keburukannya. Di depan anak, hindari membicarakan keburukan orang lain. Karena hal ini akan berdampak ganda: (a) anak akan menilai bahwa membahas keburukan orang lain adalah baik; (b) saat anak tahu perilaku ini tidak baik, maka respek anak pada orang tua akan berkurang. Kalau harus membicarakan orang lain, maka biasakan membahas hal-hal positif yang menjadi kelebihan orang tersebut untuk dicontoh. Apabila anak sendiri yang membicarakan keburukan seseorang, maka ingatkan dengan singkat bahwa hal semacam itu jangan sampai dilakukan oleh anak.

Ketiga, di depan anak orang tua jangan tertawa pada humor yang menyakitkan orang lain. Saat ini banyak tontonan lawak di TV di mana bahan lawakannya dengan cara menertawakan kekurangan atau kecacatan fisik orang lain. Ini humor yang tidak sehat. Dan tertawa pada humor semacam ini akan mengakibatkan insensitifitas (sifat tidak sensitif), berkurangnya rasa empati dan rasa tepo seliro anak pada orang lain.

Ada dua macam penghinaan yang sama-sama harus dihindari yaitu (a) penghinaan langsung melalui kata-kata atau bahasa tubuh; (b) penghinaan tidak langsung yaitu dengan cara “menyetujui” dalam bentuk tertawa pada penghinaan yang dilakukan sesorang pada orang lain.

Keempat, ajarkan kedermawanan. Sikap dermawan adalah salah satu bentuk empati karena ia timbul dari rasa peduli pada orang lain. Kedermawanan pada anak dapat dimulai selain dengan memberi contoh, juga dengan membiasakan anak berbagi mainan pada teman-teman sebayanya. Jangan lupa untuk mengapresiasi anak karena sudah mau berbagi dan bersikap respek dan ramah pada orang lain.

Apabila orang tua berhasil mendidik anak untuk menghargai orang lain, maka dampaknya akan positif pada anak itu sendiri. Anak akan memiliki kompetensi sosial atau kemampuan bergaul yang sehat. Hal itu terjadi karena anak memiliki perasaan berharga dan penting. Seorang anak yang melihat dirinya secara positif akan mudah untuk melihat orang lain secara positif pula.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.