Menghindari Poligami (2)

Menghindari Poligami (2)
Oleh A. Fatih Syuhud

Seperti telah diuraikan, poligami harus dihindari sebisa mungkin—kecuali dalam situasi khusus– karena akan berdampak besar pada keharmonisan rumah tangga, pada keikhlasan istri untuk menerima dan berbagi suami dengan wanita lain. Padahal keharmonisan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah adalah tujuan utama sebuah perkawinan (QS Ar Rum 30:31). Di samping itu, permasalahan lain yang akan timbul adalah terkait pendidikan anak. Karena, dengan kurangnya interaksi anak dengan sang ayah karena ayah harus berbagi waktu dengan istri-istri yang lain, maka hal itu berarti tanggung jawab pendidikan dan pengawasan anak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya. Sementara, sang ibu sendiri dengan suasana mental yang kurang stabil sulit memikul beban berat tersebut sendirian. Maka, terjadilah situasi yang disebut dengan disfunctional family atau keluarga yang kurang berfungsi.

Disfunctional familiy adalah sebuah keluarga di mana konflik, perilaku menyimpang, dan pembiaran anak atau pelecehan oleh orang tua sering terjadi yang berakibat anak akan menganggap bahwa hal-hal buruk yang terjadi di sekitarnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, anak akan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang akan terasing dari pergaulan yang normal. Anak yang tumbuh dalam situasi disfunctional family umumnya akan menjadi beban masalah di masyarakat.

Dwight Lee Wolter dalam bukunya Forgiving Our Parents: For Adult Children from Dysfunctional Families (1995) menyatakan bahwa disfunctional family akan berakibat buruk pada karakter anak di antaranya:

  • Anak menjadi kurang lincah, terlalu cepat atau terlalu lambat dewasa; atau terkadang berperilaku baik tapi tidak mampu untuk menjaga diri.
  • Memiliki masalah dengan kesehatan mental, termasuk kemungkinan depresi, dan pemikiran untuk bunuh diri.
  • Kecanduan merokok, alkohol, narkoba, terutama apabila ada keluarga atau teman yang melakukan hal serupa.
  • Suka mengganggu / menghina yang lain atau mudah menjadi korban hinaan.
  • Sulit mengakui kenyataan buruk kondisi keluarga.
  • Sulit bergaul dengan teman seusia yang disebabkan karena pemalu atau kerusakan karakter.
  • Suka menyendiri, menggunakan banyak waktu sendirian menonton televisi, bermain game, browsing internet, mendengarkan musik dan aktivitas lain yang kurang dalam segi interaksi sosial.
  • Merasa marah, putus asa, depresi, terasing dari yang lain, atau merasa tidak disukai.
  • Tidak percaya pada siapapun atau menderita paranoia (rasa takut yang berlebihan).
  • Terlibat kenakalan remaja dan suka tawuran dan bisa jadi anggota geng.
  • Minim berprestasi di sekolah atau performa akademis menurun drastis.
  • Rasa percaya diri rendah dan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan.
  • Suka memberontak pada otoritas orang tua, atau sebaliknya, membela nilai-nilai keluarga secara membuta saat menghadapi tekanan temannya.
  • Sulit berperilaku disiplin apabila tidak ada orang tua.
  • Mudah terjerumus pada pergaulan bebas.
  • Punya perilaku yang berpotensi merusak diri sendiri.

Memang, suami yang melakukan poligami tidak otomatis mengakibatkan keluarganya akan mengalami disfunctional family atau broken home. Contohnya seperti presiden Amerika ke-44, Barack Obama, di mana ayahnya menikah dengan sejumlah wanita. Bahkan, ayah Obama selalu menceraikan istri tua setiap dia menikah dengan wanita yang lebih muda. Namun, Obama merupakan pengecualian karena kehebatan dari sang ibu dan neneknya yang berpendidikan tinggi dan sangat solid dalam mendidiknya.

Secara syariah poligami itu halal asal bisa adil (QS An-Nisa 4:3). Namun, tidak semua yang halal harus diamalkan terutama apabila ia berpotensi menjadi haram.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.