Medali Emas itu bernama Holocaust

Oleh A Fatih Syuhud *
Harian Pelita, Senin 24 Oktober 2005

Israel bisa saja berlindung di balik Amerika, tetapi sinyal buat Tel Aviv dari seluruh dunia sangatlah lantang dan jelas. Tidak hanya pemerintahan Ariel Sharon sedang menggiring negaranya ke jurang dalam menghadapi rakyat Palestina tetapi metode Israel dalam melibatkan negara lain dengan berkedok Holocaust, bencana pembunuhan atas enam juta Yahudi oleh Nazi Jerman, semakin menjadi kontraproduktif.

Tidak ada yang lebih benar dalam konteks hubungan kompleks antara Yahudi dan Jerman. Jerman sedang berusaha melawan Israel yang selalu bersikeras untuk mengabadikan apa yang pernah diperbuat Nazi pada kaum Yahudi. Bermula dari Willy Brandt, Republik Federal Jerman secara lantang memproklamirkan pertanggungjawaban dan penyesalan kolektif bangsa atas tragedi Holocaust. Dengan kekuatan Yahudi Amerika, kaum Yahudi juga menuntut kompensasi finansial dari perusahan Jerman yang terlibat dalam kriminal tersebut. Pada waktu yang sama, Jerman memberlakukan hukum yang keras terhadap berbagai aktivitas neo-Nazi dan bahkan pemujaan atas Hitler.Adaptasi besar yang harus dilakukan Jerman Timur setelah reunifikasi telah menggiring sebagian kalangan mudanya terlibat dalam aktivitas neo-Nazi sebagai bentuk protes yang juga dilakukan sebagian kecil di Jerman bagian barat. Ironisnya, Yahudi, sekitar setengah juta sebelum Perang Dunia II, saat ini justru membanjiri Jerman. Dari jumlah 15.000 pada akhir perang dan 33.000 pada 1990, jumlah mereka telah mencapai 200.000 saat ini. Fakta menunjukkan, terdapat lebih banyak Yahudi yang bermigrasi ke Jerman daripada ke Israel.

Generasi baru Jerman sekarang mempertanyakan mengapa mereka harus memikul tanggung jawab atas apa yang dilakukan Hitler. Mengeritik warga Yahudi dianggap tabu di Jerman, tetapi semakin banyak suara yang memprotes sikap ini. Sebagai contoh, Martin Walser, salah satu penulis paling dihormati di Jerman, mengeluh sekitar tujuh tahun lalu atas terlalu seringnya Holocaust dipakai sebagai pagar moral dalam perdebatan Majalah Economist, London, mengutip seorang pejabat Jerman mengatakan tahun lalu: We are defencless. Kami tidak dapat mengungkapkan kebenaran; kami selalu takut (terhadap Yahudi).

Pada akhir tahun 2003, seorang jenderal Jerman, Reinhard Guenzel, dicopot jabatannya karena dia menulis pada seorang anggota parlemen membenarkan komentarnya tentang Yahudi. Politisi tersebut, Martin Hohmann dari partai oposisi Christian Democratic Union (CDU), mengatakan bahwa Yahudi, yang terbunuh dalam jumlah jutaan pada Revolusi Bolshevik 1917, adalah bangsa yang melakukan kejahatan sama dengan yang dilakukan Jerman pada era Hitler. Partai CDU terpaksa memecat Hohmann dengan suara 195 banding 28. Perlu dicatat, bahwa di samping suara yang menentang, terdapat 28 suara abstain, dan empat dinyatakan tidak sah karena kertasnya rusak dan lima Anggota Parlemen tidak hadir. Dan kantor partai CDU dipenuhi oleh banyak email yang mendukung Hohmann.

Tentunya Israel akan menafsiri hal ini sebagai tanda anti-Semitisme. Tentunya lebih bijaksana bagi Israel untuk berintrospeksi dan mempertimbangkan kembali keuntungan mengeksploitasi masa lalu mereka untuk keuntungan politik. Pertanyaan yang akan berkembang adalah: Bagaimana sebuah bangsa yang lahir dari tragedi Holocaust dapat melakukan hal yang sama?

Jawabannya diberikan oleh rakyat Palestina, sebagian kalangan Israel sendiri dan dunia. Empat mantan kepala agen keamanan Israel, Shin Bet, telah memperingatkan Perdana Menteri Ariel Sharon bahwa kebijakan represif pemerintah terhadap rakyat Palestina akan mengakibatkan bencana bagi Israel. Mereka merujuk pada berbagai tindakan pemerintah yang merencanakan solusi dua-negara. Dalam negara tunggal, Yahudi akan kalah jumlahnya dengan rakyat Palestina; yang terakhir akan dipaksa untuk hidup di perkampungan ala sistem apartheid.

Saat ini, terdapat 150 perkampungan ilegal di mana sekitar 230.000 pemukim Yahudi tinggal di kawasan pendudukan Tepi Barat. Tidak hanya warga Israel membangun pagar mirip Tembok Berlin untuk mengalienasi rakyat Palestina, yang dalam prosesnya juga membantu mereka menguasai bagian luas tanah dan rumah warga Palestina, tetapi mereka juga memperluas perkampungan ilegal. Dengan kata lain, solusi dua-negara yang banyak didengungkan semakin menjadi lelucon, dengan rakyat Palestina yang bertahan pada pandangan negara tunggal yang menaungi Yahudi dan Arab. Palestina dapat memperjuangankan hak yang sama di negara baru itu. Sekitar satu juta Arab Palestina yang tinggal di Israel sebagai warga kelas dua.

Tidak heran bahwa orang Eropa banyak menentang perilaku Israel. Survei yang diadakan baru-baru ini menyatakan bahwa tujuh dari 10 orang Eropa menganggap Israel sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia, mengungguli Korea Utara dan Iran. Kendati demikian, Jerman termasuk negara Eropa yang paling kecil anti-Semit-nya. Sebuah survei yang diadakan American Jewish Committee tahun lalu menyatakan bahwa hanya 17 persen warga Jerman yang mengatakan bahwa mereka lebih memilih tidak bertetangga dengan Yahudi dan tujuh dari 10 rakyat Jerman mengatakan bahwa adalah sangat penting kalau Jerman belajar dari tragedi Holocaust.

Namun demikian, tindakan Israel terhadap warga Palestina dan propaganda negara atas Holocaust sebagai lencana kehormatan semakin mendorong rakyat Jerman untuk mempertanyakan basis kerentanan negara mereka sendiri. Satu penjelasan dari pemungutan suara yang menentang pemecatan Hohmann dari CDU adalah bahwa itu merupakan suara mewakili masyarakat yang terbuka. Bangsa Jerman telah membayar hutang mereka pada Yahudi atas tindakan Nazi, tidak hanya melalui penerimaan tanggung jawab kolektif secara publik tetapi juga dengan menawarkan kompensasi finansial.

Akibat adanya bom bunuh diri yang dilakukan warga Palestina, kamp perdamaian di Israel menjadi sekarat, tetapi tanda-tanda pemberontakan semakin meningkat yang menjadi salah satu motivasi Sharon untuk menarik diri dari Jalur Gaza.

Terlepas dari sejumlah peringatan dari mantan direktur, agen rahasia, KASAD Israel, Letjen Moshe Yaalon, yang dinyatakan bulan lalu bahwa jaringan restriksi atas warga Palestina telah mengakibatkan meningkatnya militansi. Sebanyak 27 pilot cadangan Angkatan Udara Israel mengatakan pada September tahun lalu bahwa mereka menentang serangan udara di kawasan padat penduduk yang ditempati kalangan militan Palestina. Begitu juga, beberapa ratus tentara cadangan Israel menolak bertugas di Tepi, beberapa dari mereka dipenjarakan.

Tetapi kalangan penentang ini kalah jauh jumlahnya dalam kondisi Israel saat ini; begitu juga tidak ada alasan untuk optimistik akan adanya perubahan cara pandang Israel terhadap mereka sendiri. Kemauan generasi muda Israel untuk menjadi sebuah bangsa yang normal berbenturan dengan keunikan Israel sebagai bangsa yang disemati label Holocaust. Banyak orang Israel percaya bahwa sepanjang mereka masih di bawah perlindungan AS, mereka dapat berbuat apa saja.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Zbigniew Brzezinski, pernah menggambarkan sikap pimpinan politik AS atas Israel sebagai kepengecutan politik. Kepengecutan itu berasal dari cengkeraman kelompok Yahudi dalam proses politik Amerika.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.