Masa Kecil Nabi bersama Kakek Abdul Muttalib

Masa Kecil Nabi bersama Kakek Abdul Muttalib *
Oleh A. Fatih Syuhud

Seperti disebutkan, Muhammad kecil adalah seorang yatim piatu. Ayah Nabi wafat saat beliau masih dalam kandungan. Dan ibunda wafat saat beliau baru berusia 6 tahun pada awal 577 masehi. Pengasuhan Nabi lalu diambil alih oleh kakeknya Abdul Muttalib selama dua tahun sampai usia Nabi menginjak 8 tahun. Pada akhir tahun 578 masehi Abdul Muttalib juga wafat meninggalkan Nabi yang kembali menjadi anak yang hidup sebatang kara. [1]

Walaupun kebersamaan antara Nabi dan kakeknya relatif singkat, hanya dua tahun, namun itu merupakan dua tahun yang sangat berkualitas. Karena, Abdul Muttalib memperlakukan Nabi dengan penuh perhatian, cinta dan kasih sayang melebihi kasih sayangnya pada putra-putranya sendiri.

Salah satu buktinya adalah di dekat Ka’bah ada sebuah alas atau tikar yang khusus untuk Abdul Muttalib. Tidak ada seorangpun dari putranya yang boleh duduk di situ kecuali dirinya dan Muhammad SAW. Di situ, ia biasa duduk bersama Nabi dan mengusap-ngusap punggungnya. Dengan cinta dan perhatian yang penuh dari kakeknya, maka Nabi tiidaklah kekurangan limpahan kasih sayang walaupun ditinggal ayah dan bundanya. [2]

Dalam kehidupan seorang anak, hal terpenting dari kebutuhan dasar anak agar anak tumbuh sehat secara jasmani dan rohaninya adalah limpahan perhatian dan kasih sayang dari kerabat terdekatnya. Tentu saja yang paling ideal adalah dari orang tua. Namun, kalau orang tua tidak ada, misalnya karena wafat atau sebab lain, maka hal itu bisa saja dilakukan oleh kerabat dekat yang lain.

Menurut pakar psikologi anak, setidaknya ada 10 kebutuhan dasar anak yang perlu menjadi perhatian agar anak tumbuh dengan sehat jasmani dan mentalnya yaitu: terpenuhi kebutuhan sehari-harinya, merasa aman dan nyaman, mendapat cinta dan kasih sayang, mendapat penghargaan dan pujian, senyuman, diajak bicara, didengarkan kata-katanya, diberi pelajaran hal-hal baru, empati pada yang dirasakan anak, diberi pengharaan dan perlakukan khusus.[3] Kesepuluh kebutuhan dasar ini dapat diringkas menjadi lima poin.

Pertama, memenuhi kebutuhan dasar harian. Anak perlu mengetahui bahwa ada seseorang yang mencintainya yang dapat memenuhi kebutuhannya segera. Baik kebutuhan fisik maupun jiwa. Itu artinya: (a) memberi makan anak ketika lapar; (b) memberi kehangatan, dan rasa aman dari bahaya; (c) menolong saat anak sakit, takut atau sedih; (d) memberikan kebutuhan dasar yang rutin; (e) menugaskan orang yang bisa dipercaya untuk menjaga.

Kedua, beri rasa aman dan nyaman. Ketika anak merasa aman dan nyaman, maka ia akan belajar untuk mempercayai orang lain. Anak yang tidak merasa aman akan merasa gelisah dan tidak bahagia. Hal ini akan berakibat buruk pada kesehatan dan kemampuan belajarnya. Akan tetapi apabila dia mulai memahami bahwa ia dapat mempercayai orang-orang dewasa di sekitarnya, maka itu akan membantunya tumbuh dengan bahagia, sehat dan dapat menikmati dunia di sekitarnya.

Ketiga, cinta dan kasih sayang. Anak usia 6 sampai 10 tahun membutuhkan banyak kasih sayang untuk mengingatkan mereka bahwa ia diperhatikan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi pelukan, ciuman atau menepuk punggungnya. Itulah antara lain yang sering dilakukan Abdul Muttalib terhadap cucu tersayangnya.

Keempat, menjaga perasaan anak. Ini hal yang terkadang dilupakan oleh orang dewasa. Terkadang sulit bagi seorang anak untuk mengungkapkan perasaannya tentang kesedihan atau rasa takutnya. Anak terkadang merasa takut pada sesuatu yang baru dan berbeda walaupun tidak berbahaya. Adanya orang asing, suara berisik, atau badut dapat membuat anak takut apabila tidak biasa. Orang dewasa tanpa sengaja tergoda untuk menertawakan atau menggoda perilaku anak seperti ini. Padahal, apa yang mereka butuhkan dari orang tua adalah memberinya sedikit penjelasan dan rasa nyaman. Ini akan membuat mereka merasa rileks dan nyaman untuk berbicara pada orang tua apabila anak menghadapi masalah yang betul-betul serius.

Kelima, penghargaan dan perlakukan khusus. Semua orang tua menginginkan agar anak mereka berperilaku baik. Apabila orang tua memberi perhatian khusus saat mereka bersikap manis, maka itu akan membuat mereka termotivasi untuk melakukan hal yang sama sesering mngkin. Sebaliknya, apabila orang hanya memperhatikan anak saat mereka nakal, maka anak akan termotivasi untuk lebih sering melakukan kenakalan.

Jadi, perhatian, kasih sayang dan perluan yang tepat akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan mental dan cara berfikir anak ke depan. Baik hal itu dilakukan oleh orang tua atau oleh siapapun yang berperan sebagai orang tua.[]

*Ditulis untuk Buletin Siswa MTS MA Al-Khoirot Malang

CATATAN AKHIR

[1] Martin Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, Inner Traditions, 2006.
[2] Ibnu Ishaq, Sirah Nabawiyah.
[3] Jane Waldfogel, What Children Need, Harvard University Press, 2010.

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.