Kritik Karakter Buruk Anak, Bukan Kekurangan Fisiknya

Kritik Karakter Buruk Anak, Bukan Kekurangan Fisiknya
Oleh A. Fatih Syuhud

Kelahiran sang buah hati membawa suasana baru dalam rumah tangga. Ia begitu lucu dan menggemaskan. Tak heran kalau kehadirannya menggembirakan hati tidak hanya kedua orang tua, tapi juga tetangga dan sanak saudara.

Kelucuan perilaku dan keimutan fisik anak mengundang banyak komentar dari orang dewasa. Ada yang memuji, namun tak sedikit yang secara tak sengaja mencela kekurangannya. Seperti, kulitnya yang hitam, hidungnya yang pesek, posturnya yang pendek, atau giginya yang tidak rata. Kritikan pada fisik itu diucapkan dengan tanpa memperhitungkan perasaan si kecil. Mereka berfikir anak kecil tidak akan mengerti apa yang dikatakan. Sayangnya, mereka mengerti betul apa yang diucapkan orang dewasa. Mereka memahami pujian dan celaan yang diucapkan.

Akibatnya, kritikan terhadap fisik akan menjadi catatan yang tak terlupakan di hati anak. Dan apabila kritikan fisik itu dikatakan secara terus menerus, ia akan mengurangi self-esteem (rasa percaya diri) anak secara signifikan di bidang-bidang lain. Khususnya dalam soal tampilan fisik (physical appearance). Dan menghambat atau bahkan menghalangi anak untuk tumbuh normal secara mental dan emosional. Jadi, biarkan anak merasa nyaman dengan keadaan fisik yang dia miliki.

Mengkritisi perilaku anak dengan kata-kata kasar juga akan berakibat tidak sehat pada perkembangan mental anak. Kata-kata seperti, “Dasar anak idiot!” atau “Dasar anak pengecut!” akan membuat anak betul-betul menilai dirinya sebagai anak idiot atau penakut.

Mengkritisi atau merendahkan kondisi fisik anak harus betul-betul dihindari. Sedangkan mengkritisi perilaku dan karakter buruk anak harus dilakukan. Namun demikian, diperlukan cara dan waktu yang tepat untuk melakukannya. Anthony Kane MD, seorang ahli parenting dari AS, menyarankan beberapa langkah sebagai berikut:

Hal pertama yang harus diingat adalah anak juga punya perasaan seperti halnya orang dewasa. Hal ini yang sering dilupakan oleh orang tua saat marah. Orang tua harus menahan diri untuk tidak meluapkan segala emosinya di depan anaknya. Apalagi, kalau sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan pukulan.

Mereka punya perasaan yang dapat sakit dan rasa percaya diri yang berpotensi hancur apabila kita mengeritik mereka dengan cara meremehkan dan tidak membangun.

Kedua, singkat dan jelas. Tujuan dari sebuah kritik yang tepat adalah pesan yang ingin disampaikan dimengerti anak. Tujuan mengeritik adalah untuk mendidik, bukan untuk menghukum atau mempermalukan atau membalas dendam pada anak. Saat mengeritik orang tua harus punya sesuatu untuk diajarkan. Yang tak kalah penting, kritik harus singkat dan jelas.

Ketiga, kritik perilakunya bukan anaknya. Ini penting. Arahkan kritik Anda pada perilaku anak. Pastikan bahwa perilaku salah anak yang membuat orang tua kurang suka, bukan anak itu sendiri.

Keempat, jangan memberi julukan negatif pada anak. Anak akan memahami jati diri mereka dari apa yang orang lain katakan tentang dia. Saat orang tua memberi julukan negatif, seperti “anak penakut”, maka julukan itu akan melekat padanya dengan konsekuensi yang membahayakan.

Kelima, ungkapkan kemarahan secara privat. Jangan ekspresikan di depan umum. Sangat berat bagi anak untuk menanggung kritikan orang tua. Dan akan lebih berat saat kritikan tersebut diungkapkan di depan orang lain.

Keenam, kritik untuk masa depan. Kritikan orang tua bertujuan untuk perbaikan perilaku anak ke depan. Bukan untuk mengingat kesalahan masa lalu. Orang tua boleh saja menyebut kesalahan yang telah dilakukan anak tapi agar supaya anak tidak mengulangi kesalahannya lagi.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.