Korupsi, Pelit dan Malas

Seorang muslim tidak boleh melakukan korupsi, pelit dan malas. Karena ketiga perilaku tercela ini bertentangan dengan ruh dan spirit Islam yang selalu memotivasi muslim untuk selalu jujur, dermawan dan bekerja keras.
Korupsi dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SISWA
PP Alkhoirot Malang

Daftar Isi

  1. Korupsi
  2. Pelit
  3. Malas


Korupsi

Setiap tanggal 9 Desember dunia memperingatinya sebagai hari anti korupsi. Ini untuk mengingatkan kita perlunya komitmen untuk menghilangkan sifat dan perbuatan korup bagi diri sendiri, lingkungan, maupun negara.

Banyak orang mengenal istilah ini sebagai perbutan sogok menyogok antara rakyat dan penguasa. Sampai istilah korupsi dengan arti di atas selalu dikaitkan dengan sebuah Hadits populer Ar Rasyi wal Murtasyi fin Nar (penyogok dan yang disogok akan masuk neraka). Korupsi dengan makna tersebut tidaklah salah. Namun, ia hanya menjadi bagian kecil dari makna korupsi yang sebenarnya. Yang lebih luas dan mendalam.

Jadi, apa itu korupsi? Korupsi berasal dari bahasa Inggris corruption [kerapsyen] yang asal usulnya dari bahasa Latin corruptus. Menurut The American Heritage® Dictionary of the English Language kata “korupsi” secara etimologis (lughawi) sedikitnya memiliki beberapa makna antara lain: rusak moral, tidak jujur, kurang integritas, ternoda, tidak bersih, busuk. Intinya, secara lughawi, setiap orang yang berakhlak buruk (penipu, pencuri, pezina, peminum) layak disebut koruptor.

Dalam terminologi hukum, korupsi bermakna suatu perbuatan dengan maksud mendapat keuntungan yang bertentangan dengan tugas resmi dan melanggar hak orang lain. Sogok menyogok termasuk dalam kategori ini.

Sementara dalam istilah politik menurut World Bank dan Transparency International, korupsi berarti penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan –baik itu jabatan di lembaga pemerintahan atau institusi swasta—untuk kepentingan dan/atau keuntungan pribadi.

Peringatan hari Anti Korupsi berkonotasi pada korupsi politik di atas. Hal itu wajar karena memang korupsi kekuasaan memiliki dampak sosial yang sangat besar. Kondisi ekonomi dan taraf pendidikan bangsa Indonesia akan jauh lebih baik dari sekarang seandainya para pejabatnya tidak ada yang korup dan komitmen menjadikan jabatan sebagai amanah bagi kepentingan orang banyak, bukan keuntungan pribadi.

Namun demikian, alangkah baiknya kalau dalam kesempatan ini kita gunakan juga untuk berefleksi, memperbaiki diri sendiri dari karakter dan perilaku korup yang menjadi dasar dari perbuatan korup yang lebih besar—korupsi jabatan—saat peluang itu ada di hadapan kita. Seperti disebut dalam sebuah Hadits riwayat Bukhari, “Ingatlah bahwa dalam badan seseorang terdapat segumpal daging (mudghah) yang apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Ia adalah hati.”

Dalam Islam, perilaku korupsi baik dalam artian etimologi, istilah hukum maupun politik sama-sama dilarang keras. Larangan atas korupsi jabatan lebih keras lagi karena dampak destruktif sosial yang ditimbulkannnya begitu besar.

Dosa besar dalam Islam umumnya adalah perbuatan-perbuatan yang memiliki dampak sosial yang merusak. Sebut misalnya larangan keras melakukan pembunuhan (QS Al Maidah 5:32), perzinahan dan pencurian (QS Al Mumtahinah 60:12), riba (melipatgandakan uang) (QS Al Baqarah 2:275), minum alkohol (QS Al Baqarah 2:219), hidup bermewah-mewahan (QS Al An’am 6:141) .

Kesalehan sosial baru akan terbentuk apabila kesalehan invidual tercapai. Bagi seorang muslim, kesalehan individual itu bukan hanya melaksanakan perintah utama Islam; tapi juga dengan penuh komitmen menjauhi larangannya (QS At Taubah 9: 113).[]


Pelit dalam Islam.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa, Mts, MA Alkhoirot
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malnag

Salah satu penyakit yang harus dijauhi dan dibuang jauh-jauh adalah pelit (QS Al Hadid 57:23-24) karena ia adalah salah satu penyakit hati, penyakit perilaku dan penyakit masyarakat.

Pelit, kikir atau dalam bahasa Arab disebut bakhil adalah tiadanya kehendak untuk membagi sebagian (kecil) harta seseorang dengan kalangan yang kurang beruntung secara materi yang umum disebut sebagai fakir miskin.

Sementara definisi orang pelit (bakhil) menurut Al Quran adalah orang yang tidak mau menafkahkan hartanya di jalan Allah (QS Muhammad 47:38). Yang dimaksud bernafkah di jalan Allah adalah zakat, terutama zakat harta, pada golongan yang berhak menerimanya (QS At Taubah 9:60) dan sadaqah yaitu pemberian di luar zakat dan tak terikat dengan persyaratan minimum.

Baik definisi pelit secara umum maupun versi Al Qur’an bertujuan sama: penekanan tentang buruknya perilaku pelit atau bakhil. Dan bahwa keburukan dari sikap pelit itu universal yang tidak hanya menurut pandangan agama, tapi juga sosial. Dalam masyarakat, orang kaya yang tidak mau berbagi akan mendapat “hukuman sosial” sesuai adat lokal setempat. Hukum sosial minimal adalah citra buruk orang tersebut di mata masyarakat sekitar. Apa gunanya hidup berkecukupan atau berlimpah apabila nama baik tercoreng?

Timbulnya sikap kikir pada umumnya dikarenakan adanya anggapan bahwa kita berhak seutuhnya atas harta yang kita dapatkan dari hasil jerih payah kita sendiri. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya salah, kendati tidak sepenuhnya tepat. Sebab, dalam realitas hidup, manusia memiliki kemampuan otak, fisik dan kesempatan yang tidak sama. Ada yang lemah, ada yang kuat; ada yang bodoh, ada yang jenius (QS An Nisa’ 4:34).

Konsekuensinya, perbedaan itu akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Termasuk perbedaan pendapatan dan kesuksesan materi. Pada waktu yang sama diperlukan keseimbangan relatif untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Pada poin inilah, mengapa Islam menekankan perlunya orang yang berkelebihan materi untuk berbuat baik (ihsan) dengan cara mau berbagi yang mana kebaikan itu pada dasarnya untuk kepentingan diri mereka sendiri (QS Al Isra’ 17:7). Sebagaimana sikap pelit atau bakhil yang sebenarnya justru akan mencelakakan diri sendiri (QS Muhammad 47:38)

Dari uraian di atas jelas bahwa sikap kikir, pelit atau bakhil adalah salah satu perilaku yang anti-sosial dan tidak sesuai dengan spirit agama (QS Ali Imron 3:180; An Nisa’ 4:36; At Taubah 9:77).

Bagaimana merubah perilaku pelit? Pertama, kemauan kuat untuk berubah. Kedua, berusaha meneladani teman-teman di sekitar kita yang oleh banyak orang dianggap dermawan.

Merubah karakter buruk, pelit hanyalah salah-satu di antaranya, adalah sulit dan merupakan perjuangan panjang dan terjal. Quran menyebutnya sebagai “jalan yang mendaki lagi sukar” (QS Al Balad 90:11) yang kalau berhasil melalui jalan mendaki tersebut kita akan mendapat gelar ash-habul maymanah atau golongan kanan (QS Al Balad 90:18), yaitu orang-orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri; menaklukkan watak dan perilaku buruk yang bersembunyi dalam hatinya.[]


Malas
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Alkhoirot Karangsuko, Malang

Malas merupakan wabah psikologis yang dapat menjangkiti siapa saja tanpa memandang usia, status, dan agama yang dipeluk. Suatu masalah yang harus ditangani secepat mungkin.

Implikasi negatif sikap malas banyak dan bermacam-macam: kerugian ekonomi bagi yang sedang memulai usaha, kehilangan pekerjaan bagi yang sedang membina karir dan berakibat kebodohan bagi yang sedang mencari ilmu atau minimal gagal mencapai hasil maksimum. Malas juga membuat banyak rencana-rencana baik dan besar jadi tertunda atau malah gagal.

Dengan demikian, malas selayaknya harus dihilangkan secara total karena ia jadi penghalang seseorang menuju suksesnya tujuan yang ingin dicapai.

Islam juga sangat menekankan pola hidup yang dinamis, penuh energi dan tidak malas. Kemalasan menurut Al Quran adalah perilaku orang munafik (QS An Nisa’ 4:142, At Tawbah 9:054). Yaitu orang yang perilakunya didominasi oleh kepura-puraan dan alasan palsu (QS Ali Imron 3:167). Sebagaimana perilaku orang malas yang selalu berkilah dengan banyak alasan untuk menyembunyikan perilaku malasnya.

Semua orang memiliki rasa malas dengan tingkatan yang berbeda. Pasa saat yang sama kita juga sering menyesali dan menyayangkan kemalasan yang sangat merugikan ini. Di sinilah perlunya kita mencari solusi untuk mengatasi problem rasa malas. Setiap kasus memiliki solusi yang berbeda. Namun, rasa malas secara umum dapat di atasi dengan beberapa langkah berikut:

Pertama, sesali setiap kali rasa malas itu datang. Menyesali perbuatan yang salah itu penting, sebagai tanda adanya keinginan untuk berubah.

Kedua, buat jadwal garis besar (outline) aktifitas penting yang harus dilakukan hari ini dan berusahalah untuk melakukannya. Catat kegiatan penting yang jadi prioritas utama dan sekunder.

Ketiga, anggap setiap aktifitas yang kita rencanakan adalah janji yang harus ditepati. Dan menepati janji adalah tiket menuju integritas dan kredibilitas kita pada diri sendiri dan di mata orang lain.

Keempat, berteman dengan orang yang dinamis. Hindari berteman dengan orang malas. Mendekatlah pada orang yang dinamis dan mintalah nasihat darinya. Mengagumi orang-orang yang dinamis dan menjauhi si pemalas merupakan langkah awal menghilangkan rasa malas.

Kelima, bersikap aktif dan smart (banyak akal). Aktif artinya pikiran selalu fokus pada apa yang sedang dan akan dikerjakan. Smart berarti memiliki banyak cara untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga saat rencana A gagal atau kurang maksimal, dengan mudah akan mencoba cara B atau C, dan seterusnya. Menjadi smart akan membuat kita dapat terhindar dari stress, depresi dan putus asa serta dapat menghindari rasa bosan.

Keenam, olahraga. Olahraga atau sekedar gerak badan ringan setiap hari itu penting untuk menghilangkan rasa malas karena rasa malas yang akut timbul dari ketiadaan gerakan fisik. Dengan olahraga teratur setiap hari akan mengurangi keengganan anggota tubuh untuk bergerak.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.