Kerja Keras, Ilmu dan Persisten

Kerja keras dalam Al-Quran disebut dalam 109 ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kerja keras dalam Islam bagi seorang muslim. Namun kerja keras tidak akan menghasilkan hasil maksimal tanpa ilmu dan kemampuan yang cukup serta tanpa adanya sikap persisten terutama saat menghadapi tantangan, kesulitan dan kegagalan.
A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah Edisi Juli 2009
PP Alkhoirot Putri

Daftar Isi

  1. Kerja Keras
  2. Persisten
  3. Ilmu


Kerja Keras

Kerja keras adalah kebalikan dari sifat malas. Ia merupakan salah satu kunci dari hidup bahagia dan itu sebabnya mengapa kerja keras sangat dianjurkan dalam Islam (QS Al Ankabut 29:6) sebagai kunci sukses menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (QS Al Ankabut 29:65).

Ibrahim Al-Tahawi dalam kitab Al-Iqtisad Al-Islami menegaskan bahwa Al Quran menganggap kemalasan atau membuang-buang waktu melakukan hal yang tidak produktif dan tidak bermanfaat sebagai bukti kurangnya keimanan seseorang.

Al Quran sendiri menyebut kata “amal” atau perbuatan dalam 360 ayat. Dan kata “fi’il” (maknanya kurang lebih sama) disebut dalam 109 ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kerja keras. Tentu saja yang dimaksud dengan kerja keras bagi seorang pelajar adalah belajar rajin dan maksimal untuk menjadi yang terbaik.

Kerja keras dalam artian harfiah, yaitu bekerja sekeras mungkin, tentu saja tidak cukup. Kita melihat betapa banyak orang, seperti buruh dan kuli, yang bekerja sangat keras memeras keringat sepanjang hari tetapi mendapatkan hasil yang sangat sedikit dan tidak mengalami perubahan ekonomi secara signifikan. Kerja keras harus dibarengi dengan ilmu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan karena itulah Allah sangat menekankan kemuliaan ilmu dan betapa pentingnya posisi ahli ilmu (QS Ali Imron 3:18; Al Mujadalah 58:11; Az Zumr 39:9).

***

Pada dasarnya, umat Islam adalah umat yang paling rajin bekerja keras di banding penganut agama lain dengan syarat asal kita mengikuti betul perintah Al Quran untuk selalu bekerja tanpa mengenal libur kendati itu hari Jumat (QS Al Jum’ah 62:10). Seorang muslim hanya disuruh berhenti bekerja pada saat ada panggilan adzan dikumandangkan (QS Al Jum’ah 62:9).

Konsekuensi dari bekerja tanpa henti dan tiada mengenal hari libur– plus ditambah dengan ilmu yang mumpuni di bidang pekerjaan yang dilakukan– adalah: umat Islam akan menjadi umat yang paling berhasil di dunia dalam segi materi atau paling pintar dari segi ilmu bagi pelajar.

Bayangkan saja, umat Nasrani bekerja hanya enam hari dalam seminggu karena hari Minggu libur, umat Yahudi juga bekerja selama enam hari karena libur pada hari Sabtu, maka umat Islam bekerja selama tujuh hari penuh dalam seminggu. Konsekuensinya, umat Islam akan menjadi umat terkaya di dunia karena paling rajin bekerja.

Namun kenyataan justru sebaliknya. Saat umat lain, Nasrani dan Yahudi, menuruti perintah untuk libur pada Sabtu dan Minggu saja dan bekerja selama enam hari dalam seminggu, umat Islam kebanyakan justru lebih banyak libur daripada kerjanya! Akibatnya jelas, umat Islam yang berjumlah sekitar 1 milyar di seluruh dunia menjadi umat termiskin di banding umat dari agama lain. Umat Yahudi yang hanya 15 juta di seluruh dunia justru menjadi umat terkaya karena memang mereka yang bekerja paling rajin.

Seorang Muslim yang betul-betul mengikuti nilai-nilai ajaran Islam akan menjadi sosok pribadi terbaik, dan umat Islam akan menjadi umat terbaik (QS Ali Imron 3:110). Terbaik tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia (QS Al Baqarah 2:201).

Seperti apa kesuksesan di akhirat hanya Allah yang tahu, namun kesuksesan di dunia dapat dilihat dengan (a) apabila berkepribadian akhlaqul karimah; (b) berhasil secara materi; (c) bermanfaat bagi manusia lain.[]


Persisten dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ekhuwah
PP Alkhoirot Putri Karangsuko, Pagelaran, Malang

Di dunia ini, kata Calvin Coolidge, tidak ada yang dapat mengganti posisi sikap Persisten (dalam menentukan sukses dan gagalnya suatu usaha). Bukan bakat; banyak orang gagal yang sebenarnya berbakat. Bukan kecerdasan, tidak sedikit orang yang sangat cerdas tidak mencapai apa-apa dalam hidupnya. Tidak juga pendidikan; saat ini kita lihat banyak pengangguran berpendidikan tinggi. Persisten adalah salah satu kunci sukses utama.

Apa itu persisten? Persisten berasal dari bahasa Inggris persistence yang bermakna kualitas kepribadian yang memiliki kemauan kuat (determinasi) untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu sampai berhasil. Seorang yang persisten tidak segan untuk terus mencoba seberapa berat pun tantangan yang dihadapi.

Dengan kata lain, sikap persisten adalah gabungan dari sikap sabar, gigih, teguh dan pantang menyerah atas apa yang diusahakan. Seorang yang persisten selalu ngotot untuk mencapai apa yang diinginkannya kendati menghadapi kesulitan dan tantangan.

Dalam Al Quran, sikap persisten disebut shabr (QS Al Baqarah 2:153). Shabr dalam Al Quran sedikit berbeda dengan padanan kata “sabar” dalam bahasa Indonesia. Karena yang terakhir lebih berkonotasi negatif dan identik dengan kepasrahan membuta.

Namun demikian, sikap persisten harus dibarengi dengan sedikitnya empat faktor berikut untuk menuju kesuksesan yang diinginkan.

Pertama, tujuan atau visi. Sebelum melangkah, miliki tujuan apa yang diinginkan. Visi atau tujuan sangatlah penting. Hanya dengan memiliki tujuan, start kita akan mencapai finish line.

Kedua, perencanaan. Perencanaan yang matang atas apa yang hendak dilakukan itu penting agar jelas langkah detail apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan. Di samping itu, fleksibilitas dalam teknik pelaksanaan juga diperlukan. Sebagai contoh, apabila Rencana A tidak atau sangat sulit berhasil, maka tak perlu ragu untuk ganti ke Rencana B, Rencana C, dan seterusnya.

Teknis perencanaan boleh berubah, tapi tujuan tetap sama. Thomas Edison, penemu energi listrik, persisten atas tujuannya menemukan energi listrik. Akan tetapi dia fleksibel dalam teknik dan percobaan yang dilakukan. Thomas Edison telah melakukan 10.000 kali percobaan dengan metode yang berbeda sebelum akhirnya berhasil.

Ketiga, evaluasi. Dalam manajemen hidup maupun organisasi modern, evaluasi identik dengan maju mundurnya seseorang atau suatu organisasi. Kesalahan dan kelemahan akan menjadi catatan yang tak akan terulang atau minimal dikurangi. Sementara kelebihan dan pencapaian akan menjadi motivasi untuk langkah berikutnya yang lebih baik.

Sikap persisten yang benar disebut dalam Al Quran sebagai mujahadah. Dengan sikap mujahadah ini kemungkinan berhasil sangat tinggi. (QS Al Ankabut 29:65)

***
Walaupun persisten adalah sikap pantang menyerah, namun ada juga saat di mana menyerah atau meninggalkan tujuan itu dapat bahkan perlu dilakukan. Yakni, apabila (a) tujuan yang hendak dicapai sudah dianggap tidak lagi relevan; (b) tujuan yang hendak dicapai mengalami kegagalan dengan berbagai macam cara dan teknis yang dilakukan. Pada titik inilah, perilaku tawakkal diperlukan (Hud 11:56).[]


Ilmu dalam Islam
Oleh: A Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri, Edisi November 2009

Salah satu tujuan Islam adalah untuk memberdayakan umat manusia supaya dapat mengoptimalkan potensi diri dan dengan demikian menjadi invidu terbaik di lingkungannya (QS Ali Imron 3:110). Menjadi seorang figur terbaik itu hampir mustahil dicapai apabila tanpa disertai dengan ilmu. Oleh karena itu, ilmu dan orang yang berilmu menempati posisi yang sangat tinggi dalam Islam yakni beberapa level di atas yang lain (QS Al Mujadalah 58:11).

Mengapa keilmuan sangat diagungkan dalam Islam, hal itu tidak lepas dari banyak faktor, antara lain internalisasi nilai-nilai ideal Islam.

Islam memerintahkan seorang individu muslim untuk mereformasi diri dalam rangka menuju kepribadian yang lebih dekat pada nilai-nilai ideal Islam (QS Al Balad 90:10-16). Untuk menuju ke arah ini, diperlukan setidaknya dua hal dalam diri seorang muslim.

Pertama, niat atau determinasi untuk mereformasi diri. Ahli psikologi sepakat bahwa keberhasilan apapun sangat tergantung pada niat atau kemauan kuat yang disertai dengan semangat (courage) dan kepercayaan diri (confidence) seseorang. Tanpa itu, sulit mencapai apapun yang dituju termasuk dalam mencapai internalisasi nilai-nilai ideal Islam. Karena pentinya niat ini, maka pakar fiqh (yurisprudensi Islam) sepakat bahwa niat menjadi faktor sah dan tidaknya suatu perbuatan ibadah seperti salat atau puasa. Hal ini berdasarkan sebuah Hadits sahih yang menyatakan bahwa “Sahnya suatu perbuatan itu tergantung pada niat.” (Innamal a’malu bin niyyat).

Kedua, ilmu. Setelah ada niat yang benar, maka ilmu menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai apa yang kita tuju termasuk dalam rangka menjadi pribadi muslim yang (mendekati) ideal. Dalam hal ini, ilmu agama dasar hendaknya menjadi prioritas utama sebagai sarana untuk mengenal apa yang halal dan haram, yang sunnah dan makruh dalam Islam. Pengetahuan dalam soal halal-haram ini penting dan akan menjadi koridor atau pagar minimal bagi kita dalam melangkah menempuh kehidupan keseharian.

Namun demikian, fungsi ilmu tidak hanya utnuk mereformasi kepribadian. Ia juga menjadi alat untuk mencapai tujuan apapun yang positif dan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Ilmu semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Islam tidak melarang seorang muslim untuk mempelajari dan mengkaji keilmuan apapun selagi untuk niat yang baik dan secara riil dapat bermanfaat.

Imam Abu Hamid Al Ghazali (Ihya Ulumuddin, Darul Kutub, Beirut, 2007, hlm. I/60) membagi ilmu menjadi tiga kategori. Pertama, ilmu yang tercela secara mutlak yakni ilmu yang tidak bermanfaat secara duniawi maupun ukhrowi. Kedua, ilmu yang terpuji secara mutlak yaitu ilmu agama terutama yang berkaitan dengan Allah, sifat-sifatNya dan segala ilmu yang dapat mendekatkan diri untuk mengenal-Nya. Ketiga, ilmu yang baik tapi tidak perlu berlebihan mempelajarinya yaitu yang berkaitan dengan ilmu fardhu kifayah.

.Poin terpenting adalah bahwa ilmu menjadi sarana penting untuk apapun yang kita tuju dalam kehidupan kita baik dalam mencapai kehidupan duniawi maupun spiritual.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.