Bias Makna Fundamentalisme

Bias Makna Fundamentalisme. Fundamentalisme menjadi sinonim dengan ekstremisme dan radikalisme yang berakar dari intoleransi agama.
Oleh A Fatih Syuhud

Secara historik, istilah “fundamentalisme” diatribusikan pada sekte Protestan yang menganggap Injil bersifat absolut dan sempurna dalam arti literal dan, dengan demikiran, mempertanyakan satu kata yang ada dalam Injil dianggap dosa besar dan tak terampuni. Dalam konteks ini, Kamus Oxford mendefinisikan fundamentalisme sebagai “pemeliharaan secara ketat atas kepercayaan agama tradisional seperti kesempurnaan Injil dan penerimaan literal ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai fundamental dalam pandangan Kristen Protestan”. Julukan ini, walaupun dimaksudkan untuk menggarisbawahi ketaatan absolut kaum Protestan atas ajaran Injil, tidaklah dipakai untuk melecehkan.

Konsep asal fundamentalisme itu sekarang menjadi bagian masa lalu. Selama lebih dari dua setengah dekade, interpretasi baru dari istilah ini menjadi populer. Fundamentalisme menjadi sinonim dengan ekstremisme dan radikalisme yang berakar dari intoleransi agama. Persepsi ini jelas tidak tepat dan menyesatkan karena fundamentalisme tidak dapat disejajarkan dengan esktrimisme dan radikalisme. Yang pertama bermakna ketaatan penuh pada ajaran-ajaran dasar agama yang dilakukan oleh para penganut taat suatu agama, sebaliknya makna kedua ditolak oleh seluruh penganut agama yang benar.Interpretasi fundamentalisme menjadi kontroversial karena ia jarang dipakai secara imparsial, objektif dan rasional. Aplikasi makna fundamentalisme esensinya berdasarkan pada apa yang dipahami dan dinyatakan oleh beberapa kelompok tingkat tinggi dari kalangan politisi, akademisi dan media. Di tengah terjadinya Islamofobia dan histeria antimuslim yang terjadi di sejumlah negara Barat, khususnya di AS, Israel dan Inggris, saat ini istilah fundamentalisme digunakan secara subjektif, selektif dan bias untuk melecehkan dan menjatuhkan Islam dan menggambarkannya sebagai ancaman pada peradaban Barat.

Propaganda anti-Islam “fundamentalis” dan “militan” semakin meningkat sejak revolusi Iran pada 1979. Sejumlah pemimpin Barat dan akademisi serta kelompok media berpengaruh dengan penuh semangat berpartisipasi dalam usaha ini. Seperti yang dikatakan Presiden AS Richard Nixon, “Fundamentalisme Islam telah mengganti komunisme sebagai instrumen pokok perubahan dengan cara kekerasan.”

Nixon juga mengatakan, “Ideologi komunis menjanjikan modernisasi cepat, sedangkan ideologi revolusi Islam adalah reaksi atas modernisasi. Komunisme berjanji untuk mempercepat putaran jam sejarah ke depan, sedang Islam fundamentalis hendak membalik sejarah ke masa lalu”. Implikasi implisit ucapan Nixon ini adalah bahwa “fundamentalisme Islam” memiliki potensi sebagai ancaman lebih besar daripada komunisme.Dalam buku “Satanic Verses”, Salman Rushdie berpendapat bahwa “Islam”-lah yang bertanggung jawab dalam “mempromosikan kebencian pada peradaban modern”.

Samuel P Huntington, dalam “The Clash of Civilisation”, mengingatkan dunia Barat atas berbagai ancaman yang berasal dari Islam. Dalam “Todays New Fascists”, Francis Fukuyama mengungkapkan kekuatirannya atas bangkitnya “Islam-Fasis” baru.
Ungkapan Fukuyama ini merupakan kelanjutan dari kekuatirannya atas munculnya “Islam radikal” yang dibahas mendetail dalam bukunya “The End of History and the Last Man”. Namun demikian, tidak ada yang dapat menandingi V S Naipaul, pemenang Nobel, dalam menyerang Islam. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata sarkasmenya, seperti “Terlukanya peradaban India merupakan hasil kerja Islam” (dalam bukunya A Wounded Civilization), “Muslim non-Arab adalah pemeluk tidak otentik..” (dalam Among the Believers), dan “Islam itu menjijikkan” (dalam Beyond Belief)

Berbagai macam penghinaan terhadap Islam, baik dengan kekerasan maupun nonkekerasan, mencapai proporsi yang mengkhawatirkan pasca-serangan teroris pada gedung WTC dan Pentagon pada 11 September 2001. Berbagai usaha direkayasa untuk menghubungkan Islam dengan terorisme telah menyulut ketegangan komunal di sejumlah negara Barat, khususnya AS. Banyak yang dilecehkan dan diperlakukan tidak manusiawi hanya karena memakai nama Muslim dan memelihara jenggot dan mengenakan jilbab. Di atas semua itu, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dan Irak plus peningkatan serangan Israel pada rakyat Palestina semakin mempersulit masalah dan semakin menjauhkan diri dari skenario kerukunan global antaragama.

Banyak kalangan yang anti “fundamentalisme Islam” di satu sisi mengklaim dirinya komitmen pada demokrasi. Akan tetapi, pada waktu yang sama mereka tidak
segan-segan menyerukan untuk melakukan segala cara dalam memberantas fenomena “Islam fundamentalis”, termasuk dalam hal ini, dengan cara kekerasan yang
jelas-jelas tidak demokratik. Ann Coulter, umpamanya, menyerukan: “Kita hendaknya menginvasi negara-negara mereka (Muslim), membunuh pemimpin mereka dan
mengkonversi mereka dalam pelukan Kristiani”; Rich Lowry menyerukan AS supaya “mengebom Mekkah”. Senada dengan seruan kedua kolumnis konservatif AS ini,
berbagai tulisan Salman Rushdi yang menentang Islam, Nabi Muhammad dan umat Islam dipandang sebagai bentuk kebebasan berekspresi, tetapi berbagai kritikan pada
buku kontroversialnya “Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan) dianggap sebagai manifestasi dari fanatisisme. Tidakkah wajar dan logis kalau kita anggap bahwa sikap semacam itu sebagai contoh konkrit standar ganda dan hipokrisi?

Harus diakui, kelompok radikal dan militan di antara pemeluk Islam itu ada. Dalam tubuh agama lain juga terdapat elemen-elemen ekstrim semacam itu. Akan tetapi, secara faktual mereka, kalangan ekstrimis di berbagai agama ini, adalah bagian kecil dari populasi dunia dan secara bulat ditolak keberadaannya oleh bangsa-bangsa pecinta damai dan penegak keadilan, termasuk oleh negara-negara Islam.

Seluruh negara-negara dunia, dengan pengecualian Afghanistan di bawah rezim Taliban, mengecam serangan teroris 11/9/01 di Amerika dan 7/7/05 di London. Bahkan Abdullah Awad, kakak kandung Osamah bin Laden, mengecam serangan itu sebagai “pelanggaran mendasar pada prinsip-prinsip utama Islam.” Apalagi, sejak itu seluruh negara Muslim meningkatkan usaha mereka untuk memerangi dan mencegah terorisme. Dengan adanya fakta-fakta tak terbantahkan ini, apakah menghubungkan Islam dengan fundamentalisme dan terorisme masih relevan?

Sayangnya, istilah fundamentalisme dan terorisme secara eksklusif selalu diidentikkan dengan Islam tanpa memandang realitas di lapangan. Apakah ini berarti bahwa tidak ada individu atau kelompok dalam agama Kristen, Yahudi, Hindu dan non-Muslim lain yang
lebih berhak menyandang “gelar” itu? Tidakkah menghakimi Islam dengan hanya berdasarkan kebijakan opresif Taliban di Afghanistan dan tindakan brutal Al Qaidah itu bagaikan menghakimi Kristen dengan aksi barbar Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini di Italia dan Slobodan Milosovic di Bosnia?

Karena tindakan ekstrimisme yang dilakukan Ariel Sharon tidak membuat umat Yahudi disebut sebagai “Zionis fundamentalis “, maka sudah logis kiranya kalau tindakan radikal Mullah Umar dan Usamah bin Ladin tidak menjadikan 1.3 milyar Muslim sebagai “Islam fundamentalis”. Begitu juga, apabila jaringan radikal Islam semacam Al Qaidah atau kelompok pemberontak di Filipina seperti Abu Sayyaf disebut sebagai “teroris Islam”, maka julukan yang sama hendaknya dilekatkan pada tindakan terorisme yang dilakukan oleh Timothy McVeigh di Amerika dan kultus Aum Shimrikoy di Jepang.

Di era sekarang di mana dunia dipenuhi dengan berbagai problem dan konflik ini, sangat dibutuhkan adanya berbagai usaha maksimum untuk mempromosikan perdamaian
dan keamanan. Namun demikian, hal ini akan tetap menjadi mimpi sampai perpecahan agama dapat dijembatani dan harmoni antaragama terbentuk. Menyudutkan satu agama tidak akan membuat bertambahnya prestise dan keamanan agama lain. Begitu juga,
fenomena patologis seperti fanatisme, kebencian, irasionalitas, ketakutan yang berakar dari ketidakpedulian dan pikiran picik, hanya akan memperlebar polarisasi agama.

Idealnya, isu sulit seperti ekstremisme dan terorisme hendaknya didekati dengan pikiran terbuka dan tanpa bias agama. Diperlukan juga memperhatikan akar penyebab, bukan hanya gejala dari fenomena tersebut. Karena, tidak ada negara atau sekelompok negara, bagaimanapun kuatnya, dapat memerangi dan menyelesaikan tantangan ini secara efektif sendirian. Dengan demikian, tidak ada alternatif dalam mengatasi hal ini kecuali dengan kerja sama global.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.