Agar Istri Disayang Suami

Agar Istri disayang suami
Oleh A. Fatih Syuhud

Ada anggapan bahwa menikah dengan orang yang sudah dikenal dan dicintai melalui proses pacaran adalah jalan menuju perkawinan yang bahagia. Sebaliknya, perkawinan yang tanpa perkenalan mendalam terlebih dahulu dianggap sebagai kuno, out of date, dan era Siti Nurbaya. Anggapan ini adalah persepsi yang salah yang dipengaruhi oleh kisah-kisah fiksi murahan di berbagai cerpen, novel dan sinetron. Salah ditinjau dari sudut pandang universal dan lebih salah lagi apabila ditinjau dari sudut pandang agama.

Karena, yang membuat sebuah perkawinan itu sakinah, langgeng, damai, nyaman dan tenteram tidak ada hubungannya dengan pernah pacaran atau tidak; akan tetapi oleh seberapa jauh kedua pasangan dapat saling mengerti, saling memberi, dan saling berusaha untuk membahagiakan pasangannya dengan landasan keimanan dan ketaatan pada syariah Allah. Tanpa itu, pasangan yang awalnya saling mencintai pun akan berakhir dengan perceraian atau menjadi rumah tangga yang penuh siksaan baik fisik maupun mental.

Dalam tataran praktis, berikut langkah-langkah bagaimana agar seorang istri dapat selalu disayang suami. Dan bagaimana cinta suami tidak hanya langgeng, tapi juga semakin tumbuh subur dan berkembang.

Pertama, niat ibadah. Seorang muslim hendaknya menggantungkan setiap perbuatan baiknya sebagai ibadah, termasuk perkawinan. Perkawinan tidak hanya bertujuan mengikuti sunnah Rasul, menjaga kesinambungan generasi islami, memelihara diri dari maksiat mata dan farji, tapi juga untuk memperbaiki kualitas diri untuk menjadi individiu muslim yang lebih baik yang berguna untuk diri sendiri, suami, anak dan orang lain.

Kedua, taat pada suami. Taat pada suami adalah fondasi dasar rumah tangga yang akan membuat suami menyayangi istrinya. Mentaati suami juga merupakan kewajiban syariah.. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita shalat lima waktu setiap hari, berpuasa Ramadan, menjaga farjinya (tidak selingkuh), dan taat pada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu manapun ia suka.” Nabi Muhammad bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada di rumah kecuali atas izin suaminya.” Dalam hadits lain dikatakan, “Apabila suami memanggil istrinya untuk hubungan intim kemudian istrinya tidak datang dan itu membuat suaminya marah, maka malaikat melaknatnya sampai pagi hari tiba.”

Hadits–hadits di atas menjelaskan secara eksplisit wajibnya seorang istri mentaati suaminya. Tentu saja ketaatan itu selagi apa yang diinginkan suami tidak melanggar syariah. Apabila suami menyuruh agar melakukan maksiat, maka wajib bagi istri untuk menolak perintah tersebut karena taat pada Allah itu lebih penting.

Ketiga, bersyukur dan ceria. Istri yang bersyukur adalah istri yang selalu dapat melihat keberuntungan dirinya memiliki pasangan hidup seperti suaminya. Seorang suami merasa sangat beruntung memiliki istri yang bersyukur karena dari sikap positif ini akan memancarkan keceriaan dan kegembiraan pada wajah, tutur kata dan bahasa tubuh (body language) istri. Keceriaan ini pada gilirannya akan mengalirkan energi positif pada suami, anak dan seisi rumah. Sebaliknya, istri yang kurang bersyukur akan selalu mengalirkan energi negatif kesuraman dalam rumah tangga, terutama pada suami. Tunjukkan sikap ceria dan rasa syukur, maka seisi rumah dan dunia akan ceria bersama.

Keempat, bersabar. Ada saatnya rumah tangga tertimpa musibah. Baik musibah ekonomi berupa kemiskinan atau musibah penyakit berupa kesakitan atau kecelakaan, maka di saat seperti itu, istri harus berupaya menujukkan sifat sabar, tawakal dan membantu suami mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Inilah sosok istri impian yang akan membuat rasa sayang suami tumbuh subur dari waktu ke waktu.[]

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.