Mengapa Wahabi Tidak Suka Maulid Nabi

Mengapa Wahabi tidak suka maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi (2): Kelompok Penentang Mengapa Wahabi Tidak Suka Maulid Nabi
Oleh: A. Fatih Syuhud

Kontroversi tentang status hukum perayaan Maulid Nabi sebenarnya tidak hanya dimulai sejak semaraknya para penganut Wahabi Salafi dan variannya dalam wacana intelektual di Indonesia. Dalam skala global kalangan ulama yang terdahulu juga ada yang tidak setuju. Mereka antara lain adalah Ibnu Taimiyah, Al-Syatibi, Tajuddin Al-Fakihani dan Ibnul Haj.

Pro dan Kontra Maulid Nabi

Walaupun dalam salah satu fatwanya Ibnu Taimiyah (wafat, 1328 M/728 H) menyetujui peringatan Maulid Nabi apabila dimaksudkan untuk memuliakan Rasulullah,[1] namun dalam fatwa lainnya ulama yang jadi panutan kalangan Wahabi Salafi ini dengan tegas menyatakan: “Menjadikan suatu musim selain musim yang disyariahkan seperti sebagian malam bulan Rabiul Awal yang disebut Malam Maulid, atau sebagian malam Rajab atau tanggal 18 Dzul Hijjah atau awal Jumat bulan Rajab atau tanggal 8 Syawal yang disebut lebaran maka itu semua termasuk bid’ah yang tidak dilakukan oleh kalangan Salaf. Generasi Salaf tidak mengamalkan hal ini walaupun ada tuntutan untuk itu dan tidak adanya hal yang mencegahnya. Seandainya baik atau unggul niscaya kalangan Salaf lebih berhak melakukannya daripada kita karena mereka lebih cinta pada Rasulullah dan lebih memuliakan Nabi daripada kita. Mereka juga lebih memelihara kebaikan.”[2]

Al-Syatibi (wafat, 1388 M/790 H) memiliki argumen yang kurang lebih sama dengan Ibnu Taimiyah. Dalam Al-I’tisham ia menyatakan: “Sebagian dari bid’ah munkarah adalah menetapkan cara dan sikap tertentu seperti berdzikir dengan cara berkumpul dalam satu suara dan menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai perayaan dan lain-lain.”[3]

Al-Fakihani (wafat, 1334 M/734 H) menyatakan, “Aku tidak tahu dasar dari (peringatan) Maulid Nabi ini dalam Al-Quran dan Sunnah. Pengamalannya tidak dinukil dari seorang ulama pun yang menjadi panutan dalam agama yang berpegangan pada perilaku ulama terdahulu. Ia adalah bid’ah ..”[4]

Ibnul Haj (wafat, 1336 M/737 H) menyatakan dalam Al-Madkhal, “Peringatan Maulid Nabi adalah tambahan dalam agama bukan termasuk perbuatan generasi Salaf. Sedangkan mengikuti Salaf itu lebih utama dan lebih wajib daripada menambah niat yang berbeda dengan yang mereka lakukan. Karena mereka adalah generasi yang paling kuat mengikuti sunnah Rasul dan memuliakannya. Mereka akan bersegera mengikuti sunnah. Namun tidak dinukil dari mereka ada yang memperingati Maulid Nabi sedangkan kita mengikuti mereka..”[5]

Titik Perbedaan Pendapat

Argumen keempat ulama abad pertengahan di atas pada dasarnya sama yakni bahwa peringatan maulid Nabi adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat. Para ulama ini mewakil kelompok yang tidak mempercayai adanya kategorisasi bid’ah menjadi bid’ah baik dan bid’ah buruk. Bukan secara kebetulan bahwa dari segi madzhab fiqih yang dianut, umumnya mereka adalah ulama yang tidak berafiliasi pada madzhab Syafi’i. Ibnu Taimiyah, misalnya, adalah ulama fiqih madzhab Hanbali sama dengan madzhab kalangan Wahabi Salafi. Sedangkan Al-Syatibi, Al-Fakihani dan Ibnul Haj bermadzhab Maliki. Ulama madzhab Hanbali dan Maliki umumnya tidak mengakui adanya pembagian bid’ah menjadi baik dan buruk.

Dan bukan secara kebetulan pula bahwa para ulama pendukung Maulid Nabi adalah berasal dari mereka yang secara fiqih bermadzhab Syafi’i dan Hanafi dan berakidah Asy’ariyah yang kebanyakan ulamanya setuju dengan pandangan terbaginya bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyiah. [6]

Ibnu Abidin (wafat, 1836 M/1252 H), misalnya, seorang ulama madzhab Hanafi menyatakan, “Ketahuilah bahwa termasuk dari bid’ah terpuji adalah perayaan Maulid Nabi pada bulan saat beliau dilahirkan. Berkumpul untuk mendengarkan kisah Rasulullah termasuk ibadah terbesar karena adanya mukjizat dan banyaknya shalawat yang dihadiahkan padanya.”[7]

Ibnu Hajar Al-Asqalani ulama ahli hadits dari madzhab Syafi’i menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi memiliki dasar yang kuat dari hadits. Yakni hadits sahih riwayat muttafaq alaih bahwa Nabi Muhammad pernah berkunjung ke kota Madinah, kemudian di sana Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura, lalu Nabi menanyakan perihal puasa tersebut, mereka menjawab bahwa Asyuro adalah hari ditenggelamkannya Fir’aun dan di selamatkannya Nabi Musa, “maka kami berpuasa pada hari Asyuro untuk berterima kasih (bersyukur) kepada Allah.” Nabi Muhammad lalu bersabda: “Kami lebih berhak kepada Nabi Musa dari pada kalian semua” Maka bisa diambil kesimpulan dari hadits di atas untuk bersyukur atas segala anugerah yang dikaruniakan oleh Allah di hari tertentu seperti pemberian nikmat, atau tertolaknya bahaya (siksa), dan hal tersebut selalu terulang setiap tahun. Sedangkan bersyukur kepada Allah bisa hasil dengan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud, puasa, shodaqoh dan membaca Al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar dari pada kelahiran Nabi sang pembawa rahmat?[8]

Madzhab Syafi’i Terbuka dan Akomodatif pada Hal Baru

Kalau ulama madzhab Syafi’i terkesan lebih terbuka dan lebih fleksibel dalam menyikap hal yang baru itu karena sikap luwes ini dipelopori langsung oleh Imam Syafi’I, pendiri madzhab Syafi’i. Ini tidak terjadi dalam madzhab lain. Dalam salah satu fatwanya, Imam Syafi’I dengan tegas menyatakan, “Bid’ah itu ada dua: terpuji dan tercela. Yang sesuai dengan sunnah itu terpuji, yang berlawanan dengan sunnah itu tercela. Al-Baihaqi meriwayatkan ucapan Imam Syafi’I yang lain dalam Manaqib Syafi’i di mana Imam Syafi’i berkata: “Perkara baru yang bertentangan dengan Al-Quran, sunnah, atsar atau ijmak maka termasuk bid’ah sesat, sedangkan perkara baru yang baik yang tidak berlawanan dengan hal yang tersebut maka tidak tercela.”[9] Pandangan Imam Syafi’i tentang pembagian bid’ah ini didukung penuh oleh para ulama level atas madzhab Syafi’I seperti Imam Nawawi dan Al-Izz ibnu Abdissalam dan lainnya.[10]

Adanya konsep kategorisasi bid’ah menjadi baik dan buruk ini telah memberi kontribusi sangat penting pada sikap toleransi umat Islam Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i. Dan itu dapat dibandingkan dengan sebagian kelompok Islam Indonesia yang lain yang tidak bermadzhab Syafi’i yang umumnya lebih kaku, bahkan cenderung ekstrim, dalam menyikapi hal baru.

Oleh karena itu, umat Islam Indonesia sangat beruntung karena masuknya Islam ke Indonesia dibawa oleh para ulama yang membawa bendera madzhab fiqih Syafi’i yang toleran dan akomodatif terhadap kultur dan tradisi lokal. Itulah sebabnya, sebagian kultur dan tradisi di Indonesia tetap bertahan dan sebagian diisi dengan nilai-nilai Islam. Adanya kelompok dan aliran Islam baru di Indonesia dengan membawa madzhab fiqih dan akidah yang berbeda, seperti Wahabi dan HTI, telah membawa nuansa baru yang kurang kondusif bagi keberlangsungan hidup bhinneka tunggal ika di Indonesia. Namun, selagi kalangan Aswaja tetap konsisten dan istiqamah dalam menjaga dan mengawal konsep toleransi ala madzhab Syafi’i, maka kelompok trans-nasional akan tetap menjadi kelompok pinggiran.

Terlepas dari semua perbedaan pendapat antarmadzhab di atas, satu hal yang perlu dicatat bahwa perbedaan itu sah adanya dan setiap pihak yang berbeda hendaknya menghormati perbedaan itu sebagai rahmat dengan cara tidak saling menyesatkan kelompok yang berbeda pandangan apalagi sampai mensyirikkan atau mengkafirkan.[]

Bacaan lanjutan:

Footnote

[1] Lihat, A. Fatih Syuhud dalam “Peringatan Maulid Nabi (1)”, www.fatihsyuhud.net

[2] Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha Al-Shirat Al-Mustaqim, hlm. 295. Teks asal: اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول التي يقال إنها ليلة المولد، أو بعض ليالي رجب أو ثامن عشر ذي الحجة أو أول جمعة من رجب أو ثامن من شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ولم يفعلوها(…)فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له، وعدم المانع منه ولو كان خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص

[3] Abu Ishaq Al-Syatibi dalam Al-I’tisham li Al-Syatibi, hlm. 1/39. Teks asal: ومنها التزام الكيفيات والهيئات المعينة كالذكر بهيئة الاجتماع على صوت واحد واتخاذ يوم ولادة النبي صلى الله عليه وسلم عيدا وما أشبه ذلك

[4] Tajuddin Al-Fakihani dalam Al-Sunan wa Al-Mubtadiat, hlm. 143. Teks asal:

لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بدعة أحدثها البطالون، وشهوة نفس اعتنى بها الأكالون..

[5] Muḥammad bin Al-Haj Al-Abdari Al-Fasi Ibnul Haj dalam Al-Madkhal, hlm. 2/11-12. Teks asal: ذلك زيادة في الدين ليس من عمل السلف الماضين، واتباع السلف أولى بل أوجب من أن يزيد نية مخالفة لما كانوا عليه، لأنهم أشد الناس اتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيما له ولسنته صلى الله عليه وسلم ولهم قدم السبق في المبادرة إلى ذلك، ولم ينقل عن أحد منهم أنه نوى المولد ونحن لهم تبع فيسعنا ما وسعهم وقد علم أن اتباعهم في المصادر والموارد

[6] Sebagian pandangan ulama madzhab Syafi’i tentang Maulid Nabi lihat “Hukum Peringatan Maulid Nabi (1)” di www.fatihsyuhud.net

[7] Ibnu Abidin dalam Syarah Ibnu Abidin ala Maulid Ibni Hajar. Teks asal:

اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وآله وسلم فالاجتماع لسماع قصة صاحب المعجزات عليه أفضل الصلوات وأكمل التحيات من اعظم القربات لما يشتمل عليه من المعجزات وكثرة الصلوات

[8] Sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, hlm. 1/229. Teks asal:

وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت ، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة ، فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء، فسألهم فقالوا : هو يوم أغرق الله فيه فرعون ، ونجى موسى ؛ فنحن نصومه شكرا لله تعالى . فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنّ به في يوم معين ، من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة . والشكر لله يحصل بأنواع العبادة ، كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة ؛ وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم ؟

[9] Dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Sahih Al-Bukhari, hlm. 13/253. Teks asal:

قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشافعي وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة انتهى وقسم بعض العلماء البدعة إلى الأحكام الخمسة وهو واضح

[10] Lihat, A. Fatih Syuhud, “Bid’ah itu Baik (1)”, www.fatihsyuhud.net

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.