Wanita Kota dan Wanita Desa

Wanita Kota Wanita Desa

Wanita Kota dan Wanita Desa
Oleh A. Fatih Syuhud

Dalam interaksi sosial sehari-hari, manusia cenderung memberi atribut “kota” sebagai tanda pujian dan label “desa” sebagai ekspresi merendahkan baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Kita dan orang lain pun merasa senang tak kala mendapat sebutan sebagai “orang kota” kaum perempuan pun sumringah saat dipanggil sebagai “wanita kota” dan merasa kurang nyaman saat mendapat julukan sebagai “orang desa” atau “wanita desa” atau ndesit dalam istilah bahasa Jawa.

Mengapa kata “kota” menjadi tanda pujian, dan “desa” sebagai simbol “penghinaan”? Bukankah desa lebih sering disebut dalam syair dan lagu sebagai suatu tempat yang indah dengan panorama alam natural tempat deretan sawah, aliran sungai yang bening airnya serta pepohonan dan rerumputan hijau? Begitu juga, bukankah kota dianggap sebagai tempat yang penuh polusi, kotor dan tak bersahabat?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesan kota sebagai memiliki atribut yang positif dan desa yang terkesan negatif. Salah satunya yang terpenting adalah bahwa kota mewakili suatu kedinamisan dan progresifitas (kemajuan), sementara desa menyimbolkan kediaman dan keterbelakangan serta kemalasan.

Situasi kota yang padat, memaksa warga kota untuk terus bergerak dinamis memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak bergerak berarti tidak makan, demikian bahasa sederhananya. Berbeda dengan situasi di desa yang tenang dan tampak “baik” tapi sebenarnya dapat membahayakan bagi jiwa yang lemah. Penduduk desa tidak begitu dituntut untuk bekerja keras; tanpa kerja keras pun mereka dapat makan dari hasil tanaman di sekitar pekarangan rumah mereka. Pada gilirannya, perbedaan situasi kota dan desa ini juga mempengaruhi cara berfikir dan bertindak masyarakatnya. Sementara masyarakat kota biasa bertindak cepat, lugas dan dinamis, masyarakat desa cenderung berperilaku santai, alaon-alon asal kelakon. Masyarakat kota juga dianggap lebih cepat dalam memperoleh informasi aktual dibanding masyarakat desa, informasi aktual yang dimaksud termasuk tren terbaru di berbagai bidang dari tren baju, musik, wawasan sampai keilmuan.

Singkatnya, kota identik dengan berbagai unsur positif (walau tidak lepas dari sisi negatif) seperti kerja keras, kemajuan dan kedinamisan; sementara desa berkonotasi sebaliknya: keterbelakangan dan kemalasan. Oleh karena itu, pengertian kota dan desa yang hakiki hendaknya tidak dimaknai secara harfiah dan sempit . Dengan kata lain, atribut “orang kota” atau “orang desa” hendaknya tidak difahami berdasarkan lokasi seseorang berada. Pemahaman geografis semacam ini hanya akan memalingkan pengertian positif yang hakiki dari istilah ini.

Demikian juga, dalam konteks perempuan, julukan “wanita kota” hendaknya dimaknai sebagai “wanita yang progresif (berkeinginan untuk maju), berwawasan dan selalu bekerja keras” sementara yang disebut dengan “wanita desa” adalah “wanita malas, tak berilmu dan tak memiliki kepribadian kuat.”

Dengan demikian, kita memaklumi bahwa bisa saja seorang “wanita kota” bertempat tinggal di desa sementara yang disebut “wanita desa” atau “wanita kampungan” berlokasi di kota. Dan inilah pengertian hakiki dari kedua istilah ini.

Saat hijrah ke Yatsrib, Rasulullah mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah al Munawwaroh atau Kota yang bersinar yang bermakna tempat yang penduduknya memiliki spirit dinamis, progresif, maju dan kerja keras.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.