Tawakal dalam Islam

tawakal dalam islam

Tawakkal dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud

Dalam suatu Hadits diriwayatkan Rasulullah menanyakan pada seorang Badui mengapa dia tidak mengikat untanya. “Aku tawakkal (pasrah) pada Allah,” jawab si Badui itu. Rasulullah berkata: “Ikatlah dulu untamu. Lalu tawakallah pada Allah.”

Hadits di atas oleh banyak ulama dipakai sebagai landasan tentang urutan (kronika) sikap menuju tawakkal: berusaha dulu baru berpasrah diri padaNya. Hadits tersebut sebenarnya memperkuat apa yang secara eksplisit dinyatakan dalam Al Quran Surah Ali Imron 3:159.[1] Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa usaha kita hendaknya sebuah usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh (QS Al Anfal 8:60)[2] bukan sekedar berusaha tanpa dibarengi dengan energi tinggi dan perencanaan yang matang.

Tidak sedikit kita umat Islam yang menyalahgunakan kata tawakkal untuk menutupi kelemahan dan kemalasan diri. Berusaha yang asal-asalan sama dengan tidak berusaha dan karena itu tidak berhak untuk menuju level tawakkal. Karena kalau ini dilakukan, kesuksesan jelas tidak akan tercapai. Karena hanya dengan kesungguhan maksimal (mujahadah) suatu usaha akan menampakkan hasilnya (QS Al Ankabut 29:65).[3] Dan suatu usaha dapat disebut maksimal kalau setidaknya melewati tiga proses.

Pertama, rasa percaya diri (confident). Percaya bahwa kita dapat berhasil melakukan apa yang hendak kita lakukan itu sangat penting. Untungnya, Islam memberi ruang yang lebar bagi kita untuk bersikap percaya diri. Dalam QS Ar Ra’d 13:11 dengan tegas dinyatakan bahwa “Allah tidak (akan) merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”[4] Tanpa percaya diri, bagaimana seseorang berani berencana dan bertindak?

Kedua, perencanaan yang matang.. Ibarat insinyur yang hendak membangun jembatan, usahanya akan gagal tanpa ada rancang bangun yang detail terlebih dahulu dari jembatan yang hendak dibangunnya. Apabila Anda bingung dalam membuat perencanaan yang baik, konsultasi pada ahlinya atau pada orang yang dianggap relatif lebih mengetahui (QS Ali Imron 3:159).[5] Termasuk dalam perencanaan adalah mengadakan penelitian atau survei atas kemungkinan berhasil atau tidaknya apa yang akan dilakukan.

Ketiga, kerja keras dan fokus. Kerja keras untuk mencapai apa yang direncanakan. Termasuk dari bagian kerja keras adalah disiplin, konsisten, tahan uji (resilience) dan fokus.

Fokus atau mengerahkan segala pikiran dan tenaga pada satu titik merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kita boleh memiliki banyak rencana, tapi fokus pada satu rencana dalam satu waktu adalah kunci menuju kemungkinan sukses yang lebih besar.

Apabila tiga proses di atas sudah dilakukan, dan ternyata kegagalan jua yang didapat, maka kita sudah mencapai pada level di mana tawakkal atau berserah diri pada Allah bukan hanya dibolehkan tapi juga diperlukan. Sebab tanpa tawakkal pada momen seperti ini hanya putus asa yang masuk ke sanubari. Dalam Islam, putus asa merupakan salah satu tindakan yang sangat tidak etis seperti tersurat dalam QS Yusuf 12:87.[6] Jadi tawakkal adalah kekuatan manusia untuk terus hidup, bukan kelemahan.

Momen tawakkal juga momen yang tepat untuk berkontemplasi (introspeksi diri atas kesalahan yang mungkin dilakukan), dan untuk menenangkan hati sambil memikirkan rancangan-rancangan baru menuju usaha berikutnya. Hidup itu dinamis yang selalu bergerak. Apabila kita diam, kita akan ditinggal waktu dan sudah tidak lagi layak disebut hidup.[]

CATATAN AKHIR

[1] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

[2] Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

[3] Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

[4] Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[5] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

[6] Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.