Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abu Thalib*
Oleh A. Fatih Syuhud

Ali bin Abu Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad. Namun kedekatan keduanya jauh dari hanya sebatas hubungan kekerabatan. Sejak Ali lahir pada 17 Maret 600 masehi yang bertepatan dengan tanggal 13 Rajab tahun 23 sebelum hijrah, ia tinggal dalam rumah yang sama dengan rumah yang pernah ditempati Nabi selama 42 tahun. Yakni rumah Abu Thalib yang merupakan ayah angkat Rasulullah. Nabi Muhammad, yang lahir pada tahun 570 masehi, sudah berusia 31 tahun pada saat Ali lahir ke dunia sehingga Ali tidak sempat tinggal serumah karena Nabi sudah hidup bersama istrinya, Khadijah Al-Kubro. Namun demikian, hubungan keduanya semakin dekat karena pada usia 5 atau 6 tahun Nabi meminta Abu Thalib agar Ali diperkenankan untuk hidup bersamanya. Sejak saat itu, jadilah Ali anak asuh Nabi Muhammad. Penyebab Nabi mengambil alih pengasuhan Ali karena pada saat itu Makkah sedang ditimpa musim paceklik yang parah dan Abu Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Dari situlah Nabi berinisiatip untuk menjadikan Ali sebagai anak asuhnya. Sedangkan putra Abu Thalib yang bernama Ja’far diasuh oleh pamannya yaitu Abbas bin Abdul Muttalib.

Sejak hidup bersama Nabi dalam satu rumah, Ali selalu bersama Nabi kemanapun pergi. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam disebutkan Ali sering mengikuti Nabi ke Gua Hira’ untuk beribadah dan shalat. Disebutkan juga bahwa Ali tidak pernah menyembah berhala selama hidupnya. Itulab sebabnya umat Islam selalu mendoakannya dengan “karromallohu wajhah”, semoga Allah memuliakan wajahnya, setiap kali namanya disebut. Menurut pendapat lain, doa tersebut disebabkan karena ia tidak pernah melihat aurat orang lain sama sekali.

Dengan jiwa yang bersih tanpa ada noda syirik, iri dan dengki, maka mudah bagi Ali untuk menerima kebenaran Islam. Tak heran apabila Ali menjadi salah satu dari tiga tokoh yang pertama masuk Islam di samping Khadijah Al-Kubro dan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta menjadi satu-satunya anak remaja yang masuk Islam pertama kali saat Nabi mulai menyebarkan Islam pada kalangan kerabat dekatnya dari Bani Hasyim.

Sejak keislamannya, Ali menjadi salah satu pengikut Nabi yang sejak awal rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama Islam dan keselamatan Rasul-Nya. Misalnya, pada hari di mana Nabi berniat hijrah ke Madinah, dan sejumlah pembesar Quraish bersekongkol untuk membunuh Nabi, Ali dengan tulus dan berani menggantikan Nabi di tempat tidurnya sementara Nabi menyelinap diam-diam keluar rumah bersama Abu Bakar menempuh perjalanan panjang ke kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu Ali baru berusia 22 tahun. Tiga hari kemudian, Ali menyusul Nabi ikut hijrah ke Madinah

Pada bulan Shafar tahun kedua hijrah saat usianya yang ke-24, Ali menikah dengan Fatimah Az-Zahra putri Nabi. Ini adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi Ali karena ia tidak pernah menikah dengan wanita lain selama hidupnya. Banyak Sahabat yang ingin menikahi Fatimah. Namun Nabi selalu menolak lamaran mereka. Dalam sebuah hadits riwayat Thabrani Nabi bersabda bahwa perjodohan Ali dan Fatimah adalah perintah Allah.[1] Ali menikahi Fatimah dengan mahar sebuah baju perang yang sederhana. Seperti diketahui, Ali adalah sepupu Nabi. Dengan demikian, Ali menikah dengan keponakan sepupunya sendiri. Dalam Islam, menikah dengan kerabat yang ada hubungan sepupu ke atas tidak dilarang karena mereka tidak termasuk mahram (yang haram dinikah). Dari pernikahan ini keduanya memperoleh lima orang putra yaitu Hasan dan Husain pada tahun ketiga dan keempat hijrah secara berturut-turut dan diikuti dengan kelahiran Zainab, Ummu Kulsum dan Muhsin. Putra terakhir yang bernama Muhsin meninggal di masa kecil.

Jasa-jasa Ali pada Islam tak terhitung jumlahnya. Beberapa yang paling fenomenal adalah menjabat sebagaii Khalifah Keempat Islam, berperan dalam proses pembukuan Al-Quran sejak zaman Nabi, utusan Nabi berkirim surat pada beberapa kabilah agar masuk Islam dan berhasil mengislamkan sejumlah kabilah, mengikuti hampir seluruh peperangan (ghazwah) jihad melawan orang kafir kecuali perang Tabuk. Ali juga menjadi figur rujukan di kalangan ulama karena kedalaman ilmunya.

Di tengah semua kelebihan dan keistimewaannya, Ali tetap menjaga hidup sederhana dan memilih hidup zuhud. Inilah salah satu sebab mengapa ia juga menjadi rujukan utama kalangan pengikut tasawuf.[]

*Ditulis untuk Buletin SISWA MTS & MA Al-Khoirot Malang

[1] Teks hadits: قال النبي محمد: إن الله تعالى أمرني أن أزوج فاطمه من علي. Menurut Thabrani sanad hadits ini bisa dipercaya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.