Juwairiyah binti Harits

Juwairiyah binti Harits
Oleh A. Fatih Syuhud

Juwairiyah binti Al-Harits adalah seorang wanita dari suku Bani Musthaliq. Dia seorang perempuan yang berpendidikan dan ahli sastra Arab. Ayahnya bernama Al-Haris bin Abi Dirar adalah kepala suku Bani Mustaliq.Berbeda dengan perkawinan-perkawinan Nabi sebelumnya, pernikahan kali ini bermula dari peperangan antara umat Islam dengan Bani Mustaliq.

Perang Bani Mustaliq terjadi pada 2 Sya’ban tahun 6 hijrah atau Desember 627 Masehi. Umat Islam mencapai kemenangan gemilang dan maksimal dengan korban yang minmal. 200 keluarga kafir ditahan, 200 unta dan 5000 kambing serta sejumlah besar barang rampasan diperoleh. Salah satu yang ditahan adalah putri kepala suku Bani Mustaliq yang bernama Juwairiyah. Tahanan perang akan otomatis menjadi budak.

Aisyah dalam sebuah riwayat menuturkan bahwa Juwairiyah menjadi tahanan dari Sahabat Tsabit bin Qais yang berarti menjadi budaknya Tsabit. Juwairiyah lalu berusaha menebus dirinya sendiri agar menjadi merdeka. Dalam proses untuk menebus dirinya, ia meminta bantuan Rasulullah untuk memerdekakan dirinya dari status sebagai budak Tsabit bin Qais. Nabi bertanya: “Apakah engkau bersedia atas hal itu?” Juwairiyah berkata: “Apa itu ya Rasulullah?” Kata Nabi: “Aku akan menebus pembebasanmu dan aku akan menikahimu.” Juwairiyah berkata: “Saya bersedia.” Maka, terjadilah pernikahan antara Nabi dan Juwairiyah yang merupakan pernikahan Juwairiyah yang kedua. Suami pertamanya adalah sepupunya sendiri yang bernama Musafik bin Sofwan.

Mendengar kabar pernikahan Nabi dengan Juwairiyah, maka para Sahabat yang lain ramai-ramai membebaskan 100 keluarga dari suku Bani Mustaliq yang mereka jadikan tawanan.[1]

Nama asli Juwairiyah adalah Barrah yang lalu diganti oleh Nabi menjadi Juwairiyah. Setelah itu, ayah Juwairiyah datang menghadap Nabi dan mengumumkan masuk Islam. Juwairiyah menikah dengan Nabi pada usia 20 tahun sedangkan Nabi berusia 58 tahun.

Juwairiyah dikenal sebagai sosok yang memiliki sejumlah kualitas yang khas dan istimewa antara lain, pertama, ahli ibadah. Selain ibadah shalat fardhu, dan shalat sunnah, Juwairiyah juga suka bertasbih (membaca subhanallah) sepanjang hari. Rasulullah pernah datang pada pagi hari dan melihat dia sedang bertasbih, dia pergi dan kembali pada siang harinya. Ternyata ia masih tetap dalam posisi yang sama. Nabi lalu memberi bacaan pada Juwairiyah yang keutamaannya sama dengan bacaan tasbih sepanjang hari. Bacaan itu adalah Subhanallah adada kholqihi. Subhanallah zinata arsyihi. Subhanallah ridho nafsihi. Subhanallah midada kalimatihi. Masing-masing bacaan dibaca tiga kali.[2]

Kedua, keilmuan. Juwairiyah juga menghafal sejumlah hadits dari Rasulullah. Ada dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan ada banyak hadits lain yang diriwayatkan oleh para imam hadits seperti Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah. Para Sahabat yang meriwayatkan hadits dari Juwairiyah antara lain Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin Sibaq, Mujahid dan lainnya.

Juwairiyah wafat pada usia 65 tahun pada tahun ke-50 hijrah dan dimakamkan bersama istri-istri Nabi yang lain di Jannatul Baqi dekat Masjid Nabawi Madinah. Walaupun Juwairiyah dikenal sebagai perempuan yang cantik jelita, namun kekhusyu’an dan keilmuannya-lah yang menjadi salah satu pertimbangan utama Nabi untuk menikahinya.[]

[1] Sirah Ibnu Hisyam, 2/295

[2] Hadits riwayat Muslim. Teks asal:

ألا أعلمك كلمات لو عدلن بهن عدلنهن, ولو وَزن بهن وزنتهن -يعني جميع ما سبحت-: سبحان الله عدد خلقه, ثلاث مرات, سبحان الله زنة عرشه, ثلاث مرات, سبحان الله رضا نفسه, ثلاث مرات, سبحان الله مداد كلماته, ثلاث مرات

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.