Perpecahan Umat dan Pemimpin Non-Muslim

Solusi Perpecahan Umat Islam dan Pemimpin Non-Muslim
Perpecahan Umat Islam dalam Politik dan Kontroversi Pemimpin Non-Muslim
Oleh: A. Fatih Syuhud

BAGIAN I: PENGANTAR

Islam Agama Terbaik Sepanjang Zaman

George Bernard Shaw (1856-1950 M), seorang pujangga Inggris, memiliki empati dan kekaguman yang tinggi kepada Islam, khususnya kepada Nabi Muhammad.[1] Dalam buku The Genuine Islam ia memuji Islam setinggi langit sebagai agama yang dapat mengatasi berbagai masalah umat manusia. Ia menyatakan:  “If any religion had the chance of ruling over England, nay Europe within the next hundred years, it could be Islam.” (Seandainya ada suatu agama yang mampu dan berpeluang untuk memerintah Inggris, bahkan seluruh Eropa, pada 100 tahun ke depan, maka pasti itu Islam).[2]

Bernard Shaw juga berpendapat bahwa Islam akan kompatibel untuk segala zaman: “I have always held the religion of Muhammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to possess that assimilating capacity to the changing phase of existence which can make itself appeal to every age.” (Saya selalu menempatkan Islam dalam posisi yang tinggi karena vitalitasnya yang luar biasa. Islam satu-satunya agama yang menurut saya memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan fase perubahan eksistensi yang akan menjadi daya tariknya dalam segala zaman.)[3]

Keagungan Islam, menurut Bernard Shaw, tak lepas dari keagungan Sang Pembawa Risalah itu sendiri. “I have studied him – the wonderful man and in my opinion far from being an anti-Christ, he must be called the Savior of Humanity. I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world he would succeed in solving its problems in a way that would bring it the much needed peace and happiness: I have prophesied about the faith of Muhammad that it would be acceptable to the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today.” (Saya telah mengkaji tentang Nabi Muhammad – sosok luar biasa yang pantas disebut sebagai Penyelamat Kemanusiaan. Saya percaya seandainya figur seperti beliau menjadi penguasa di dunia modern maka ia akan berhasil mengatasi berbagai masalah yang akan berdampak pada perdamaian dan kebahagiaan yang sangat dibutuhkan. Saya memprediksi bahwa Islam akan diterima di Eropa di masa depan sebagaimana ia mulai diterima di Eropa saat ini.)[4]

Kekaguman Bernard Shaw pada Nabi Muhammad semakin dikuatkan dalam sebuah pernyataannya segera setelah Perang Dunia II usai di mana lebih dari 30 juta orang tewas: “If Mohammed was among us now, he would solve all the problems of humanity, while he is having a cup of coffee.” (Seandainya Nabi Muhammad ada di antara kita saat ini, niscaya dia akan dapat menyelesaikan masalah kemanusiaan ini sambil minum secangkir kopi).[5]

Umat Terburuk: Kesenjangan antara Nilai Luhur Islam dan Realitas Umat

“Kedermawanan” George Bernard Shaw dalam memuji Islam dan Nabi Muhammad tidak berlanjut pada umat Islam. Terhadap umat Islam, Shaw sangatlah kritis. Ia dengan lugas menyatakan: “Islam is the best religion and Muslims are the worst followers.” (Islam agama terbaik, dan muslim adalah umat terburuk).”[6]

Apa yang dimaksud Bernard Shaw dengan umat terburuk? Ia tidak menjelaskan secara gamblang. Namun, secara umum dapat dipahami bahwa ada gap atau kesenjangan yang besar antara keluhuran nilai ideal Islam dengan realitas faktual pada umat Islam. Dengan kata lain, umat Islam banyak yang tidak mengamalkan ajaran luhur Islam.  Ketidaksesuaian ajaran luhur Islam dengan perilaku umatnya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

Pertama, aspek karakter dan akhlak universal. Muhammad Abduh (1849-1905 M), seorang ulama pembaharu asal Mesir, saat menghadiri konferensi di Paris, Prancis pada tahun 1881 membuat komentar yang kemudian sangat terkenal: “Saya melihat di Eropa Islam tanpa umat muslim. Sedangkan di negeri kita, saya melihat umat muslim tanpa Islam.”[7] Menurut Hasan Al-Attar, perkataan Muhammad Abduh ini timbul setelah ia melihat secara langsung bahwa di negara-negara Eropa penduduknya saling menghormati satu sama lain, berinteraksi dengan amanah dan kejujuran, saling membantu apabila terjadi musibah yang menimpa tanpa melihat pada asal usul, bahasa, warna kulit dan agama orang yang ditolong. Dari sini, Abduh membandingkan akhlak umat Islam dan masyarakat Eropa. Ia menemukan bahwa bangsa Eropa yang Kristen berakhlak dengan akhlak Islam dalam gaya hidup, perilaku dan berinteraksi. Sedangkan umat Islam sangat jauh dari akhlak Islam. Ironisnya ucapan Muhammad Abduh ini masih relevan sampai hari ini.[8]

Kedua, aspek pendidikan. Islam adalah agama yang sangat memprioritaskan pendidikan dan keilmuan. Wahyu pertama yang turun, yakni Surah Al-Alaq, mengandung perintah untuk membaca.  Dalam QS Al-Mujadalah 58:11 Allah berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Jadi, Islam mensyaratkan dan mengaitkan peningkatan level takwa dan keimanan dengan peningkatan keilmuan.Menurut Al-Razi dan para mufassir lain, inilah makna yang masyhur dari ayat tersebut.[9] Tentu saja yang dimaksud dengan ilmu yang dapat meningkatkan derajat ketakwaan di sini tidak hanya terbatas pada ilmu agama. Karena, ulama sepakat bahwa mengkaji ilmu duniawi yang bermanfaat bagi manusia, seperti kedokteran, matematika, sains, fisika, kimia, pertanian, dan lainnya, hukumnya adalah fardhu kifayah.[10] Sebagaimana fardhu kifayah-nya mengkaji ilmu-ilmu agama secara mendalam.[11]

Kendati perintah untuk menuntut ilmu secara mendalam, baik ilmu agama maupun ilmu umum, diwajibkan dalam Islam dan menjadi nilai utama dalam ajaran Islam, namun perintah ini jarang diamalkan oleh sebagian besar umat. Setidaknya apabila dibandingkan dengan umat lain.  Sebagai contoh, dari 1.6 milyar jumlah muslim di seluruh dunia, kita hanya memiliki kurang dari 300.000 saintis. Itu artinya,  dalam setiap 1 juta  muslim, hanya terdapat 230 ilmuwan. Bandingkan dengan Amerika Serikat, yang memiliki 4.000 ilmuwan per 1 juta penduduk. Itu artinya, Amerika secara total memiliki 1.1 juta ilmuwan. Bandingkan juga dengan Jepang yang dalam 1 juta penduduk terdapat 5.000 saintis. Dengan kata lain, secara total Jepang memiliki 700.000 ilmuwan.[12]

Ketiga, prestasi dan kualitas keilmuan. Walaupun ada sebagian umat Islam yang berpendidikan tinggi sampai tingkat doktoral dan peneliti senior di suatu universitas atau lembaga riset terkemuka, namun jumlahnya tidak banyak. Karena kuantitas yang sedikit, maka sedikit pula yang mencapai prestasi riset gemilang yang diakui dan dapat dibanggakan baik dalam bidang sains maupun ilmu sosial. Saat ini, misalnya, dari 1.6 milyar penduduk muslim di seluruh dunia, hanya 12 ilmuwan dan tokoh muslim yang pernah menjadi pemenang Nobel.[13] Itupun kalau kita bersedia memasukkan Dr. Abdul Salam sebagai muslim karena dia aktivis Ahmadiyah yang cukup aktif.[14] Bandingkan dengan umat Yahudi yang hanya berjumlah 14 juta orang namun memiliki 167 ilmuwan yang meraih penghargaan Nobel.[15]

Adapun 12 ilmuwan, saintis dan tokoh Islam yang memenangkan penghargaan Nobel adalah Mohammad Abdus Salam (Pakistan) untuk bidang fisika. Ahmed Zewail (Mesir) dan Aziz Sancar (Turki) untuk bidang kimia. Naguib Mahfouz (Mesir) dan Orhan Pamuk (Turki) untuk bidang sastra.  Sedangkan Anwar al-Sadat (Mesir),  Yasser Arafat (Palestina), Shirin Ebadi (Iran), Mohamed El Baradei (Mesir), Muhammad Yunus (Bangladesh),  Tawakel Karman (Yaman) dan Malala Yousafzai mendapat penghargaan Nobel di bidang perdamaian.

Keempat, negara terkorup. Islam memerintahkan umatnya untuk hidup jujur dan amanah. Dan secara khusus Islam memerintahkan kepada penguasa untuk bersikap adil dan tidak korupsi. Dalam sebuah hadits riwayat muttafaq alaih Nabi bersabda: “Ada tujuh orang yang akan mendapat perlindungan pada hari kiamat. Salah satunya adalah imam atau penguasa yang adil.”[16] Dalam hadits lain, Nabi bersabda: “Ahli surga itu ada tiga: Penguasa yang adil dan jujur. Orang yang belas kasih pada kerabatnya dan muslim yang menjaga martabatnya.”[17] Sayangnya, perintah syariah yang tegas dan jelas ini tidak atau jarang diindahkan oleh penguasa muslim di negara Islam. Dari 20 besar negara yang relatif paling bebas korupsi, tidak ada satupun negara Islam.  Ke-20 negara tersebut adalah Denmark, Selandia Baru, Finlandia, Swedia, Swiss, Norwegia, Singapura, Belanda, Kanada, Jerman, Luxembourg, Inggris, Australia, Islandia, Belgia, Hong Kong, Austria, Amerika Serikat, Irlandia, Jepang (lihat tabel).[18]

Daftar 20 Besar Negara Bebas Korupsi 2016-2017

Catatan: Semakin besar skor, semakin bersih dan transaparan

Ranking Nama negara / Teritori Skor
1 Denmark 90
1 Selandia Baru 90
3 Finlandia 89
4 Swedia 88
5 Swiss 86
6 Norwegia 85
7 Singapura 84
8 Belanda 83
9 Kanada 82
10 Jerman 81
10 Luxembourg 81
10 Inggris 81
13 Australia 79
14 Islandia 78
15 Belgia 77
15 Hong Kong 77
17 Austria 75
18 Amerika Serikat 76
19 Irlandia 75
20 Jepang 75

Sementara negara Islam atau negara dengan mayoritas penduduknya muslim berada di posisi sebagai negara yang berada di urutan tengah atau bawah. Artinya, berstatus sebagai negara yang agak korup atau sangat korup (lihat tabel).

Daftar Ranking Indeks Persepsi Korupsi Negara Islam[19]

Catatan: Semakin kecil skor, semakin tinggi korupsinya

Ranking Nama Negara Skor
24 Uni Emirat Arab (UEA) 66
31 Qatar 61
41 Brunei 58
55 Malaysia 49
57 Yordania 48
62 Saudi Arabia 46
64 Oman 45
70 Bahrain 43
75 Kuwait 41
75 Tunisia 41
75 Turki 41
83 Albania 39
83 Bosnia Herzegovina 39
90 Indonesia 37
90 Maroko 37
95 Kosovo 36
95 Maladewa 36
108 Aljazair 34
108 Mesir 34
116 Pakistan 32
123 Azerbaijan 30
131 Iran 29
131 Kazakhstan 29
136 Kyrgyzstan 28
136 Lebanon 28
142 Mauritania 27
145 Bangladesh 26
151 Tajikistan 25
154 Turkmenistan 22
156 Uzbekistan 21
166 Irak 17
169 Afghanistan 15
170 Libya 14
170 Sudan 14
170 Yaman 14
173 Suriah 13
176 Somalia 10

Kelima, aspek kualitas lembaga pendidikan. Ketertinggalan umat Islam di berbagai bidang strategis, sebagaimana disebut di atas, sebagian di antaranya berawal dari kualitas lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar  sampai dan terutama level perguruan tinggi. Survei yang di lakukan oleh The Times Higher Education menunjukkan bahwa 200 universitas terbaik dan terkemuka di dunia didominasi oleh sejumlah universitas di Amerika, Eropa, Australia dan sebagian kawasan negara Asia non-muslim seperti Korea, Jepang dan China. Tidak ada satupun yang berasal dari negara mayoritas Islam.[20] Ini membuat sumber daya manusia (SDM) muslim kurang kompetitif dalam kompetisi global baik dalam dunia inovasi, entrepreneurship, manajerial dan pekerjaan.  Padahal, kalau umat Islam betul-betul komitmen dengan ajaran Islam yang sangat mementingkan dunia pendidikan dan amanah serta adil dalam kepemimpinan, maka mendirikan lembaga pendidikan tinggi berkelas dunia tidak akan sulit. Negara kecil Singapura saja mampu melakukan itu.[21]

Keenam, mudah percaya isu. Dalam QS Al-Hujurat 49:6 Allah mengingatkan seorang muslim untuk tidak mudah percaya pada suatu berita sebelum melakukan tabayun atau klarifikasi.[22] Inilah yang dilakukan para perawi hadits dalam menerima riwayat hadits. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam sering mudah menerima berita yang belum tentu benar tanpa melakukan cek dan ricek. Ironisnya, bukan hanya kalangan muslim awam saja yang mudah percaya pada isu yang belum tentu benar itu. Sebagian ulama pada kasus-kasus tertentu bersikap sama. Ini yang membuat umat mudah terprovokasi dan diekspolitasi oleh kalangan tertentu yang menjadikan keluguan umat untuk kepentingan mereka.

Melihat enam poin kesenjangan antara keluhuran ajaran Islam dan realitas umat sebagaimana disebut di atas, maka pernyataan George Bernard Shaw bahwa muslim adalah umat terburuk sama sekali tidak berlebihan.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply