Menjadi Santri Penerus Era Keemasan Islam

Menjadi Santri Penerus Era Keemasan Islam
Menjadi Santri Penerus Era Keemasan Islam
Oleh: A. Fatih Syuhud

Pengantar

Kalau ada yang berharap akan terjadinya kebangkitan Islam dari segi pencapaian keilmuan dan kembalinya Islam ke era keemasan, maka harapan terbesar sangat wajar apabila dibebankan ke pundak para santri sebagai individu, dan kepada pesantren sebagai lembaga tempat santri mencari berbagai macam ilmu.

Ada beberapa alasan mengapa santri dan pesantren dapat menjadi lembaga yang paling mumpuni untuk menjadi institusi yang dapat mengangkat reputasi umat di mata dunia: pertama, pesantren sebagai tempat penggodokan santri adalah lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajar santri pada saat jam sekolah saja. Pesantren mendidik santri selama 24 jam non-stop.

Kedua, ilmu yang diajarkan di pesantren bukan hanya tentang ilmu agama dan ilmu umum, tapi juga pendidikan karakter.  Hal yang tidak terjadi di lembaga pendidikan lain.

Ketiga, etos belajar yang tinggi. Dalam pesantren, santri tidak hanya belajar pendidikan formal dan pendidikan agama, tapi juga berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga, hal ini berakibat tingginya etos belajar santri dibanding pelajar non-santri.

Dengan adanya tiga kelebihan di atas, maka tidak heran apabila santri memiliki kemampuan all rounder  atau serba bisa. Multiskill-nya santri bisa dilihat dari ilustrasi berikut:

Suatu hari seorang santri yang mendapat amanah menjabat sebagai pegawai KUA (Kantor Urusan Agama) diundang acara walimatul arus di rumah mempelai perempuan. Sesampai di rumah, semua undangan sudah siap, mempelai laki-laki juga siap. Rencananya wali nikah akan mewakilkan pada pegawai KUA untuk menikahkan. Namun sayangnya, ada beberapa undangan yang tidak hadir padahal mereka cukup penting dalam acara ini: pembawa acara (MC), qari’, dan penceramah tidak ada yang hadir. Untunglah pegawai KUA-nya seorang santri. Maka, semua tugas mulai dari MC, qari, khutbah nikah, wali nikah, ceramah agama dan sekaligus doa penutup diborong semua. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh pegawai KUA yang bukan keluaran pesantren.

Tantangan Santri dan Pesantren

Sebagai generasi muda yang terdidik dengan pendidikan yang multidimensi sejak awal, maka  adalah wajar apabila santri semestinya mendominasi berbagai macam profesi dan posisi di berbagai sektor. Baik sektor swasta maupun pemerintahan. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Minimnya Peran Santri di Sektor Profesi

Selama puluhan tahun profesi santri sekeluarnya dari pesantren umumnya hanya terfokus pada sektor swasta dan pertanian. Sektor swasta dimaksud meliputi perdagangan, pendidikan, termasuk pendirian pesantren baru atau meneruskan yang lama, buruh, perangkat desa, tabib, dan mubaligh Jarang lulusan pesantren yang berkarir di lembaga negara baik sipil maupun militer termasuk di perusahaan swasta sebagai eksekutif profesional Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Anti Pendidikan Formal. Sebelum tiga dekade terakhir banyak pesantren tidak memiliki pendidikan formal. Pesantren didirikan pada awalnya dengan sistem salaf murni yang hanya mengkaji ilmu agama dengan sistem bandongan dan wetonan. Sistem ini kemudian direformasi dengan sistem kelasikal yang dikenal dengan sebutan madrasah diniyah (madin) dengan tetap mempertahankan sistem pengajian tradisional. Sistem salaf murni ini tidak mengeluarkan ijazah yang diakui pemerintah sehingga keluaran santri salaf tidak bisa berkontribusi di sektor profesional seperti lembaga pemerintahan dan swasta. Padahal, secara kualitas keilmuan, lulusan santri salaf tidak kalah dengan keluaran sarjana S1 lulusan IAIN atau UIN, untuk tidak mengatakan lebih pintar.
  2. Anti Kekuasaan. Dulu, ada anggapan di kalangan pesantren bahwa masuk ke dalam pemerintahan dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau militer merupakan sesuatu yang tabu. Umumnya, pesantren dengan sengaja menjaga jarak dari kekuasaan. Semakin lebar jarak yang dijaga, maka semakin tampak naik gengsi pesantren yang bersangkutan.[1] Cara berfikir seperti ini secara alamiah diikuti oleh santri. Mindset semacam ini memiliki kontribusi cukup signifikan atas langkanya para santri menempati profesi di lembaga negara. Di samping faktor yang lain.
  3. Anti Menyerupai Orang Kafir. Santri juga merasa risih dan asing untuk menempuh karir sebagai orang kantoran, baik sektor formal maupun informal, yang kesana kemari harus berdasi dan memakai jas rapi ala profesional di Barat. Ini tak lepas dari cara berfikir santri di era penjajahan. Di mana pada saat itu ditekankan bahwa santri sebagai muslim harus menjaga jarak dengan kaum penjajah Barat yang Kristen, dan jangan bersikap dan bergaya seperti mereka. Di sebagian pesantren zaman dulu, bahkan belajar bahasa Inggris pun termasuk perbuatan tercela karena dianggap menyerupai orang kafir.[2]
  4. Level Pendidikan Rendah. Jabatan penting di sektor swasta dan negeri memiliki kualifikasi. Untuk posisi sales saja setidaknya harus D3. Sedangkan untuk kepala bidang atau manajer minimal harus S1. Untuk perusahaan multinasional bahkan mensyaratkan gelar S2 atau S3 dengan jurusan tertentu, terkadang juga harus lulusan dari universitas tertentu pula. Dan ini menjadi masalah bagi sebagian santri karena tidak memenuhi persyaratan yang diperlukan.

Ruang Lingkup Dakwah Menjadi Terbatas

Dengan terbatasnya ruang gerak santri di bidang profesi pada era Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba), maka menjadi terbatas pulalah dakwah yang disebarkan. Ruang lingkup dakwah santri menjadi terpusat di kawasan pedesaan searah dengan ruang lingkup pekerjaan mereka. Sementara itu, kawasan perkotaan menjadi kosong dari dakwah Islam. Atau, kalau ada pun dakwah di kawasan urban ini, maka pelakunya bukan mereka yang berasal dari pesantren.[3] Keterbatasan lingkup dakwah di lingkungan kota membuat pengaruh santri dan pesantren kurang tampak signifikan terutama dalam konteks penentuan kebijakan, karena:

  1. Kalangan elite seperti pembuat kebijakan, politisi, pengusaha kelas kakap, eksekutif, profesional dan kalangan kelas menengah tinggal di kota.
  2. Kalangan urban (perkotaan) adalah mayoritas penduduk Indonesia. Menurut Sonny Harry B Harmadi, Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan diperkirakan telah mencapai 54 persen, sedangkan sisanya yang 46 persen adalah penduduk pedesaan.[4] Sementara itu, pada tahun 2045 diperkirakan pendudukan perkotaan akan mencapai 70 persen.[5]

Kurangnya pengaruh pesantren pada kalangan perkotaan menjadi salah satu sebab utama kurangnya perhatian pembuat kebijakan, yakni pemerintah dan DPR, terhadap lembaga pesantren. Sehingga pesantren kurang diakui peran dan kontribusinya terhadap pembangunan sumber daya manusia di Indonesia dan kurang mendapat apresiasi yang semestinya.

Evolusi Pesantren Pasca Reformasi

Satu dekade sebelum Reformasi, yakni sekitar 1980-an, banyak pesantren yang mulai mereformasi sistem pendidikannya. Yang dulunya memakai sistem salaf murni saat ini sudah memperkenalkan pendidikan formal ke dalam pesantren.[6]

Hal yang mendorong para pengasuh pesantren salaf membuat kebijakan baru ini tentu bermacam-macam antara lain:

  1. Pesantren salaf murni semakin dikurangi peminat. Tidak jarang sampai tutup sama sekali. Dalam konteks ini, perubahan dari salaf ke modern adalah langkah strategis untuk bertahan. Ini terutama terjadi pada pesantren salaf yang belum begitu besar dan belum tersistem dengan baik dari segi kualitas dan manajerial.[7]
  2. Untuk memancing kalangan masyarakat yang asalnya tidak suka pesantren karena tidak ada pendidikan formalnya agar mau memondokkan anaknya.
  3. Pesantren dengan sadar bersikap pragmatis untuk tujuan jangka panjang yang lebih luas yaitu dalam rangka memberikan santri akses dan kesempatan menuju tujuan yang lebih jauh ke depan. Agar santri dapat memaksimalkan potensi dirinya bukan hanya saat ini, tapi juga di saat yang akan datang. Agar santri dapat melanjutkan studi ke level strata yang tertinggi. Agar santri dapat berinteraksi dengan berbagai komunitas dari level bawah sampai level elite sehingga dakwah Islam Aswaja semakin menyebar ke berbagai lapisan kehidupan umat.

Apapun tujuannya, perubahan ini membawa hikmah yang besar bagi santri. Banyak santri lulusan SLTA (MA, SMA, SMK)  dapat  melanjutkan studi mereka sampai jenjang perguruan tinggi S1 bahkan sampai S3. Dan sebagian lulusannya bersamaan dengan awal mula era Reformasi. Angin perubahan dari sistem diktator (pseudo democracy) menjadi sistem demokrasi yang riil membuat berbagai peluang karir semakin terbuka bagi siapa saja tak terkecuali santri. Peluang karir di berbagai sektor, pemerintahan maupun swasta, menjadi terbuka lebar. Dan peran santri pun mulai tampak di berbagai aktivitas penentu kebijakan seperti di legislatif dan eksekutif walaupun pertumbuhnnya masih tampak agak lambat.

Salah satu penyebabnya adalah doktrin sufistik masa lalu yang mencela jabatan dan cenderung berpasrah diri akan kehidupan yang fana ini membuat reformasi pendidikan pesantren tidak berbanding lurus dengan timbulnya perubahan pada pola pikir santri. Tidak sedikit santri yang cukup merasa puas apabila telah mencapai pendidikan sarjana S1. Bahkan banyak pula yang hanya sampai tingkat SLTA. Ini menjadi salah satu tantangan tidak ringan bagi pesantren: bagaimana merubah pola pikir (mindset) santri dan orang tua mereka agar memiliki greget dan motivasi tinggi dalam menuntut ilmu dan konsekuensi logis darinya. Pesantren harus memiliki visi besar agar santri memiliki komitmen pada ilmu pengetahuan dan ambisi yang benar dalam menjangkau profesi yang diinginkan.

Menatap ke Depan  Menuju Santri Multidimensi

Pintu kemajuan semakin terbuka lebar bagi santri begitu juga pintu peluang untuk memaksimalkan kapasitas diri mengejar ketertinggalan. Namun, puluhan tahun indoktrinasi sufistik yang kurang tepat konteks penyampaiannya membuat  adrenalin[8] santri dalam kondisi hibernasi.[9] Untuk itu, tugas pesantren tidak hanya merubah sistem pendidikan, tapi juga mereformasi pendekatan yang digunakan. Reformasi sistem pendidkan pesantren dan pendekatan pola pikir baru bagi santri.

Pendekatan Baru Santri Melihat Dunia

Kemajuan harus dimulai dari mindset (pola pikir). Sosok yang memiliki pencapaian tinggi di bidangnya pasti sudah memiliki cita-cita, harapan dan rasa percaya diri untuk mencapainya sejak masa-masa awal ia memulai tahapan pendidikannya. Oleh karena itu, stake holder pesantren, mulai dari pengasuh, asatidz dan pengurus, perlu melakukan langkah berikut untuk mengarahkan santri pada suatu kesamaan visi yang baru:

  1. Mengkampanyekan pemahaman baru bahwa saat ini komunitas santri khususnya dan umat Islam umumnya jauh tertinggal dari umat lain dalam berbagai bidang. Mulai dari segi pencapaian keilmuan, inovasi teknologi, posisi karir di pemerintahan atau swasta, dan lain-lain.[10] Dan tugas generasi sekarang untuk mengejar ketertinggalan ini sebagai upaya, antara lain, untuk terbukanya peluang dakwah yang semakin luas. Habib Umar bin Hafidz, pengasuh Ma’had Darul Mustofa Yaman, menyerukan santrinya agar berkarir di berbagai jenis pekerjaan yang halal dan berdakwah di sana secara diam-diam.[11]
  2. Bahwa seseorang itu baru disebut ilmuwan (saintis) dengan kualifikasi pakar apabila secara akademis mencapai level minimal S3 atau doktor. Dan setiap santri hendaknya dan setidaknya mempunyai cita-cita dan tujuan ke arah sana. Bahwa di perjalanan tidak dapat mencapai tujuan itu soal lain.
  3. Bahwa mencari ilmu sampai level tertinggi menjadi keharusan syariah (fardhu kifayah). Dan ilmu yang dicari pada level tingkat tinggi tidak harus ilmu agama.[12]
  4. Menuntut ilmu umum dan agama sama-sama mulianya asalkan dengan satu tujuan yaitu untuk meningkatkan iman, meningkatkan akhlak, dan mencapai kemanfaatan setinggi-tingginya bagi diri sendiri, bagi umat Islam khususnya dan umat manusia ummnya.[13]
  5. Bahwa menuntut ilmu sampai level tertinggi bukan untuk mengejar jabatan duniawi. Walaupun tidak akan menolak amanah ketika kesempatan itu diberikan.[14]

Reformasi Pesantren

Sebagaimana disinggung di muka, pesantren salaf telah banyak mereformasi diri dengan membuka pendidikan formal tapi tetap mempertahankan ciri khas sistem pendidikan salaf yaitu pengajian kitab oleh pengasuh atau para asatidz dan madrasah diniyah.[15] Hal ini sesuai dengan prinsip Aswaja “menjaga nilai lama yang baik, dan mengambil nilai baru yang lebih baik.” Pendidikan yang ada sampai saat ini meliputi level SD/MI, SLTP, SLTA. Ada sebagian pesantren yang sudah memiliki perguruan tinggi seperti PP Nurul Jadid dan PPMU Bata-bata. Kendatipun demikian, ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan untuk evaluasi dan pertimbangan ke depan ketika pesantren sudah siap secara finansial dan SDM (Sumber Daya Manusia)-nya:

  1. Jurusan agama dan umum. Perguruan tinggi pesantren hendaknya tidak hanya menitikberatkan pada jurusan agama. Tapi juga ilmu umum meliputi sains dan ilmu sosial. Memang, membuka fakultas sains tidak mudah dan membutuhkan biaya tinggi. Namun, setidaknya itu bisa menjadi rencana jangka panjang pesantren. Sains yang dimaksud di sini adalah sains aplikatif (applied science) seperti teknologi, teknik, kedokteran, bisnis atau invensi.[16] Namun dalam jangka yang lebih panjang lagi, tidak ada salahnya mentargetkan pengkajian sains murni (natural science) sebagai bagian dari bidang studi yang dikaji secara serius.[17]
  2. Program Pascasarjana. Pesantren yang sudah memiliki perguruan tinggi hendaknya memikirkan untuk membuka program pascasarjana untuk level S2 dan S3. Sehingga, dari lembaga ini akan lahir ulama dan saintis yang memiliki reputasi nasional bahkan internasional. Sebagaimana disebut di muka, kepakaran itu dimulai minimal setelah lulus S2 dan umumnya setelah S3.
  3. Lembaga Riset. Sebagai institusi yang memfokuskan diri pada pendidikan dan keilmuan, maka adanya lembaga riset menjadi suatu keharusan. Lembaga riset ini berfungsi untuk mewadahi penelitian berbagai keilmuan. Pesantren bisa memulainya dengan penelitian ilmu yang paling dikuasai yaitu ilmu agama di berbagai bidang studi. Dalam pusat riset biasanya tak lepas dari aktivitas kajian dan keilmuan seperti penerjemahan, penerbitan hasil riset, dan yang tak kalah penting dalam ilmu sosial adalah perpustakaan yang lengkap. Menarik untuk dicatat, bahwa pada abad pertengahan, pembangunan pusat riset  dipeolopori oleh intelektual muslim. Di mana pada saat itu, telah dibangun sejumlah observatorium astronomi. Yang pertama pada abad kesembilan dibangun di Baghdad pada masa Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun. Pusat riset paling terkenal dibangun pada abad ke-13 yaitu observatorium Maragheh, dan pada abad ke-15 observatorium Ulugh Beg.[18]

Mampukah Santri Mengembalikan Masa Kejayaan Islam?

Ada beberapa indikator tentang apakah santri mampu mengembalikan masa kejayaan Islam. Dalam konteks Indonesia hal itu bisa ditengarai setidaknya dalam tiga hal:

  1. Apabila mayoritas santri memiliki semangat juang yang tinggi untuk menempuh studi di berbagai bidang keilmuan, tidak hanya ilmu agama, yang mereka pilih sampai pada level tertinggi (S3 atau doktoral). Dan diterima di berbagai universitas ternama di Indonesia dan luar negeri.[19]
  2. Apabila mayoritas santri, dengan kualifikasi keilmuannya yang kompetitif dapat mengisi dan mendominasi jabatan publik di pemerintahan (eksekutif, yudikatif, legislatif) dan swasta (sebagai profesional di perusahaan besar) yang saat ini banyak didominasi oleh kelompok lain (non-santri atau non-muslim). Apabila ini terjadi, maka pesantren akan semakin diperhatikan oleh negara secara khusus dan kalangan elite secara umum. Karena kalangan pembuat kebijakan berasal dari mereka. Berbeda dengan yang terjadi saat ini, di mana santri sangat sedikit yang berada di dalam kekuasaan sehingga institusi pesantren seperti dianaktirikan kecuali pada masa pemilu.
  3. Apabila sebagian santri yang memilih bidang applied dan natural science bersedia mengorbankan waktunya untuk berkarir di penelitian dan bergabung dengan kalangan periset top dunia di pusat-pusat penelitian sains terkenal seperti Princeton University, Standford University, Harvard University, University of Chicago, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan lain-lain.[20] Kelak, ilmuwan-ilmuwan seperti mereka dapat dijadikan sebagai mentor di lembaga riset serupa di Indonesia. Baik di perguruan tinggi milik pesantren atau bukan.
  4. Apabila santri Aswaja sudah “menguasai” kota secara profesi dan penyebaran dakwah. Mengapa soal ini menjadi salah satu indikator kebangkitan Islam dalam keilmuan, karena keilmuan hanya dapat berkembang pesat dalam lingkungan agama yang toleran pada perbedaan. Dan itu hanya ada pada Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
  5. Apabila negara dapat mengalokasikan dana besar untuk riset dan penelitian di setiap universitas pada setiap tahunnya. Dan santri sebagian dari akademisi di kampus tersebut dapat memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin
  6. Apabila pesantren yang memiliki perguruan tinggi hingga level doktoral memiliki dana cukup setiap tahunnya untuk kegiatan riset para penelitinya. Peneliti biasanya berasal dari mahasiswa progran S3 atau yang sudah selesai S3 (post doctoral).
  7. Apabila sebagian besar santri menghindari high politics.

Hadiah Nobel untuk Santri, Mungkinkah?

Seandainya penghargaan bergengsi keilmuan seperti Nobel sudah ada pada era abad pertengahan (abad kedelapan sampai abad ke-15 Masehi), maka niscaya akan banyak ilmuwan muslim yang memperoleh penghargaan tersebut. Karena, antara tahun 800 sampai 1429 masehi, ilmuwan muslim begitu mendominasi aktivitas keilmuan. Apa penyebab antusiasme ilmuwan muslim pada saat itu? Menurut Abdus Salam, setidaknya ada empat faktor pendorong[21]:

  1. Pengamalan ajaran agama. Banyak ayat Al-Quran dan sabda Nabi yang sangat menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu. Baik ilmu agama maupun umum.
  2. Keterlibatan negara. Negara Islam pada saat itu sangat mendukung tumbuhkembangnya para ilmuwan. Uang yang dikeluarkan untuk membiayai Gerakan Penterjemahan diperkirakan dua kali lipat lebih besar dari yang dikeluarkan untuk biaya tahunan Dewan Riset Medis di Inggris.[22] Biaya riset yang besar berdampak positif pada penghasilan para penelitinya juga. Salah satu ilmuwan dan penerjemah ternama seperti Hunain bin Ishaq konon digaji sama dengan pendapat atlet profesional pada saat ini.[23] Perpustakaan Baitul Hikmah yang terkenal itu dibangun oleh Khalifah Al-Mansur dari dinasti Abbasiyah.[24]
  3. Terbuka pada budaya lain. Dalam periode ini, umat Islam menunjukkan semangat dan kemauan yang luar biasa untuk mengadopsi ilmu pengetahuan dari bangsa-bangsa yang ditaklukkan. Banyak karya klasik diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia, India, China, Mesir kuno ke dalam bahasa Arab dan Persia, berikutnya diterjemahkan ke bahasa Turki, Ibrani dan Latin.[25] Itulah sebabnya saya katakan di muka bahwa kalau muslim era milenial ini ingin mengulang kejayaan masa lalu, maka Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang hendaknya dianut oleh mayoritas muslim. Karena hanya madzhab Aswaja yang memahami Islam secara moderat, toleran dan tidak menganut kebenaran tunggal. Sehingga membuka ruang bagi aliran yang berbeda dan berbagai macam fenomena keilmuan.
  4. Teknologi baru. Munculnya teknologi kertas yang berasal dari China pada abad kedelapan dan Andalusia Spanyol pada abad ke-10 semakin mempermudah dan meningkatkan produktifitas para ilmuwan.[26]

Dari empat faktor di atas, maka muncullah para ilmuwan muslim berkaliber internasional yang namanya masih diingat sampai saat ini. Mereka dikenal bukan hanya karena ketekunan dan komitmennya yang tinggi pada sains, tapi juga karena inovasi, penemuan, terobosan dan orisinalitas karya-karyanya. Dan itu tidak bisa dilakukan oleh ilmuwan yang levelnya di bawah S3 atau doktoral (dalam istilah sekarang).  Berikut beberapa di antara ilmuwan muslim yang dianggap sebagai perintis dari bidang ilmu tertentu. Julukan diberikan oleh ilmuwan Barat:

  1. Ibnu Sina (Avicenna) sebagai “bapak kedokteran modern”
  2. Abu al-Qasim al-Zahrawi atau Abulcasis (sebutan di Barat) dijuluki “bapak operasi modern (bidang kedokteran).”
  3. Muhammad ibn Zakariya al-Razi (Razhes) mendapat julukan “bapak pediatrik” dan “pendiri pengobatan klinis dalam Islam”.
  4. Alhazen dianggap sebagai “bapak optik modern”, “bapak optik fisiologi”, dan “bapak semua ilmu optik.”
  5. Ibnu Khaldun dianggap sebagai “bapak sosiologi, historiografi dan ekonomi modern”.
  6. Al-Biruni dikenal sebagai “bapak indologi (perintis masalah India)”, dan “antropolog pertama”, “bapak studi perbandingan dalam budaya manusia”, dan “bapak farmasi Islam”.
  7. Al-Farabi dijuluki “bapak Neoplatonisme Islam”, “bapak logika formal di dunia Islam”, dan “bapak filosofi peripatetik Islam”.
  8. Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi dijuluki “bapak bahasa dan Arudh”.
  9. Al-Khawarizmi dijuluki sebagai “bapak aljabar”.[27]
  10. Al-Kindi dijuluki sebagai “bapak filsafat Islam/Arab”.
  11. Ibnu Rushd (Averroes) dijuluki sebagai “bapak rasionalisme” dan “pendiri pemikiran sekular di Eropa Barat”.
  12. Jabir ibnu Hayyan dijuluki “bapak alkemia dan kimia”
  13. Ibnu Hazm dijuluki sebagai “bapak sains dan perbandingan agama”.
  14. Muhammad Al-Syaibani “pendiri hukum internasional muslim”.
  15. Suhrawardi “pendiri madzhab iluminasionis filsafat Islam”.[28]

Pertanyaan besarnya sekarang: dapatkah santri membangkitkan tradisi keilmuan di Era Keemasan Islam tersebut? Jawabannya tergantung dari kemauan kuat para santri dan ulama pengasuh pesantren untuk merubah paradigma sufistik yang selama ini banyak dianut.[]

Further Reading

  1. Fatih Syuhud, Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam, Pustaka Al-Khoirot, 2008.

Bianca J. Smith & Mark Woodward, Gender and Power in Indonesian Islam: Leaders, feminists, Sufis and pesantren selves, Routledge; 1st edition (August 28, 2013)

Florian Pohl & Wolfram Weisse, Islamic Education and the Public Sphere: Today’s Pesantren in Indonesia, Waxmann Verlag GmbH, Germany (November 24, 2009).

  1. M Yacub, Pondok pesantren dan pembangunan masyarakat desa, Angkasa (1985)

Karel Adriaan Steenbrink, Pesantren, madrasah, sekolah: Pendidikan Islam dalam kurun moderen, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (1986)

  1. Dawam Rahardjo, Pesantren Dan Pembaharuan, LP3ES, (1974)

Nasaruddin Umar, Rethinking Pesantren, Elex Media Komputindo (April 14, 2014)

Raihani PhD, Curriculum Construction in the Indonesian Pesantren: A Study of Curriculum Development in Two Different Pesantrens in South Kalimantan, LAP Lambert Academic Publishing (May 18, 2009)

Robert Kingham, The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia, Community development, Berlin, (1988).

Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, Arizona State Univ Program for (May 31, 1999).

Catatan Akhir:

[1] Sebagai justifikasi sikap ini maka pandangan Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin dijadikan acuan. Dalam bab “Kitab Dzam Al-Jah wal Al-Riya”  Imam Ghozali mengelaborasi secara luas tentang tercelanya menduduki jabatan di pemerintahan. Santri salaf dulu memaknai kecaman Al-Ghazali ini sebagai tercelanya jabatan di pemerintahan secara mutlak. Padahal baik dan buruk harus dilihat dari kisi-kisi syariah: seberapa jauh syariah itu dipatuhi atau dilanggar.  Sebagian santri lupa bahwa di bab yang sama Imam Ghazali menjelaskan bahwa menduduki jabatan itu ada juga yang terpuji yakni apabila menjadikan jabatan itu sebagai sarana dakwah, bukan sebagai tujuan.

[2] Ini cara santri memaknai hadits “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk di antara mereka.” (Hadits sahih riwayat Ibnu Hibban).

[3] Tentu saja yang dimaksud pesantren di sini adalah pesantren NU. Bukan pesantren non-NU yang saat ini banyak muncul.

[4] Kompas.com, Edisi 23/08/2012. Melihat dari tren yang ada, saat ini jumlah penduduk perkotaan di Indonesia kemungkinan meningkat dari hasil survei ini.

[5] Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pada 2045 jumlah penduduk diprediksikan 360 juta jiwa dan sekitar 220 juta jiwa akan menempati kota besar. Lihat, Detik.com, edisi 26 Sep 2017.

[6] Tulisan ini khusus membahas pesantren salaf murni yang berevolusi menjadi pesantren semi modern. Bukan pesantren yang sejak awal menganut sistem modern.

[7] Pesantren salaf murni dan besar seperti Sidogiri, Langitan, Ploso dan Lirboyo masih dapat bertahan dengan kesalafannya dan tetap menarik ribuan santri setiap tahunnya.

[8] Adrenalin (bahasa Inggris: adrenaline, epinephrine) adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Istilah ini sering dipakai dengan konotasi maka semangat yang sangat tinggi dan berkobar-kobar.

[9] Hibernasi atau rahat adalah kondisi ketakaktifan dan penurunan metabolisme pada hewan yang ditandai dengan suhu tubuh yang lebih rendah. Periode tidur panjang untuk menghemat energi. Tubuh melambat, lalu pernapasan, suhu, dan tingkat metabolisme serta detak jantung menurun.  Makna kedua: orang yang kurang punya semangat hidup.

[10] Ketertinggalan umat Islam di bidang keilmuan dapat dilihat dari sedikitnya peraih penghargaan Nobel bidang sains yang berasal dari ilmuwan muslim. dari 1.6 milyar penduduk muslim di seluruh dunia, hanya 12 ilmuwan dan tokoh muslim yang pernah menjadi pemenang Nobel.[13] Bandingkan dengan umat Yahudi yang hanya berjumlah 14 juta orang namun memiliki 167 ilmuwan yang meraih penghargaan Nobel. Lihat, A. Fatih Syuhud “Perpecahan Umat” Link: http://www.fatihsyuhud.net/perpecahan-umat-dan-pemimpin-non-muslim/

[11] New York Times edisi 14 Oktober 2009 menulis biografi singkat Habib Umar bin Hafidz. Salah satu pernyataan Habib disimpulkan sbb: “Mr. Omar encourages them to pursue careers and spread their beliefs quietly rather than becoming religious scholars.” (Habib Umar mendorong para santrinya untuk meniti karir [di bidang non-agama] dan menyebarkan dakwah secara diam-diam [itu lebih baik] dibanding menjadi tokoh agama)

[12] Ibnu Muflih Al-Maqdisi, dalam Al-Adab Al-Syar’iyah, hlm. 2/483 menegaskan bahwa: علم الحساب والطب والفلاحة فرض على الكفاية (Belajar ilmu matematika, kedokteran, pertanian itu hukumnya fardhu kifayah).

[13] Anjuran untuk mempelajari sains dalam rangka lebih dekat pada Sang Maha Pencipta alam semesta dapat dilihat antara lain pada QS Al-Baqarah 2:164; Thaha 20:114; Al-Jatsiyah 40:13; Ar-Rum 30:22.

[14] Yang dicela oleh Imam Ghazali adalah hubbul jah atau gila jabatan. Dalam arti, mengejar jabatan semata-mata untuk kekuasaan dan kemegahan diri  dengan menghalalkan segala cara. Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, 3/80 menyatakan: القدر الذي يتوصل به إلى جلب الملاذ ودفع المضار معلوم كالمحتاج إلى الملبس والمسكن والمطعم أو كالمبتلي بمرض أو بعقوبة إذا كان لا يتوصل إلى دفع العقوبة عن نفسه إلا بمال أو جاه فحبه للمال والجاه معلوم إذ كل ما لا يتوصل إلى المحبوب إلا به فهو محبوب (… Senang harta dan jabatan dengan tujuan mencapai perkara yang terpuji, maka harta dan jabatan itu juga menjadi terpuji.)

[15] Walaupun ada sebagian pesantren salaf yang melakukan perombakan total dan meninggalkan sistem pendidikan salaf, namun kebanyakan pesantren salaf masih tetap mempertahankan ciri khas ini. Beberapa di antaranya seperti PPMU Bata-bata, PPDU Banyuanyar, PP Salafiyah Sukorejo,  PP Temboro Magetan, PP Al-Khoirot Malang, dll.

[16] Sains aplikatif adalah disiplin ilmu sains yang menggunakan pengetahuan saintifik untuk mengembangkan aplikasi yang lebih praktis, seperti teknologi, teknik, kedokteran, bisnis atau invensi.

[17] Natural science atau ilmu alam dapat dibagi ke dalam dua cabang ilmu yaitu life science atau ilmu biologi dan ilmu fisika. Ilmu fisika dibagi lagi ke dalam beberapa cabang yaitu fisika, ilmu antariksa, kimia dan ilmu tanah (Earth science).

[18] E. S. Kennedy (1962), Reviewed Work: The Observatory in Islam and Its Place in the General History of the Observatory by Aydin Sayili

[19] Kalangan suku Batak, baik Batak Karo, Toba atau Tapanuli Selatan, dikenal sejak dulu memiliki antusiasme yang sangat tinggi dalam mengejar hasrat keilmuan. Cita-cita mereka sejak sekolah adalah dapat diterima kuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia seperti ITB, UI dan UGM, dan lain-lain. Dan mereka mempersiapkan hal itu dengan serius. Tidak heran apabila banyak jabatan eksekutif di pemerintahan dan swasta didominasi mereka.

[20] Kelima universitas tersebut memiliki pusat riset sains terbaik versi majalah Forbes edisi 3 Agustus 2011

[21] Abdus Salam, Renaissance of Sciences in Islamic Countries, hlm. 9.

[22] “In Our Time – Al-Kindi, James Montgomery”. bbcnews.com. 28 Juni 2012

[23] ibid

[24] Sonja Brentjes; Robert G. Morrison (2010). “The Sciences in Islamic societies”. The New Cambridge History of Islam. 4. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 569.

[25] Vartan Gregorian, “Islam: A Mosaic, Not a Monolith”, Brookings Institution Press, 2003, hlm. 26–38

[26] “In Our Time – Al-Kindi, James Montgomery”. bbcnews.com. 28 Juni 2012

[27] Gandz and Saloman (1936), The sources of Khwarizmi’s algebra, Osiris i, hlm. 263-77

[28] Kraemer, Joel L. (2010). Maimonides : the life and world of one of civilization’s greatest minds. Doubleday. hlm. 204

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply