Jihad dalam Islam (2): Jihad Kecil

Jihad perang adalah jihad kecil

Jihad dalam Islam (2): Jihad Perang itu Jihad Kecil
Oleh: A. Fatih Syuhud

Sebagaimana disebut dalam sebuah hadits, jihad perang termasuk dalam kategori jihad kecil apabila dibandingkan dengan jihad memerangi diri sendiri: melawan keangkuhan, menahan kesombongan, menundukkan rasa malas, dan lain-lain yang merupakan jihad besar.[1] Namun demikian, jihad kecil ini tetaplah menjadi bagian penting dalam Islam pada saat yang diperlukan. Oleh karena itu, banyak ayat dan hadits yang mendorong umat Islam untuk berjihad perang.[2] Misalnya, QS At-Taubah 9:73 Allah berfirman, “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.”[3] Ayat ini menurut Al-Baghawi dalam Tafsir-nya adalah perintah jihad perang.[4] Dalam konteks inilah, maka ulama fiqih membuat definisi jihad dan aturan berjihad.

Definisi Jihad Perang

Ulama dari madzhab empat mendefinisikan jihad perang melawan kaum kafir sebagai berikut: Al-Kasani, dari madzhab Hanafi,  dalam Badai Al-Shanai menyatakan: “Jihad dalam terminologi syariah umumnya digunakan untuk pengerahan kemampuan untuk berperang di jalan Allah dengan diri, harta, lisan atau lainnya.”[5]

Ad-Dardir dari kalangan madzhab Maliki mendefinisikan jihad sebagai berikut: Jihad adalah perang muslim terhadap kafir yang tidak memiliki ikatan perjanjian (damai) untuk meninggikan kalimah Allah.[6]

Ibnu Hajar Al-Asqalani dari ulama madzhab Syafi’i memaknai jihad secara syar’i sebagai “mengerahkan segala kesungguhan dalam memerangi kaum kafir.”[7] Sementara Ad-Dimyati, ulama Syafi’iyah yang lain menyatakan, “Jihad adalah berperang di jalan Allah, diambil dari masdar mujahadah.”[8]

Al-Buhuti dari kalangan ulama madzhab Hanbali mendefinisikan jihad sebagai “memerangi orang kafir.”[9] Sementara ulama madzhab Hanbali yang lain seperti Ibnu Taimiyah memaknai jihad secara lebih umum. Ia menyatakan: “Jihad adalah mengerahkan kemampuan dan kekuatan untuk mencapai hasil kebenaran yang diinginkan dan menolak perkara yang tidak disukai. Karena, jihad adalah hakekat dari ijtihad dalam mencapai tujuan yang diinginkan yakni iman, amal soleh, dan menolak perkara yang dibenci Allah seperti kufur, fasik dan kemaksiatan.”[10]

Kendatipun jihad melawan kaum kafir identik dengan makna perang dengan senjata, namun sebagian ulama memaknainya secara lebih luas meliputi jihad dengan tangan, lisan, harta dan hati.[11]

Tipologi Jihad

Ulama fiqih membagi jihad perang ke dalam dua kategori, yaitu jihad defensif (jihad ad-daf’i atau difa’)) dan jihad ofensif (jihad at-tholab atau hujum).[12] Jihad defensif adalah jihad dalam rangka memepertahankan diri. Jihad defensif terjadi dalam a) peperangan melawan kaum kafir yang menyerang atau menduduki negara Islam; b) saat dua pasukan muslim dan kafir saling berhadapan; c) apabila imam atau pemerintah memobilisasi individu atau rakyat untuk berperang.[13]

Sedangkan jihad ofensif adalah memerangi kaum kafir di negara mereka untuk mengajak mereka masuk Islam; apabila mereka menolak dakwah Islam, maka mereka ditawari membayar jizyah, apabila menolak maka diperangi.[14]

Hukum Jihad Defensif

Kalangan ulama klasik (mutaqaddimin) dari empat madzhab memiliki pendapat yang hampir sama terkait dengan hukum jihad defensif (difa’) ini. Dari madzhab Hanafi, Al-Kasani menyatakan bahwa jihad hukumnya fardhu ain[15] bagi setiap individu muslim dalam konteks jihad defensif.”[16] Ibnu Maudud Al-Mushili menyatakan: “Jihad hukumnya fardhu ain apabila terjadi mobilisasi massa (oleh pemerintah) dan fardhu kifayah apabila tidak ada mobilisasi. Memerangi kafir itu wajib bagi setiap laki-laki yang berakal sehat, merdeka dan mampu. Apabila musuh menyerang, maka wajib bagi setiap individu mempertahankan diri termasuk wanita dan hamba sahaya tanpa perlu ijin suami dan tuannya.”[17] Al-Zaila’i menyatakan, “Hukumnya fardhu ain apabila musuh menyerang. Hendaknya wanita dan hamba sahaya ikut keluar tanpa ijin suami dan tuannya… beda halnya dengan sebelum mobilisasi yang bersifat fardhu kifayah..”[18]

Dari kalangan ulama madzhab Maliki, Al-Qurtubi menyatakan, “Jihad terkadang wajib bagi setiap individu yakni apabila musuh berada dalam suatu kawasan Islam atau menduduki kawasan tersebut.”[19] Ad-Dasuqi dalam Hasyiyah-nya menyatakan, “jihad itu wajib ain apabila untuk mempertahankan negara…”[20]

Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, Imam Nawawi menyatakan: “Jihad jenis kedua hukumnya fardhu ain. Apabila kaum kafir memasuki dan menduduki negara Islam … maka jihad menjadi fardhu ain.”[21] Zakaria Al-Anshari juga menyatakan: “Jihad menjadi fardhu ain apabila kaum kafir masuk ke negara Islam.”[22] Wajibnya jihad defensif ini, menurut madzhab Syafi’i, apabila jarak seorang muslim dengan kaum kafir tersebut tidak kurang dari jarak qashar atau 80.64 km (48 mil).[23] Al-Bakri menyatakan:: “Bagitu juga bagi muslim yang berada pada jarak qashar (shalat) apabila penduduk di tempat tersebut dan sekitarnya tidak mencukupi, maka jihad menjadi fardhu ain bagi yang dekat dan fardhu kifayah bagi yang jauh.”[24]  Ar-Romli menyatakan: “Apabila kaum kafir masuk ke negara kita atau jarak antara mereka dan kita kurang dari jarak qashar maka wajib bagi penduduk daerah (yang diserang kaum kafir) itu untuk mempertahankan diri sekuat tenaga.”[25]

Sementara ulama madzhab Hanbali berpendapat yang hampir sama. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan: “Jihad menjadi fardhu ain dalam tiga keadaan.”[26] Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat ini. Ia menyatakan, “Apabila musuh masuk ke suatu negara Islam maka tidak ada keraguan atas wajibnya mempertahankannya dimulai dari individu muslim yang paling dekat (dari tempat invasi lawan).”[27]

Hukum Jihad Ofensif (Thalab atau Hujum): Wajib Kifayah dan Sunnah

Sebagaimana disinggung di muka, jihad ofensif (jihad tolab atau jihad hujum) adalah invasi bersenjata ke negara non-muslim sebagai cara untuk menyebarkan Islam.  Dalam soal jihad ofensif ini ulama klasik  (mutaqaddimin) berbeda pendapat. Sebagian berpendangan bahwa hukumnya fardhu kifayah sedangkan yang lainnya menyatakan sunnah.

Al-Qurtubi dalam Al-Injad fi Abwab Al-Jihad menjelaskan perbedaan ulama dalam soal ini sebagai berikut:  “Ulama berbeda pendapat tentang maksud hukum dari ayat yang bersifat keras dan umum dalam perintah perang seperti dalam QS At-Taubah 9:36, 41, 39, 120. Menurut satu pendapat, wajibnya jihad itu pada awalnya fardhu ain untuk seluruh umat Islam; kecuali yang udzur. Lalu hukum dinasakh dan menjadi fardhu kifayah sebagaimana disebut dalam QS At-Taubah 9:122. Diceritakan dari Ibnu Abbas riwayat Abu Dawud dan Atha’ bahwa jihad itu hanya diwajibkan dengan fardhu ain pada para Sahabat saja. Setelah syariah berdiri stabil maka menjadi fardhu kifayah.”[28]

Jumhur ulama mengatakan: Wajibnya jihad pada awal Islam adalah fardhu kifayah. Adapun ayat-ayat yang bersikap keras dan menyeluruh itu ditangguhkan pada beberapa situasi yaitu (a) apabila dibutuhkan karena sedikitnya orang Islam sebagaimana di awal Islam atau (b) khusus pada individu yang sudah ditentukan oleh Imam (penguasa) untuk berperang, apabila tidak dalam keadaan ini maka hukumnya fardhu kifayah. Tidak ada nasakh dalam soal ayat-ayat ini, semuanya kembali pada situasi. Menurut Qadhi Abu Muhammad Abdul Wahhab: Tidak ada perbedaan antara ulama atas wajibnya jihad secara fardhu kifayah.[29]

Pendapat lain menyatakan bahwa jihad ofensif hukumnya sunnah. Al-Nahhas berkata: Ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Syubromah dan Sofyan Al-Tsauri. Dikutip dari Ibnu Atha bahwa wajibnya jihad itu bagi para Sahabat saja.[30] Termasuk yang berpendapat bahwa jihad ofensif adalah sunnah, bukan wajib adalah Abdullah bin Al-Hasan.[31]

Tidak Ada Tempat bagi Terorisme dalam Islam

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jihad defensif atau jihad difa’ untuk mempertahankan Tanah Air dari serangan lawan non-muslim adalah wajib ain bagi setiap individu muslim yang memenuhi syarat dan ditunjuk oleh pemerintah untuk mengambil bagian dalam berjihad membela negara. Itupun apabila jarak terjadinya serangan berada dalam radius jarak qashar (sekitar 80.64 km atau 48 mil).  Tiga syarat ini adalah prinsip dalam jihad defensif. Tanpa itu, seorang muslim tidak dapat mendeklarasikan diri untuk berjihad.

Adapun jihad ofensif atau jihad hujum (tholab), yakni jihad dengan cara invasi ke negara non-muslim, maka ulama fikih klasik dari era Sahabat sampai mujtahid madzhab berbeda pendapat antara wajib kifayah dan sunnah.  Karena, sebagian dari mereka menyatakan bahwa jihad ofensif itu berlaku hanya pada awal Islam dan khusus bagi para Sahabat Nabi saja. Sebagaimana jihad defensif, jihad ofensif juga harus memenuhi ketiga syarat di atas bagi seorang muslim yang hendak berjihad yakni: memenuhi syarat dasar mujahid (laki-laki, berakal sehat, muslim, sehat jasmani) dan ditunjuk oleh pemerintah (ulil amri) yang resmi dan legal.

Dan ketika pasukan Islam bertempur dengan kaum kafir, ada aturan yang harus ditaati terkait dengan peperangan seperti tidak boleh merusak lingkungan seperti gedung,  tanaman dan tempat ibadah, serta  tidak boleh membunuh kaum sipil, dan seterusnya.[32]

Dengan demikian, maka terorisme tidak ada tempat dalam Islam. Seorang muslim tidak bisa mengklaim dirinya mujahid lalu berperang ke suatu negara tanpa ada perintah atau penunjukan dari penguasa.[33]  Teroris ibarat massa yang main hakim sendiri saat berhasil menangkap pencuri. Apalagi, perilaku terorisme yang dilakukan dengan cara bunuh diri, merusak fasilitas umum, tempat ibadah dan menghilangkan nyawa sesama muslim. Padahal, dalam perang yang syar’i, nyawa non-muslim yang sipil pun tidak boleh dibunuh. Terhadap para teroris, sikap Islam jelas menyatakan bahwa mereka adalah pembunuh dan pendosa besar sebagaimana disebut dalam QS Al-Maidah 5:32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”[34][]

Footnote

[1] Hadits riwayat Baihaqi dalam Al-Jami’ Al-Shaghir. Teks hadits:  رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر، قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: جهاد القلب Menurut riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi ada perbedaan redaksi sebagai berikut: رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: مجاهدةُ العبد هواه Al-Munawi dalam Faidul Qodir Syarh Al-Jami’ Al-Shaghir menyatakan bahwa hadits ini berasal dari Sahabat Jabir. Ia berkata: “sanadnya dhaif.” Namun Al-Suyuthi dalam Al-Durar Al-Muntsirah menukil dari Ibnu Hajar dalam kitab Tasdid Al-Qaws menyatakan bahwa hadits ini masyhur. Pendapat ini berasal dari pandangan Ibrahim bin Abi Ublah dalam Al-Kuna-nya Nasai. Terlepas dari status sanad hadits ini yang dipertanyakan, namun status matannya cukup kuat karena didukung oleh banyak ayat Quran, seperti QS Al-Ankabut :69, dan sejumlah hadits sahih. Lihat, “Jihad dalam Islam (1): Jihad Besar” dalam buku ini.

[2] Daftar ayat tentang jihad dan qital selengkapnya lihat di artikel sebelumnya “Jihad dalam Islam (1): Jihad Besar”.

[3] QS At-Taubah 9:73 dan At-Tahrim :9. Teks asal: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِم

[4] Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi, hlm. 4/75. Terkait jihad terhadap orang munafik, Al-Baghawi menjelaskan terjadi perbedaan ulama: “Ibnu Mas’ud berkata dengan tangan, atau lisan atau hati. Ibnu Abbas berkata: Dengan lisan dan tidak lembut. Al-Dhahak berkata: Dan ucapan keras. Al-Hasan dan Qatadah berkata dengan melaksanakan hudud.” Teks asal:  يا أيها النبي جاهد الكفار ) بالسيف والقتل ، ( والمنافقين ) واختلفوا في صفة جهاد المنافقين ، قال ابن مسعود : بيده فإن لم يستطع فبلسانه وإن لم يستطع فبقلبه  وقال لا تلق المنافقين إلا بوجه مكفهر . وقال ابن عباس : باللسان وترك الرفق . وقال الضحاك : بتغليظ الكلام . وقال الحسن وقتادة : بإقامة الحدود عليهم

[5] Al-Kasani dalam Badai Al-Shanai, hlm. 7/97. Teks asal: الجهاد في عرف الشرع يستعمل في بذل الوسع والطاقة بالقتال في سبيل الله – عز وجل – بالنفس والمال واللسان أو غير ذلك

[6] Ahmad bin Muhammd Ad-Dardir dalam Al-Syarh Al-Shaghir ala Aqrab Al-Masalik ila Madzhab Al-Imam Malik, hlm. 2/267. Teks asal: قتال مسلم كافرًا غير ذي عهد لإعلاء كلمة الله تعالى

[7] Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 6/3. Teks asal:  بذل الجهد في قتال الكفار

[8] Abu Bakar bin Sayyid Ad-Dimyati dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 4/180. Teks asal: والجهاد : أي القتال في سبيل الله ، مأخوذ من المجاهدة ، وهي : المقاتلة في سبيل الله

[9] Al-Buhuti dalam Al-Raud Al-Muri’, hlm. 3/3.

[10] Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Fatawa Ibnu Taimiyah, hlm. 10/191.

[11] Lihat, Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Bukhari, hlm. 6/45. Teks asal: والتحقيق أيضا أن جنس جهاد الكفار متعين على كل مسلم إما بيده وإما بلسانه وإما بماله وإما بقلبه

[12] Istilah jihad hujum untuk jihad ofensif atau jihad tholab digunakan oleh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqhul Jihad, (Maktabah Wahbah, Kairo:  2009).

[13] Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/163. Said bin Ali Al-Qahtani dalam Al-Jihad fi Sabilillah, hlm. 1/29.

[14] QS At-Taubah 9:36. Lihat, Al-Qahtani dalam Al-Jihad fi Sabilillah, hlm. 1/29. Teks asal: جهاد الطلب: هو أن يغزو الكفار في بلادهم لدعوتهم إلى الله تعالى؛ فإن أبوا قبول الدعوة والإسلام، دعوا إلى دفع الجزية، فإن أبوا فالقتال. Dalil jihad ofensif menurut sebagian ulama dapat dijumpai dalam QS At-Taubah 9:36, 29 dan 5. Begitu juga, dalam hadits sahih riwayat Bukhari: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka berkata Lailaha illa Allah.” Teks asal: أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا اله إلا الله. Namun ayat-ayat dalam QS At-Taubah tersebut menurut Qardhawi dalam konteks jihad defensif apabila kaum kafir melakukan hal tersebut pada kita, maka muslim harus membalas dengan balasan yang sama. Jadi, harus difahami dalam konteks khusus bukan umum (lihat, Qardhawi dalam Fiqh Al-Jihad, 1/91)

[15] Fardhu ain adalah kewajiban bagi setiap muslim seperti shalat lima waktu. Sedangkan fardhu kifayah adalah kewajiban syariah untuk sebagian muslim. Apabila ada sebagian muslim yang melakukan, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain, namun apabila tidak yang melakukan maka berdosa semuanya seperti shalat jenazah.  Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir, hlm. 14/240, mendefinisikan:  َفَرْضُ الْكِفَايَةُ تعريف مَا إِذَا قَامَ بِهِ بَعْضُهُمْ سَقَطَ فَرْضُهُ عَنِ الْبَاقِينَ ، وَفَرْضُ الْأَعْيَانِ مَا لَا يَسْقُطُ فَرْضُهُ

[16] Al-Kasani dalam Bada’i Al-Shana’i, hlm. 15/271-2. Teks asal: فَأَمَّا إذَا عَمَّ النَّفِيرُ بِأَنْ هَجَمَ الْعَدُوُّ عَلَى بَلَدٍ ، فَهُوَ فَرْضُ عَيْنٍ يُفْتَرَضُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ آحَادِ الْمُسْلِمِينَ مِمَّنْ هُوَ قَادِرٌ عَلَيْهِ

[17] Ibnu Maudud Al-Mushili dalam Al-Ikhtiyar li Ta’lil Al-Mukhtar, hlm. 1/46. Teks asal: الجهاد فرض عين عند النفير العام وكفاية عند عدمه، وقتال الكفار واجب على كل رجل عاقل صحيح حر قادر، وإذا هجم العدو وجب على جميع الناس الدفع تخرج المرأة والعبد بغير إذن الزوج والسيد

[18] Al-Zaila’i dalam Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanz Al-Daqaiq, hlm. 9/266.  Teks asal: (وَفَرْضُ عَيْنٍ إنْ هَجَمَ الْعَدُوُّ فَتَخْرُجُ الْمَرْأَةُ وَالْعَبْدُ بِلَا إذْنِ زَوْجِهَا وَسَيِّدِهِ ) لِأَنَّ الْمَقْصُودَ لَا يَحْصُلُ إلَّا بِإِقَامَةِ الْكُلِّ فَيَجِبُ عَلَى الْكُلِّ وَحَقُّ الزَّوْجِ وَالْمَوْلَى لَا يَظْهَرُ فِي حَقِّ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ بِخِلَافِ مَا قَبْلَ النَّفِيرِ لِأَنَّ بِغَيْرِهِمْ كِفَايَةٌ فَلَا ضَرُورَةَ إلَى إبْطَالِ حَقِّهِمَا وَكَذَا الْوَلَدُ يَخْرُجُ بِغَيْرِ إذْنِ وَالِدَيْهِ. Lihat juga, Ibnu Abidin dalam Radd Al-Mukhtar, hlm. 15/425.

[19] Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi, hlm. 8/151-2.

[20] Ad-Dasuqi dalam Hasyiyah Al-Dasuqi ala Al-Syarh Al-Kabir, hlm. 7/146.

[21] Imam Nawawi dalam Raudhah At-Thalibin wa Umdat Al-Muftin, hlm. 4/1. Teks asal: الضرب الثاني الجهاد الذي هو فرض عين فإذا وطئ الكفار بلدة للمسلمين أو أطلوا عليها ونزلوا بابها قاصدين ولم يدخلوا صار الجهاد فرض عين

[22] Zakaria Al-Anshari dalam Asna Al-Matholib, hlm. 20/284. Lihat juga, Fathul Wahab, hlm. 2/298. Teks asal: وَ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِمْ بِدُخُولِ الْكُفَّارِ فَإِنْ دَخَلَ الْكُفَّارُ بِلَادَ الْمُسْلِمِينَ تَعَيَّنَ عَلَيْهِمْ

[23] Berdasarkan hitungan dari Dr. Muhammad Najmuddin Al-Kurdi dalam Al-Maqadir Al-Syar’iyah, hlm. 252-260..

[24] Al-Bakri dalam Ianah At-Talibin, hlm.  4/226. Teks asal: وكذا من كان على مسافة القصر إن لم يكف أهلها ومن يليهم، فيصير فرض عين في حق من قرب وفرض كفاية في حق من بعد.

[25] Syamsuddin Ar-Romli dalam Nihayah Al-Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj, hlm. 26/388. Teks asal: ( الثَّانِي ) مِنْ حَالِ الْكُفَّارِ ( يَدْخُلُونَ ) أَيْ دُخُولُهُمْ عُمْرَانَ الْإِسْلَامِ وَلَوْ جِبَالَهُ أَوْ خَرَابَهُ ، فَإِنْ دَخَلُوا ( بَلْدَةً لَنَا ) أَوْ صَارَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَنَا دُونَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ كَانَ أَمْرًا عَظِيمًا ( فَيَلْزَمُ أَهْلَهَا الدَّفْعُ ) لَهُمْ ( بِالْمُمْكِنِ ) أَيْ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ أَطَاقُوهُ

[26] Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/163. Teks asal: ويتعين الجهاد في ثلاثة مواضع ; أحدها ، إذا التقى الزحفان ، وتقابل الصفان ; حرم على من حضر الانصراف ، وتعين عليه المقام .. الثاني ، إذا نزل الكفار ببلد ، تعين على أهله قتالهم ودفعهم . الثالث ، إذا استنفر الإمام قوما لزمهم النفير معه

[27] Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubro, hlm. 4/609. Teks asal: وإذا دخل العدو بلاد الإسلام فلا ريب أنه يجب دفعه على الأقرب فالأقرب

[28] Abu Abdillah bin Al-Manashif Al-Azdi Al-Qurtubi (wafat, 630 H) dalam Al-Injad fi Abwab Al-Jihad wa Tafshili Faraidihi wa Sunanihi, hlm. 1/31.

[29] Ibid.

[30] Ibid.

[31] Ibnu Rusyd Al-Hafid dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, hlm. 2/143. Teks asal:  أما حُكم هذه الوظيفة فأجمع العلماء على أنَّها فرض على الكفاية لا فرض عين، إلا عبد الله بن الحسن، فإنه قال: إنها تطوع. وإنما صار الجمهور لكونه فرضًا؛ لقوله تعالى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ القِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ} [البقرة: 216] الآية، وأما كونه فرضًا على الكفاية، أعني: إذا قام به البعض سقط عن البعض فلقوله تعالى: {وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً} [التوبة: 122]

[32] Soal aturan dan adab berperang akan dibahas dalam tulisan berikutnya.

[33] Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 10/368 menyatakan: وأمر الجهاد موكول إلى الإمام واجتهاده ، ويلزم الرعية طاعته فيما يراه من ذلك (Perkara jihad diserahkan pada Imam dan hasil ijtihadnya dan wajib bagi rakyat untuk taat padanya).

[34] QS Al-Maidah 5:32. Teks asal: مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Leave a Reply