Hizbut Tahrir di Mata Wahabi Salafi

Hizbut Tahrir di mata Wahabi Salafi
Hizbut Tahrir (3): HT versus Wahabi
Oleh: A. Fatih Syuhud

Hizbut Tahrir dan Wahabi Salafi adalah dua gerakan transnasional yang menganut pandangan ekstrim dan eksklusif. Ekstrim dalam arti berani mengafirkan atau menganggap sesat sesama muslim yang tidak mengikuti akidahnya. Dan eksklusif dengan menganggap bahwa pemahamannya tentang Islam adalah satu-satunya yang paling benar dan yang lain harus mengikuti. Kedua kelompok ini memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama berambisi untuk menguasai umat Islam di seluruh dunia agar mengikuti akidah dan pemahaman yang mereka anut. Namun persamaannya hanya sampai di sini, selebihnya kedua gerakan ini akan saling menyerang dan menegasikan satu sama lain untuk berkompetisi dalam merebut hati dan pikiran umat Islam. Segala daya dan upaya dilakukan oleh keduanya untuk mencapai tujuan tersebut. Mulai dari dana tak terbatas yang digelontorkan, indoktrinasi militan pada para anggotanya dan kerja keras para aktivisnya untuk merekrut anggota baru.

Dengan persaingan merebut hati umat yang begitu tajam, maka tajam pulalah pertentangan antara satu dengan yang lain. Berikut beberapa pandangan para pemimpin kedua gerakan ini terhadap “lawan”nya.

Pandangan Wahabi tentang Hizbut Tahrir

Nashiruddin Al-Albani, salah satu ulama Wahabi berpengaruh, menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah gerakan yang tidak sepenuhnya berdasarkan pada Al-Quran, Sunnah dan generasi Salaf secara benar dan karena itu cenderung untuk melenceng dari garis yang lurus.[1]

Sikap HT yang mengutamakan akal dari nash Quran dan Sunnah juga dikritik Albani.

Albani menyatakan bahwa Hizbut Tahrir, berbeda dengan gerakan Islam lain, lebih mengutamakan akal sebagai standar utama melebihi standar yang sudah ditetapkan oleh Islam yakni Al-Quran dan Sunnah. Memang, ketika Allah berfirman dalam Al-Quran, Ia mengajak bicara para Ulama dan orang berakal dan orang yang berfikir. Namun kita memahami bahwa akal manusia itu berbeda. Akal itu ada dua: akal seorang muslim dan akal kafir. Akal orang kafir bukanlah akal walaupun terkadang memiliki kecerdasan. Karena akal dalam bahasa Arab adalah sesuatu yang mengikat pemiliknya dari berpaling ke kiri dan ke kanan. Tidak mungkin bagi orang yang berakal untuk tidak berpaling ke kiri dan kanan kecuali apabila mengikuti Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan teladan generasi Salaf. Dari firman Allah dalam QS Al-Mulk 67:10 dapat disimpulkan bahwa akal itu ada dua: akal hakiki dan akal majazi. Akal hakiki adalah akal orang muslim yang beriman pada Allah dan RasulNya. Sedangkan akal majazi adalah akal orang kafir yang mengatakan dalam Al-Mulk 67:10: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.[2]

Albani kemudian membagi akal seorang muslim menjadi dua: akal orang bodoh dan akal orang pintar. Keduanya tentu tidak sama sebagaimana disebut dalam QS Al-Ankabut 29:43 dan An-Nahl 16:43. Oleh karena itu, tidak boleh bagi muslim yang beriman pada Allah secara mendalam untuk bertahkim pada akalnya. Akal haruslah ditundukkan pada Allah dan RasulNya. Dari sini, Albani menyimpulkan bahwa Hizbut Tahrir pola pikirnya terpengaruh oleh Muktazilah dalam masalah keimanan (teologi) dan itu terlihat dari kitab Nizham Al-Iman karya pendirinya, Taqiuddin An-Nabhani. Albani mengklaim bahwa dia mengenal An-Nabhani secara pribadi dan pernah bertemu lebih dari sekali. Oleh karena itu, pandangannya bahwa HT memakai cara berfikir Muktazilah bukanlah tuduhan tanpa dasar. Albani mengakui bahwa Islam menempatkan akal dalam posisi penting. Namun, ia mengingatkan HT bahwa akal tidak boleh menjadi penentu (tahkim) atas Al-Quran dan Sunnah. Justru akal yang harus menundukkan diri pada hukum Al-Quran dan hadits.[3] Intinya, Hizbut Tahrir, menurut Wahabi, adalah gerakan yang melenceng dari Islam karena menundukkan diri pada akal sebagai penentu; bukan pada Al-Quran, hadits dan tauladan generasi Salaf.

Pandangan Hizbut Tahrir tentang Wahabi

Di sisi lain, Hizbut Tahrir memandang bahwa Wahabi itu memiliki akidah yang berbeda. Dalam situs HTI disebutkan: “Pandangan keagamaan Wahabi sebenarnya bukan hal yang baru. Dalam masalah akidah, misalnya, Wahabi banyak mengambil pandangan Ibn Taimiyyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Tauhid, menurut mereka, ada dua yaitu: tauhid rububiyyah wa asma’ wa shifat dan tauhid uluhiyah. Tauhid yang pertama bertujuan untuk mengenal dan menetapkan Allah sebagai Rabb, dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid yang kedua terkait dengan tuntutan dan tujuan (at-thalab wa al-qashd). Syaikh ‘Abd al-’Aziz bin Baz, kemudian membagi tauhid tersebut menjadi tiga: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma’ wa as-shifat. Ini berbeda dengan Hizb. Dalam tauhid, Hizb tidak mengenal klasifikasi seperti ini.”[4]

HT juga mengeritik Wahabi yang terlalu berlebihan dalam berakidah sehingga menganggap muslim lain belum berislam selama tidak mengikuti akidahnya: “Bagi Wahabi, masalah utama umat Islam adalah masalah akidah; akidah umat ini dianggap sesat, karena dipenuhi syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Karena itu, aktivitas dakwah mereka difokuskan pada upaya purifikasi (pemurnian) akidah dan ibadah umat Islam…. Ini berbeda dengan Hizb. Pandangan seperti ini, menurut Hizb, juga berbahaya karena menganggap seolah-oleh umat Islam belum berakidah Islam. Ini tampak pada pandangan mereka terhadap kaum Muslim yang lain, selain kelompok mereka, yang dianggap sesat. Bahkan mereka tidak jarang saling sesat-menyesatkan terhadap kelompok sempalan mereka. Pandangan ini, menurut Hizb, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nidâ’ al-Hâr, tidak proporsional.”[5]

Selain itu, HT menganggap bahwa Muhammad bin Abdil Wahab, pendiri Wahabi, adalah sosok yang tidak konsisten dengan ucapannya. Dalam pesannya pada penduduk Qushaim Muhammad bin Abdil Wahab berkata: “Aku berpendapat wajib taat pada para Imam (penguasa) kaum muslim yang baik atau yang korup selagi mereka tidak memerintahkan berbuat maksiat pada Allah. Dan wajib taat pada orang yang menduduki posisi Khilafah dan haram keluar darinya.”[6] Namun, apa yang terjadi seperti yang disaksikan sejarah adalah setelah Muhammad bin Saud wafat dan diganti anaknya yang bernama Abdul Aziz, yang juga agen Inggris itu, mendirikan Dewan Imarah pada tahun 1787 M, sekaligus menandai lahirnya sistem monarki, Wahabi pun terlibat dalam ekspansi kekuasaan yang didukungnya, sekaligus menyebarkan paham yang dianutnya.[7]

Persamaan dan Perbedaan HT dan Wahabi

Dari paparan singkat di atas menjadi jelas bahwa Hizbut Tahrir dan Wahabi Salafi adalah dua gerakan yang sama sekali berbeda. Yang pertama fokus pada masalah politik dengan tujuan besarnya mendirikan Khilafah Islam di seluruh dunia di bawah satu kepala negara yang disebut Khalifah. HT bergerak berdasarkan indoktrinasi politik dan organisasi yang militan walaupun dengan dana yang terbatas. Sedangkan Wahabi fokus untuk “menyucikan” akidah umat Islam di seluruh dunia yang mereka anggap kotor dengan syirik dan bid’ah. Untuk mencapai tujuan Wahabisasi ini segala cara telah digunakan mulai dari manipulasi pandangan ulama Ahlussunnah sampai menggelontorkan trilyunan rupiah untuk menyebarkan paham ini melalui pemberian beasiswa untuk kuliah di Arab Saudi, pendirian universitas gratis di luar Arab Saudi dan pendirian pesantren-pesantren dan sekolah Islam berfaham Wahabi oleh para alumninya.

Namun, ada kesamaan antara kedua golongan ini: mereka sama-sama menganggap sistem atau akidah apapun yang tidak sesuai dengan doktrin mereka sebagai sesuatu yang kufur.[8] Aktivitas kedua golongan ini harus diwaspadai dan sebisa mungkin dilawan karena sikap mereka yang intoleran akan berakibat konflik horizontal akan mudah terjadi baik antara sesama muslim maupun dengan non-muslim. Dan suasana ketegangan dan rawan konflik itu sudah dirasakan di Indonesia saat ini dan itu secara faktual dapat dilihat baik melalui dunia nyata maupun dunia maya.[]

Referensi

[1] Nashiruddin Albani, Hizbut Tahrir Al-Muktazilah Al-Judud, islamstory.com. Teks asal: على كل حزب، أو جماعة إسلامية، أن تصحح أصل منطلقها؛ وهو أن تعتمد على الكتاب والسُّنَّة، وما كان عليه سلف الأُمَّة الصَّالح، وهذا القيد لا يتبناه – مع الأسف – حزب التحرير، ولا الإخوان المسلمون، ولا أمثالهم من الأحزاب الإسلاميَّة

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] “Hizbut Tahrir Bukan Wahabi”, hizbut-tahrir.or.id; Al-Wa’ie Edisi 29 Juli 2009.

[5] Ibid.

[6] “Khuruj Muhammad bin Abdil Wahab wa Ali Saud ala Daulat Al-Khilafah Al-Utsmaniyah”, hizb-ut-tahrir.info mengutip dari Majmuat Muallafat Al-Syaikh, hlm. 5/11. Teks asal: يقول الشيخ الإمام في رسالته لأهل القصيم: وأرى وجوب السمع والطاعة لأئمة المسلمين برّهم وفاجرهم ما لم يأمروا بمعصية الله ومن ولي الخلافة واجتمع عليه الناس ورضوا به وغلبهم بسيفه حتى صار خليفة وجبت طاعته وحرم الخروج عليه.

[7] “Hizbut Tahrir Bukan Wahabi”, Al-Wa’ie, 29 Oktober 2009.

[8] Lihat, “Hizbut Tahrir (1):  Akidah dan Doktrin”, fatihsyuhud.net; “Beda Generasi Salaf dan Gerakan Salafi”, fatihsyuhud.net

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply