Hizbut Tahrir (4): Kontroversi Fatwa Hukum Islam

Kontroversi Fatwa Hizbut TahrirHizbut Tahrir (4): Kontroversi Fikih
Oleh: A. Fatih Syuhud

Hizbut Tahrir adalah gerakan pan-Islamisme kontroversial tidak hanya dalam segi tujuan politiknya yang utopis, tapi juga dalam dua sisi yang lain: akidah dan syariah. Secara akidah, gerakan ini tidak terikat dengan mazhab tauhid apapun, baik Asy’ariyah danMaturidiyah-nya Ahlussunnah atau akidah Salafi -nya Ibnu Taimiyah. Namun demikian, doktrin akidahnya yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu cenderung mengarah ke gaya akidah Muktazilah. Tak heran, apabila pandangan akidahnya mengundang banyak pro dan kontra. Seperti tidak percaya takdir itu dari Allah. Tidak percaya adanya siksa dan nikmat kubur dengan alasan berasal dari hadis Ahad. Tidak percaya datangnya Dajjal, dll.[1]

Dari sisi syariah, pandangan fikihnya tak kalah kontroversial. HT tampaknya tidak mengikatkan dirinya pada Madzhab Empat sebagaimana sikap umumnya kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Gerakan ini cukup percaya diri untuk berijtihad dan mengeluarkan fatwa atau pandangan fikih sendiri yang tidak jarang berbeda dengan pandangan ulama Aswaja. Beberapa di antaranya sebagaimana dijelaskan di sini.

Pria Boleh Menyentuh dan Mencium Wanita Bukan Mahram

Hizbut Tahrir membolehkan laki-laki menyentuh bahkan mencium wanita bukan mahram dan bukan istrinya. Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam buletin Jawab wa Sual edisi 24 Rabiul Awal 1390 H. Teksnya sebagai berikut:


ما حكم القبلة بشهوة مع الدليل؟ الجواب: … قد فهم من مجموع الأجوبة المذكورة أن القبلة بشهوة مباحة وليست حرامًا… لذلك نصارح الناس بأن التقبيل من حيث هو تقبيل ليس بحرام لأنه مباح لدخوله تحت عمومات الأدلة المبيحة لأفعال الإنسان العادية، فالمشي والغمز والمص وتحريك الأنف والتقبيل وزم الشفتين إلى غير ذلك من الأفعال التي تدخل تحت عمومات الأدلة… فالصورة العادية ليست حرامًا، بل هي من المباحات، ولكن الدولة تمنع تداولها… وتقبيل رجل لامرأة في الشارع سواء كان بشهوة أم بغير شهوة فإن الدولة تمنعه في الحياة العامة… فالدولة في الحياة العامة قد تمنع المباحات.. فمن الرجال من يلمس ثوب المرأة بشهوة، ومنهم من ينظر إلى حذائها بشهوة، ويسمع صوتها من الراديو بشهوة، وتتحرك فيه غريزة الجنس على وجه يحرك ذكره من سماع صوتها مباشرة، أو من الغناء، أو من قراءة إعلانات الدعاية أو من وصول رسالة منها، أو نقل له منها مع غيرها… فهذه أفعال بشهوة كلها تتعلق بالمرأة، وهي مباحة لدخولها تحت أدلة الإباحة…

“Apa hukum dan dalil berciuman disertai syahwat? Jawaban: Telah difahami dari kumpulan jawaban yang sudah disebut bahwa berciuman dengan syahwat itu boleh dan tidak haram… Oleh karena itu, kami jelaskan bahwa ciuman dari segi ciuman itu sendiri tidaklah haram karena ia bersifat mubah karena termasuk dalam keumuman dalil yang membolehkan bagi perbuatan manusia yang biasa terjadi. Berjalan, mengerling, menyusu, menggerakkan hidung,  mencium, menaruh bibir, dan lain-lain perbuatan yang masuk dalam dalil umum … Bentuk yang biasa tidak haram. Justru termasuk perkara mubah. Akan tetapi negara melarang perbuatan itu … Ciuman seorang pria pada wanita di jalan, baik dengan syahwat atau tanpa syahwat, dilarang oleh negara dalam kehidupan umum … Negara dalam kehidupan umu terkadang melarang perkara mubah … Sebagian laki-laki ada yang menyentuh baju perempuan dengan syahwat, sebagian ada yang memandang pada sandal wanita dengan syahwat, mendengar suaranya dari radio dengan syahwat, dan bangkit nafsu syahwatnya sampai bangun dzakarnya dari mendengar suara wanita secara langsung atau dari lagu atau dari membaca iklan promosi atau dari sampainya surat darinya atau … Semua perbuatan syahwat ini disebabkan oleh wanita dan ini sifatnya boleh karena masuk dalam dalil-dalil yang dibolehkan…”[2]

Dalam fatwanya yang lain yang dimuat dalam buletin Jawab Sual, Edisi 8 Muharram 1390 H, HT menyatakan:


ومن قبَّل قادمًا من سفر رجلًا كان أو امرأة، أو صافح ءاخر رجلًا كان أو امرأة، ولم يقم بهذا العمل من أجل الوصول إلى الزنى أو اللواط فإن هذا التقبيل ليس حرامًا، ولذلك كانا حلالين

“Barangsiapa yang mencium orang yang baru datang dari perjalanan, baik laki-laki atau perempuan, atau bersalaman dengan pria atau wanita, di mana perbuatan ini tidak berakibat pada perbuatan zina atau liwath (anal seks), maka ciuman ini tidak haram. Kedua perbuatan ini halal.”[3]

Boleh Bersalaman dengan Wanita Bukan Mahram

Fatwa HT lain yang kontroversial adalah bahwa berjabatan tangan dengan lawan jenis bukan mahram adalah boleh. Argumen yang digunakan oleh Hizbut Tahrir adalah bahwa Rasulullah pernah bersalaman dengan wanita bukan mahram berdasarkan pada hadits riwayat Bukhari dari Ummu Athiyah saat berbaiat pada Nabi di mana Ummu Athiyah berkisah: “Seorang perempuan menarik tangannya sedangkan yang lain tidak menarik tangannya.” Menurut Hizbut Tahrir, baiat itu terjadi dengan cara bersalaman atau tulisan dan tidak ada beda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan boleh bersalaman dengan Khalifah saat berbaiat sebagaimana Khalifah bersalaman dengan laki-laki.[4]

Dalam buletin resmi HT edisi 21 Jumadil Ula 1400 H atau 7 April 1980 M, mereka menyatakan: “Apabila kita melihat sejumlah hadits yang oleh sebagian ulama dipahami sebagai dalil atas haramnya bersalaman, maka kita temukan bahwa hadits-hadits tersebut tidak mengandung keharaman atau larangan berjabatan tangan.”[5] Pada akhir penjelasannya, HT menyatakan bahwa argumen yang benar untuk soal salaman, berlaku juga untuk masalah berciuman.”[6]

Pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)

Kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah yakni para ulama fikih madzhab empat ijmak (sepakat) dalam menyatakan bahwa sentuhan yang disengaja antara laki-laki dan perempuan dan tanpa penghalang hukumnya haram. Baik dengan cara bersalaman atau sentuhan dalam bentuk lain. Ibnu Najim dari madzhab Hanafi menyatakan: “Laki-laki tidak boleh menyentuh wajah dan telapak tangan wanita walaupun aman dari syahwat karena itu diharamkan dan tidak adanya hal yang mendesak (darurat).”[7]

Dari madzhab Maliki, Abu Abdillah Al-Maliki menyatakan, “Tidak boleh bagi pria menyentuh wajah atau telapak tangan wanita bukan mahram. Tidak boleh meletakkan telapak tangan pria pada telapak tangan wanita tanpa adanya penghalang. Aisyah (istri Nabi) berkata: ‘Nabi tidak pernah membaiat perempuan dengan bersalaman. Nabi membaiat wanita dengan ucapan.’ Dalam riwayat yang lain Aisyah berkata ‘Tangan Nabi tidak pernah menyentuh tangan perempuan. Nabi membaiat kaum wanita dengan perkataan.'”[8]

Dari Madzhab Syafi’i, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk menyatakan: “Ulama madzhab Syafi’i menyatakan bahwa setiap yang haram dilihat, maka haram menyentuhnya. Halal memandang pada wanita bukan mahram apabila hendak menikahinya, atau dalam jual beli, saat mengambil dan memberikan sesuatu, dll tapi tidak boleh menyentuh wanita dalam keadaan tersebut.”[9] Sementara itu, Waliuddin Al-Iraqi mengatakan: “Nabi tidak pernah menyentuh perempuan yang selain istri-istrinya baik saat membaiat atau situasi lain. Apabila Nabi yang sudah terpelihara dari berbagai macam keraguan tidak melakukannya, maka yang lain semestinya lebih dari itu (tidak melakukan jabat tangan). Tentu saja keharaman itu berlaku selain dalam kondisi darurat.”[10]

Adapun ulama madzhab Hanbali menyatakan tidakbolehnya menyalami perempuan bukan mahram yang masih muda. Sedangkan perempuan tua dibolehkan. Al-Buhuti menyatakan dalam Kasyaf Al-Qina’: “Muhammad bin Abdullah bin Mahran berkata: Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal) ditanya tentang laki-laki yang menyalami perempuan, ia berkata: Tidak boleh dengan penekanan larangan yang kuat. Aku bertanya: Kalau memakai penghalang? Ia menjawab: Tidak boleh. Seorang lelaki bertanya: Kalau ada hubungan kekerabatan? Ia menjawab: Tidak boleh. Aku bertanya: Kalau putrinya sendiri? Ia menjawab: Kalau putrinya sendiri tidak apa-apa.”[11]

Tentang Hadits Athiyah

Seperti disebut di muka, argumen Hizbut Tahrir atas bolehnya bersalaman atau menyentuh lawan jenis bukan mahram adalah hadits dari Sahabat Athiyah. Agar lebih jelas, berikut teks asli hadits no. 4610 dari kitab Sahih Bukhari tersebut:


عن أم عطية رضي الله عنها قالت بايعنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقرأ علينا أن لا يشركن بالله شيئا ونهانا عن النياحة فقبضت امرأة يدها فقالت أسعدتني فلانة أريد أن أجزيها فما قال لها النبي صلى الله عليه وسلم شيئا فانطلقت ورجعت فبايعها

“Dari Ummu Athiyah ia mengatakan, kami berbaiat kepada Nabi, lantas beliau membacakan ayat: ‘Untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun (QS. Al-Mumtahanah ayat 12), dan beliau melarang kami dari niyahah (meratap ketika musibah kematian). Kemudian ada seseorang wanita yang mencabut tangannya dari kami dan mengatakan: ‘Wanita fulanah telah membahagiakanku dan aku ingin membalasnya’. Namun Nabi tidak mengucapkan apa-apa padanya. Lalu si wanita itu terus pergi dan kembali lagi, lalu Nabi membaiatnya.”[12]

Dalam hadits di atas, tidak ada pernyataan yang secara tegas dan eksplisit menjelaskan bahwa Rasulullah menyentuh tangan perempuan yang dibaiat. Yang ada hanya ucapan Athiyah, seorang Sahabat perempuan, bahwa “ada seorang wanita yang menarik tangannya.” Padahal, kata “menarik tangan dari berbaiat” itu bisa memiliki sedikitnya dua makna tentang cara Nabi membaiat perempuan. Yaitu, (a) dengan cara memberi isyarah tangan tapi tanpa bersentuhan; atau (b) dengan cara bersentuhan atau bersalaman seperti baiat yang dilakukan antara Nabi dan Sahabat laki-laki. Dari penjelasan hadits-hadits lain, maka jelaslah bahwa pemahaman pertama yang benar.

Dalam Sahih Bukhari pada bab yang sama, Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah yang menyatakan bahwa Rasulullah membaiat Sahabat perempuan dengan ucapan dan tanpa menyentuh tangan. Aisyah berkata: “Nabi membaiat wanita dengan al-kalam (perkataan). Dan tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan perempuan kecuali istri-istrinya.”[13] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.[14] Imam Nawawi dalam menjelaskan sisi fikih dari hadits ini menyatakan:


فيه : أن بيعة النساء بالكلام من غير أخذ كف . وفيه : أن بيعة الرجال بأخذ الكف مع الكلام . وفيه : أن كلام الأجنبية يباح سماعه عند الحاجة ، وأن صوتها ليس بعورة ، وأنه لا يلمس بشرة الأجنبية من غير ضرورة ؛ كتطبب وفصد وحجامة

“Dalam hadits ini dapat disimpulkan bahwa baiat perempuan itu dengan ucapan tanpa memegang telapak tangan. Sedangkan membaiat laki-laki itu dengan memegang telapak tangan disertai ucapan. Dari hadits ini juga dapat dipahami bahwa ucapan wanita itu boleh didengarkan apabila dibutuhkan. Dan suara perempuan itu bukan aurat. Dan bahwa pria tidak boleh menyentuk kulit wanita bukan mahram kecuali darurat seperti untuk pengobatan atau bekam.”[15]

Jadi, cara Nabi dalam membaiat (mubaya’ah) para Sahabatnya tidak otomatis dengan cara bersalaman atau bersentuhan tangan antara beliau dan Sahabat yang dibaiat seperti yang dipahami oleh Hizbut Tahrir. Ibnu Manzhur dalam Lisan Al-Arab menjelaskan bahwa mubaya’ah (berbaiat) itu adalah suatu janji setia antara dua pihak.[16] Oleh karena itu, tidak ada keharusan adanya persentuhan kulit. Baik dari segi pengertian etimologis maupun syariah, baiat bisa dilakukan tanpa bersentuhan yakni dengan ucapan atau tulisan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi di atas.

Bantahan Hizbut Tahrir

Fatwa kontroversi HT terutama terkait bolehnya ciuman dan sentuhan lawan jenis bukan mahram dibantah oleh pihak Hizbut Tahrir. Melalui akun resmi Facebooknya, HT menyatakan bahwa itu tidak benar. HT menulis: “Dalam kitab Al-Nizham Al-Ijtima’i, cetakan ketiga, hlm. 58, dikatakan bahwa ciuman lelaki pada wanita lain yang bukan mahram atau ciuman perempuan pada lelaki adalah ciuman yang haram karena itu merupakan pengantar zina. Walaupun itu dilakukan tanpa syahwat dan walaupun tidak berakibat zina.”[17] Bantahan yang sama juga terkait dengan sentuhan lawan jenis yang menurut HT adalah tidak benar.[18]

Footnote

[1] Lihat, Akidah Hizbut Tahrir, fatihsyuhud.net

[2] Buletin  Jawab wa Sual edisi 24 Rabiul Awal 1390 H

[3] Buletin Jawab Sual, Edisi 8 Muharram 1390 H

[4] Lihat, Al-Khilafah, hlm. 22-23; Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, hlm. 2/22-23; Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, hlm. 3/107-108. Teks asal: البيعة تكون مصافحة باليد أو كتابة ولا فرق بين الرجال والنساء، فإن لهن أن يصافحن الخليفة بالبيعة كما يصافحه الرجال

[5] Buletin Hizbut Tahrir edisi 21 Jumadil Ula 1400 H atau 7 April 1980 M. Teks asal: وإذا أمعنا النظر في الأحاديث التي فهم منها بعض الفقهاء تحريم المصافحة نجد أنها لا تتضمن تحريمًا أو نهيًا

[6] Ibid. Teks asal: وما يصدق على المصافحة يصدق على القبلة

[7] Ibnu Najim, Al Bahr Ar-Raiq Syarh Kanzud Daqaiq, hlm. 8/219. Teks asal: ولا يجوز له أن يمس وجهها ولا كفها وإن أمن الشهوة لوجود المحرم ولانعدام الضرورة

[8] Muhammad bin Ahmad Ulaisy Abu Abdillah Al-Maliki, Minah al-Jalil ala Syarh Mukhtasar Khalil, hlm. 1/223

[9] Imam Nawawi, Al-Majmuk Syarah Muhadzab, hlm. 4/515; dan Al-Adzkar, hlm. 228. Teks asal: وقد قال أصحابنا كل من حرم النظر إليه حرم مسه بالمس أشد، فإنه يحل النظر إلى الأجنبية إذا أراد أن يتزوجها وفي حال البيع والشراء الأخذ والعطاء ونحو ذلك، ولا يجوز مسها في شيء من ذلك

[10] Waliuddin Al-Iraqi, Tarhut Tatsrib, hlm. 7/45-46. Teks: وفيه : أنه عليه الصلاة والسلام لم تمس يده قط يد امرأة غير زوجاته وما ملكت يمينه ، لا في مبايعة ، ولا في غيرها ، وإذا لم يفعل هو ذلك مع عصمته وانتفاء الريبة في حقه : فغيره أولى بذلك ، والظاهر أنه كان يمتنع من ذلك لتحريمه عليه

[11] Manshur Al-Buhuti, Kasyaf Al-Qina’ an Matnil Iqna’, hlm. 2/154. Teks asal: قال محمد بن عبد الله بن مهران: “سُئل أبو عبد الله عن الرجل يصافح المرأة قال: لا ، وشدد فيه جداً، قلت: فيصافحها بثوبه، قال: لا. قال رجل: فإن كان ذا رحم قال: لا ، قلت: ابنته، قال: إذا كانت ابنته فلا بأس

[12] Hadits sahih riwayat Bukhari, no. 4610, “Kitab Al-Ahkam: Bab Bai’at An-Nisa”

[13] “Kitab Al-Ahkam: Bab Baiat An-Nisa”, Sahih Bukhari, hadits no. 6788. Teks lengkap: عن عائشة رضي الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم يبايع النساء بالكلام بهذه الآية لا يشركن بالله شيئا قالت وما مست يد رسول الله صلى الله عليه وسلم يد امرأة إلا امرأة يملكها

[14] “Kitab Al-Imarah: Bab Kaifiyah Baiat An-Nisa”, Sahih Muslim, hadits no. 1866.

[15] Imam Nawawi, Syarah Muslim, hlm. 13/10.

[16] Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, hlm. 8/26.

[17] Akun Facebook “Al-Maktab Al-Ilami Al-Markazi li Hizb Al-Tahrir”, https://goo.gl/zJmzK3, dibuka pada 26 Mei 2017. Teks asal: ورد في كتاب النظام الاجتماعي الطبعة الثالثة صفحة 58 ما يلي
“وهذا بخلاف القبلة، فقبلة الرجل لامرأة أجنبية يريدها، وقبلة المرأة لرجل أجنبي تريده هي قبلة محرمة، لأنها من مقدمات الزنا، ومن شأن مثل هذه القبلة أن تكون من مقدمات الزنا عادة، ولو كانت من غير شهوة، ولو لم توصل إلى الزنا، ولو لم يحصل الزنا،

[18] ibid. Teks asal: ولأن الآيات والأحاديث التي تحرّم الزنا تشمل تحريم جميع مقدماته ولو كانت لمساً، كما يحصل بين الشباب والشابات، فهذه القبلة تكون محرمة، حتى ولو كانت للسلام على قادم من سفر لأن من شأن مثل هذه القبلة بين الشباب والشابات أن تكون من مقدمات الزنا

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply