Bid’ah itu Baik (3): Pandangan Madzhab Empat

bidah baik menurut 4 madzhabBid’ah itu Baik (3): Pandangan Madzhab Empat
Oleh: A. Fatih Syuhud

Ibnul Manzhur dalam Lisanul Arab mendefinisikan bid’ah sebagai berikut: “Bid’ah adalah hal baru dalam perkara agama yang dimulai setelah sempurnanya Islam. Ibnu Sikit berkata: Bid’ah adalah setiap hal yang baru. Dalam hadits Umar dalam soal tarawih bulan Ramadan: Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Ibnul Atsir berkata: Bid’ah itu ada dua, bid’ah hidayah dan bid’ah sesat. Perkara yang berlawanan dengan perintah Allah dan RasulNya termasuk bid’ah tercela dan mungkar. Sedangkan bid’ah berada di bawah perkara yang dianjurkan Allah dan RasulNya maka termasuk bid’ah terpuji. Adapun perkara yang tidak ada contoh sebelumnya seperti jenis dari kedermawanan dan perbuatan baik maka termasuk perbuatan terpuji.”[1]

Jadi, pandangan bahwa bid’ah itu banyak macam dan ragamnya bukan hanya pendapat ulama fikih, ulama hadits atau ulama tafsir saja. Bahkan, ulama ahli bahasa pun berpendapat demikian. Untuk melengkapi bahasan tentang bid’ah ini, berikut pandangan ulama fikih dari madzhab empat.

Madzhab Hanafi

Ibnu Abidin dalam kitab Hasyiyah Ibnu Abidin menyatakan: “Bid’ah terkadang wajib hukumnya seperti membuat dalil pada kelompok sesat, belajar ilmu nahwu untuk memahami Al-Quran dan Hadits. Bid’ah terkadang hukumnya sunnah seperti mendirikan pesantren dan sekolah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada zaman Rasulullah. Bid’ah itu bisa juga hukumnya makruh seperti mengukir dan menghias masjid. Bid’ah hukumnya mubah (boleh) seperti berlapang diri dalam memakan makanan lezat dan minuman enak dan pakaian bagus.”[2]

Badruddin Al-Aini dalam Syarah Sahih Bukhari ketika mengomentari perkataan Umar bin Khattab “nikmatul bid’ah hadzihi” menyatakan: “Bid’ah pada asalnya adalah membuat perkara yang tidak terdapat di zaman Rasulullah. Bid’ah ada dua macam: apabila baik menurut syariah maka disebut bid’ah hasanah (baik). Apabila buruk menurut syariah, maka disebut bid’ah mustaqbihah (buruk).”[3]

Madzhab Maliki

Muhammad Al-Zarqoni dalam Syarah Muwatta ketika menjelaskan perkataan Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini” menyatakan: “Umar bin Khattab menyebutnya bid’ah karena Nabi tidak pernah melakukan shalat tarawih secara berjamaah juga tidak di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bid’ah secara bahasa adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Secara syariah bid’ah secara mutlak bermakna sesuatu yang berhadapan dengan sunnah yang tidak ada pada zaman Nabi. Bid’ah terbagi menjadi hukum yang lima.”[4]

Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi dalam Al-Mi’yar Al-Mu’rib menyatakan: “Ulama mazhab Maliki walaupun mereka sepakat untuk mengingkari bid’ah secara umum, namum kenyataannya adalah bid’ah menurut mereka terbagi dalam lima bagian … Yang benar dalam soal bid’ah adalah apabila dihadapkan pada kaidah syariah maka dengan kaidah syariah mana yang sesuai maka itulah hukumnya. Dari kesimpulan ini, maka sabda Nabi bahwa “setiap bid’ah adalah sesat” itu termasuk dari kalimat umum yang berlaku khusus sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.”[5]

Madzhab Syafi’i

Imam Syafi’i menyatakan: “Perkara baru (muhdas al-umur) ada dua macam. Pertama, perkara baru yang berlawanan dengan Al-Quran, Sunnah Nabi, Atsar Sahabat atau ijmak ulama, maka disebut bid’ah dolalah. Kedua, perkara baru yang baik yang tidak menyalahi unsur-unsur di atas maka tidaklah tercela.”[6]

Abu Nuaim meriwayatkan pernyataan Imam Syafi’i di mana ia berkata: “Bid’ah itu ada dua: bid’ah terpuji (mahmudah) dan bid’ah tercela (madzmumah). Bid’ah yang sesuai Sunnah disebut bidah terpuji. Yang berlawanan dengan sunnah disebut bid’ah tercela. Imam Syafi’i berargumen dengan perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat tarawih bulan Ramadan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”[7]

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan: “Apa yang dikatakan bahwa itu adalah bid’ah, maka tidaklah semua bid’ah itu dilarang. Yang dilarang itu adalah bid’ah berlawanan dengan sunnah yang tetap … Bid’ah terkadang wajib dalam sebagian situasi apabila sebab-sebabnya berubah.”[8]

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan: “Sabda Nabi “Setiap bid’ah itu sesat” Kalimat ini bersifat umum yang khusus. Maksudnya adalah umumnya bid’ah. Ahli bahasa berkata: Bid’ah adalah setiap sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Ulama berkata: Bid’ah ada lima bagian yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Termasuk bid’ah wajib adalah penyusunan argumen kalangan ulama ilmu kalam untuk menolak kalangan mulhid dan mubtadi’ dan sejenisnya. Termasuk bid’ah sunnah adalah penyusunan kitab ilmu dan membangun madrasah dan asrama dan lainnya. Termasuk bid’ah boleh (mubah) adalah tidak membatasi dalam membuat warna makanan dan lainnya. Sedangkan bid’ah yang haram dan makruh sudah jelas dan sudah saya jelaskan hal ini dengan dalil-dalilnya yang luas dalam kitab Tahdzib al-Asma wa Al-Shifat. Apabila sudah diketahui apa yang saya sebut, maka dapat disimpulkan bahwa hadits di atas termasuk hadits umum yang berlaku khusus. Begitu juga dengan hadits-hadits lain yang serupa. Hal ini dikuatkan oleh perkataan Umar bin Khattab dalam shalat taraweh “sebaik-baik bid’ah.” Sabda Nabi “setiap bid’ah” (كُلُّ بِدْعَةٍ) — walalupun dikuatkan dengan kata ‘setiap’– tidak mencegah dari adanya hadis ini bersifat umum yang khusus. Bahkan kata “kullu” itu berfungsi takhsis (pengkhususan) sebagaiman firman Allah dalam QS Al-Ahqaf :25 (ُُتُدَمّر كُلَّ شَىءٍ) “yang menghancurkan segala sesuatu.”[9]

Madzhab Hanbali

Syamsuddin Muhammad bin Abil Fath Al-Ba’li dalam Al-Muttali’ ala Abwab Al-Muqni’, hlm. 334, pada “Kitab Talaq” menyatakan: “Bid’ah adalah perkara yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Bid’ah terbagi dua: bid’ah hidayah (huda) dan bid’ah sesat (dhalalah). Bid’ah terbagi sesuai dengan pembagian hukum-hukum taklif yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah).”[10]

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ Al-Ulum wal Hukm menyatakan: “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah perkara baru yang tidak ada dasar dalilnya dalam syariah. Adapun perkara yang memiliki dasar argumentasi syariah maka itu bukanlah bid’ah dalam istilah syariah, walaupun bisa disebut bid’ah secara lughawi (etimologis).”[11]

Pendapat Ibnu Rajab disalahpahami oleh kalangan yang anti-bid’ah, yakni kalangan Wahabi Salafi dan kelompok yang sealiran dengannya dan terinspirasi darinya, sebagai bukti bahwa hanya ada satu bid’ah saja yakni bid’ah sesat. Padahal secara jelas pendapat Ibnu Rajab ini tidak berbeda dengan pandangan para ulama salaf yang lain akan adanya pembagian bid’ah. Perbedaan hanya bersifat redaksional saja yakni Ibnu Rajab menggolongkan bid’ah menjadi dua yaitu syar’i dan lughawi.[]

Bacaan lanjutan:

Footnote

[1] Ibnul Manzhur, dalam Lisanul Arab, hlm. 2/38. Lihat juga, Ibnu Atsir dalam dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, hlm. 1/106 yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hidayah dan bid’ah sesat.

[2] Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Ibnu Abidin, hlm. 1/376. Teks asal:

فقد تكون البدعة واجبة كنصب الأدلة للرد على أهل الفرق الضالة، وتعلّم النحو المفهم للكتاب والسنة، ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول، ومكروهة كزخرفة المساجد، ومباحة كالتوسع بلذيذ المآكل والمشارب والثياب

[3] Badruddin Al-Aini dalam Syarah Sahih Bukhari, hlm. 11/126. Teks asal:

والبدعة في الأصل إحداث أمر لم يكن في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم البدعة على نوعين، إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة مستقبحة

[4] Muhammad Al-Zarqani dalam Syarah Muwatta, hlm. 1/238. Teks asal:

فسماها بدعة لأنه صلى اللّه عليه وسلم لم يسنّ الاجتماع لها ولا كانت في زمان الصديق، وهي لغة ما أُحدث على غير مثال سبق وتطلق شرعًا على مقابل السنة وهي ما لم يكن في عهده صلى اللّه عليه وسلم، ثم تنقسم إلى الأحكام الخمسة. انتهى

[5] Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi dalam Al-Mi’yar Al-Mu’rib, hlm. 1/357. Teks asal:

وأصحابنا وإن اتفقوا على إنكار البدع في الجملة فالتحقيق الحق عندهم أنها خمسة أقسام … فالحق في البدعة إذا عُرضت أن تعرض على قواعد الشرع فأي القواعد اقتضتها ألحقت بـها، وبعد وقوفك على هذا التحصيل والتأصيل لا تشك أن قوله صلى الله عليه وسلم:” كل بدعة ضلالة”، من العام المخصوص كما صرح به الأئمة رضوان الله عليهم

[6] Sebagaimana dinukil oleh Baihaqi dalam Manaqib Al-Syafi’i, hlm. 1/469, dan disebutkan juga oleh Ibnu Hajar Asqolani dalam Fathul Bari, hlm. 13/267. Teks asal:

المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة، والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة..

[7] Abu Nuaim dalam kitab Hilyah Al-Aulia, hlm. 9/76. Teks asal:

البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم، واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: نعمت البدعة هي

[8] Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, “Bab Tatacara Makan”, hlm. 2/3. Teks asal:

وما يقال إنه أبدع بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم فليس كل ما أبدع منهيا بل المنهي بدعة تضاد سنة ثابتة وترفع أمرا من الشرع مع بقاء علته بل الإبداع قد يجب في بعض الأحوال إذا تغيرت الأسبابـ

[9] Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 6/154-155. Teks asal:

قوله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) هذا عامٌّ مخصوص، والمراد: غالب البدع. قال أهل اللُّغة: هي كلّ شيء عمل عَلَى غير مثال سابق. قال العلماء: البدعة خمسة أقسام: واجبة، ومندوبة، ومحرَّمة، ومكروهة، ومباحة. فمن الواجبة: نظم أدلَّة المتكلّمين للرَّدّ عَلَى الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك. ومن المندوبة: تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والرّبط وغير ذلك. ومن المباح: التّبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك. والحرام والمكروه ظاهران، وقد أوضحت المسألة بأدلَّتها المبسوطة في (تـهذيب الأسماء واللُّغات) فإذا عرف ما ذكرته علم أنَّ الحديث من العامّ المخصوص، وكذا ما أشبهه من الأحاديث الواردة، ويؤيّد ما قلناه قول عمر بن الخطَّاب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ في التّـَراويح: نعمت البدعة، ولا يمنع من كون الحديث عامًّا مخصوصًا قوله: (كُلُّ بِدْعَةٍ) مؤكّدًا بـــــــ كلّ، بل يدخله التَّخصيص مع ذلك كقوله تعالى: {تُدَمّرُ كُلَّ شَىءٍ} [الأحقاف،ءاية 25]

[10] Syamsuddin Muhammad bin Abil Fath Al-Ba’li dalam Al-Muttali’ ala Abwab Al-Muqni’, hlm. 334. Teks asal: والبدعة مما عُمل على غير مثال سابق، والبدعة بدعتان: بدعة هدى وبدعة ضلالة، والبدعة منقسمة بانقسام أحكام التكليف الخمسة

[11] Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ Al-Ulum wal Hukm, hlm. 2/781. Teks asal: المراد بالبدعة ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه، فليس ببدعةٍ شرعًا، وإنْ كان بدعةً لغةً

Leave a Reply