Bid’ah itu Baik (2): Pendapat Ibnu Taimiyah

bidah baik 2 taimiyahBid’ah itu Baik (2) menurut Ibnu Taimiyah, dan pendapat Sahabat Abdullah bin Umar
Oleh: A. Fatih Syuhud

Tiga imam besar madzhab Syafi’i, yaitu Imam Syafi’I, Imam Nawawi dan Imam Ghazali, telah menegaskan bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua yaitu bid’ah baik (hasanah, huda) dan bid’ah buruk (sayyiah, dhalalah). Imam besar hadits yaitu Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat, 852 H/1449 M) menyatakan pendapatnya. Dalam Fathul Bari ia menjelaskan makna bid’ah dan hukumnya: “Setiap perkara yang tidak ada di zaman Rasulullah disebut bid’ah. Akan tetapi ada bid’ah yang baik dan ada bid’ah yang tidak baik.”[1]

Pengertian bid’ah secara syariah versi Ibnu Hajar ini tidak berbeda dengan definisi Al-Izz bin Abdussalam (wafat, 660 H/1262 M). Dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalih Al-Anam ia menyatakan: “Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada di zaman Rasulullah.”[2] Bedanya, ia membagi bid’ah ke dalam lima bagian sebagaimana jumlah kaidah hukum syariah yaitu bid’ah wajib, bid’ah haram, bid’ah sunnah, makruh dan mubah.[3] Menurut Ibnu Abdussalam, cara mengetahui jenis bid’ah yang lima adalah dengan cara menghadapkan setiap bid’ah pada kaidah syariah: apabila suatu bid’ah masuk dalam kaidah wajib maka menjadi bid’ah wajib, apabila masuk dalam kaidah haram maka disebut bid’ah haram, apabila masuk dalam kaidah sunnah maka sunnah, apabila masuk dalam kaidah makruh maka bid’ah makruh dan apabila masuk dalam kaidah mubah maka menjadi bid’ah yang mubah.[4] Al-Izzu Ibnu Abdussalam selanjutnya memberi contoh-contoh dari kelima bid’ah ini.

Contoh bid’ah yang wajib adalah belajar ilmu nahwu yang diperlukan untuk memahami Al-Quran dan hadits. Mempelajarinya adalah wajib karena memelihara syariah itu wajib dan itu tidak bisa dilakukan tanpa memahami ilmu nahwu. Alat untuk memahami perkara wajib itu juga wajib.[5] Contoh bid’ah wajib yang lain seperti memahami kata gharib dari Al-Quran dan hadits, menyusun ushul fiqih, mempelajari ilmu hadits, dan lai-lain.

Contoh bid’ah yang haram antara lain madzhab tauhid Qadariyah, Jabariyah, Murjiah, dan Mujassimah.[6]

Contoh bid’ah yang sunnah seperti mendirikan pesantren dan sekolah, membangun jembatan, termasuk juga setiap kebaikan yang tidak ada di zaman Rasulullah seperti shalat tarawih, pembahasan mendalam ilmu tasawuf, belajar ilmu komunikasi apabila dimaksudkan untuk dakwah dan ibadah.

Contoh bid’ah yang makruh seperti menghias masjid dan memperindah mushaf. Adapun melagukan Al-Quran sampai merubah makna, maka itu termasuk bid’ah yang haram menurut pendapat yang paling sahih.

Contoh bid’ah yang mubah antara lain bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, memperluas dalam makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, memakai tayalisah (pakaian non-muslim), memperluas lengan baju. Namun ulama berbeda pendapat dalam soal ini antara makruh dan mubah.[7]

Pembagian bid’ah menjadi lima sesuai dengan hukum syariah ini disepakati oleh Ibnu Hajar. Ia menyatakan, “Bid’ah itu secara mutlak berhadapan dengan sunnah, maka (seakan) ia tercela. Yang benar adalah apabila baik menurut kacamata syariah maka ia bid’ah hasanah (baik). Dan apabila buruk menurut perspektif syariah maka disebut bid’ah buruk (qabihah). Apabila tidak masuk pada keduanya, maka termasuk dalam bid’ah yang mubah. Dan bid’ah bisa terbagi ke dalam hukum syariah yang lima (wajib, haram, sunnah, makruh, sunnah).”[8]

Bid’ah Baik Menurut Sahabat Ibnu Umar

Abdullah bin Umar bin Khattab termasuk salah satu ulama dari kalangan Sahabat yang menyebut adanya pembagian bid’ah menjadi baik dan buruk. Ia menyebut shalat Dhuha berjamaah masuk dalam kategori bid’ah yang baik. Dalam sebuah hadits riwayat muttafaq alaih dari Mujahid ia berkata: Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid. Abdullah bin Umar sedang duduk di rumah Aisyah. Saat itu orang-orang sedang shalat dhuha di masjid (secara berjamaah). Aku bertanya pada Ibnu Umar tentang salat mereka. Ia menjawab, “Itu bid’ah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih dari Hakam bin A’raj dari A’raj ia berkata: “Aku bertanya pada Ibnu Umar tentang shalat dhuha. Ia menjawab: “Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah.”[9]

Bid’ah Hidayah dan Dhalalah

Ibnul Atsir (wafat, 606 H/1210 M) dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, membagi

bid’ah menjadi dua: bid’ah hidayah (huda) dan bid’ah sesat (dhalalah). Ia menyatakan, “Perkara yang berlawanan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk tercela dan diingkari. Perkara yang jatuh di bawah keumuman perkara yang disunnahkan dan dianjurkan maka ia termasuk terpuji. Perkara yang tidak ada contoh sebelumnya seperti jenis dari kedermawanan dan perbuatan yang baik maka itu masuk perilaku terpuji.. Adapun hadits ‘Setiap perkara baru itu bid’ah’ maksudnya adalah perkara yang berlawanan dengan pokok-pokok syariah dan tidak sesuai dengan sunnah.”[10]

Pendapat ini disepakati oleh Ibnu Arabi (wafat, 638 H/1240 M) di mana ia menyatakan, “Bid’ah dan perkara baru tidaklah otomatis tercela. Bid’ah itu tercela apabila menyalahi sunnah. Perkara baru itu tercela apabila membawa pada kesesatan.”[11]

Bid’ah menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah (wafat, 728 H/1328 M) adalah ulama yang menjadi panutan kelompok yang biasa menyesatkan bid’ah secara mutlak. Faktanya, Ibnu Taimiyah sependapat dengan para ulama salaf dalam soal adanya pembagian bid’ah menjadi baik dan buruk. Dalam Majmuk Al-Fatawa ia mengutip pendapat Imam Syafi’i, “Imam Syafi’i berkata: Bid’ah ada dua: Bid’ah yang berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi, ijmak ulama dan atsar Sahabat maka disebut bid’ah sesat (dholalah) dan bid’ah yang tidak menyalahi Al-Quran dll maka disebut bid’ah baik (hasanah) berdasarkan ucapan Umar: ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini.’ Perkataan Imam Syafi’i ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang sahih.”[12]

Ibnu Taimiyah juga membagi pendapat ulama tentang bid’ah menjadi dua: a) yang membagi bid’ah menjadi baik dan buruk; b) yang menganggap semua bid’ah syari’iyah itu sesat, sedangkan bid’ah baik itu bid’ah secara lughawi (bahasa). Ia menyatakan, “Jadi, bid’ah hasanah – menurut mereka yang membagi bid’ah menjadi hasanah dan sayyi’ah – harus disunnahkan oleh seorang ulama yang jadi panutan dan menunjukkan dalil syar’i atas kesunnahannya. Begitu juga ulama yang menyatakan bahwa semua bid’ah syar’iyah itu tercela (madzmumah) berdasarkan pada sabda Nabi “setiap bid’ah itu sesat” dan mengatakan bahwa ucapan Umar dalam shalat tarawih “sebaik-baik bid’ah itu ini” dialihkan sebagai bid’ah secara bahasa. Menurut golongan kedua ini, bid’ah secara syariah adalah suatu perbuatan yang tidak berdasarkan pada dalil syar’i atas kesunnahannya.”[13]

Dalam kitabnya yang lain Al-Furqon baina Auliya Al-Rahman wa Aulia Al-Syaiton, Ibnu Taimiyah kembali mengutip pendapat Imam Syafi’i ditambah pendapat Izzuddin bin Abdussalam tanpa ada pengingkaran bahkan cenderung setuju dengan pendapat tersebut. Ia menyatakan: “Imam Syafi’i berkata: Bid’ah terbagi dua, terpuji (mahmudah) dan tercela (madzmumah). Yang sesuai dengan sunnah disebut terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah disebut tercela. Pernyataan Imam Syafi’i ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dari jalur Ibrohim bin Junaid dari Syafi’i. Juga dari Syafi’i pernyataan yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Manaqib Syafi’i di mana Syafi’i berkata: “Perkara baru itu ada dua macam, pertama, perkara yang menyalahi Al-Quran, Sunnah, atsar Sahabat Nabi, ijmak ulama, maka ini disebut bid’ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik yang tidak berlawanan dengan sesuatu pun dari yang disebut maka ini disebut perkara baru yang tidak tercela.” Sebagian ulama membagi bid’ah berdasarkan hukum yang lima. Ini jelas.”[14]

Dengan demikian, maka pembagian bid’ah menjadi baik dan buruk sudah menjadi kesepakatan ulama. Seorang muslim tidak perlu kuatir dalam melakukan hal baru selagi di dalamnya tidak ada unsur yang menyalahi syariah atau berlawanan dengannya. Adanya dua macam bid’ah ini juga akan membuat ber-islam itu menjadi lebih mudah dan lebih luwes baik dalam menilai diri sendiri maupun menilai kelompok lain. Semakin terbuka lebar pintu untuk bisa harmonis dan bersatu dalam perbedaan antar-kelompok Islam.

Sebaliknya, bersikeras pada pendapat bahwa bid’ah itu menyesatkan secara mutlak akan membuat cara ber-Islam yang sulit. Terutama dalam menjaga keharmonisan antar-kelompok dan memelihara persatuan antar-umat menjadi semakin rumit karena tidak bisa mengakomodasi perbedaan dan keberagaman.[15] Padahal persatuan umat Islam adalah kunci kekuatan Islam dan merupakan perintah syariah.[16][]

Bacaan lanjutan:

Footnote dan Referensi:

[1] Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari bi Syarh Sahih Al-Bukhari, hlm. 2/ 394.

[2] Al-Izz bin Abdussalam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalih Al-Anam, hlm. 2/ 204.

[3] Ibid. Teks asal: وهي منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة

[4] Ibid. Teks: والطريق في معرفة ذلك: أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة

[5] مالا يتم الواجب إلا به فهو واجب

[6] Dalam soal tauhid, kalangan Wahabi disebut masuk dalam kelompok Mujassimah.

[7] Al-Izz bin Abdussalam, ibid. Lihat juga, Imam Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal Lughat, hlm. 276.

[8] Ibnu Hajar, ibid., hlm. 4/294. Teks lengkap: والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق وتطلق في الشرع في مقابل السنة قتكون مذمومة والتحقيق أنها إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وإن كانت مما تندرج في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة

[9] Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari bi Syarh Sahih Al-Bukhari, hlm. 3/584.

[10] Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, hlm. 1/106. Teks asal: البدعة بدعتان: بدعة هدى، وبدعة ضلال، فما كان في خلاف ما أمر الله به ورسولُه -صلى الله عليه وآله وسلم- فهو في حيز الذم والإنكار، وما كان واقعًا تحت عموم ما ندب إليه وحض عليه فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مِثال موجود كنَوْع من الجُود والسَّخاء وفِعْل الـمعروف، فهو من الأفعال المحمودة…. وعلـى هذا التأويل يُحمل الحديث الآخَر: «كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ». إنما يريد ما خالَف أُصولَ الشريعة، ولم يوافق السنة

[11] Abdullah Al-Harari dalam Rawaih Al-Zakiyah fi Maulid Khair Al-Bariyah, hlm. 13. Teks asal: ليست البدعة والمحدَث مذمومين للفظ بدعة ومحدث ولا معنييهما، وإنما يذم من البدعة ما يخالف السنة، ويذم من المحدثات ما دعا إلى الضلالة

[12] Ibnu Taimiyah dalam Majmuk Al-Fatawa, hlm. 20/163. Teks asal: قال الشّافعيّ – رحمه اللّه -: البدعة بدعتان: بدعة خالفت كتابًا وسنّةً وإجماعًا وأثرًا عن بعض أصحاب رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم فهذه بدعة ضلالةٍ. وبدعة لم تخالف شيئًا من ذلك فهذه قد تكون حسنةً لقول عمر: نعمت البدعة هذه هذا الكلام أو نحوه رواه البيهقي بإسناده الصّحيح في المدخل.

[13] Ibnu Taimiyah, ibid, hlm. 27/152. Teks asal: إذًا البدعة الحسنة – عند من يقسّم البدع إلى حسنةٍ وسيّئةٍ – لا بدّ أن يستحبّها أحد من أهل العلم الّذين يقتدى بـهم ويقوم دليل شرعيّ على استحبابـها وكذلك من يقول البدعة الشّرعيّة كلّها مذمومة لقوله صلّى اللّه عليه وسلّم في الحديث الصّحيح: {كلّ بدعةٍ ضلالة} ويقول قول عمر في التّراويح: ” نعمت البدعة هذه ” إنّما أسماها بدعةً: باعتبار وضع اللّغة. فالبدعة في الشّرع عند هؤلاء ما لم يقم دليل شرعيّ على استحبابه

[14] Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqon baina Auliya Al-Rahman wa Aulia Al-Syaiton, hlm. 1/162.

[15] QS Al-Hujurat :13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”

[16] QS Ali Imran 3:103, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply