Beda Generasi Salaf, Gerakan Salafi dan Wahabi

Beda Generasi Salaf dan Salafi WahabiBeda Generasi Salaf, Gerakan Salafi dan Wahabi
Oleh: A. Fatih Syuhud

Salaf dalam istilah dunia pesantren adalah suatu sistem pendidikan dalam pesantren yang memprioritaskan pembelajaran bidang studi literatur Islam klasik yang umum disebut dengan kitab kuning atau kitab turots.[1] Adapun istilah salaf yang akan dibahas dalam tulisan ini sama sekali tidak ada kaitan dengan hal tersebut.

Daftar Isi

Secara lughawi (etimologis), salaf bermakna yang terdahulu (al-mutaqaddim). Jadi, kata as-salafus shalih dapat diartikan golongan terdahulu yang saleh. Salaf juga mengandung arti nenek moyang. Ibnu Faris mencontohkan makna salaf ar-rajul  bermakna nenek moyang yang terdahulu.[2] Ibnu Mandzur mengartikan salaf dalam bentuk kata kerja (fi’il) sebagai “dahulu.” Sedang kata salaf, salif dan salafah  bermakna golongan orang yang terdahulu.[3]

Dalam istilah literatur Islam kata salaf atau salafus sholeh adalah  suatu istilah untuk generasi awal umat Islam.[4] Namun, ada beberapa perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan generasi awal tersebut.  Setidaknya ada lima pendapat dalam soal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa mereka adalah kalangan Sahabat Nabi.[5] Secara definisi, Sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan Islam. Sama saja pernah mujalasah (duduk bersama) dengan Nabi dalam jangka waktu lama atau pendek; pernah meriwayatkan hadits atau tidak; pernah berperang bersama Nabi atau tidak; pernah melihat Nabi walaupun tidak pernah mujalasah; atau orang yang belum pernah melihat Nabi karena hal baru seperti buta..[6] Adapun jumlah Sahabat Nabi menurut Al-Sakhawi ada lebih dari 100.000 orang.[7]

Pendapat kedua menyatakan bahwa generasi salaf atau salafus sholeh terdiri dari Sahabat dan Tabi’in.  Ini pendapat yang dipilih oleh Al-Ghazali.[8]  Pendapat ketiga menyatakan salafus sholeh adalah kalangan tabi’in saja. Ini pendapat Ibnu Al-Atsir.[9] Tentang definisi Tabi’in itu sendiri, ulama sepakat bahwa Tabi’in adalah orang yang pernah bertemu dengan Sahabat dalam keadaan beriman dan mati sebagai muslim. Ibnu Hajar Asqalani menyatakan “Tabi’in adalah orang yang pernah bertemu dengan Sahabat.”[10] Menurut Al-Khotib Al-Baghdadi Tabi’in adalah orang yang pernah bersama dengan Sahabat. Al-Hakim mendefinisikan Tabi’in secara mutlak yaitu orang yang pernah bertemu Sahabat dan meriwayatkan hadits darinya walaupun tidak pernah bersama.[11] Ulama dari kalangan Tabi’in antara lain Said bin Al-Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid bin Jabr, Said bin Jubair, Ikrimah (maula Ibnu Abbas), Nafi (maula Ibnu Umar).

Sementara pendapat keempat menyatakan bahwa generasi salafus sholeh adalah tiga generasi pertama Islam yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it tabi’in.  Pendapat ini berdasarkan pada hadits sahih riwayat muttafaq alaih di mana Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada zamanku, lalu zaman setelahnya, lalu generasi setelahnya.”[12] Imam Nawawi dalam menjelaskan maksud hadits ini menyatakan: “Yang sahih adalah bahwa yang dimaksud masa Rasulullah adalah Sahabat, kedua Tabi’in, ketiga Tabi’it tabi’in.”[13] Pendapat keempat ini yang dipilih oleh Al-Safarini[14] dan Ibnu Rajab.[15] Sementara itu, yang dimaksud Tabi’it tabi’in (pengikut Tabi’in) adalah generasi yang pernah bersama atau pernah bertemu dengan Tabi’in serta tidak pernah bertemu dengan Sahabat.[16]

Ulama dari kalangan Tabi’it tabi’in antara lain:  Al-Tsauri, Malik bin Anas, Muhammad Al-Baqir, Jafar As-Shodiq, Sofyan bin Uyainah, Rabiah, Ibnu Hurmuz, Al-Hasan bin Shaleh, Abdullah bin Al-Hasan, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubromah, Al-Auza’i. Laits bin Saad, dan Abu Yusuf.

Pendapat kelima menyatakan bahwa generasi salaf atau salafus sholeh adalah generasi yang hidup pada lima abad pertama Islam. Ini pendapat Al-Baijuri dalam Tuhfah Al-Murid Syarh Jauharah Al-Tauhid.[17]

Apapun perbedaan definisi generasi salaf, yang jelas dari segi waktu tidak bisa dibatasi oleh abad tertentu. Karena, era Sahabat itu berlaku sejak era awal Islam sampai wafatnya Sahabat terakhir. Yakni, tahun 120 hijriah. Era Tabi’in, bermula dari tahun ke-100 hijriah sampai 170  hijriah. Sedangkan era Tabi’it tabi’in dimulai dari 170 hijriah sampai 220 hijriah.[18]

Gerakan Salafi Ibnu Taimiyah

Adapun istilah Salafi sebagai suatu nama aliran dalam Islam merupakan suatu gerakan Islam yang muncul di akhir abad ke-7 hijriah atau abad ke-13 masehi yang dipelopori Ibnu Taimiyah (661 – 728 H/1263 – 1328 M) sebagai reaksi atas reformasi rasional (ilmu kalam) yang dipelopori oleh Al-Asy’ari atas akidah Ahli Hadits. Ibnu Taimiyah, yang notabene merupakan ahli fiqih madzhab Hanbali, menganggap bahwa pembaharuan semacam ini keluar dari sunnah.[19] Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah berusaha menghidupkan kembali akidah ahli hadits sebagai perlawanan terhadap doktrin takwil yang dilakukan ulama tauhid Asy’ariyah atas hadits-hadits yang digunakan sebagai dasar akidah mereka. Ibnu Taimiyah memberi nama gerakan ini dengan Manhaj Salafis Sholeh. Maka dakwahnya dikenal dengan sebutan Salafi. Karena ia mengajak untuk kembali ke jalur Salafus Soleh dan berpegang pada Al-Quran dan Sunnah.[20]

Menurut Ibnu Taimiyah, Asy’ariyah dan kelompok lain mulai melenceng dari jalan Salafus Sholeh karena mengamalkan suatu akidah baru yang tidak dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal dan ulama sebelumnya. Seperti melakukan perjalanan khusus untuk ziarah kubur Rasulullah, memperingati maulid Nabi, tabarruk dan tawasul pada Nabi dan Ahli Bait Nabi. Ziarah kubur, menurut Ibnu Taimiyah, adalah bid’ah dan syirik yang bertentangan dengan akidah tauhid.[21]

Reformasi yang dilakukan Ibnu Taimiyah dan kekuatan argumennya membuatnya memperoleh banyak pengikut. Di kalangan mereka ia mendapat julukan Syaikhul Islam. Akan tetapi dakwahnya tidak mendapat sambutan luas di kalangan Islam mainstream. Pengaruhnya terbatas pada sejumlah kawasan di Syam dan Mesir. Bahkan, ia mendapat perlawanan sengit dari sejumlah ulama Ahlussunnah berpengaruh. Ia dipenjara di Mesir selama 1.5 tahun karena ideologi tajsim dan tasybihnya. Ia kembali ditahan di Damaskus. Ajaran Salafi ala Ibnu Taimiyah mengalami kemandekan dan hanya diikuti oleh sebagian kecil orang sejak awal sampai akhir hayatnya. [22] Gerakan Salafi baru mulai menyebar dengan cepat setelah dakwah Ibnu Taimiyah ini diambil alih dan diteruskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya lima abad kemudian. Ini semua berkat bantuan finansial tak terbatas dari kerajaan Arab Saudi untuk menyebarkan faham ini ke seluruh dunia.

Gerakan Wahabi

Wahabi adalah nama suatu gerakan yang muncul pada abad ke-12 hijriah atau abad ke-18 masehi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1206 H/1703 -1792 M). Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan dan menyebarkan pemikiran Salafi-nya Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah.

Namun demikian, Ibnu Abdil Wahab lebih radikal dan ekstrim dibanding Ibnu Taimiyah sendiri sampai pada tahap mengkafirkan semua umat Islam yang tidak mengikuti alirannya dengan tuduhan syirik, tidak murni bertauhid pada Allah[23] dan menyerukan pemberantasan apa yang dia sebut dengan bid’ah dengan kekuatan bersenjata.

Itulah sebabnya, Wahabi tidak segan menghancurkan peninggalan sejarah Islam di Makkah dan Madinah. Gerakan radikal ini mendapat dukungan dan pembelaan dari keluarga Saud di mana mereka mengumumkan mengikuti madzhab Salafi dan membentuk aliansi bersama gerakan Ibnu Abdil Wahab yang membantu Saud menduduki sebagian besar jazirah Arab dan membantu Inggris membentuk negara Kerajaan Arab Saudi.

Apabila pada awalnya gerakan Wahabi hanya terbatas penyebarannya pada jazirah Arab, namun pada saat ini ia menjadi gerakan yang pengikutnya tersebar di seluruh dunia. Ini tentu tak lepas dari peran dan dukungan kerajaan Arab Saudi yang sangat besar baik secara finansial maupun politis serta tekanan pada aliran lain untuk dapat tumbuh bebas di negara ini.[24]

Walaupun Wahabi menganggap gerakan mereka sebagaimana gerakan reformasi lain, namun para ulama Ahlussunna Wal Jamaah menolak akidah dan pemikiran Ibnu Abdil Wahab. Salah satunya adalah saudaranya sendiri Sulaiman bin Abdul Wahab dalam kitabnya Al-Shawaiq Al-Ilahiyah fil Raddi ala Al-Wahhabiyah.

Beda Salafi dan Wahabi

Salafi dan Wahabi bagaikan saudara kandung, bak pinang di belah dua.  Sulit membedakan antara penganut Salafi murni dengan aktivis Wahabi. Istilah ini terkadang disebut secara berkelindan (interchangeable),  ditulis atau diucapkan secara silih berganti sebagai suatu sinonim. Atau dua kata ini disebut secara bersamaan seperti Wahabi Salafi atau Salafi Wahabi.

Kalau dilihat dari sejarahnya, di mana gerakan Salafi murni Ibnu Taimiyah penyebarannya sebatas Mesir dan Syam saja dan baru menyebar lebih luas di era Wahabi, maka dapat disimpulkan bahwa kalangan yang menyebut dirinya Salafi yang berada di luar Arab adalah Wahabi atau Salafi Wahabi.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa Salafi dan Wahabi adalah dua pergerakan yang memiliki akar berbeda namun telah menyatu sejak tahun 1960-an.[25] Pendapat lain menyatakan bahwa Wahabisme disebut sebagai “subkultur aliran Salafi”, atau Salafi ultra-konservatif versi Arab Saudi.[26] Pendapat terakhir adalah yang paling mendekati reaitas. Karena, ajaran  Wahabi yang dibawa Muhammad bin Abdil Wahab pada dasarnya mengikuti dan meneruskan konsep teologi Ibnu Taimiyah yang meliputi (a) pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma was shifat; (b) teologi tajsim atau memfisikkan Allah; (c) mengingkari perilaku yang dianggap “syirik” dengan memerangi praktik tawasul, tabaruk pada para Rasul, para Nabi, para Wali dan orang soleh baik dalam keadaan hidup atau mati; (c) anti pada  perilaku yang disebut bid’ah dan khurafat seperti membangun kuburan, memperingati maulid Nabi atau orang saleh, dan lain-lain.[27] Baik Salafi maupun Wahabi sama-sama mengamalkan ketiga prinsip dasar ini. Menurut Abu Zahrah, kalau Ibnu Taimiyah adalah pencipta teori gerakan Salafi, maka Ibnu Abdil Wahab adalah pelaksananya.[28]

Kontroversi Nama Wahabi

Kalangan Wahabi sendiri memang lebih senang menyebut diri mereka sebagai salafi. Sebagian dari mereka menganggap sebutan Wahabi sebagai pelecehan yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka. Namun, kata “Wahabi” sudah menjadi nama yang umum dan sangat populer di kalangan ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dalam berbagai literatur yang membahas tentang gerakan ini.  Lihat misalnya kitab atau buku yang ditulis ulama Aswaja berikut: Al-Shawaiqul Al-Ilahiyah fil Raddi alal Wahhabiyah ditulis oleh Sulaiman bin Abdil Wahab saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahab, Al-Wahhabiyah Tusyawwihul Islam wa Tuakhirul Muslim (Muhamad Al-Ghazali), Khatarul Wahhabiyah Alal Ummatil Muhammadiyah (Dr. Ahmad Abdurrahim As-Sayih), Al-Wahhabiyah (Sami Qasim Amin Al-Maliji), Al-Khatar Al-Wahhabiy: Tsalasu Rosail Dhidda Al-Wahhabiyah (Abdullah bin Muhammad bin Rasyid), dan lain-lain.

Saking masyhurnya sehingga sebagian tokoh utama Wahabi tidak keberatan dengan sebutan ini.  Abdul Aziz bin Baz,[29] ulama senior Wahabi  dan mufti besar kerajaan Arab Saudi, tidak keberatan dengan sebutan tersebut. Dalam kitab Fatawa Nur ala Al-Darb, hlm. 1/19, dalam menjawab pertanyaan seorang penanya ia menyatakan:


يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟ الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه وصار أتباعه ومن دعا بدعوته ونشأ على هذه الدعوة في نجد يسمى بالوهابي، وكان هذا اللقب علما لكل من دعا إلى توحيد الله، ونهى عن الشرك وعن التعلق بأهل القبور، أو التعلق بالأشجار والأحجار، وأمر بالإخلاص لله وحده وسمي وهابيا، فهو لقب شريف عظيم

Artinya: Seseorang bertanya kepada Syaikh: Sebagian manusia menamakan Ulama-ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi, apakah engkau ridha dengan nama tersebut? Dan apa respons pada mereka yang menamakan engkau dengan nama tersebut? Jawaban Bin Baz: Julukan tersebut masyhur untuk ulama tauhid yakni Ulama Najed. Mereka mennggolongkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab… Para pengikut Ibnu Abdil Wahab dan orang yang berdakwah dengan madzhabnya disebut Wahabi. Julukan ini merupakan nama bagi setiap orang yang berdakwah pada tauhid dan mencegah dari syirik dan bergantung pada ahli kubur atau pada kayu dan batu dan memerintah untuk ikhlas pada Allah saja disebut Wahabi. Ini adalah julukan yang mulia dan agung.[30]

Tokoh Wahabi lain yang dengan bangga menyebut diri sebagai Wahabi adalah Ibnu Hajar Alu Butomi[31], guru dari Abdul Aziz Alus Syaikh mufti Arab Saudi saat ini. Dalam bukunya yang berjudul As Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuhu as Salafiyyah Wa Da’watuhu al Islamiyyah wa Tsanaul Ulama alaih ia tanpa sungkan menyebut Muhammad bin Abdul Wahab sebagai pendiri madzhab Wahabi, dan gerakan yang didirikan olehnya sebagai Al-Wahhabiyah sedang pengikutnya sebagai Al-Wahhabiyun.  Buku ini bukan sembarang buku.  Buku ini memiliki tingkat otoritas dan pengaruh yang tinggi di kalangan Wahabi Arab Saudi. Sebelum diterbitkan oleh Universitas Islam Madinah, buku ini sudah lolos sensor dan ditashih (diteliti) langsung oleh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Baz, mufti Arab Saudi saat itu.

Dalam bukunya ini Alu Butomi menuturkan tentang perkembangan gerakan Wahabi di Afrika dan India:


فقامت الثورات على يد دعاة الوهابيين ، ضد الأوضاع السائدة في البلاد … وما مضت سنتان ، حتى أقام عثمان مملكة  ( سوكوتو ) في السودان على أساس من الدعوة الدينية الوهابية … وكما غزت الدعوة الوهابية السودان ، وكذلك غزت الدعوة بعض المقاطعات الهندية .. فلما التقى بالوهابيين ، في مكة اقتنع بصحة ما يدعون إليه ، وأصبح من دعاة المذهب الذين تملكهم الإيمان ، وسيطرت عليهم العقيدة … استطاع هؤلاء المسلمون الوهابيون أن يقيموا الدعوة الإسلامية على أساس من المبادئ الوهابية ، بجهة البنجاب ، تحت حكم الداعية ، السيد أحمد … ولكن الدعوة الوهابية ، ظلت قائمة هناك على يد خلفاء السيد أحمد من بعده ولم يستطيع المستعمرون أن ينالوا منها . ولا يزال الكثيرون من سكان هذه المناطق ، يدينون بالإسلام على المذهب الوهابي .

Revolusi tegak di bawah juru dakwah Wahabi (al-Wahabiyun) melawan kondisi yang ada di negara itu … tidak sampai dua tahun kerajaan Sokoto di Sudan berada di bawah dakwah Islam Wahabi (Al-Wahabiyah)… Sebagaimana menyebarnya dakwah Wahabi di Sudan, menyebar pula dakwah Wahabi di sebagian kawasan India .. Ketika Sayid Ahmad bertemu dengan aktivis Wahabi (Al-Wahabiyun) di Makkah, ia merasa puas dengan kesahihan dakwahnya dan menjadi bagian dari dainya .. Maka, kaum muslim Wahabi (al-muslimun al-wahhabiyun) mampu mendirikan dakwah Islam berdasarkan pada prinsip akidah Wahabi di kawasan Punjab di bawah dai Sayid Ahmad… akan tetapi dakwah Wahabi berdiri tegak di sana di bawah kepemimpinan Sayid Ahmad sehingga kaum penjajah tidak dapat mencapai kawasan itu. Penduduk daerah ini tetap beragama Islam berdasarkan madzhab Wahabi (al-madzhab al-Wahhaby).[32]

Tentang perkembangan awal Wahabi di Indonesia, Alu Butomi menulis:


وفي سومطرة ابتدأت الدعوة الوهابية سنة 1803م على يد أحد الحجاج من أهل الجزيرة ، وكان قد عاد من الحج في نفس السنة ، بعد أن التقى بالوهابيين واطلع على صحة ما يدعون إليه . فلما عاد إلى وطنه ، ابتدأ دعوته ، ثم تطورت الحركة إلى حروب طاحنة ، بين المسلمين الوهابيين الذين أصبحوا قوة كبيرة في سومطرة ، وبين غير المسلمين من سكانها الأصليين ، حتى رأت حكومة الاستعمار الهولندية سنة 1821م أن تناهض هذه الحركة القوية محافظة على كيانها ونفوذها هناك . واستمرت المناوشات والحروب بين المستعمرين الهولنديين ، وبين السومطرين الوهابيين ، ما لا يقل عن ستة عشر عاماً . ثم انتهت بتغلب قوى الاستعمار على القائمين بحركة الوهابية . وكما انتشرت في الجزائر بواسطة الدعوة السنوسية ، فقد انتشرت هذه الدعوة المباركة بحضرموت ، وجاوة ، بواسطة السيد محمد رشيد رضا ، وتأليفه جمعية الإرشاد الداعية هناك إلى الكتاب والسنة ، ونبذ البدع والخرافات ، طبق مبادئ الشيخ محمد بن عبد الوهاب . وقد تأثر فيها كثيرون . بحضرموت ، وعدن ، وجاوة ، كما هو معروف . وكل الحركات الإصلاحية ، مدينة للدعوة الوهابية .

Di Sumatera, dakwah Wahabi dimulai pada tahun 1803 M oleh salah satu jamaah haji. Ia kembali dari haji pada tahun yang sama. Setelah bertemu dengan kaum Wahabi dan melihat kebenaran dakwah mereka ketika kembali ke negaranya ia mulai berdakwah. Lalu berkembanglah gerakan ini pada level peperangan antara muslim Wahabi yang menjadi kekuatan besar di Sumatera dengan non-muslim dari penduduk setempat… Peperangan antara penjajah Belanda dengan warga Wahabi Sumatera terus berlanjut tidak kurang dari 16 tahun. Dan berakhir dengan kemenangan pasukan penjajah mengalahkan aktivis gerakan Wahabi. Sebagaimana berkembangnya gerakan ini di Aljazair melalui dakwah Sanusi, gerakan ini juga berkembang di Hadhramaut dan Jawa melalui Sayid Muhammad Rasyid Ridha dan pembentukan organisasi Al-Irsyad yang mengajak kembali pada Al-Quran dan Sunnah, meninggalkan bid’ah dan khurafat serta mempraktikkan prinsip-prinsip Muhammad bin Abdul Wahab…[33]

Dengan adanya dua pengakuan akan nama Wahabi dari dua tokoh Wahabi senior dan berpengaruh di atas, maka tidak perlu lagi ada kontroversi atau penyangkalan dari para aktivis dan ustadz Wahabi yang statusnya masih di bawah kedua ulama tersebut. Apalagi, nama bukanlah hal yang substansial. Baik dan buruk suatu nama dan citra gerakan Islam sangat tergantung dari kebenaran ajaran itu dari perspektif syariah dan integritas para aktivis di dalamnya.[]

Footnote

[1] Lihat, A. Fatih Syuhud, Santr, Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam, Pustaka Al-Khoirot, 2008.

[2] Ibnu Faris, Mukjam Maqayis Al-Lughah, hlm. 3/95. Teks: سلف، السين واللام والفاء، أصل يدل على تقدُّم وسَبْق، مِن ذلك السلف الذين مضوا، والقوم السُلاَّف: المتقدمون

[3] Ibnu Mazhur, Lisanul Arab, hlm. 6/331.  Al-Quran juga menggunakan kata salaf dengan makna terdahulu. Lihat, QS  Al-Haqqah :24; Az-Zukhruf :56; Al-Baqarah :275;  Al-Maidah :95;  Al-Anfal :38,

[4] Al-Safarini, Lawami Al-Anwar, hlm. 1/20.

[5] Lihat, Abu Zaid Al-Qairuwani dalam Al-Risalah, hlm. 36; Al-Maghrawi dalam Al-Mufassirun bain Al-Takwil wal Isbat, hlm. 1/18.

[6] Definisi terbaik tentang Sahabat adalah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Al-Ishobah fi Tamyiz As-Shohabah, hlm. 1/7. Teks asal: من لقي النبي صلى الله عليه وسلم مؤمناً به، ومات على الإسلام؛ فيدخل فيمن لقيه من طالت مجالسته له أو قصرت، ومن روى عنه أو لم يرو، ومن غزا معه أو لم يغز، ومن رآه رؤية ولو لم يجالسه، ومن لم يره لعارض كالعمى

[7] Al-Sakhawi dalam Fathul Mughits bi Syarh Alfiyah Al-Hadits lil Iraqi, hlm. 4/108. menyatakan: “توفى رسول الله صلي الله عليه وسلم و من رآه و سمع منه زيادة على مائة ألف إنسان من رجل و امرأة كلهم قد روى عنه سماعا أو رؤية”. Tentang Sahabat utama lihat, A. Fatih Syuhud, Meneladani Akhalk Rasul dan Para Sahabat, Pusataka Al-Khoirot, 2015.

[8] Imam Al-Ghazali dalam Iljam Al-Awam, hlm. 53.

[9] Ibnul Atsir, An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wal Atsar, hlm. 2/190.

[10] Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Nukhbatul Fikri, hlm. 4/727.

[11] Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Ikhtishar Ulum Al-Hadits, hlm. 186.

[12] Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Masud. Teks asal: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

[13] Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 16/85. Teks asal: الصَّحِيحُ أَنَّ قَرْنَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الصَّحَابَةُ ، وَالثَّانِي : التَّابِعُونَ ، وَالثَّالِثُ : تَابِعُوهُمْ

[14] Al-Safarini dalam Lamawi Al-Anwar, hlm. 1/20.

[15] Ibnu Rajab dalam Fadhlu Ilm Al-Salaf ala Ilm Al-Kholaf, hlm. 60.

[16] Ibid,.

[17] Al-Baijuri dalam Tuhfah Al-Murid Syarah Jauharah Al-Tauhid, hlm. 91.

[18] Al-Qori dalam Mirqot Al-Mafatih, hlm. 9/3878. Teks asal: َالَ السُّيُوطِيُّ : وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ – يعني القرن – لَا يَنْضَبِطُ بِمُدَّةٍ ، فَقَرْنُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هُمُ الصَّحَابَةُ ، وَكَانَتْ مُدَّتُهُمْ مِنَ الْمَبْعَثِ إِلَى آخِرِ مَنْ مَاتَ مِنَ الصَّحَابَةِ مِائَةً وَعِشْرِينَ سَنَةً ، وَقَرْنُ التَّابِعِينَ مِنْ مِائَةِ سَنَةٍ إِلَى نَحْوِ سَبْعِينَ ، وَقَرْنُ أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ مِنْ ثَمَّ إِلَى نَحْوِ الْعِشْرِينَ وَمِائَتَيْنِ

[19] Ibnu Taimiyah  da;a, Al-Fatwa Al-Hamwiyah Al-Kubro, menulis panjang lebar tentang ilmu kalam Al-Asy’ari dan responsnya.

[20] Istilah berpegang teguh pada Quran dan Sunnah sebenarnya suatu jargon yang bisa disalahpahami oleh kalangan awam dan bisa bersifat kontradiktif. Karena, secara faktual Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdil Wahab dan para ulama Salafi Wahabi sama-sama menggunakan akal untuk mendukung pendapatnya. Sekedar contoh, konsep pembagian tauhid menjadi tiga yaitu uluhiyah, rububiyah, asma was shifat adalah konsep buatan Ibnu Taiimiyah dan tidak ada dalam Al Quran maupun Sunnah. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir, menyebut konsep ini bid’ah yang sesat.

[21] Bantahan dan analisa detail tentang ini lihat A. Fatih Syuhud, “Bid’ah itu Baik”, “Maulid Nabi menurut Empat Madzhab”, fatihsyuhud.net

[22] Irfan Abdul Hamid, Dirasat fil Firaq wal Madzahib, hlm. 213. Abu Zahrah dalam Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, hlm.  194 menyatakan:  لكن هذه الصحوة السلفية لم تنجح فيما نجح فيه ابن حنبل، فلم تصبح مذهباً للدولة، وإنّما ظلت حركة، يلقى اعلامها السجن والعنت والاضطهاد . Lihat juga, “As-Salafiyah”, Majmuah Bahitsin, hlm. 205.

[23] Muhammad bin Abdul Wahab dalam Kitab Al-Tauhid menyatakan: من الشرك أن يستغيث بغير الله أو يدعو غيره (Termasuk syirik adalah meminta tolong atau berdoa pada selain Allah) dalam bab ini termasuk yang dianggap syirik adalah tawassul dengan menyebut nama Nabi dan Rasul atau orang saleh saat berdoa.

[24] Dalam “Analysis Wahhabism”, PBS Frontline (13 Mei 2014). “Wahhabism’s explosive growth began in the 1970s when Saudi charities started funding Wahhabi schools (madrassas) and mosques from Islamabad to Culver City, California.”

[25] Michael R. Dillon, (September 2009). “Wahabism: Is it a Factor in the Spread of Global Terrorism?”. Naval Post-Graduate School. hlm. 3-4.

[26] “For Conservative Muslims, Goal of Isolation a Challenge”, Washington Post, 13 November 2014.

[27] Konsep teologi Salafi dan Wahabi akan dibahas secara lebih khusus dalam tulisan berikutnya.

[28] Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, hlm. 187.

[29] Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1910-1999 M/1330-1420 H) adalah salah satu ulama utama Wahabi setelah Muhammad bin Abdul Wahab. Ia menjabat Mufti Arab Saudi sejak 1992 sampai wafatnya pada 1999. Tokoh utama Wahabi yang lain adalah Muhammad  bin Shalih Al-Utsaimin dan  Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

[30] Abdul Aziz bin Baz, Nur alad Darb, hlm. 1/19.

[31] Nama lengkapnya Ahmad bin Hajar Al-Butomi Al-Ban’ali (أحمد بن حجر آل بوطامي البنعلي) (1915-2002 M/1335-1423 H). Ia seorang ulama berpengaruh di Qatar dan kawasan teluk dan menduduki sejumlah jabatan penting di bidang agama antara lain Hakim Agama Qatar (1951-1956), pengajar di Mahad Imam Da’wah di Riyadh (1956 – 1958) atas permintaan mufti Arab Saudi saat itu (1953 – 1969 M) yang sekaligus salah satu gurunya yakni Muhammad bin Ibrahim Alus-Syaikh, menjadi mufti Qatar (1958-1991). Salah satu muridnya adalah Abdul Aziz bin Abdullah Alus-Syaikh, mufti Arab Saudi (sejak 1999 sampai saat ini).

[32] Ahmad bin Hajar Al-Butomi dalam Aqidatuhu as Salafiyyah Wa Da’watuhu al Islamiyyah wa Tsanaul Ulama Alaih, hlm. 102.

[33] Al-Butomi, ibid, hlm. 105.

Leave a Reply